Lapak Baca hingga Belajar Bahasa Isyarat Jadi Program Utama Ramadan RBC UMM

Menyemarakkan bulan suci Ramadhan, RBC Institute A. Malik Fadjar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar Ngabuburead. Agenda ini merupakan ebuah agenda literasi tahunan yang kali ini mengusung tema Ramadhan Inklusif. Kegiatan utama berupa lapak baca gratis akan hadir selama sepekan penuh, 6-12 Maret 2025 di Alun-Alun Kota Malang. Masyarakat umum dapat langsung bergabung tanpa biaya untuk menikmati beragam koleksi buku dari perpustakaan RBC Institute. Tak sekadar membaca, Ngabuburead tahun ini menghadirkan berbagai aktivitas menarik yang memperkaya pengalaman Ramadhan bagi semua kalangan. Selain menikmati buku, pengunjung juga bisa mengikuti fun games interaktif dan diskusi kopi bersama barista RBC Smart Coffee, yang akan membahas seni meracik kopi dalam suasana santai menjelang waktu berbuka puasa. Puncak acara digelar pada 10-12 Maret 2025 dengan kelas bahasa isyarat gratis yang bekerja sama dengan Akar Tuli Malang, salah satu komunitas Tuli terbesar di Kota Malang. Kelas ini terbuka untuk siapa saja yang ingin mengenal dan memahami bahasa isyarat, sebagai langkah kecil dalam menciptakan ruang yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas. “Ngabuburead bukan sekadar ajang membaca, tetapi juga menjadi wadah kebersamaan yang merangkul semua kalangan, termasuk teman-teman dari komunitas Tuli. Melalui literasi dan bahasa isyarat, kami ingin menghadirkan semangat Ramadhan yang lebih inklusif,” ujar Direktur Eksekutif RBC Institute, Subhan Setowara. Setelah acara berlangsung banyak peserta yang turut menanyakan informasi kelas bahasa isyarat reguler. Mereka harap titik pelatihan kelasnya diperbanyak untuk kegiatan yang seperti ini agar semakin luas juga manfaat yang dirasakan warga sekitar. Dengan semangat berbagi ilmu dan kebersamaan, Ngabuburead diharapkan dapat menjadi ruang refleksi dan interaksi yang lebih luas di tengah masyarakat. Menjadi contoh luar biasa dalam menikmati Ramadhan dengan cara berbeda. (zaf/wil)
Tips Dosen UMM untuk Hindari Impulsif Buying Menjelang Lebaran

Fear of missing out (FOMO) menjadi salah satu faktor psikologis yang dapat mempengaruhi seseorang untuk berbelanja secara berlebihan menjelang lebaran. Hal itu diungkapkan Uun Zulfiana selaku dosen psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ia menyebut, faktor lain seperti kepuasaan emosional yang dipengaruhi oleh berbagai paparan iklan di media sosial dan faktor kebiasaan yang tidak mampu menahan diri (self control) juga dapat menciptakan sifat impulsif. Bahkan juga menjadi faktor psikologis seseorang berlanja berlebihan Terkait fenomena konsumtif yang berlebihan, ia melihat hal itu berawal dari kombinasi faktor kognitif, emosional dan perilaku situasional. Sehingga membuat faktor-faktor tersebut dapat berkaitan satu sama lain, terutama self control yang menjadi kaitan paling terdekat. Pengaruh sosial seperti teman dan keluarga juga sangat mungkin untuk dapat mempengaruhi perilaku berbelanja seseorang menjelang lebaran. “Karena penyebabnya adalah self control. Ketika seseorang memiliki kontrol diri yang rendah, ia akan sangat mudah untuk dipengaruhi oleh faktor eksternal baik keluarga maupun teman,” tambahnya. FOMO mungkin akan erat hubungannya dengan kepercayaan diri. Jika kepercayaan diri rendah, ia akan lebih mudah untuk mengikuti tren sosial, terutama menjelang lebaran. Hal itu akan membuat seseorang membeli banyak hal yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Selain itu juga meningkatkan kemungkinan impulsif buying. Untuk mengatasi hal itu, Uun memberikan sederet tips meningkatkan kesadaran dan self control agar terhindar dari perilaku impulsif buying. Pertama, meningkatkan kesadaran diri dengan cara menegaskan pada diri untuk meningkatkan self awareness. Komitmen yang kuat pada diri sendiri memberikan dampak yang bagus untuk menekan perilaku ini. Kedua, membuat perencanaan anggaran belanja, mencatat apa saja yang dibutuhkan. Menghindari keinginan yang tidak sesuai dengan anggaran. Ketiga, mengalihkan perhatian dengan aktivitas positif lainnya. “Jadi, kita bisa mencoba hal-hal baru seperti olahraga, aktif di komunitas, membaca, dan lainnya. Jangan malah rebahan dan melihat live TikTok, Shopee, dan lainnya. Ini justru akan meningkatkan keinginan untuk membeli barang yang tidak perlu. Terakhir, lakukan kontrol diri atau self management dan pengelolaan emosi secara positif agar tidak lepas kendali. Selain itu juga membangun hubungan sosial atau dukungan sosial yang positif,” pungkasnya mengakhiri. (zaf/wil)