Mahasiswa UMM Asal Afrika Ini Ungkap Beda Ramadan di Indonesia dan Negara Asalnya

Ramadan menjadi bulan yang penuh makna bagi umat Muslim di seluruh dunia. Termasuk bagi Boubacar Demba Barry, seorang mahasiswa asal Guinea, Conakry, Afrika Barat, yang kini tengah menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Malang. Demba berbagi pengalamannya menjalani puasa di Indonesia serta perbedaan yang ia rasakan dibandingkan dengan negaranya. Ia yang telah tinggal di Indonesia selama enam bulan, mengungkapkan bahwa durasi puasa di Guinea dan Indonesia tidak jauh berbeda, yakni sekitar 15 jam. Namun, ada satu hal yang cukup kontras baginya. “Di negara asal saya, orang berpuasa di musim kemarau dengan cuaca yang panas, sedangkan di Indonesia, berpuasa di musim hujan dengan suhu yang lebih dingin,” ujarnya. Selain perbedaan musim, ia juga menemukan bahwa ada tradisi unik yang hanya ada di Indonesia. Salah satunya adalah kegiatan ngabuburit sebelum berbuka dan sahur on the road. Di Guinea, menurutnya, tidak ada tradisi seperti itu. “Biasanya, orang-orang hanya berkumpul di kedai kopi setelah bekerja untuk mengobrol hingga waktu berbuka tiba, tetapi tidak ada acara kumpul-kumpul khusus untuk berbuka atau sahur,” tambahnya. Meskipun begitu, ia merasa puas menjalani Ramadan di Indonesia. Menurutnya, cuaca yang lebih sejuk membuatnya lebih nyaman berpuasa dibandingkan di negara asalnya. Terkadang ia bahkan tidak merasa sedang berpuasa karena perbedaan waktu dan cuaca yang lebih bersahabat. Namun, ada tantangan tersendiri yang ia rasakan, yaitu sulitnya menemukan makanan khas Guinea untuk berbuka puasa. “Satu-satunya yang saya rasakan adalah kurangnya makanan yang biasa saya makan untuk berbuka puasa. Seperti lafidi, jenis makanan khusus yang saya sangat suka dan bubur yang terbuat dari beras atau jagung,” katanya. Meski begitu, ia tetap menikmati kuliner Indonesia. Dari sekian banyak makanan yang ia coba, nasi goreng serta nasi putih dengan ayam goreng atau bebek goreng menjadi favoritnya. Karena menurutnya rasanya yang enak dan cocok dengan seleranya. Pengalaman Ramadan di Indonesia bagi Demba tidak hanya memperkaya perspektifnya tentang budaya Muslim di negara lain, tetapi juga memberinya kesempatan untuk beradaptasi dengan tradisi baru. “Saya sangat menikmati Ramadan di sini. Meskipun ada beberapa hal yang berbeda, tetapi saya merasa nyaman dan bisa berpuasa dengan baik, saya berharap selama bulan Ramadan ini memohon kepada Allah SWT agar selalu memberikan kesehatan, akhlak dan karakter yang baik untuk menjalankan kewajiban agama ini. Semoga Allah SWT menerima doa-doa kita. Selain itu, agar saya dapat terus beradaptasi dengan cepat terhadap lingkungan dan realitas baru di Indonesia.” Pengalamannya menjadi cerminan bagaimana Ramadan tetap terasa istimewa di mana pun seseorang berada. Dengan berbagai perbedaan budaya dan tradisi, semangat ibadah dan kebersamaan tetap menjadi esensi utama dalam menjalani bulan suci ini. (vin/wil)
Mahasiswa UMM dan Ratusan Orang Patrol Sahur di Malang

Salah satu budaya asyik warga Indonesia saat bulan puasa adalah patrol membangunkan sahur. Hal itu pula yang mendorong tim Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggandeng rombongan patrol Gerakan Pemuda Kampung Kebalen Kota Lama (Gerpakkk) di daerah Kebalen Wetan Gang 8 pada 16 Maret lalu. Ada lebih dari 250 orang yang turut serta berpatrol membangunkan sahur, ikut makan sahur bersama masakan hotel bintang empat, dan menyaksikan live cooking. Bahkan juga aktif bermain permainan serta membaca buku bacaan di Mobil Kamis Membaca (KaCa) sembari menunggu waktu sahur. Terkait kegiatan ini, Kepala Humas UMM Dr. M. Isnaini, M.Pd. mengatakan bahwa UMM ingin terjun dan meramaikan kegiatan-kegiatan warga di bulan puasa. Termasuk berkolaborasi dalam aktivitas patrol yang mungkin hanya ada di Indonesia. Apalagi melihat antusiasme warga yang memang sangat bersemangat. Bahkan mereka memiliki lagu tersendiri untuk membangunkan sahur. Tidak hanya tim patrol saja yang hafal, hampir seluruh warga juga menghafalnya. “Selain itu, kami juga menyediakan live cooking dari salah satu hotel yang UMM punya, Rayz Hotel UMM. Begitupun makanan-makanan yang disediakan juga hasil masakan hotel Rayz. Semoga agenda ini bisa menjadi penyemangat warga, terutama umat muslim untuk mennjaga semangat dalam berpuasa dan beribadah di bulan Ramadan,” tegasnya. Selain berpatrol bersama, UMM juga mendatangkan Mobil KaCa yang memberikan bacaan dan hiburan bagi anak-anak dan ibu-ibu. Ada ratusan buku anak-anak yang bisa dibaca dan dinikmati. Sementara ibu-ibu bisa turut serta bermain games menarik dan mendapatkan doorprize. Koordinator Mobil KaCa Hassanalwildan menjelaskan, kegiatan patrol sahur memang menarik. Apalagi jika ada buku-buku yang bisa dibaca untuk menunggu waktu sahur atau bahkan saat ingin berbuka. “Sebelumnya, Mobil KaCa juga turut serta menyediakan bacaan di kegiatan Ngabuburead maupun Sahur on The Road (SOTR) UMM. Mulai dari sahur di Pasar Besar, Ngabuburead di Gresik, Merjosari, hingga sahur bareng geng motor beberapa waktu lalu,” katanya. Di sisi lain, salah satu orang yang meramaikan patrol, Astrid mengaku senang akan kehadiran UMM. Apalagi Gerpakkk juga sangat aktif membantu membangunkan sahur. Berbagai fasilitas yang diberikan juga asyik dan menarik. Mulai dari makanan lebih dari 300 porsi, games-gemas menarik, merchandise dan lainnya. “Harapannya, UMM juga bisa kolaborasi dengan komunitas-komunitass lain atau warga-warga lain. Menyelenggarakan agenda yang serupa atau bahkan agenda yang lebih unik lainnya. Tidak hanya sata bulan puasa, tapi juga di bulan-bulan lainnya,” katanya berharap. (wil)