Silaturahmi Aisyiyah di UMM, Mencetak Perempuan Berkemajuan

Kader Aisyiyah se-Jawa timur serta ratusan sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ramaikan acara silaturahmi dan pengajian yang berlangsung di Basement Dome UMM, 18 Maret lalu. Acara ini mengusung tema ‘Perempuan Berkemajuan Menuju Indonesia Emas’ dan menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Dra. Latifah Iskandar selaku Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah bidang Majelis Kesejahteraan Sosial (MKS) dan Ekonomi, serta Joane Hendrawati seorang CEO & Owner PT Kernel Indonesia Potential. Joane Hendrawati membahas strategi dalam mengelola usaha dan memanfaatkan potensi ekonomi. Ia menjelaskan bahwa salah satu tantangan utama dalam dunia wirausaha adalah permodalan, yang tidak hanya berupa materi tetapi juga pengalaman. Selain itu, ia menyoroti aspek digitalisasi, inovasi, persaingan, tren pasar, serta pemasaran sebagai faktor penting dalam keberhasilan usaha. “Bagi saya, legalitas usaha juga merupakan hal yang sangat penting, terutama dalam ekspor. Untuk menjadi eksportir, seorang pengusaha harus memiliki akta pendirian, Nomor Induk Berusaha (NIB), serta sertifikat kelayakan fungsi (compliance). Indonesia memiliki contoh beberapa potensi ekonomi tinggi seperti gedebok pisang. Jika kita mampu mengolahnya dengan sangat baik, maka akan memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Begitu juga rotan, rotan adalah berlian hijau Indonesia karena hanya Indonesia yang memiliki kualitas terbaik di dunia,” katanya. Dalam hal itu, ia menegaskan bahwa orang Indonesia harus bangga menjadi orang Indonesia. Karena segala sesuatu yang ada di negeri ini memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi, bukan hanya di Indonesia tetapi juga di dunia internasional. Melalui acara ini, ia berharap dapat menjadi momentum penting bagi perempuan untuk terus berinovasi dan berkontribusi dalam membangun kesejahteraan sosial. Di sisi lain, Dra. Latifah Iskandar membahas implementasi Risalah Islam Berkemajuan (RIB) di bidang kesejahteraan sosial. Ia menyampaikan bahwa RIB merupakan landasan bagi pemikiran, organisasi, gerakan, serta kehidupan global. Islam Berkemajuan, menurutnya, memiliki lima karakter utama, yaitu berlandaskan tauhid, bersumber pada Alquran dan As-Sunnah, menghidupkan ijtihad dan tajdid, mengembangkan wasathiyah (moderasi), serta mewujudkan rahmat bagi seluruh alam. Ia menegaskan bahwa semua poin tersebut merupakan satu kesatuan yang harus diterapkan secara utuh dalam kehidupan sosial. “Aisyiyah adalah organisasi yang inklusif dan terbuka terhadap perkembangan zaman. Aisyiyah tidak menutup diri terhadap perubahan, tetapi tetap berpegang teguh pada keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan yang Esa, bukan menjadikan uang sebagai tujuan utama sebagaimana yang banyak terjadi saat ini,” ungkapnya. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Islam Berkemajuan memiliki empat gerakan utama, yakni Gerakan Dakwah, Gerakan Tajdid, Gerakan Ilmu, dan Gerakan Amal. Ia menekankan pentingnya Gerakan Amal yang telah dilakukan oleh Aisyiyah, terutama dalam menangani kesejahteraan sosial. Menurutnya, pemerintah bahkan telah mengadopsi konsep yang dikembangkan Aisyiyah dalam membangun kesejahteraan sosial. “Aisyiyah memiliki kelompok sasaran yang jelas, yaitu anak dhuafa, perempuan korban kekerasan, penyandang disabilitas, serta lansia. Untuk menjadi perempuan berkemajuan, kita harus lincah dalam merespons perubahan zaman dan tidak menutup diri terhadap ide-ide baru,” ujarnya. (vin/wil)
Safari Ramadan UMM: Alquran Pedoman Jadi Profesional Muslim yang Unggul

Alquran merupakan firman Allah SWT yang mengandung segala petunjuk, pembimbing, dan arahan bagi umat manusia. Untuk itu, bulan suci Ramadan harus dipenuhi dengan berlomba-lomba membaca Alquran, mentadaburi setiap ayatnya, serta mengamalkannya dalam berkehidupan. Ini disampaikan oleh Dr. Muhammad Sulthon Amien, M.M. dalam Safari Ramadan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Acara yang diselenggarakan dalam rangka peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) itu dihadiri oleh seluruh pimpinan serta karyawan unit bisnis dan usaha UMM pada 18 Maret 2025 lalu. “Sebagaimana diturunkannya Alquran tepat di bulan Ramadan, berlomba-lomba membaca dan mengkhatamkan 30 juz Alquran adalah hal yang baik dan sangat dianjurkan. Terlebih lagi ketika Ramadan yang setiap kebaikan akan dilipatgandakan derajat pahalanya. Di samping itu, memahami serta mengamalkan satu ayatnya saja adalah hal yang lebih penting dan lebih dianjurkan untuk diterapkan,” ungkapnya. Pria yang akrab disapa Kiai Sulthon tersebut menegaskan peran penting Alquran untuk menjadikan manusia sebagai seorang profesional dan memiliki perangai positif. Menurutnya, seorang muslim yang menjalankan amanah dengan ikhlas adalah upaya untuk menggapai ridho Allah SWT. Disamping itu, kesabaran dalam menghadapi segala bentuk ujian yang datang, menjadikan pekerjaan sebagai sebuah ladang pahala. Keduanya adalah ciri khas yang terpancar dari dalam diri seorang pekerja muslim dan muslimah. “Islam telah mengajarkan kita menjadi muslim yang baik, bahkan menjadi yang terbaik dimanapun kita berada dan apapun jenis pekerjaan kita. Untuk itu, sebagai seseorang yang bekerja, mengabdi, dan mengemban amanah di bawah Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), kita harus menanamkan dan meningkatkan etos kerja kita di bulan yang penuh keberkahan ini,” sambungnya. Lebih lanjut, ia juga menceritakan kisah Nabi Muhammad SAW ketika didatangi oleh seseorang lelaki fakir miskin yang mengerjakan larangan selama bulan Ramadan. Kemudian, Nabi dengan penuh kesabaran menjelaskan kafarat (denda) yang harus dibayarkan akibat pelanggaran tersebut. Kafarat yang disebutkan berjenjang dan bervariasi sesuai kemampuan dan keadaan seorang hamba, mulai dari memerdekakan budak, berpuasa dua bulan berturut-turut, hingga memberi makan sebanyak 70 fakir miskin. Namun, lelaki tersebut enggan memilih diantara ketiganya karena keadaan diri dan keluarganya sendiri tidak mampu untuk menunaikan salah satunya. Mendengar hal itu, Nabi hanya tertawa (tidak bersuara dan menutup dengan kedua tangannya) kemudian memberikan dua kantong besar kurma untuk kemudian dibagikan kepada tetangganya. Namun, lelaki tersebut masih enggan mengamalkannya. “Hikmah dari kilas kisah tersebut, kita banyak belajar bahwa Islam itu memudahkan, tidak membebani yang tidak kuat melaksanakan atau golongan yang mendapatkan rukhsah. Namun, di sisi lain kita sebagai seorang hamba juga harus senantiasa berikhtiar dan berprasangka baik kepada Allah SWT,” jelasnya. Terakhir, Ia menceritakan kehebatan dibalik sejarah bulan Ramadan bagi kaum muslimin dan juga bagi bangsa Indeonesia. Pada zaman kenabian dan kebangkitan Islam, banyak peristiwa penting yang dilaksanakan ketika berpuasa Ramadan yaitu, Perang Badar, Fathul Makkah, serta Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Untuk itu, Ia berharap supaya bangsa ini bisa perlahan bangkit dan menjadi bangsa yang berdaya dan bermanfaat. (din/wil)