Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab, Besar Peluang Go Internasional

Seminar Nasional dengan tema “Mewujudkan Pendidikan Bahasa Arab yang Berkemajuan dan Menggembirakan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM)” diselenggarakan oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Ketua Progran Studi (Kaprodi) Pendidikan Bahasa Arab Ahmad Fathoni, Lc., M.Ag menyampaikan, dewasa ini sebagian besar orang menganggap Bahasa Arab sebagai Bahasa yang sangat sulit dipahamI. Padahal seiring perkembangan zaman, Bahasa Arab banyak dibgunakan sebagai Bahasa Internasional yang memiliki peluang besar untuk menunjang karir seseorang. “Bahasa Arab tidak melulu digunakan untuk memahami teks Al-Qur’an dan Al-Hadits. Sebagaimana profil lulusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) UMM tidak hanya menjadi agamawan, akan tetapi dapat menjadi seorang pendidik, penerjemah dan wirausahawan,” tambahnya. Lebih lanjut Fathoni mencontohkan, sektor pariwisata menjadi salah satu peluang untuk orang yang menguasai bahawa Arab dapat menimba pengalaman, menambah pengetahuan bahkan icome yang cukup lumayan. Misalnya saja saat kedatangan rombongan keluarga Raja Salman yang membuka lowongan guide dalam jumlah besar. “Saat ini, sudah banyak orang Arab berkunjung ke Indonesia, namun terkendala pada guide. Seperti datangnya Raja Salman ke Indonesia beberapa waktu lalu. Kesempatan serupa juga menjadi peluang bagi mahasiswa pendidikan Bahasa arab untuk mengaplikasikan teori yang didapat selama kuliah didukung dengan adanya mata kuliah bahasa arab pariwisata,”tambahnya. Melalui seminar ini, Fathoni juga menyampaikan beberapa tips untuk membuat suasana belajar Bahasa Arab lebih menggembirakan, salah satunya adalah dengan menyukai dosennya terlebih dahulu. “Jika kita sudah menyukai dosen, maka ilmu akan mudah kita fahami dan dengan demikian, khususnya bagi mahasiswa akan belajar dengan gembira dan tidak merasa tertekan,”tegasnya. Selain seminar, pada hari ini juga diadakan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara UMM dan UMY. MoA ini adalah tindak lanjut dari MoU sebelumnya. Ketua Prodi Bahasa Arab UMY Talqis Nurdianto, LC, M.A. menyampaikan kerjasama ini menjadi bentuk nyata usaha kedua kampus untuk meningkatkan kualitas Prodi Bahasa Arabnya. “Kami menggandeng PTM yang telah memiliki akriditasi A. Beberapa kerjasama yang dilakukan dalam bentuk penelitian, barter seminar, naskah jurnal, pertukaran staf fakultas, atau pertukaran dosen. Kami juga melakukan kerjasama e learning, misalnya ada mata kuliah yang sama, seperti mata kuliah ilmu nahwu, kemudian nilai ujian yang didapat dari e-learning tersebut dapat diakui,” (mif/sil)
Dosen Kehutanan UMM Sebut Rehabilitasi Hutan Tidak bisa Ditunda

Rehabilitasi hutan di Indonesia dinilai belum efektif. Penyebabnya bukan hanya pada kerusakan ekosistem yang semakin parah, tetapi juga pada kegagalan pendekatan yang digunakan selama ini. Menurut Dr. Tatag Muttaqin, S.Hut., M.Sc., dosen Kehutanan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), masalah mendasarnya adalah ketidaktepatan strategi dalam perencanaan dan pelaksanaan rehabilitasi. “Selama ini orientasinya masih pada kuantitas, bukan kualitas. Fokus pada berapa banyak pohon yang ditanam, bukan berapa yang hidup. Ini menjadikan kesalahan dalam rehabilitas hutan. Rehabilitasi hutan tidak bisa dilakukan dengan pendekatan seremonial atau instan. Perlu pemahaman ekologi dan historis suatu lahan. Tanpa itu, penanaman justru bisa memperparah kerusakan,” kata Tatag. Menurut Tatag, reboisasi yang benar harus dimulai dari identifikasi jenis tanaman yang secara alami tumbuh di kawasan tersebut. Karena pada dasarnya semua lahan itu mempunyai sejarah. Tidak bisa sembarangan menanam tanpa tahu tanaman apa yang cocok di sana sejak dulu. Contohnya di Batu, yang cocok merupakan pohon pinus dan ikaliptus, bukan sembarang jenis tanaman lain. “Proses reboisasi idealnya mencakup lima tahapan dengan mengidentifikasi lahan dan vegetasi lokal, pemilihan bibit yang sesuai, perencanaan waktu tanam (idealnya saat musim hujan), penanaman, dan pemeliharaan jangka panjang minimal lima tahun. Jika satu tahapan saja dilewati, maka keberhasilan sangat kecil. Banyak yang hanya berhenti di tanam saja. Setelah itu tidak ada perawatan. Akibatnya, tingkat kematian pohon sangat tinggi,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya seleksi bibit yang tepat. Bibit tidak hanya harus kuat secara fisik, tetapi juga harus sesuai dengan iklim, tanah, dan topografi setempat. Dalam pemilihan bibit menentukan seluruh masa depan ekosistem hutan. Bibit yang tidak cocok akan gagal tumbuh, meski ditanam dalam jumlah banyak. Maka menurutnya bukan soal berapa jumlahnya, tapi apakah cocok atau tidak dengan lokasi tanam. “Dampak dari rusaknya hutan sudah terlihat jelas. Salah satu contohnya adalah penurunan drastis mata air di kawasan hulu Sungai Brantas. Dulu ada lebih dari 700 mata air, sekarang tinggal sekitar 500. Ini alarm bahaya. Kalau hulu rusak, hilir akan kering. Ini akan berdampak langsung ke pertanian dan kehidupan masyarakat,” Lebih lanjut, konversi hutan lindung menjadi lahan pertanian juga mengancam keanekaragaman hayati. Satwa dan flora endemik kehilangan habitat, dan beberapa di antaranya sudah terancam punah. Ia menekankan bahwa rehabilitasi tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah atau lembaga. Masyarakat, termasuk anak muda, harus ikut terlibat. “Minimal tanam satu pohon dalam hidup. Itu kontribusi nyata. Jangan hanya mengandalkan negara. Edukasi dan pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan adalah kunci. Kalau mereka makmur, mereka akan menjaga hutan. Kalau tidak, mereka akan merambah karena butuh makan,” ucap Tatag. Untuk itu, ia menekankan bahwa rehabilitasi hutan semestinya diarahkan kembali pada fungsi utamanya, yaitu sebagai bentuk perlindungan terhadap lingkungan dan manusia. Ia menyampaikan bahwa hutan memiliki peran penting sebagai pelindung alami, dan kerusakan hutan dapat memicu berbagai bencana, memperburuk kondisi kemiskinan, serta memunculkan potensi konflik sosial. Oleh karena itu, upaya rehabilitasi hutan menurutnya bukan lagi menjadi opsi, melainkan sebuah keharusan yang tidak bisa ditunda. (vin/wil)
Paparan Gadget Picu Ide Bunuh Diri? Begini Penjelasan Dosen Psikologi UMM

Muncul isu bahwa penggunaan gadget yang berlebihan bisa memicu keinginan untuk melakukan bunuh diri. Apakah hal itu benar? Ibnu Sutoko, S.Psi., M.Psi, psikolog sekaligus dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan penjelasan terkait isu tersebut. Menurutnya, hubungan antara keduanya tidak bersifat secara langsung, tetapi melalui proses yang kompleks dan berlapis. “Kalau kita berbicara keterkaitannya, itu memang tidak bisa langsung terkait. Pasti ada hal yang membuat antara kedua hal tersebut itu sendiri berkaitan,” ujar Ibnu. Ia menjelaskan bahwa gadget bisa menjadi stimulan yang memunculkan reaksi emosional pada individu, terutama melalui konten-konten yang dikonsumsi. Konten yang menampilkan kehidupan ideal, seperti keluarga harmonis atau pencapaian tertentu, dapat memperparah konflik internal seseorang yang sedang mengalami masalah berat. “Misalnya ketika orang memiliki masalah yang berat. Kemudian ketika dia menggunakan gadget yang menampilkan kondisi keluarga cemara, keluarga yang harmonis yang tidak dia dapatkan, maka itu memunculkan konflik secara internal,” terangnya. Ibnu menambahkan, individu yang memiliki kecenderungan bunuh diri umumnya sedang mencari pembenaran rasional terhadap kondisinya. Akibatnya, algoritma media sosial justru akan terus menampilkan konten yang relevan, memperparah kondisi psikologis pengguna. “Saya beberapa waktu lalu membaca sebuah penelitian bahwa paparan screen time itu berpengaruh pada perilaku ide bunuh diri. Paparan lebih dari delapan jam sehari, terutama untuk media sosial, sangat berisiko,” jelasnya. Namun, ia menegaskan bahwa secara klinis, kecanduan penggunaan gadget belum dikategorikan sebagai gangguan psikologis, tetapi sudah masuk kedalam kondisi yang memerlukan perhatian serius. Dalam penjelasannya, Ibnu juga memaparkan bahwa ide bunuh diri sangat bervariasi tergantung usia. Remaja, misalnya, rentan karena sedang mencari jati diri. Dewasa awal menghadapi tekanan membangun relasi, dewasa pertengahan terbebani oleh pekerjaan dan hubungan asmara, sementara lansia bergulat dengan kesepian dan menurunnya produktivitas. Apabila individu tidak mampu memenuhi kebutuhan pada setiap fasenya, maka rentan untuk stress yang nantinya memunculkan ide bunuh diri. Adapun faktor yang menurutnya menjadi hal yang utama memunculkan ide bunuh diri adalah adanya tumpukan emosi yang terus tertimbun, yang lambat laun meledak. ”Itu disebabkan karena ada masalah yang tidak terselesaikan.” Terkait meningkatnya kasus bunuh diri, Ibnu menyebut fenomena ini sebenarnya sudah terjadi sejak dulu. Namun, perkembangan teknologi dan keterbukaan media membuat kasus-kasus tersebut kini lebih terlihat. “Kalau kita kaitkan dengan teknologi atau penggunaan gadget, itu sangat memudahkan seseorang dalam mengakses hal apapun. Bahkan sampai ada yang kalah judi online hingga miliaran. Akhirnya memilih mengakhiri hidup karena tidak punya pekerjaan untuk mengganti hutang tersebut,” katanya. Ibnu juga menyoroti efek dari pemberitaan kasus bunuh diri. Menurutnya, informasi tentang metode bunuh diri bisa menstimulasi individu lain yang sedang mengalami krisis. Seseorang yang bingung memilih cara untuk mengakhiri hidup, bisa terdorong untuk meniru kasus yang diberitakan. Sebagai langkah pencegahan, Ibnu menekankan pentingnya kesadaran diri dan keterbukaan untuk mencari pertolongan profesional. “Ketika tidak mampu menyelesaikan masalah sendiri, jangan merasa egois atau keras kepala. Kita harus sadar bahwa itu masalah dan harus diselesaikan,” ujarnya. Ia juga menegaskan pentingnya peran orang di sekitar. Perubahan perilaku, seperti menarik diri atau tiba-tiba menghilang dari lingkungan sosial, harus menjadi perhatian. Ibnu menyarankan individu yang mengalami gejala ide bunuh diri untuk meningkatkan produktivitas dan memperluas jaringan sosial. Ia juga mengajak masyarakat untuk bijak menggunakan gadget dan mengenali stresor yang dihadapi. “Ciptakan coping adaptif, pengalihan stres yang sehat, sebagai langkah awal pencegahan,” tutupnya. (bil/wil)