Dosen Ikom UMM: Jangan Jadi Influencer Kalau Belum Tahu Dua Hal ini

Fenomena influencer terus berkembang pesat dan menarik minat banyak orang untuk terjun ke dunia ini. Namun, menjadi seorang influencer yang sukses tidak semudah mengunggah konten semata. Menurut Arum Martikasari, seorang dosen ilmu komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), modal utama seorang influencer adalah basis pengikut yang kuat, dibarengi dengan kredibilitas dan kepercayaan dalam bidang yang diusung sebagai branding. Martikasari menjelaskan bahwa langkah pertama yang perlu disiapkan adalah menentukan persona atau citra diri yang hendak dibangun. “Seseorang perlu mengidentifikasi kebiasaan atau keahlian apa yang bisa dikemas sebagai personanya di media sosial,” ujarnya. Setelah persona terbentuk, konsistensi dalam mempertahankan citra tersebut menjadi krusial. Jumlah pengikut yang banyak memang penting bagi seorang influencer, karena ini menjadi indikator bahwa konten yang disajikan diterima dan relevan dengan audiens. Untuk menaikkan engagement secara organik, Arum menekankan pentingnya komunikasi dua arah. “Jangan hanya mengunggah konten, tapi juga harus rajin berinteraksi dengan pengikut. Balas komentar, atau ucapkan terima kasih ketika konten dibagikan,” sarannya. Mengenai konten ideal, Arum menyatakan bahwa hal tersebut sangat bergantung pada niche atau segmen pengikut yang dituju. Untuk menjaga konsistensi dalam pengelolaan konten, ia menyarankan memiliki kalender konten dan rutin berinteraksi, baik melalui komentar maupun membalas pesan langsung (DM). Menariknya, Martikasari menyebut bahwa penggunaan iklan berbayar (ads) tidak menjadi hal sepenting itu bagi seorang influencer. Strategi untuk menjangkau audiens juga dapat berubah seiring waktu. “Tidak ada hasil yang instan. Selama strateginya tepat dan bisa menjangkau audiens, itu yang terpenting,” imbuhnya. Terakhir, Martikasari mendorong para calon influencer untuk berkreasi dan mengeksplorasi ide-ide sebanyak mungkin, mengingat pemahaman generasi saat ini tentang perkembangan teknologi. Namun, ia memberikan penekanan khusus, “Jangan lupakan etika bermedia sosial. Tanpa adab dan etika, semua akan sia-sia. Ingatlah bahwa adab lebih tinggi daripada ilmu. Jadi, silakan berkarya sebanyak-banyaknya, tetapi kembali lagi kepada adab dan etika,” katanya (bil/wil)
Ekonomi Pembangunan UMM Kaji Kerjasama Jepang-Indonesia

Dalam rangka menguatkan program internasionalisasi, Prodi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang (EP UMM) mendatangkan pemateri internasional dalam kajian kerjasama Indonesia-Jepang. Agenda yang dilaksanakan April lalu itu mendatangkan tokoh East Java Japan Club (EJJC) Yuriko Nakajima. Ia membahas terkait penguatan kerjasama ekonomi antara Indonesia dan Jepang. Yuriko memaparkan lima pokok bahasan, salah satunya terkait bagaimana kerjasama Indonesia-Jepang untuk kesejahteraan masa depan. Apalagi mengingat keduanya punya kekuatan yang menarik di mata internasional. Begitupun juga kajian terkait sejarah kerjasama, perjanjian kemitraan ekonomi Indonesia-Jepang, memperkuat kerjasama bilateral, serta mewujudkan kemakmuran di masa depan. Ia juga menjelaskan secara gamblang sejarah kerja sama Indonesia-Jepang dan kerja sama apa saja yang sudah disepakati antara dua negara Asia ini. Diantaranya tentang peningkatan kerja sama sumber daya dan infrastruktur untuk menjamin ketahanan energi dan dekarbonisasi. Di samping it juga di bidang mitigasi bencana, pendidikan, serta ketahanan pangan. “Ini tentu memberikan peluang bagi kedua negara dalam memajukan ekonomi. Apalagi dengan adaya kemajuan digitalisasi dan teknologi. Kedua hal ini sangat erat kaitannya dengan inovasi. Sebab melalui inovasi kesejahteraan dapat terwujud,” tegasnya menambahkan. Adapun tema tersebut mencoba agar mahasiswa bisa memahami bagaimana memperkuat kemitraan ekonomi Indonesia-Jepang untuk kesejahteraan masa depan. Diharapkan dari diskusi internasional ini, mahasiswa juga terbuka wawasannya tentang kerjasama ekonomi Indonesia-Jepang. Di sisi lain, pemateri lain Happy Febrina Hariyani, SP, M.Si, secara umum mengulas tentang bagaimana hubungan perdagangan Indonesia-Jepang bisa menumbuhkan ekonomi berkelanjutan. Ada beberapa pokok bahasan yang dijelaskan. Diantaranya bagaimana kerjasama kedua belah pihak bidang kelautan dan perikanan. Termasuk, Happy juga membahas dinamika investasi Jepang di Indonesia dari tahun ke tahun, khususnya export-import. Serta perkembangan infrastruktur kedua negara mulai transportasi, komunikasi, energi, hingga ekonomi. (*/wil)