Pemisahan Pemilu Nasional dan Lokal, Begini Analisis Dosen UMM

Pemisahan antara pemilu nasional dan lokal dinilai sebagai manuver besar yang bisa memperkuat demokrasi lokal. Namun sekaligus hasil putusan Mahkamah Konstitusi ini membuka risiko konstitusional dan ketidakefektifan tata kelola politik. Kebijakan ini bukan hanya soal pemisahan jadwal, tetapi menyangkut struktur kekuasaan, arah kebijakan, dan kepercayaan publik terhadap sistem politik. Menurut Dr. Nurul Zuriah, M.Si. selaku dosen senior PPKn Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), pemisahan ini memang bisa menciptakan ruang kontestasi yang lebih sehat. Isu-isu lokal tidak akan lagi tertutup oleh dominasi narasi nasional. Pemilih juga dapat lebih fokus pada rekam jejak dan kapabilitas kandidat di tingkat daerah. Namun, ia menilai bahwa dampaknya terhadap stabilitas politik dan efektivitas pemerintahan tidak bisa dianggap remeh. Tanpa sinergi antara caleg pusat dan daerah, partai politik harus bekerja dua kali lebih keras dan mahal untuk menggalang dukungan publik. “Koalisi antara pusat dan daerah bisa tidak sejalan. Ini membuka ruang disharmoni kebijakan, yang berisiko memecah arah pembangunan nasional dan daerah,” jelasnya. Beban anggaran politik juga akan membengkak. Dua siklus pemilu berarti dua kali kampanye, dua kali logistik, dan dua kali pengamanan. Meskipun beban teknis penyelenggara seperti KPU dan Bawaslu lebih ringan, masyarakat bisa mengalami kejenuhan politik karena terlalu sering dimobilisasi. Permasalahan paling mengkhawatirkan adalah persoalan konstitusional. UUD 1945 menyebut pemilu dilakukan setiap lima tahun. Sementara putusan Mahkamah Konstitusi memberi jeda antara pemilu nasional dan lokal hingga 2,5 tahun. Ini menimbulkan ketimpangan masa jabatan dan berpotensi menyebabkan kekosongan jabatan legislatif maupun eksekutif. “Kalau tidak diantisipasi, bisa terjadi pelanggaran konstitusi. DPRD bisa menjabat melebihi lima tahun, atau malah terjadi kekosongan tanpa mekanisme pengganti,” ujarnya. Oleh karena itu, diperlukan rekayasa konstitusional berupa revisi undang-undang atau amendemen terbatas untuk menutup celah hukum ini. Pemerintah juga harus segera menyusun regulasi transisi yang tegas dan implementatif, bukan sekadar administratif. Jika dijalankan dengan sistematis, pemisahan ini bisa meningkatkan kualitas kaderisasi dan representasi politik. Partai punya waktu lebih panjang menyiapkan kandidat terbaik, dan kandidat lokal bisa bersinar tanpa ‘menumpang tenar’ pada popularitas pusat. Namun, Nurul menekankan bahwa semua itu hanya bisa tercapai kalau masyarakat aktif, kritis, dan tidak lagi hanya ikut arus. “Pemilu harus jadi alat perbaikan kehidupan masyarakat, bukan sekadar agenda politik lima tahunan,” pungkasnya. Dengan demikian, pemisahan pemilu nasional dan lokal memerlukan perencanaan yang matang dan implementasi yang efektif untuk menghindari risiko konstitusional dan meningkatkan kualitas demokrasi. (*/wil)

UMM Resmi Ditunjuk Jadi Tuan Rumah Olimpiade Sains Nasional

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi ditunjuk sebagai tuan rumah penyelenggaraan Olimpiade Sains Nasional (OSN) jenjang SMA tahun 2025. Ajang bergengsi tingkat nasional ini diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Kepala Puspresnas, Dr. Maria Veronica Irene Herdjiono, M.Si., menyampaikan bahwa pemilihan Kota Malang dan UMM telah melalui proses seleksi yang ketat dengan mempertimbangkan berbagai aspek teknis dan substansial. Ia mengatakan bahwa dari sisi akomodasi, transportasi, dan kelengkapan kota, Malang dianggap ideal untuk menunjang kegiatan berskala nasional seperti OSN. Karena puspresnas pada tahun ini menyelenggarakan 17 ajang prestasi di tingkat nasional, lima di antaranya dilaksanakan secara luring, termasuk OSN yang akan digelar di Malang. Maria menegaskan bahwa Kota Malang bukan hanya unggul secara logistik, tetapi juga memiliki atmosfer pendidikan yang baik. “Malang juga menawarkan pengalaman kota yang menarik bagi siswa. Ini penting untuk memperkaya wawasan dan membangun semangat kompetisi yang sehat. UMM dipilih sebagai lokasi utama pelaksanaan OSN setelah melalui proses pengajuan dan seleksi terbuka yang dilakukan Puspresnas. UMM juga menjadi salah satu universitas yang paling responsif dan siap menyelenggarakan acara ini secara menyeluruh. Untuk itu, kami melihat potensi serta kesiapan mereka sangat besar,” jelasnya. Ia mengatakan bahwa UMM aktif dalam pengembangan talenta pelajar, baik di jenjang dasar, menengah, maupun pendidikan tinggi. Lebih lanjut, Maria memaparkan bahwa dukungan UMM tidak terbatas pada penyediaan tempat. Kampus ini juga berkontribusi besar dalam penyediaan sarana-prasarana, publikasi, serta tim panitia yang solid. “Kontribusi UMM sangat berarti, termasuk dalam urusan teknis dan promosi kegiatan. Keterlibatan aktif ini menjadi salah satu indikator utama keberhasilan penyelenggaraan OSN nanti,” ujarnya. OSN jenjang SMA tahun ini akan menguji peserta dalam sembilan mata pelajaran utama yaitu kimia, fisika, matematika, biologi, informatika, astronomi, ekonomi, geografi, dan kebumian. Maria menyatakan bahwa sembilan mapel tersebut merupakan bidang-bidang strategis untuk mendorong daya saing sains dan teknologi di tingkat global. “Bidang-bidang ini menjadi pondasi penting bagi lahirnya generasi unggul di masa depan. OSN bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga batu loncatan untuk melahirkan delegasi Indonesia di Olimpiade Sains Internasional. Bahkan tahun ini, Indonesia telah berhasil membawa pulang dua medali perak dan dua perunggu dari International Chemistry Olympiad (IChO),” kata Maria. Terkait jumlah peserta, Maria menyebutkan bahwa OSN 2025 akan diikuti oleh lebih dari 540 siswa dari berbagai provinsi di Indonesia, didampingi oleh 38 ketua kontingen. “Jumlah ini tentu masih bisa bertambah, tergantung dinamika dan kesiapan daerah. Tapi untuk saat ini, 540 peserta sudah terkonfirmasi. Seluruh peserta akan difasilitasi secara maksimal, termasuk dalam hal transportasi, akomodasi, dan keamanan selama berada di Malang,” ujarnya. Menutup pernyataannya, Maria menyampaikan harapan besar terhadap keberlangsungan OSN di UMM. Ia berharap ajang ini tidak hanya sukses dalam pelaksanaan, tapi juga memberi dampak nyata dalam pengembangan potensi dan karakter anak bangsa,” pungkasnya. (vin/wil)