Seru, Hari Pertama Sekolah bersama Mobil Terbang UMM

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) menjadi momen awal menuju hari-hari pendidikan di sekolah. Termasuk di SMA Muhammadiyah 3 Gresik pada 14-16 Juli ini. Bahkan MPLS tersebut dimeriahkan dengan adanya Mobil Bakti Terhadap Bangsa (Terbang) yang berisi ratusan buku. Puluhan siswa bahkan bersemengat untuk turut serta dalam MPLS sekaligus Mobil terbang milik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Rumah Baca Cerdas (RBC) Abdul Malik Fajar Dalam rangka memberikan pemahaman etika dan budaya sekolah kepada siswa baru, SMA Muhammadiyah 3 Gresik membuat rangkaian acara yang diharapkan mampu menjadi bekal bagi siswanya mengarui pendidikan di sekolah muhamadiyah, khusunya pengenalan hal-hal mendasar tentang islam dan muhammadiyah. Adapun rangkaian acara dimulai dengan upacara pembukaan, materi, games, diskusi, demo ekstra kulikuler dan di tutup dengan outbound yang berkolaborasi dengan mobil terbang RBC Abdul Malik Fadjar. Di hari terakhir pelaksanaan MPLS, mobil terbang milik RBC abdul malik fadjar berhasil menarik banyak perhatian siswa baru. Mobil terbang di simpan di sudut lapangan yang teduh dan sejuk berisi berbagai macam buku bacaan. Bahkan ada sederet games yang didampingi mahasiswa UMM serta menjadi penutup MPLS yang menarik. Hadirnya Mobil Terbang UMM diapresiasi oleh Rika selaku kepala sekolah SMA Muhammdiyah 3 Gresik. Mobil ini sukses membuat siswa baru aktif mengikuti rangkaian acara sampai akhir. “Terimakasih kepada UMM yang selalu memberikan perhatian kepada kami lewat kegiatan positif untuk anak-anak. Termasuk mobil terbang yang menyediakan berbagai buku, sehingga anak-anak bisa bermain sambil belajar,” katanya. Kehadiran UMM dan RBC dalam rangkaian acara ini juga membawa harapan besar pada pendidikan indonesia, khususnya di berbagai lembaga pendidikan Muhammadiyah. UMM terus berkomitmen dalam memperjuangan pendidikan lewat membaca dan berkreasi melalui games interaktif yang membangun kerjasama antar siswa. (rin/wil)

Meski Sering Terjatuh saat Berlatih, Mahasiswa UMM Menangi Cabor Arung Jeram Porprov

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi gemilang dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2025. Ajang bergengsi ini diselenggarakan pada awal Juli lalu di Kasembon Rafting, Kabupaten Malang. Zahra Rizki Faradiba (Faradiba) mahasiswa Program Studi Informatika UMM berhasil memperoleh medali emas dalam kategori R6 Down River Race Putri dan medali perak dalam kategori R4 Head to Head. Faradiba, sapaan akrabnya, tergabung dalam Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Kota Batu dan berhasil menjadi juara pada ajang Porprov IX Jatim 2025 mengalahkan 14 peserta lain dari berbagai kota diantaranya FAJI Kab. Probolinggo, FAJI Kab. Sidoarjo, FAJI Kab. Surabaya dan FAJI Kota Malang. Ia mengungkapkan kota-kota tersebut menjadi pesaing terkuat dalam ajang kali ini karena memiliki tim yang solid, pengalaman yang matang dan jam terbang yang tinggi dalam olahraga Arung Jeram. Namun, hal itu tidak membuatnya gentar karena adanya persiapan yang matang. Faradiba dan tim mampu mengalahkan peserta lain dalam ajang tersebut. “Ada beberapa lawan yang memang cukup sulit untuk dikalahkan. di antaranya dari FAJI Kabupaten Probolinggo, Faji Kota Surabaya, FAJI Kabupaten Sidoarjo, dan FAJI Kota Malang. merekapunya teknik yang solid, kekompakan tim yang kuat, dan pengalaman yang cukup matang di arung jeram. jadi setiap kali bertemu mereka di lintasan, itu selalu jadi tantangan tersendiri buat kami,” ujarnya dengan semangat. Ia mulai untuk menggeluti dunia Arung Jeram sejak 2023 yang diawali oleh kecintaanya dengan alam dan menyukai sebuah tantangan. Berdasarkan motivasi tersebutlah ia mulai menggeluti karena disamping dirinya yang menyukai tantangan, ia juga belajar tentang kerja sama tim, kepercayaan dan cara tetap tenang dalam situasi ekstrem sekalipun. “Saya menggeluti bidang ini sejak 2023. Awalnya tertarik karena tantangannya dan suka alam. Selain itu saya juga belajar tentang kerja sama, kepercayaan dan tenang dalam segala situasi bahkan dalam situasi yang ekstrem,” ujar Faradiba. Sebelum berhasil menjuarai ajang tersebut, perjalanan menuju Porprov tidaklah mudah. Faradiba mulai menjalani persiapan intensif sejak juli 2024 dan seringkali mengalami insiden saat latihan seperti jatuh dari atas perahu, perahu terbalik dan terjepit di beberapa jeram. Namun, dari hal itu dapat membangun kekompakan dan menjadi pelajaran untuk menguasai teknik-teknik tertentu sebagai persiapan dalam mengikuti perlombaan. Tidak hanya itu, dukungan penuh UMM menjadi salah satu pengaruh bagi dirinya dapat memenangkan perlombaan tersebut. Tak hanya mengandalkan kemampuan pribadi dan tim, dukungan dari pihak kampus Universitas Muhammadiyah Malang juga menjadi faktor penting di balik keberhasilan Faradiba. Menurutnya, UMM selalu memberikan ruang dan fasilitas bagi mahasiswa untuk berkembang tidak hanya secara akademik, tetapi juga dalam bidang minat dan bakat, termasuk olahraga. “Dukungan dari UMM sangat berpengaruh. Kampus tidak hanya memberi izin dan fleksibilitas dalam jadwal kuliah, tetapi juga memberi motivasi serta apresiasi atas prestasi yang kami capai. Ini membuktikan bahwa UMM memang peduli dan mendorong mahasiswanya untuk berprestasi di luar kelas. Ini sesuai dengan slogan UMM tidak ada prestasi yang tidak dihargai,” tambahnya. (bil/wil)

Baru Sebulan, Nola Alumnus UMM Ceritakan Pengalaman Berkarya di Jepang

Baru sebulan menetap di Jepang, Nolarita Bastian Kusmawati, alumni Agroteknologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), sudah merasakan langsung kerasnya budaya kerja di negeri matahari terbit. Lulusan Fakultas Pertanian UMM ini kini bekerja di perusahaan pengolahan makanan Jepang yang memproduksi berbagai jenis makanan khas seperti onigiri, soba, dan makanan fusion lainnya yang didistribusikan ke berbagai konbini (convenience store) lokal. Yang menarik, motivasi awal Nola, sapaan akrabnya, bukan semata karena cita-cita lama, melainkan dari ‘masa tunggu’ yang ia alami setelah beberapa wawancara kerja tak membuahkan hasil di Indonesia. Hal itu mendorongnya untuk mencoba pengalaman baru dan mendaftar di Jepang. Informasi mengenai lowongan kerja di Jepang ia peroleh dari seorang teman sesama alumni UMM yang mengirimkan informasi job fair. Di situlah ia mengenal salah satu lembaga penyalur tenaga kerja yang kini menaunginya di Jepang. Perusahaan tempat Nola bekerja saat ini bergerak di bidang pengolahan makanan, dan ia bertugas dalam proses produksi harian seperti setting mesin, pengecekan label, pengisian topping, hingga quality control kemasan makanan. Meski belum memiliki tanggung jawab besar, ia mengaku telah belajar banyak, terutama karena ritme kerja di Jepang jauh berbeda dengan di Indonesia. “Orang Jepang itu cepat banget kerjanya, dan semuanya terstruktur. Habis ini, lanjut ini, terus begitu. Minim banget percakapan juga, semuanya fokus kerja,” terangnya. Menurutnya, budaya not wasting time sangat terasa. Bahkan, keterlambatan semenit pun bisa membuat seseorang dipertanyakan keberadaannya. Namun, adaptasi bukan hal mudah. Perbedaan bahasa, budaya, hingga karakter orang membuatnya merasa cukup struggle, terutama karena bahasa Jepang yang digunakan sehari-hari sangat berbeda dengan yang diajarkan di Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Untuk mengatasi itu, ia rajin melakukan latihan listening mandiri dan menjadikan teman-teman dari negara lain sebagai support system di tengah keterasingan. Selain bekerja, Nola juga mencoba menikmati hidup di Jepang dengan berjalan-jalan ke tempat baru. Salah satu tempat favoritnya sejauh ini adalah AER Building di kota Sendai, sebuah gedung tinggi yang menyuguhkan pemandangan kota dari ketinggian. Yang tak kalah berkesan bagi Nola adalah ketika persepsinya terhadap karakter orang Jepang berubah. “Saya kira orang Jepang itu individualis dan cuek. Tapi waktu saya nggak sengaja menjatuhkan beberapa wadah, beberapa dari mereka justru datang dan bilang, ‘Tidak apa-apa, lain kali hati-hati ya’,” kisahnya. Selama bekerja, pelajaran terbesar baginya adalah tentang konsistensi dan kedisiplinan. Ia menyadari bahwa hasil tak datang dari bakat semata, tetapi dari upaya yang dilakukan terus-menerus. “Saya bersyukur bisa menjadi alumni UMM. Banyak sekali pelajaran, pengalaman, dan ilmu ayng bisa saya gunakan. Bahkan karir saya di sinipun juga karena UMM, tepatnya akrena alumni UMM yang memberikan informasi,” katanya. Ia menitipkan pesan inspiratif bagi juniornya di UMM yang memiliki mimpi serupa. Salah satunya adalah mencoba hal baru yang bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya. “Karena kalau belum dicoba, kita tidak akan tahu hasilnya seperti apa,” katanya. (bil/wil)