Terjangkau dan Bagus, Ini Pakan Ternak CornBoost Ciptaan Tim Mahasiswa UMM

Inovasi demi inovasi dilahirkan oleh sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Salah satunya oleh para mahasiswa prodi peternakan UMM yang menciptakan inovasi pakan hewan berkualitas tinggi pada sektor peternakan. Inovasi ini berawal dari masalah yang ditemukan tim mahasiswa peternakan ini. Yakni minimnya pakan berkualitas yang sulit didapatkan. Hingga akhirnya mereka menghadirkan produk pakan ternak bernama CornBoost. Prilla Ayu Putri salah satu anggota tim menjelaskan, CornBoost adalah pakan konsentrat kering yang berkualitas tinggi dan dirancang khusus untuk mendukung produktivitas sapi perah. Dengan bahan utama berupa jagung dan campuran nutrisi lainnya, membuat pakan lebih disukai sapi. Ini juga mampu meningkatkan konsumsi pakan bagi sapi. Kandungan yang terdapat pada produk ini di antaranya protein, lemak, serat, mineral, dan vitamin yang membantu menjaga kesehatan serta mendukung pertumbuhan dan reproduksi sapi. Prila mengatakan, produk ini dikembangkan dengan pendekatan berbasis nutrisi dan efisiensi. Yakni mmenghadirkan energi tinggi yang sangat dibutuhkan oleh sapi perah dalam masa laktasi. Formulasi nutrisi seimbang di dalamnya tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi susu, tetapi juga mendukung kesehatan ternak secara keseluruhan, termasuk sistem reproduksi dan pertumbuhan. Hal menarik dari produk CornBoost adalah pemanfaatan daun katuk yang dijadikan bahan campuran utama. Sebagaimana diketahui, daun katuk memiliki khasiat dalam meningkatkan produksi ASI pada manusia. Dengan pendekatan ilmiah, potensi produk ini dikhususkan pada peningkatan produksi susu sapi perah. Ini merupakan sebuah terobosan yang membuka jalan bagi penggunaan bahan lokal yang bernilai tinggi dalam dunia peternakan. “Alasan kami membuat produk ini adalah menciptakan pakan yg berkualitas tinggi dengan harga yang terjangkau” katanya. Meski produk ini belum resmi dipasarkan, namun sudah diperkenalkan kepada para dosen dan akademisi di lingkungan program studi. Ini juga menjadi bentuk pengujian tahap awal. Prilla dan timnya juga menunjukkan komitmen serius dengan mencari solusi atas kendala harga bahan baku yang tinggi, terutama pada komponen daun katuk kering. Dia mempunyai solusi yakni dengan melakukan pengeringan daun katuk segar secara mandiri  menggunakan oven demi menekan biaya produksi namun tetap menjaga kualitas. “Kendala kami ada di harga daun katuk yg mahal. Jadi kami mengambil solusi mencari daun katuk fresh yg kami keringkan sendiri dengan cara dioven,” ungkapnya. Mengakhiri kalimatnya, Prila berharap produk yang dia dan tim ciptakan dapat membantu para peternak dalam skala besar maupun kecil. Sehingga dapat meningkatkan produksi susu pada ternak. Selain itu juga dapat menjadi alternatif pakan lokal yang kompetitif, sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional melalui sektor peternakan. (nam/wil)

Mahasiswa UMM Bikin Tiga Inovasi untuk Jaga Lingkungan

Desa Kayu Kebek, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, menjadi lokasi kontribusi mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adapun kegiatan itu merupakan bagian dari praktikum politik lingkungan yang terlaksana selama tiga bulan. Menariknya, pada 2 Juni lalu, terlaksana pameran inovasi dan penandatanganan kerjasama antara UMM, pihak desa, dan pemerintah Kabupaten Pasuruan. Implementasi mahasiswa UMM tersebut fokus pada inovasi pengelolaan limbah dan penguatan ekonomi lokal. Selain itu juga memperkenalkan tiga inovasi menarik yakni teknologi Smokeless Burn Barrel, yakni alat pembakaran sampah tanpa asap, produksi eco-enzymedari limbah apel, serta pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah. Inovasi tersebut dirancang untuk mengurangi polusi lingkungan sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi bagi warga desa. Stand pameran yang menampilkan hasil karya dan inovasi mahasiswa bersama warga itu mendapat perhatian khusus dari para tamu. Asisten II Bupati Pasuruan, Bakti Jati Permana, yang hadir mewakili Bupati, menyampaikan apresiasinya atas kolaborasi antara UMM dan Desa Kayu Kebek. Menurutnya, mahasiswa UMM telah membantu pemerintah dan masyarakat desa dalam mengelola limbah menjadi produk yang bernilai ekonomi. Ini adalah langkah penting dalam mempersiapkan desa menuju desa wisata lingkungan. Sebagai bentuk komitmen jangka panjang, dilakukan penandatanganan prasasti pendopo sebagai simbol dimulainya kerja sama berkelanjutan antara UMM dan Desa Kayu Kebek. Pemerintah daerah menyambut baik pengembangan potensi desa melalui kolaborasi lintas sektor, khususnya dengan perguruan tinggi. “Inovasi yang dilakukan mahasiswa UMM sangat relevan dengan kebutuhan desa. Pemerintah daerah mendukung penuh upaya ini,” tambahnya. Sementara itu, Kabiro Riset, Pengabdian, dan Kerja Sama UMM Dr. Salahudin, M.Si., M.P.A., menegaskan bahwa praktikum ini tidak hanya menjadi sarana pembelajaran, tetapi juga kontribusi nyata mahasiswa kepada masyarakat. “Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga memberikan solusi yang aplikatif. Praktikum ini adalah langkah konkret menuju pengembangan desa wisata berbasis lingkungan,” ujarnya. Adapun kegiatan ini merupakan bagian dari program akademik semester enam yang telah berjalan selama satu setengah bulan dan kini diakui secara resmi sebagai pengganti skripsi, setelah mendapat pengesahan. Sebagai bentuk apresiasi, piagam penghargaan diserahkan kepada para mahasiswa atas kontribusi mereka dalam pengembangan desa. (vin/wil)

Mahasiswa HI UMM Sulap Minyak Jelantah Jadi Lilin Aromaterapi

Limbah rumah tangga menjadi salah satu permasalahan lingkungan yang tak kunjung usai dan minyak jelantah adalah salah satu penyumbang terbesarnya. Seringkali dibuang sembarangan ke tanah atau saluran air, minyak jelantah dapat mencemari lingkungan dan bahkan berbahaya bagi kesehatan tubuh. Namun, di tengah tantangan ini, muncul secercah harapan dari tangan kreatif mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Adalah Jo, koordinator tim dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, jurusan Hubungan Internasional, yang berinisiatif menghadirkan solusi inovatif, yakni lilin aromaterapi dari minyak jelantah. Ide brilian ini bermula dari mata kuliah Gerakan Sosial di semester 5. Jo yang memiliki nama lengkap Alvinda Wijaya, menjelaskan bahwa inovasi ini didorong oleh kepedulian terhadap dampak merusak minyak jelantah. “Minyak jelantah ini kan salah satu limbah rumah tangga yang bisa dibilang susah dan merusak. Ini bisa merusak lingkungan karena minyaknya yang biasanya dibuang di jalan atau tanah dan juga merusak tubuh,” ungkap Jo. Ia dan timnya kemudian mengajak masyarakat, khususnya di Desa Kayu Kebek, untuk memanfaatkan limbah yang sering dianggap tak berguna ini. Meskipun terdengar rumit, Jo menuturkan bahwa bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat lilin aromaterapi ini sebenarnya sederhana. Untuk menjernihkan minyak jelantah, mereka menggunakan arang aktif (arang kayu). Jika bau masih membandel, minyak dapat dihangatkan, digoreng dengan bawang bombay, kemudian ditambahkan empat sendok bleacher sambil terus diaduk hingga tidak menggumpal. Tentu saja, di awal proyek ini, Jo dan tim dihadapkan pada beberapa tantangan. Jo sendiri mengaku gugup saat harus berbicara di depan banyak orang, terutama saat menghadapi sekitar 30 ibu-ibu PKK. Selain itu, tantangan teknis dalam meracik lilin juga tak kalah seru. “Tantangan membuat lilin saat pertama kali itu harus memikirkan rumus yang tepat seperti berapa gram steric acid-nya (bahan pengeras lilin) dan essential oil. Lalu terkiat minyak jelantah yang kadang susah menghilangkan baunya,” katanya. Lilin aromaterapi dari minyak jelantah ini bukan sekadar penerangan biasa. Produk ini menawarkan aroma yang khas dan memikat karena diberi essential oil atau fragrance oil, sehingga tidak hanya memberikan penerangan namun juga menciptakan suasana yang menenangkan. Selain itu, lilin aromaterapi ini juga bisa dikasih hiasan dan aneka ragam wadah, yang menjadi keunggulan produk ini dalam menjual kreativitas dan ketertarikan kepada konsumen. Yang paling penting, karena bahannya terdapat minyak jelantah, produk ini termasuk dalam gerakan peduli lingkungan sekaligus menambah rasa kreativitas orang atau warga yang membuatnya. Jo dan tim menargetkan penjualan lilin ini ke hotel atau tempat spa yang membutuhkan lilin beraroma. Namun, dengan pemikiran untuk menjual secara daring, ia berharap target pasar produk ini dapat melebar luas dan menjangkau lebih banyak konsumen. Visi utama mereka adalah mengajak masyarakat untuk peduli dan menjaga lingkungan. Mereka melihat inisiatif lilin aromaterapi dari minyak jelantah ini sebagai sebuah gerakan penyadaran lingkungan. Mereka berharap, kegiatan inimenciptakan sebuah “hilir” di mana masyarakat dapat terus berinovasi dan berkontribusi dalam menjaga lingkungan. (bil/wil)

Mahasiswa UMM Sulap Ampas Jamu jadi Herbal Candy

Inovasi terus lahir dari tangan-tangan kreatif mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini, inovasi luar biasa datang dari sekelompok mahasiswa Peternakan UMM. Berupaya mendukung para peternak menghadapi potensi wabah yang sewaktu-waktu dapat terjadi, kelompok beranggotakan 10 orang ini menghadirkan produk suplemen pakan untuk ternak ruminansia, khususnya sapi perah. Bahkan produk ini terbuat dari ampas jamu-jamuan. Produk ini diberi nama Herbal Candy. Adapun Yulya Ulfa Majoli sebagai salah satu anggota kelompok mengatakan bahwa, produk ini menjadi jawaban atas kebutuhan peternak akan suplemen pakan yang alami, aman, praktis, sekaligus ramah lingkungan. Herbal Candy berbentuk blok yang dirancang agar mudah dijilat oleh ternak. Terbuat dari bahan-bahan herbal seperti kunyit, jahe, temulawak, molase, dan mineral penting, suplemen ini didesain mampu meningkatkan daya tahan tubuh, nafsu makan, serta metabolisme ternak. Utamanya, sebagai booster produksi susu pada sapi perah. Menariknya, bahan herbal tersebut diperoleh dengan memanfaatkan limbah ampas jamu sebagai komposisi bahan utama. Menurut Ulfa, selain bernilai ekonomis juga mendukung konsep peternakan berkelanjutan di tanah air. Tak hanya mampu menstimulasi imunitas, Herbal Candy juga berfungsi memperbaiki pencernaan serat pakan. Kandungan molase di dalamnya menjadi sumber energi cepat yang sangat dibutuhkan ternak. Terutama saat masa laktasi atau penggemukan. Ditambah lagi, kombinasi kunyit dan temulawak berperan sebagai digestional booster yang merangsang produksi enzim dan empedu, sehingga kesehatan pencernaan sapi tetap terjaga. Lebih lanjut, Ulfa menjelaskan proses produksinya dimulai dengan seleksi dan penimbangan bahan kering sesuai formulasi ampas jamu, mineral, dan pollard. Kemudian, bahan kering yang sudah siap dicampur dengan molase hingga membentuk adonan homogeny. Adonan dicetak, dipadatkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari selama 1–2 hari atau dalam oven agar awet dan tahan lama. Setelah melewati pemerikasaan bobot dan kualitas, Herbal Candy dikemas rapi agar siap digunakan. Dari segi harga, produk ini juga lebih ekonomis. Satu blok seberat 550 gram hanya dibandrol Rp10.000 lebih hemat sekitar Rp5.000 dibandingkan suplemen sejenis di pasaran. Tak hanya itu, keunggulan lainnya terletak pada penggunaan bahan-bahan alami tanpa campuran bahan kimia, sehingga aman untuk pemberian jangka panjang. “Produk ini kami rancang harganya lebih terjangkau dan menggunakan bahan alami mengandung Kurkumin tanpa campuran kimia yang bersifat antibakteri dan anti inflamasi. Sehingga membantu menjaga kesehatan dan aman untuk digunakan dalam jangka panjang,” kata Ulfa melanjutkan. Lebih lanjut, Ulfa menceritakan dibalik produk inovasi ini, terdapat kerja keras tim mulai dari observasi, riset business plan, hingga proses produksi dan pengemasan. Di samping itu, Ia menyampaikan terimakasih kepada para dosen, teman, dan keluarga yang selalu support langkahnya. Menurutnya, di UMM, para mahasiswa tak hanya diberi pembekalan materi, tetapi juga menjadi wadah nyata yang menfasilitasi mahasiswa menyalurkan kreativitas dan inovasi. Selain memperluas wawasan keilmuan, program ini juga membekali mahasiswa dengan semangat kewirausahaan yang bermanfaat langsung bagi masyarakat. “Dengan semangat inovasi dan kolaborasi, UMM terus mendorong mahasiswanya menjadi agen perubahan yang mampu menciptakan solusi untuk kebutuhan masyarakat. Ini juga menjadi peluang nyata bagi kami para mahasiswa untuk bisa berkreasi dan berdampak bagi masyarakat luas,” ujar Ulfa. (din/wil)

Ini Dia Beragam Karya Inovasi Mahasiswa UMM Bidang Peternakan

Program Studi Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar kuliah pakar bertajuk “Inovasi Nutrisi dan Pakan Ternak untuk Peternakan Berkelanjutan”. Menariknya, acara yang dilaksanakan pada 26 Juli ini juga memamerkan berbagai produk inovasi, serta menjadi bagian dari mata kuliah praktikum Pakan dan Teknologi Pakan. Inovasi produk pakan itu diproduksi langsung oleh mahasiswa Peternakan UMM. Produk yang dipromosikan bervariatif seperti MBP (Milkbooster ProMix), sebuah pakan berkualitas yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan nutrisi sapi perah secara lengkap. Di dalamnya mengandung energi, protein, serat, vitamin, dan mineral yang cocok diberikan saat laktasi goalsnya meningkatkan volume dan susu dengan kualitas tinggi. Kemudian ada juga Mafeed (Maggot Feed Layer) pakan alternatif ternak untuk unggas fase layer, Havpaya Feed peningkat nafsu makan domba atau kabing dari tepung daun papaya dan biji haver, serta masih banyak lagi. Adapun agenda tahunan ini diikuti oleh puluhan mahasiswa dan menghadirkan dua narasumber ahli yang terjun langsung dalam industri pakan ternak. Mereka adalah Ir. Yahya M. Sofwan, S,Pt, MP, IPM selaku Feed and Nutrition Consultant dan Samsul Hadi Santoso yang merupakan General Manager Koperasi Agro Niaga (KAN). Dalam materinya, Yahya menyoroti pentingnya efisiensi dan inovasi dalam formulasi pakan ayam petelur. Ia menjelaskan berbagai jenis pakan seperti mash, crumble, dan kibble, serta pengaruh besar sumber cereal seperti sorgun, gandum, hingga jagung terhadap nilai nutrisi. Menurutnya, pendekatan phase feeding dapat mengoptimalkan performa ayam petelur dengan tetap memperhatikan efisiensi biaya dan keberlanjutan lingkungan. “Industri pakan saat ini mengalami disrupsi. Untuk itu, teknologi evaluasi pakan yang cepat dan tepat menjadi kunci untuk menekan biaya dan tetap menjaga kualitas,” jelas Yahya melanjutkan. Sementara itu, Samsul Hadi membahas pentingnya formulasi pakan sapi perah secara presisi. Pemenuhan kebutuhan nutrisi harus mempertimbangkan berbagai faktor seperti bobot bada, status reproduksi, performa tubuh, ladar lemak susu, dan tingkat produksi susu pada sapi perah. Karena menurutnya, efisiensi nutrisi dimuali dari perhitungan yang matang. Dengan begitu, biaya produksi bisa ditekan tanpa mengorbankan kualitas pakan dan produk yang dihasilkan. Di sisi lain, Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, MP., IPU selaku dosen pengampu menyebut bahwa kuliah pakar ini tidak hanya memberikan wawasan teoritis saja. Akan tetapi juga menguatkan pemahaman praktis mahasiswa dalam menghadapi tantangan nyata di sektor peternakan yang kian berkembang. Ini merupakan output positif setelah tujuh tahun Prodi Peternakan UMM menerapkan pendekatan pembelajaran menjadi berbasis proyek. Momentum ini menjadi yang selalu ditunggu mahasiswa dan dosen. “Dari sini lah wawasan mereka terhadap sains dan teknologi, team work, serta skill entrepreneur dimainkan. Produk-produk yang dihasilkan lebih dari ekspektasi kami, sangat inovatif, ramah lingkungan, dan bahkan menjadi kontributor terbesar inovasi PKM yang beberapa diantaranya lolos ke tingkat nasional,” ujar Indah. (din/wil)

Mahasiswa PPG UMM Ajari Warga Sulap Sayur Jadi Makanan Siap Saji

Hal menarik kembali datang dari mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini mahasiswa rogram Profesi Guru (PPG), Program Studi Bahasa Indonesia UMM latih warga mengubah sayur menjadi makanan bergizi dan siap saji, serta pelatihan digital marketing untuk mendukung pemasaran produk lokal. Agenda yang dilaksanakan Mei di Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu ini merupakan bagian dari implementasi proyek kepemimpinan. Turut hadir puluhan peserta yang terdiri dari pemuda karang taruna dan masyarakat petani sayur desa Giripurno. Mereka terlihat antusias dengan pelatihan yang dibalut dengan tema “Pelatihan Mengolah Sayur Menjadi Makanan Bergizi dan Siap Saji”. Pelatihan pertama difokuskan pada cara mengolah berbagai jenis sayur menjadi nugget dan sosis sehat tanpa menggunakan bahan pengawet. Salah satu pemateri, Karin, memaparkan bahwa teknik pengolahan makanan berbasis sayur sangat potensial untuk dikembangkan sebagai alternatif konsumsi harian yang sehat sekaligus produk bernilai jual tinggi. “Kami ingin warga tidak hanya bisa memanfaatkan hasil tani mereka, tapi juga mampu mengubahnya menjadi produk yang menarik dan sehat, terutama untuk anak-anak. Selain itu, juga sayur yang semula harganya murah dapat menjadi produk yang bernilai jual lebih tinggi,” ujarnya. Pelatihan kemudian dilanjutkan dengan sesi digital marketing, yang memperkenalkan cara memasarkan produk secara efektif di era digital. Peserta diajarkan memanfaatkan media sosial seperti Instagram, Facebook, WhatsApp Business serta diperkenalkan pada konsep branding, foto produk menarik, dan komunikasi dengan konsumen online. Dosen pendamping Dr. M. Isnaini, M.Pd. menjelaskan, pelatihan tersebut menjadi upaya atas pengolahan sayur yang kerap kali kurang maksimal pemanfaatannya. Padahal ada banyak daerah yang masih memiliki banyak sayur karena tidak semua laku di pasaran. Ini juga cara UMM untuk membantu warga meningkatkan nilai jual sayur yakni dengan mengolahnya menjadi produk yang menarik. “Jadi, kegiatan ini juga melatih mahasiswa PPG UMM melalui projek yang dijalankan untuk bisa memberikan dampak bagi masyarakat. Selain itu juga membantu meningkatkan perekonomian warga sekitar dan menambah nilai jual dari potensi hasil pertanian desa,” tegasnya menambahakan. Di sisi lain, peserta pelatihan, Fadil, menyampaikan bahwa dirinya senang sekali mengikuti pelatihan ini karena banyak insight baru yang ia dapatkan, baik dari sisi pengolahan produk maupun strategi pemasarannya. “Saya jadi tahu bagaimana cara membuat nugget dari sayur yang ternyata mudah dan sehat. Pelatihan ini benar-benar membuka wawasan saya,” ujarnya. Menurutnya, kegiatan seperti ini sangat membantu masyarakat dalam mengembangkan potensi lokal secara kreatif dan berkelanjutan. Sebagai bentuk tindak lanjut, mahasiswa PPG UMM juga akan membentuk grup diskusi daring yang dapat digunakan oleh warga untuk berkonsultasi, berbagi ide usaha, serta mendapatkan pendampingan teknis lanjutan dari para mahasiswa. (*/wil)

Mahasiswa UMM Ajari Warga Ubah Limbah Maggot Jadi Produk Pakan

Hal unik dan bermanfaat kembali dilakukan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional UMM langsungkan pendampingan pengolahan maggot basah dan mengubahnya menjadi produk yang lebih ekonomis, yakni pakan hewan seperi ikan maupun unggas. Adapun mereka mendampingi para warga di Kampung Semar, Arjosari, Kota Malang sejak pertengahan Juni lalu. Salah satu mahasiswa, Bhilqis Khumairoh menjelaskan, pelatihan ini diharapkan bisa membuat warga setempat lebih mandiri secara eknomi dan bisa menjadi contoh pengelolaan limbah organik berbasis komunitas yang produktif. Adapun proses pendampingan ini merupakan implementasi nyata dari mata kuliah politik lingkungan. Ini menjadi cara UMM untuk tidak hanya memberikan pengetahuan teoritis, tapi juga memberikan pengalaman praktis menyelesaikan masalah masyarakat. Lebih lanjut, Bhilqis mengatakan bahwa maggot merupakan sumber protein alternatif yang ramah lingkungan. Bahkan memiliki potensi ekonomi tinggi jika bisa diolah dengan baik dan benar. Sayangnya, tidak banyak masyarakat yang mengetahui proses tersebut, padahala ada banyak potensi. “Maka dari itu, saya dan tim ingin memberikan pelatihan teknis tentang proses pengeringan magot yang efektif, higienis, dan efisien. Bahkan memiliki nilai ekonomi jika dikomersilkan. Kami juga ingin menggabungkan teori yang kami pelajari di kampus dengan aksi nyata yang bermanfaat langsung bagi masyarakat,” katanya. Bhilqis tidak sendiri, ia ditemani Naia Sybilla Aura, Syella Vanessa Putri, Hana Indah Wahyuni, Devi Nazilatul Fitria, Nur Sakinah Salsabilah, Asfira Chisara Hasan, dan Ayu Carika Pangest. Mereka menargetkan program ini bisa dikembangkan ke daerah-daerah lain. Namun dengan menyesuaikan potensi yang dimiliki masing-masing desa. (*/wil)

Begini Cara Pendidikan Agama Islam UMM Ajarkan Hospitality

Layanan prima dan sikap hospitality menjadi bagian penting dalam dunia pendidikan. Hal itu ditegaskan Dosen Bahasa Inggris sekaligus General Manager Hotel Kapal dan My Dormy Hostel, Teguh Hadi Saputro, MA. dalam Pembekalan Praktik Kerja Lapangan (PKL) untuk mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) FAI Universitas Muhammadiyah Malang, akhir Juni lalu. Ini sekaligus memperkuat skill mengajar mahasiswa sebelum terjun untuk melakukan praktek mengajar. Adapun para mahasiswa akan melakukan praktek mulai Juli hingga akhir September di berbagai lokasi. Sebanyak 46 mahasiswa akan disebar ke lembaga pendidikan, baik di level SMP maupun SMA di berbagai kota dan kabupaten. Lebih lanjut, Teguh mengatakan bahwa skill tersebut bisa membentuk citra sekolah dan kepribadian tenaga kependidikan. Menurutnya, sekolah sejatinya juga merupakan lingkungan jasa. “Kita melayani siswa, guru, staf administrasi, hingga orang tua. Setiap tindakan kita berkontribusi terhadap citra pribadi dan reputasi institusi,” tegasnya Ia juga menggarisbawahi bahwa pelayanan yang baik berdampak langsung pada citra sekolah dan branding pribadi guru maupun mahasiswa praktek sebagai pendidik. Hospitality juga menjadi poin penting yang harus dibangun di sekolah yang tidak bisa dilepaskan dari sikap personal individu. Ketika seseorang memiliki attitude value yang positif, maka personal branding akan terbangun dengan sendirinya. Dalam konteks pendidikan, hospitality bisa diwujudkan melalui pelayanan ramah dan profesional dari pimpinan hingga tenaga kependidikan di sekolah,” katanya. Para mahasiswa juga diajak untuk memahami lima pilar utama layanan prima, Mulai dari Penampilan Profesional, Komunikasi Efektif, Sikap Positif, Konsistensi dan Keandalan, serta Antisipasi dan Empati. Menurut Teguh, pelayanan yang baik bukan hanya urusan teknis, tetapi mencerminkan hati dan sikap. Hospitality itu bukan sekadar tugas, tapi sikap. Tidak hanya memberi instruksi, tetapi juga memberikan kepedulian. Ia juga sempat mengajak maahsiswa untuk melakukan simulasi agar lebih siap. Sementara itu, Dekan FAI UMM Prof. Khozin, M.Si. menegaskan pentingnya membangun karakter dan kompetensi mahasiswa PAI sebagai calon pendidik yang paripurna. Pendidikan bukan hanya terbatas pada ruang kelas, tetapi mencakup ranah formal, nonformal, dan informal. “Mahasiswa PAI harus dipersiapkan sejak dini agar mampu berperan sebagai pendidik di berbagai lini kehidupan—di tengah keluarga, di sekolah atau madrasah, dan di masyarakat luas,” ujarnya. Seorang guru PAI juga harus memiliki penguasaan dasar yang kuat terhadap Bahasa Arab dan ilmu-ilmu keislaman. Ia menyebutkan bahwa setidaknya mahasiswa harus memahami kitab Tafsir Jalalain untuk memperkuat kemampuan membaca dan memahami Alquran, serta kitab Bulughul Maram sebagai dasar ilmu fikih. Tiga profil utama yang harus dimiliki mahasiswa PAI adalah memahami ajaran Islam, mengajarkannya kepada orang lain, dan menyebarkannya melalui dakwah. “Mahasiswa PAI juga harus mampu meneladani dan mengkloning tokoh-tokoh pendakwah Islam yang mumpuni dan memberi manfaat nyata bagi umat. Guru agama masa kini tidak cukup hanya bisa mengajar. Mereka harus mampu menulis, berceramah, dan memiliki wawasan yang luas. Untuk itu, ia menggarisbawahi pentingnya menguasai Bahasa Arab, Bahasa Inggris, serta semangat dan karakter khas Hizbul Wathan (HW) sebagai nilai tambah yang harus dimiliki,” pungkasnya yang juga Ketua Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal PWM Jawa Timur. (*/wil)