Pesmaba UMM Belum Dimulai, Gen 25 Digoyang Ndarboy Genk

Ribuan mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) padati helipad pada 27 Agustus 2025. Mereka siap menyambut Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) UMM dengan asyik bernyanyi dan berjoget bersama guest star, Ndarboy Genk. Terhitung, 10 lagu dibawakan Ndarboy Genk untuk menghibur para mahasiswa baru. Adapun ini menjadi agenda pra sebelum memasuki Pesmaba UMM bagi para mahasiswa baru yang akan dilaksanakan awal September nanti. Sebelum konser dimulai, Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik juga secara langsung meluncurkan beasiswa pendidikan Indonesia Emas untuk para generasi muda. Terutama mereka yang memiliki potensi dan siap ditempa UMM untuk menjadi pemimpin masa depan. Ndarboy Genk mengawali aksi panggungnya dengan berbagai lagu seperti Ambyar, Pergi Pagi, Lanang Tenan, dan lainnya. Bahkan mereka juga mengajak penonton untuk menari bersama mengiringi lagu yang dibawakan. “Untuk para mahasiswa baru, belajar yang serius, jangan banyak main. Semoga kuliahnya lancar hingga skripsinya selesai,” kata vokalis Ndarboy Genk, Helarius Daru. Sebelum menyanyikan beberapa lagu terakhir, Rektor Nazar juga sempat menyematkan almamater UMM kepada vokalis Ndarboy Genk. Kemudian ikut menari bersama para wakil rektor sehingga membuat para peserta smeakin ramai dan riuh. “Konser ini menjadi bentuk syukur karena UMM kedatangan Gen 25 UMM, para mahasiswa baru yang akan menimba ilmu di kampus putih tercinta ini. Walaupun di tengah hujan rintik, tapi saya lihat semangat saudara terus menyala. Selamat datang di UMM dan bersiaplah mengikuti Pesmaba,” kata Nazar. Di sisi lain, salah satu mahasiswa baru Angel mengungkapkan rasa senangnya bisa bergabung menjadi keluarga besar UMM. Menurutnya, mengawali dunia perkuliahan dengan seru dan menyenangkan, membuatnya semakin bersemangat. Apalagi ia juga baru saja menjadi bagian dari Digital Team Kampus Putih. “Rasanya seneng banget bisa jadi mahasiswa UMM. Apalagi pihak kampus menyambut kami dengan sangat meriah. Cuma di UMM, pembukaan ospeknya seseru ini. Bahkan ini belum ospek Pesmaba, tapi sudah seasyik ini. Saya semakin tidak sabar untuk menyambut Pesmaba UMM 2025 dan menjadi Gen 25,” kata mahasiswa jurusan Hubungan Internasional itu. (wil)
FDI UMM Atasi Masalah Eceng Gondok hingga Jadi Produk Bernilai

Desa Kaumrejo kini tidak hanya dikenal sebagai desa dengan potensi alam yang besar, tetapi juga sebagai pionir dalam mengubah limbah menjadi berkah. Berkat inisiatif dari UKM Forum Diskusi Ilmiah (FDI) Universitas Muhammadiyah Malang melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Mahasiswa (PPK Ormawa), hadir sebuah gerakan inovatif yakni ‘Rumah Inovasi Wirausaha berbasis Eceng Gondok’. Program yang diketuai oleh Azli Julianto ini telah berlangsung sejak Juli dan akan terus digulirkan hingga Desember 2025. Fokus utamanya adalah memberdayakan masyarakat desa melalui pengolahan eceng gondok menjadi produk bernilai ekonomi tinggi seperti briket bahan bakar, pupuk organik, hingga kerajinan tangan. “Tujuan utama kami adalah membentuk ekosistem wirausaha baru yang berkelanjutan di Desa Kaumrejo, dengan menjadikan eceng gondok sebagai solusi, bukan masalah,” ujar Azli. Desa Kaumrejo dipilih sebagai lokasi utama karena memiliki permasalahan serius dengan penyebaran eceng gondok di waduk desa. Tanaman gulma ini telah menutupi sekitar 150 hektare atau 20% dari luas waduk, menghambat aktivitas masyarakat, terutama nelayan. Melalui pendekatan kreatif, kelompok FDI menghadirkan pelatihan-pelatihan intensif yang melibatkan ibu-ibu PKK, karang taruna, BUMDes, hingga mitra lokal. Salah satu momen paling menarik adalah Workshop Briket Eceng Gondok yang digelar di Posko PPK Ormawa FDI, yang dihadiri oleh lebih dari 90% anggota kelompok Wirausaha Baru. Mereka diajarkan langsung cara membuat briket dari campuran arang eceng gondok, parafin, tepung kanji, dan air. Menghasilkan briket yang lebih hemat, ramah lingkungan, tahan lama, dan tentunya bernilai jual tinggi. “Selama ini eceng gondok dianggap sebagai pengganggu. Tapi lewat inovasi ini, kami melihat potensi luar biasa untuk menjadikannya sebagai sumber energi alternatif,” ujarnya. Manfaat program ini sangat dirasakan oleh masyarakat. Hera, salah satu peserta pelatihan, menyampaikan bahwa kegiatan ini membuka matanya akan nilai ekonomi dari eceng gondok. Ia mengaku optimis, produk seperti briket dan kerajinan bisa menjadi tambahan penghasilan yang nyata bagi keluarga. “Program ini membuka wawasan kami. Eceng gondok kini tak lagi jadi limbah, tapi bisa jadi energi baru dan peluang usaha nyata,” ungkapnya. Tak hanya menyasar pada aspek ekonomi, program ini juga menargetkan pengurangan populasi eceng gondok hingga 40% per tahun serta peningkatan pendapatan masyarakat sekitar sebesar 15%. Hal ini sejalan dengan Asta Cita pemerintah, khususnya dalam mendorong kewirausahaan dan industri kreatif berbasis potensi lokal. “Harapan kami ke depan, Rumah Inovasi Wirausaha ini menjadi pusat pembelajaran dan produksi yang terus hidup bahkan setelah program berakhir. Kami ingin masyarakat Desa Kaumrejo bisa mandiri, kreatif, dan menjadi contoh bagi desa-desa lain,” kata Azli. Dengan semangat kolaboratif, inovasi lokal, dan keberlanjutan, Desa Kaumrejo membuktikan bahwa eceng gondok bukan sekadar gulma, tapi juga sumber energi dan harapan baru bagi ekonomi desa. (vin/wil)