Mberot Negatif Begini Hasil Riset Mahasiswa UMM yang Sebut Mberot Bisa Perkuat Karakter

Fenomena kesenian mberot di Malang Raya tengah menjadi sorotan. Popularitasnya kian meluas, tercatat ada sekitar 1.336 kelompok bantengan yang menaungi kesenian tersebut. Kesenian rakyat ini tidak hanya digemari masyarakat umum, tetapi juga diikuti oleh anak-anak usia sekolah dasar, generasi alpha. Namun, di balik maraknya pertunjukan, budaya mberot kerap dikaitkan dengan stigma negatif. Beberapa pentas justru berujung ricuh, adanya minuman keras, dan lainnya. Kondisi inilah yang menggerakkan tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk menginisiasi riset dalam skema Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH). Penelitian yang diketuai oleh Meilisa Tri Adinda Putri dengan anggota Febila Serlina Efendi, Fitriya Maharani, Ana Maulida Azura, dan Wiga Septiyan Vindiani ini bertajuk ‘Gayenge Malang: Kajian Pambudi Luhur Budaya Mberot Menggunakan Metode Gioia untuk Mitigasi Pergeseran Karakter Generasi Alpha di Wilayah Malang’. “Selama ini mberot lebih sering dilihat dari sisi negatif, padahal di dalamnya tersimpan nilai-nilai luhur yang justru bisa membentuk karakter anak-anak,” ujar Meilisa. Menurutnya, melalui pendekatan penelitian yang tepat, kesenian ini berpotensi menjadi media pendidikan karakter yang kontekstual sekaligus melestarikan budaya lokal. Dalam riset tersebut, tim menggunakan metode Gioia, sebuah teknik analisis kualitatif yang memungkinkan peneliti menggali data secara mendalam. Observasi lapangan dilakukan di Kabupaten Malang, antara lain Desa Tajinan dan Kecamatan Turen, serta di Kota Malang dan Batu. Para peneliti mewawancarai pelaku mberot usia sekolah dasar, pemilik sanggar, guru, kepala sekolah, hingga penonton pertunjukan. “Yang pertama dengan melibatkan adik-adik kita, yang paling utama adalah untuk memperkenalkan seperti apa sih kebudayaan kita yang utama ini, dengan harapan agar nanti kita tidak kehilangan budaya-budaya yang ada di Indonesia,” ujar pemilik sanggar mberot . Keterangan pemilik sanggar juga didukung dengan pernyataan pemain mberot dan penonton mberot yang merasa bahwa budaya mberot ini memiliki nilai positif seperti membuat anak lebih suka berosialisasi, tidak kecanduan gadget, dan melatih motorik kasar mereka. “Di tempat latihan, iya bareng-bareng. (ikut Mberot) Seru temannya banyak.” Ujar Reval, anak sekolah dasar di kota malang yang mengikuti kelompok budya mberot di daerahnya. Hasil penelitian mengungkap, nilai-nilai pambudi luhur yang terkandung dalam budaya mberot mencakup tiga aspek utama: nilai moral etika, kearifan lokal, serta nilai religius spiritual. Dari ketiganya, aspek moral etika dan kearifan lokal tampak lebih dominan. Temuan ini menjadi bukti bahwa mberot sesungguhnya tidak semata-mata soal atraksi fisik, melainkan ruang internalisasi nilai yang relevan bagi generasi muda. Dr. Dyah Worowirastri Ekowati, S.Pd., M.Pd., dosen pembimbing riset, menegaskan pentingnya reposisi makna mberot. Menurutnya, jika hanya menyoroti perilaku-perilaku negatif saat pertunjukan, maka mberot akan terus dicap negatif. Padahal, ada filosofi pambudi luhur yang bisa digali. Mahasiswa perlu hadir untuk mengembalikan esensi budaya ini sebagai sarana pendidikan karakter. Melalui penelitian ini, tim berharap dapat menawarkan strategi mitigasi untuk mengurangi potensi penyimpangan nilai dalam praktik mberot. Salah satunya dengan merumuskan panduan berbasis nilai pambudi luhur yang dapat diterapkan di sanggar maupun sekolah dasar. Strategi ini diharapkan mampu mengarahkan generasi alpha agar menjadikan mberot sebagai wadah pembelajaran moral, sosial, dan spiritual, alih-alih hanya tontonan hiburan yang rawan disalahgunakan. (*/wil)

Riset Mahasiswa UMM Ciptakan Lapisan yang Bikin Tomat Lebih Tahan Busuk

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 mencatat produksi tomat nasional mencapai 1,15 juta ton, namun jumlah besar itu tersimpan masalah klasik yang merugikan. Yakni kerentanan tomat yang hanya mampu bertahan 3 hingga 7 hari setelah panen. Fenomena ini menyebabkan kerugian besar bagi para petani, sekaligus menghambat upaya ketahanan pangan. Berangkat dari keresahan tersebut, sebuah tim mahasiswa Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menciptakan sebuah solusi inovatif. “Kalau biasanya tomat hanya bertahan 3 sampai 6 hari, kami ingin membuatnya bisa segar hingga 20 hari lebih,” ujar Muti’ah Alawiyah, mahasiswa Teknologi Pangan UMM yang akrab disapa Tia. Bersama timnya yang terdiri dari empat orang, ia mengembangkan edible coating atau lapisan pelindung dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal yang melimpah yakni pati singkong dan ekstrak daun singkil. Inovasi ini berjudul Edible Coating Pati Singkong dengan Penambahan Ekstrak Daun Singkil sebagai Antibakteri untuk Peningkatan Umur Simpan Tomat. Ide ini lahir dari pengamatan sederhana, di mana tomat sebagai komoditas utama sering kali tidak sampai ke tangan konsumen dalam kondisi prima. Kerusakan pasca panen umumnya disebabkan oleh proses respirasi berlebih dan kontaminasi mikroba. “Kami ingin ada solusi yang ramah lingkungan, murah, dan mudah diterapkan,” tegasnya. Edible coating yang dikembangkan ini berbentuk lapisan tipis transparan, mirip dengan plastik. Proses pembuatannya dimulai dari ekstraksi pati singkong. Pati ini kemudian dicampur dalam air, ditambahkan sodium alginat sebagai pembentuk gel, serta gliserol dan kalsium klorida untuk memperkuat lapisan. Setelah itu, ekstrak daun singkil dimasukkan ke dalam campuran. Larutan ini kemudian dicetak pada wadah datar dan dikeringkan menggunakan oven bersuhu rendah hingga menjadi lembaran tipis. Lapisan ini bekerja dengan cara yang cerdas. Saat diaplikasikan pada permukaan tomat, edible coating ini bertindak sebagai penghalang mikroba dan udara berlebih. Kandungan flavonoid, saponin, dan tanin dalam daun singkil memiliki sifat antibakteri yang mampu menekan pertumbuhan bakteri perusak. Selain itu, lapisan ini memperlambat laju respirasi tomat, sehingga buah tidak cepat keriput. Berdasarkan hasil sementara dari penelitian yang telah mencapai 80%, tomat yang dilapisi masih segar hingga hari ke-10, jauh lebih lama dibandingkan tomat tanpa pelapisan. Selama proses penelitian, Tia dan timnya mendapat bimbingan intensif dari dosen pendamping, Hanif Alamudin Manshur, S.Gz., M.Si. Keunggulan inovasi ini tidak hanya sebatas memperpanjang umur simpan tomat. Lapisan pelindung ini menarik karena menggunakan bahan-bahan lokal yang melimpah, mudah ditemukan, dan murah, seperti pati singkong. Selain itu, pemanfaatan daun singkil yang jarang diteliti menjadikannya sebuah kebaruan ilmiah. Sifatnya yang ramah lingkungan juga menjadikannya pilihan ideal sebagai pengganti plastik konvensional. Lapisan ini sepenuhnya biodegradable dan aman untuk dikonsumsi karena terbuat dari bahan pangan. “Kalau selama ini masyarakat bergantung pada plastik atau bahan kimia impor, edible coating ini justru memanfaatkan potensi lokal yang murah dan efektif,” terang Tia. Ia berharap penelitian ini dapat berkontribusi nyata bagi ketahanan pangan nasional dengan mengurangi kerugian petani dan membuka peluang pengembangan bahan alami untuk pengawetan produk segar. (ali/wil)