Ngalam Mbois: Mahasiswa UMM Buat Stroller Ajaib Bantu Anak Disabilitas

Detik Jatim – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menciptakan inovasi unik bernama Smart Augmented Technology for Children Disability (SAMATA), stroller pintar yang membantu anak disabilitas, khususnya autisme, berkomunikasi lebih mudah lewat teknologi interaktif berbasis gambar dan suara. Alat yang sedang dikembangkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini adalah stroller pintar interaktif yang dirancang untuk memudahkan anak-anak autisme dalam berkomunikasi sekaligus meningkatkan kemampuan motorik dan kognitif mereka. Inovasi yang digagas oleh mahasiswa Teknik Industri UMM Ulytz Sukma Susila bersama dengan timnya ini menggunakan teknologi mikrokontroler, sensor interaktif dan sistem Augmentative and Alternative Communication (AAC) berbasis gambar. Ulytz mengatakan, Integrasi Sistem AAC Berbasis Gambar adalah teknologi bantu komunikasi bagi anak-anak yang kesulitan berbicara. Pada SAMATA, sistem ini diintegrasikan secara langsung ke dalam stroller melalui panel gambar interaktif. Inovasi ini pada dasarnya adalah modifikasi dari sebuah stroller biasa yang ditransformasi menjadi alat bantu yang cerdas dan interaktif. Mereka memilih pendekatan modifikasi agar biaya produksi lebih terjangkau dan pemanfaatannya lebih mudah diterapkan langsung oleh mitra. Lebih lanjut, Ultzy menjelaskan cara kerja SAMATA yang sederhana namun powerful. Anak cukup menekan gambar simbol di panel seperti gambar makanan atau minuman, maka sensor sentuh akan mengirim sinyal ke mikrokontroler. Secara instan, speaker akan mengeluarkan suara “Saya mau makan” atau “Saya haus”, sementara notifikasi yang sama terkirim ke smartphone pengasuh untuk memastikan respons cepat. Adapun inovasi ini berangkat didasarkan dari identifikasi masalah di lapangan, tim kami menemukan tiga kendala utama yang terjadi di SLB Autisme River Kids. Seperti hambatan komunikasi signifikan pada anak, minimnya alat bantu efektif, dan beban emosional yang tinggi bagi pengasuh. SAMATA hadir sebagai solusi dengan mengubah stroller biasa menjadi alat komunikasi interaktif yang terjangkau. “Oleh karena itu, inovasi kami hadir sebagai jembatan komunikasi untuk anak autisme, mendukung proses belajar, meringankan beban emosional guru,” ungkap Ultzy kepada awak media, Senin (20/10/2025). Dalam pembuatan SAMATA, ada beberapa tantangan yang dihadapi oleh Ulytz dan tim. Mereka harus membuat desain yang user-friendly, intuitif dan mudah dipahami oleh anak-anak autisme dengan beragam tingkat kemampuan. Tentu hal ini membutuhkan iterasi dan uji coba langsung. Kemudian, dari segi durabilitas dan keamanan, mereka harus memastikan prototipe stroller yang dibuat tidak hanya canggih secara teknologi, tetapi juga kuat, aman, dan nyaman untuk digunakan anak-anak setiap hari. Keberhasilan ini tidak membuat tim berpuas diri. Tim SAMATA akan terus mengembangkan fiturnya, seperti mengembangkan bank suara dan simbol untuk mengekspresikan, sistem yang lebih cerdas dan mendesain ulang modul agar lebih modular sehingga mudah untuk dipasang. “Semoga alat ini bisa membatu anak-anak disabilitas agar bisa dapat menyalurkan kebutuhan dasar mereka. Kami mengharapkan mereka bisa mengekspresikan rasa ingin tahu melalui alat komunikasi interaktif ini dan juga sebagai sarana pembelajaran yang mendukung perkembangan sensorik dan motorik,” tandasnya.

Siswa SD Mulai 2027 Mulai Belajar Coding dan AI

Terkenal.co – Pendidikan Indonesia siap menghadapi perubahan besar. Mulai tahun 2027, mata pelajaran coding dan kecerdasan buatan (AI) akan menjadi mata pelajaran wajib di sekolah. Selain itu, Bahasa Inggris juga akan diajarkan mulai kelas tiga. Kebijakan ini diumumkan langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Forum Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah (PTMA), yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur, Jumat malam (17/10/2025). “Kebutuhan guru coding dan AI akan meningkat tajam. Oleh karena itu, peran perguruan tinggi sebagai mitra pendidikan menjadi krusial,” ujar Abdul Mu’ti. Menurutnya, mata pelajaran coding dan AI, yang saat ini merupakan mata pelajaran pilihan, akan menjadi bagian dari kurikulum nasional. Pemerintah sedang mempersiapkan langkah-langkah strategis untuk memastikan guru memiliki kompetensi yang memadai untuk mengajar mata pelajaran tersebut. Wajib Bahasa Inggris Mulai Kelas Tiga Selain memperkenalkan teknologi digital sejak dini, pemerintah juga akan menerapkan wajib belajar Bahasa Inggris mulai kelas tiga. “Pelatihan guru Bahasa Inggris akan menjadi fokus utama. Namun, kami ingin istilah ‘pelatihan’ diganti dengan ‘pendidikan’ agar dapat tersertifikasi dan berdampak pada profesionalisme guru,” jelas Abdul Mu’ti. 5 Program Pendidikan Prioritas Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah saat ini memiliki lima hingga enam program prioritas yang akan dilaksanakan bekerja sama dengan perguruan tinggi, termasuk PTMA (Perguruan Tinggi Swasta). Beberapa di antaranya meliputi: Revitalisasi Satuan Pendidikan, meliputi peningkatan manajemen, tata kelola, dan peningkatan kapasitas kepala sekolah dan guru. Tahun ini, lebih dari 16.100 sekolah telah direvitalisasi dengan anggaran Rp16,9 triliun. Peningkatan Kualitas Guru melalui pelatihan dan Pendidikan Profesi Guru (PPG). Pemerintah telah mengalokasikan 808.000 kuota PPG dan memperluas program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) bagi guru yang belum menyelesaikan studi sarjana. Memperkuat Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) untuk memperkuat karakter dan kompetensi mahasiswa, dengan dukungan perguruan tinggi sebagai pengembang modul dan penyelenggara pelatihan guru. Pendidikan Berbasis Akademik Abdul Mu’ti menekankan bahwa setiap kebijakan pendidikan harus lahir dari kajian akademik yang kuat, bukan sekadar kajian administratif. “Kita ingin kebijakan pendidikan menjadi alat rekayasa sosial yang membentuk karakter bangsa,” ujarnya. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah juga membuka kesempatan bagi perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah untuk berkontribusi dalam riset kebijakan, khususnya terkait pendidikan karakter dan kebiasaan belajar mahasiswa. Beliau menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi keagamaan dalam mewujudkan pendidikan nasional yang inklusif, berbasis karakter, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Menuju Pendidikan Masa Depan Rapat Kerja Nasional Forum Rektor PTMA 2025, yang diselenggarakan pada 16-19 Oktober di UMM Malang, menjadi wadah refleksi dan konsolidasi kebijakan pendidikan nasional. Forum ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan jaringan kampus Muhammadiyah-Aisyiyah dalam mewujudkan pendidikan yang unggul, adaptif, dan berdampak bagi bangsa.

Tegaskan Diri sebagai Mitra Kritis Pemerintah, FR-PTMA Soroti Masalah Pendidikan hingga Politik Kebangsaan

MAKLUMAT — Forum Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah (FR-PTMA) menandaskan komitmen sebagai mitra strategis sekaligus mitra kritis bagi pemerintah dalam memajukan pendidikan nasional. Hal tersebut disampaikan Ketua FR-PTMA, Prof Dr Ma’mun Murod MSi, melalui pernyataan sikap FR-PTMA yang dibacakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (18/10/2025). Dalam pernyataannya, FR-PTMA menegaskan kesiapan untuk menjalin kerja sama dan memberi masukan konstruktif kepada pemerintah, terutama dalam isu-isu terkait mutu, pemerataan, dan keadilan akses pendidikan tinggi di Indonesia. “FR-PTMA bukan hanya mitra pemerintah dalam pelaksanaan kebijakan, tetapi juga mitra kritis yang berani memberi masukan demi kemajuan pendidikan nasional,” ujarnya. FR-PTMA juga menyampaikan apresiasi terhadap komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam mendorong peningkatan mutu pendidikan secara transformatif. Para pimpinan kampus Muhammadiyah itu meminta agar amanat konstitusi tentang alokasi anggaran pendidikan minimal 20 persen dari APBN dan APBD dijalankan secara efektif, transparan, dan berpihak pada peningkatan mutu serta pemerataan akses pendidikan tinggi di seluruh Indonesia. Selain itu, FR-PTMA menyoroti pentingnya kebijakan penerimaan mahasiswa baru yang berkeadilan dan inklusif. Forum mendesak agar pemerintah menghindari kebijakan yang menimbulkan kesenjangan antara PTN, PTN-BH, dan PTS. “Pemerintah harus menjamin keberlanjutan ekosistem pendidikan tinggi yang sehat dan kompetitif, bukan justru menimbulkan disparitas antar lembaga,” tandas Ma’mun. Dalam bidang keilmuan, FR-PTMA menekankan perlunya memperkuat kolaborasi riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah. Forum menilai, kolaborasi tersebut mampu menjadi jawaban atas persoalan bangsa, mulai dari kemiskinan, ketimpangan sosial, degradasi moral, hingga tantangan globalisasi. Pernyataan sikap FR-PTMA juga menyinggung isu fundamental kebangsaan. Forum mendorong Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI untuk melakukan kajian ulang terhadap UUD NRI Tahun 1945 secara komprehensif agar lebih sejalan dengan semangat Pancasila dan Pembukaan UUD 1945. Proses tersebut diharapkan melibatkan berbagai kalangan, termasuk perguruan tinggi, guna membentuk arah ketatanegaraan yang sesuai dengan cita-cita bangsa. Pada bagian akhir, FR-PTMA menyoroti masalah politik nasional yang dinilai sebagai akar dari banyak persoalan bangsa. Forum menilai politik berbiaya mahal menjadi sumber praktik korupsi, rendahnya integritas, dan lemahnya representasi rakyat. Karena itu, FR-PTMA mendesak DPR RI dan Pemerintah untuk menyusun “Paket Undang-Undang Politik” yang meliputi UU Pemilu, UU Partai Politik, UU Pilpres, dan UU Pilkada dengan semangat anti politik berbiaya mahal. Pernyataan sikap ini menjadi bentuk kontribusi moral dan intelektual FR-PTMA untuk memastikan arah pembangunan nasional tetap berpijak pada nilai keadilan sosial, transparansi, dan kemajuan bangsa.

Forum Rektor PTMA Tegaskan Komitmen Dukung Pemerintah Majukan Pendidikan Nasional

MataKita.co, Malang — Forum Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah (FR-PTMA) menegaskan komitmennya untuk terus menjadi mitra strategis sekaligus mitra kritis bagi Pemerintah dalam memajukan dunia pendidikan nasional. Pernyataan tersebut disampaikan dalam forum FR-PTMA yang digelar di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (18/10/2025). Dalam kesempatan itu, forum memberikan apresiasi terhadap komitmen Presiden Prabowo Subianto yang bertekad mendorong peningkatan mutu pendidikan secara transformatif dan berkelanjutan. FR-PTMA menekankan pentingnya pelaksanaan amanat konstitusi mengenai alokasi anggaran pendidikan minimal 20 persen dari APBN dan APBD secara efektif, transparan, dan tepat sasaran. Forum juga mengingatkan bahwa kebijakan pendidikan harus berpihak pada peningkatan mutu serta pemerataan akses pendidikan tinggi di seluruh Indonesia, agar seluruh lapisan masyarakat memiliki kesempatan yang setara untuk memperoleh pendidikan berkualitas. Selain itu, FR-PTMA juga menyoroti pentingnya penguatan kolaborasi riset, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah. Rektor Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMGO), Prof. Dr. Abd Kadim Masaong, M.Pd, yang hadir bersama Wakil Rektor II, Dr. Salahudin Pakaya, M.H, menyatakan kesiapan UMGO untuk memperluas kerja sama riset dan inovasi lintas kampus. “Kami siap berkontribusi dalam menjawab tantangan bangsa seperti kemiskinan, ketimpangan sosial, degradasi moral, serta dinamika globalisasi yang terus berkembang,” ujar Prof. Kadim. Melalui forum ini, FR-PTMA menegaskan kembali perannya sebagai kekuatan moral dan intelektual yang berkomitmen mendukung pembangunan pendidikan nasional berbasis nilai-nilai keislaman, kemanusiaan, dan kemajuan.

Haedar Nashir: EMT perluas kiprah Muhammadiyah di dunia internasional

Jakarta (ANTARA) – Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan terverifikasinya Emergency Medical Team (EMT) secara internasional oleh World Health Organization (WHO) akan semakin memperluas kiprah Muhammadiyah di dunia internasional. “Semoga dengan EMT tersebut kiprah Muhammadiyah dalam program kesehatan dan kemanusiaan maupun kerja sama dengan WHO serta lembaga dunia lainnya di level global semakin baik dan meluas,” kata Haedar di Jakarta, Senin. Sebelumnya, Muhammadiyah resmi mencatatkan sejarah baru sebagai Emergency Medical Team (EMT) pertama di Indonesia yang terverifikasi secara internasional oleh WHO. Haedar menyampaikan apresiasi kepada Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dan sejumlah lembaga terkait atas pencapaian tersebut. Lembaga yang terlibat antara lain Lazismu, Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU), Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang), Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Internasional (LHKI), serta Muhammadiyah Aid. “Muhammadiyah dalam gerakan pelayanan kesehatan, resiliansi bencana, dan program-program kemanusiaan baik di tingkat nasional maupun internasional terus mengalami akselerasi,” katanya. Menurutnya, gerakan tersebut menempatkan Muhammadiyah sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan terdepan yang lahir dari spirit ajaran Al-Ma’un yang bersifat inklusif untuk semua. Haedar menegaskan, praksis Al-Ma’un tersebut diaktualisasikan secara umum dan kelembagaan yang diperankan oleh Lazismu, MDMC/LRB, MPKU, MPKS, MPM, dan gerakan komunitas dalam melayani berbagai kegiatan sosial kemanusiaan secara tersistem yang mengandung pemecahan masalah, penanganan krisis, pemberdayaan, pembebasan, dan pemajuan. “Jadi bukan program sporadis dan pelayanan karitatif jangka pendek semata. Karenanya sangat tepat jika memperoleh verifikasi EMT di tingkat global,” kata Haedar. Ia berharap melalui EMT gerakan Muhammadiyah dalam program kemanusiaan yang meluas itu makin mengokohkan posisi dan peranannya sebagai Gerakan Islam Berkemajuan untuk Semua. “Itulah wujud dakwah Islam rahmatan lil-‘alamin di dunia nyata, bukan retorika dan kata-kata,” kata Haedar.

Dari MAPEL PILIHAN Coding dan AI Segera Jadi MAPEL WAJIB, Lima Program Prioritas Ini Dipaparkan Mendikdasmen

POJOKSATU.id — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyebut koding dan kecerdasan buatan (AI) akan segera menjadi mata pelajaran (mapel) wajib di sekolah-sekolah. “Kebutuhan guru coding dan AI akan meningkat tajam, sehingga peran perguruan tinggi sebagai mitra pendidikan sangat dibutuhkan,” ujarnya. Dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Forum Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah (PTMA) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (17/10/2025), Mu’ti menjelaskan AI dan koding elama ini bersifat mapel pilihan. Seiring kebutuhan, Ai dan koding segera menjadi mapel wajib. Menurutnya, perubahan ini bertujuan menyiapkan generasi yang memiliki kemampuan berpikir logis, kreatif, dan adaptif terhadap perkembangan digital global. Oleh karena itu, Mu’ti membuka peluang bagi PTMA untuk terlibat dalam penelitian kebijakan (policy research) pendidikan dasar dan menengah, termasuk pendidikan karakter dan kebiasaan belajar siswa. “Apapun yang dibutuhkan perguruan tinggi, selama relevan dengan arah pembangunan pendidikan nasional, kami siap bermitra,” tegasnya. Dalam paparannya, Mendikdasmen menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah dalam mengawal reformasi pendidikan nasional. Saat ini, Kemendikdasmen memiliki lima program prioritas yang bisa dijalankan bersama PTMA. Berikut uraiannya: Revitalisasi Satuan Pendidikan Program ini bukan hanya memperbaiki sarana fisik sekolah, tapi juga memperkuat sistem manajemen, tata kelola, serta kapasitas kepala sekolah dan guru. Revitalisasi diarahkan agar sekolah mampu mengelola pembelajaran secara mandiri dan efisien dengan dukungan fasilitator profesional. Kurikulum juga disusun agar adaptif terhadap kebutuhan zaman, memperkuat karakter siswa, dan meningkatkan mutu layanan pendidikan sesuai standar nasional dan internasional. “Tahun ini ada lebih dari 16.100 sekolah yang direvitalisasi dengan anggaran Rp16,9 triliun. Tahun depan, kami berupaya agar capaian itu tetap terjaga meski anggaran sedikit berkurang,” jelas Abdul Mu’ti. Peningkatan Kualitas Guru dan Pendidikan Profesi (PPG)Pemerintah telah menyiapkan 808 ribu kuota PPG serta memperluas program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) bagi guru yang belum menuntaskan studi sarjana. “Kami ingin memastikan tidak ada guru yang terhenti karirnya hanya karena belum memenuhi syarat akademik. Bahkan, pengalaman mengajar kini diakui hingga 70 persen dalam skema RPL,” katanya. Melalui skema ini, guru diharapkan terus berkembang tanpa hambatan administratif dan mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan pembelajaran abad 21. Penguatan Program Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)Program ini dirancang untuk memperkuat kemampuan pedagogik dan membangun karakter siswa secara utuh. Perguruan tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah (PTMA) dapat berperan sebagai penyelenggara pelatihan guru dan pengembang modul pembelajaran berbasis deep learning. Pendekatan ini mendorong guru memahami cara berpikir siswa, memperdalam konteks belajar, dan menciptakan lingkungan yang kolaboratif serta reflektif. Bahasa Inggris Wajib Mulai Kelas 3 SD Mulai tahun 2027, bahasa Inggris akan menjadi mata pelajaran wajib sejak kelas 3 SD. Karena itu, pelatihan guru bahasa Inggris menjadi prioritas pemerintah. Abdul Mu’ti bahkan mengusulkan agar istilah “pelatihan” diganti menjadi “pendidikan” agar lebih profesional dan bisa disertifikasi. Dengan begitu, peningkatan kompetensi guru berdampak langsung pada kualitas pengajaran. Setiap kebijakan Kemendikdasmen lahir dari kajian filosofis dan penelitian akademik yang mendalam. “Kami ingin kebijakan pendidikan tidak sekadar administratif, tetapi menjadi rekayasa sosial yang membentuk karakter bangsa,” ujar Abdul Mu’ti.   Melalui kemitraan strategis, kementerian dan PTMA diharapkan bersama-sama mewujudkan pendidikan yang merata, inklusif, dan berorientasi masa depan. Kebijakan Berbasis Kajian Akademik dan Kemitraan Strategis Usai Rakernas Forum Rektor PTMA 2025 pada 16–19 Oktober itu, refleksi dan konsolidasi kebijakan pendidikan nasional makin fokus dilakukan. Forum ini juga memperkuat sinergi antara pemerintah dan jaringan kampus Muhammadiyah-Aisyiyah untuk mewujudkan pendidikan unggul, relevan, dan berdampak bagi bangsa. ***

Kolaborasi BSI Dan 164 PTMA Integrasikan Layanan Keuangan Syariah

RM.id  Rakyat Merdeka – PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) bersama Forum Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ’Aisyiyah (PTMA). Kerja sama strategis ini secara resmi menggandeng 164 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ’Aisyiyah (PTMA) di seluruh Indonesia. Penandatanganan PKS dilakukan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), bertepatan dengan Rapat Kerja Nasional Forum Rektor PTMA 2025. Direktur Retail Banking BSI Kemas Erwan Husainy mengatakan, kolaborasi ini difokuskan untuk mengakselerasi transformasi digital, pengembangan SDM (Sumber Daya Manusia) unggul, dan hilirisasi riset di lingkungan PTMA. “BSI akan menyediakan layanan keuangan syariah yang terintegrasi dalam bentuk total solution, untuk mendukung seluruh kegiatan akademik dan operasional kampus,” kata Erwan di Jakarta, Senin (20/10/2025). Dia mengatakan, komitmen BSI untuk menjadi mitra strategis dalam ekosistem pendidikan di Muhammadiyah. Kerja sama dengan 164 PTMA ini adalah langkah nyata BSI dalam membangun ekosistem pendidikan Islam. “Kami ingin memperkuat peran BSI sebagai sahabat finansial, spiritual, dan sosial, serta menjadi total solution bagi seluruh kebutuhan perbankan syariah di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah,” ujar Erwan. Acara penandatanganan ini dihadiri oleh tokoh-tokoh nasional dan pimpinan Muhammadiyah, yang menunjukkan kuatnya sinergi antara industri perbankan syariah dan organisasi pendidikan Islam terbesar di Indonesia. Erwan menambahkan, melalui kolaborasi ini, BSI akan mendukung PTMA dalam menghadapi tantangan Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 melalui layanan digital yang terintegrasi. Selain penandatanganan PKS, kegiatan ini juga diisi dengan seminar nasional, open booth Layanan dan Produk BSI, serta layanan kesehatan gratis yang disediakan BSI Maslahat.

Wamen Diktisaintek: Kampus Muhammadiyah dan Aisyiyah Berperan penting dalam Peta Pendidikan Nasional

Kolaborasi adalah kunci membangun kepercayaan dan dampak nyata. Hal itu ditegaskan Prof. Fauzan, M.Pd. selaku Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) Indonesia, dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Forum Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 17 Oktober 2025. Ia menekankan bahwa Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah harus menjadi pelopor dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap dunia pendidikan tinggi. Menurutnya, PTMA tidak hanya berperan sebagai penyelenggara pendidikan, melainkan sebagai kekuatan strategis yang memimpin perubahan. “Muhammadiyah ini memiliki 162 PTMA. Dengan jumlah sebesar ini, kita harus saling menguatkan, berjejaring, dan berkolaborasi agar menjadi leading sector dalam membangun kepercayaan publik,” ujarnya. Dalam paparannya, Fauzan menyoroti kontribusi PTMA yang kini menempati posisi penting dalam peta pendidikan nasional. Dari total 4.369 perguruan tinggi di Indonesia, PTMA mencakup sekitar empat persen secara kuantitas, dengan 20.041 dosen atau tujuh persen dari total nasional. Namun, kontribusinya dalam riset dan pengabdian masyarakat justru melampaui rata-rata nasional. Partisipasi institusi PTMA dalam kegiatan riset mencapai 81 persen, jauh di atas rata-rata nasional yang hanya 52 persen. Ia menyebut, dalam tiga tahun terakhir, pertumbuhan riset di lingkungan Muhammadiyah meningkat hingga 168 persen, sementara keterlibatan mahasiswa melonjak 228 persen. “Ini menunjukkan kesadaran baru di kalangan sivitas akademika Muhammadiyah. Namun jika baru bicara angka, kita baru setengah jalan. Kuantitas tanpa kualitas tidak cukup. Riset harus berdampak, harus menyentuh masyarakat,” ujarnya. Lebih jauh, Fauzan mencontohkan praktik baik dari konsorsium 17 kampus Muhammadiyah di Nusa Tenggara Timur yang fokus pada isu stunting, kemiskinan, dan ketahanan pangan. Menurutnya, langkah ini mencerminkan wajah baru pendidikan tinggi Muhammadiyah yang tidak berhenti pada teori, tetapi hadir di tengah realitas sosial. Ekosistem berdampak lahir ketika kampus mau turun langsung, ketika risetnya tidak berhenti di meja dosen, tetapi hidup bersama masyarakat. “Banyak perguruan tinggi swasta yang terjebak dalam stagnasi karena enggan beradaptasi terhadap perubahan. Karena itu, pembaruan dan inovasi menjadi keniscayaan. Kita tidak bisa menunggu arus berubah. Kita harus menciptakan arus perubahan itu sendiri,” katanya. Lebih lanjut, Fauzan menjelaskan arah kebijakan pendidikan tinggi nasional yang sedang disiapkan pemerintah. Salah satunya adalah sistem klasterisasi perguruan tinggi yang memungkinkan adanya pembinaan sesuai konteks geografis dan kapasitas kampus. Ia juga menyebut bahwa Direktorat Perguruan Tinggi Swasta akan dihidupkan kembali untuk memperkuat pembinaan kampus swasta, termasuk PTMA. Senada dengan itu, Prof. Dr.Eng. Yudi Darma, S.Si., M.Si., Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemdikti RI menekankan pentingnya membangun ekosistem riset bersama antarperguruan tinggi Muhammadiyah. Ia juga mengatakan bahwa kolaborasi internasional dapat mempercepat kemajuan sains dan memperkuat daya saing bangsa. Sains dan teknologi tidak boleh berhenti di laboratorium. Ia harus menyentuh kehidupan manusia, membawa manfaat, dan menegaskan kemanusiaan. “Bayangkan jika 162 kampus Muhammadiyah berkontribusi bersama, bahkan dengan iuran minimal, kita bisa membangun pusat data riset bersama untuk sains dan teknologi yang dapat diakses semua kampus, dari yang besar hingga kecil,” katanya. Rakernas Forum Rektor PTMA 2025 di UMM menjadi momentum penting untuk meneguhkan arah strategis pendidikan tinggi Muhammadiyah. Forum ini bukan sekadar silaturahmi akademik, tetapi ruang untuk menyatukan langkah, membangun ekosistem pendidikan tinggi yang berdampak, dan meneguhkan peran Muhammadiyah sebagai pelopor perubahan sosial. (vin/wil)

Unik, Student Day UMM 2025 dibuka oleh Puluhan Rektor

pwmu.co –Helipad Kampus Putih Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dipenuhi ribuan mahasiswa baru, Sabtu (18/10/2025). Mereka tumpah ruah mengikuti pembukaan Student Day 2025 yang berlangsung meriah dan penuh semangat. Yang membuat acara ini istimewa, pembukaannya dihadiri langsung oleh puluhan Rektor dari 168 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) se-Indonesia. Mereka hadir di UMM dalam rangka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Forum Rektor PTMA. “Unik dan bersejarah, karena pembukaan Student Day kali ini dibuka oleh para Rektor Muhammadiyah dari seluruh Indonesia,” ujar Rektor UMM Prof Dr Nazaruddin Malik MSi, saat memberi sambutan. Kegiatan diawali dengan Jalan Sehat yang mengelilingi area Kampus Putih hingga ke unit bisnis milik UMM, Taman Rekreasi Sengkaling. Dalam suasana cerah dan penuh keceriaan, ribuan mahasiswa berjalan santai sambil menyapa para dosen dan pimpinan universitas yang ikut serta. Prof Nazaruddin menyampaikan, Student Day bukan sekadar agenda penyambutan mahasiswa baru, tetapi juga wadah untuk mengenal nilai-nilai kampus, organisasi, dan potensi diri. “Kita ingin mahasiswa UMM tumbuh menjadi insan mandiri, sehat, bahagia, dan berdaya saing. Mulailah dengan semangat belajar dan kebersamaan hari ini,” pesannya. Program Student Day sendiri menjadi tradisi tahunan di UMM. Selama satu semester, setiap Sabtu mahasiswa baru akan mengikuti beragam kegiatan pembinaan karakter, pengembangan diri, hingga eksplorasi minat dan bakat melalui kegiatan prodi dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Di area UKM Fair, ratusan mahasiswa tampak antusias mendatangi stan-stan berbagai UKM, mulai dari seni, olahraga, hingga kewirausahaan. “Seru banget! Bisa kenalan dengan banyak teman baru dan lihat penampilan UKM-UKM keren,” kata Sindikirana, mahasiswa baru Prodi Pendidikan Biologi. Hal senada disampaikan Echa Evitasari. Ia mengaku menikmati momen jalan sehat sambil menikmati keasrian kampus. “Kampus UMM hijau banget, adem, dan suasananya bikin semangat. Apalagi tadi ada senam bareng dan pertunjukan dari UKM Tapak Suci, Teater, Tari, dan Marching Band,” ujarnya antusias. Acara pembukaan ditutup dengan berbagai penampilan atraktif yang menggambarkan semangat mahasiswa baru untuk berkarya dan berprestasi. Melalui Student Day 2025 ini, UMM berharap mahasiswa Gen 25 dapat lebih siap menempuh kehidupan perkuliahan dan aktif dalam kegiatan akademik maupun nonakademik. “Inilah langkah awal menjadi mahasiswa sejati Kampus Putih,” tutup Prof Nazaruddin. (*)