Mahasiswa Kelas Internasional Psikologi Menangi Kompetisi di Taiwan

Jauh dari hiruk pikuk laboratorium dan buku-buku teori, tim mahasiswa kelas internasional Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses mencuri perhatian di kancah internasional. Mereka meriah penghargaan outstanding performance dan juara favorit dalam ajang Mandarin Singing Competition di Asia University, Taiwan, November 2025 ini. Salah satu anggota tim, Khanum Mayyada Tetteng menceritakan bahwa keikutsertaan mereka dalam kompetisi tersebut bermula dari sebuah ajakan sederhana. “Kami awalnya mendaftar tanpa banyak pertimbangan. Niatnya cuma berani mencoba, menang atau tidak menang, yang penting tampil,” ujarnya. Berbekal niat tersebut, Khanum dan dua rekannya membawakan lagu Mandarin berjudul No Reason. Tantangan terberat yang dihadapi adalah tingkat kesulitan lagu, mencakup bagian rap (nge-rap). Padahal ia dan timnya baru saja memulai kelas Bahasa Mandarin saat tiba di Asia University. “Kami sempat mengira lomba ini hanya digelar secara lokal. Namun, saat tiba di lokasi, ternyata kami tampil di panggung aula yang sangat besar, dengan kontestan dari berbagai negara seperti Filipina, Vietnam, Italia, Mongolia, India, Mesir, dan negara lainnya,” katanya. Meskipun rasa gugup melanda, mereka sepakat untuk tampil maksimal. Momen paling berkesan adalah ketika Khanum mulai melakukan rap Bahasa Mandarin. Saat itu, dukungan dari penonton, terutama dari mahasiswa internasional lain, memecah keheningan aula, kemudian mengantar mereka meraih dua gelar bergengsi. Prestasi ini menjadi salah satu warna dari perjalanan Khanum dan mahasiswa UMM lain sebagai mahasiswa Kelas Internasional Psikologi UMM. Adapun program yang mereka tempuh melalui skema double degree ini kini berlangsung di Asia University Taiwan. Program ini mewajibkan mahasiswa untuk menempuh studi dua tahun di UMM dan dua tahun di Asia University, Taiwan. Hasilnya, mahasiswa akan mendapatkan dua gelar sekaligus, yaitu Sarjana Psikologi (S.Psi) dari UMM dan Bachelor of Science (BSc) dari Asia University, di mana kedua ijazah tersebut diakui dan diverifikasi legalitasnya di Indonesia. Khanum menekankan bahwa keunggulan UMM terletak pada penekanan praktikum bertingkat sejak semester awal. Berbeda dengan di Asia University yang lebih fokus pada penguatan teori, UMM memberikan pengalaman praktik yang kaya. Hal ini sangat penting untuk bekal mereka saat kerja nanti. Selain program double degree ke Taiwan, Kelas Internasional Psikologi UMM juga memiliki program Credit Transfer selama satu semester ke Turki. Kampus di Taiwan sendiri aktif mendukung mahasiswa internasional dengan mengadakan trip budaya dan wisata yang dibiayai oleh pemerintah setempat, serta menyelenggarakan kelas pengantar penuh dalam Bahasa Inggris. Menurut Khanum, Kelas Internasional Psikologi UMM memberikan pondasi kuat sebelum berangkat ke luar negeri. Praktikum yang bertingkat dari semester ke semester, ditambah pengajarnya sangat menguasai di bidangnya, membuat mahasiswa lebih siap menghadapi pembelajaran global. “Kesiapan beradaptasi dengan perbedaan budaya dan sistem pendidikan adalah kunci. Manfaatkan setiap kesempatan, baik akademik maupun non-akademik, karena pengalaman ini sangat berharga untuk membuka wawasan dan pengembangan diri,” tegasnya. Prestasinya ini menjadi bukti bahwa mahasiswa UMM tidak hanya unggul secara akademis. Namun juga memiliki keberanian untuk tampil di panggung global dan meraih penghargaan. (ali/wil)
2 Halte Transjatim Terdekat dengan UMM, Khusus Mahasiswa Dapat Potongan Harga

AboutMalang.com – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kini punya pilihan mobilitas yang lebih gampang. Setelah jaringan Transjatim hadir di Malang Raya, akses ke kampus dan kawasan sekitar jadi jauh lebih ringkas tanpa harus mengandalkan kendaraan pribadi. Pola layanannya memang dirancang menyentuh area pendidikan. Titik-titik halte ditempatkan di koridor yang dekat sekolah dan kampus, sehingga mahasiswa cukup berjalan kaki dari gerbang untuk menuju shelter terdekat. Pengelola menurunkan 15 armada untuk menjaga ketepatan headway: tujuh bus dari arah Kota Malang, tujuh dari arah Batu, dan satu unit cadangan. Dengan komposisi ini, arus pergi–pulang kuliah pada jam sibuk lebih tertata dan pastinya akan lebih hemat. Soal tarif juga ramah kantong. Pelajar/mahasiswa/santri cukup membayar Rp2.500 per perjalanan, sedangkan penumpang umum Rp5.000 sekali naik. Di koridor sekitar UMM, ada dua titik yang paling praktis dijangkau pejalan kaki yaitu Halte Rambu Raya Tlogomas 1 (paling dekat ke akses utama UMM). Kemudian ada juga Halte Terminal Landungsari, lokasinya memang sedikit lebih jauh dari gerbang utama UMM tetapi tetap strategis untuk koneksi antar-koridor. Dengan dua pilihan ini, mahasiswa bisa memilih titik naik–turun sesuai posisi kos, fakultas, atau tujuan akhir. Kombinasi jalan kaki singkat + tarif pelajar bikin perjalanan harian makin efisien. Sebelum menggunakan layanan, penumpang diminta melakukan pemesanan tiket melalui aplikasi resmi Transjatim agar proses naik bus lebih cepat dan tertib.
Limbah Cair hingga Kurikulum ‘Anti-Seragam’: 3 Guru Besar Baru UMM Tawarkan Solusi Masa Depan

Malang (beritajatim.com) – Tantangan masa depan tidak bisa lagi dijawab dengan cara lama. Mulai dari krisis limbah yang makin bandel, pendidikan yang terjebak keseragaman, hingga dilema etika dalam sains. Menjawab hal ini, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengukuhkan tiga Guru Besar baru dengan kepakaran yang relevan bagi tantangan zaman, pada Sabtu (22/11/2025). Ketiga pakar tersebut adalah Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, MM. (Bidang Pengembangan Kurikulum), Prof. Dr. Lud Waluyo, Drs., M.Kes. (Bidang Mikrobiologi Lingkungan), dan Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd. (Bidang Pendidikan Bioetika). Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Mahfud menyoroti isu pendidikan nasional yang kerap terjebak pada jebakan seragam. Menurutnya, memaksakan standar yang sama bagi anak-anak Indonesia yang memiliki ribuan budaya berbeda adalah langkah mundur. Ia memperkenalkan gagasan Kurikulum Indonesia Satu (KIS). Konsep ini dirancang bukan untuk menyeragamkan, melainkan sebagai pemersatu yang tetap memberi panggung bagi identitas lokal. “Pendidikan itu bukan sekadar angka dan ujian, tetapi memanusiakan manusia. Jika kita mengajar anak-anak dengan cara kemarin, kita sama saja merampas masa depan mereka,” tegas Mahfud. Bagi Gen Z yang peduli pada kesehatan mental dan self-development, gagasan Mahfud sangat relevan. Ia menekankan bahwa teknologi (termasuk AI) harus menjadi alat yang memerdekakan, bukan menciptakan kesenjangan. KIS hadir agar siswa tidak belajar demi ujian semata, tetapi untuk memahami dunia dan dirinya sendiri melalui pendekatan yang humanis dan inklusif. Di sisi lain, isu kerusakan lingkungan akibat limbah cair menjadi fokus Prof. Lud Waluyo. Pertumbuhan industri dan pola konsumsi modern melahirkan limbah dengan senyawa berbahaya (seperti xenobiotik) yang sulit diurai secara alami. Lud menegaskan, penggunaan bahan kimia untuk mengurai limbah justru berisiko menciptakan residu baru. Solusinya? Kembali ke alam dengan teknologi biofitoremediator. Berdasarkan riset panjangnya sejak 1998 hingga 2025, Lud berhasil mengidentifikasi 108 isolat bakteri tangguh yang mampu mematikan patogen dan mengurai deterjen. Bakteri-bakteri ini kemudian digabungkan dengan tumbuhan air seperti eceng gondok (Eichhornia crassipes) dan Hydrilla untuk membersihkan polutan. “Ini bukan sekadar solusi teknis, tapi tanggung jawab moral kita untuk menjaga keberlanjutan ekologis,” ujar Lud. Teknologi hibrid ini terbukti ampuh diterapkan pada limbah domestik, perhotelan, hingga industri tapioka, menjadikannya solusi green tech yang mendesak untuk diterapkan saat ini. Sementara itu, Prof. Atok Miftachul Hudha menyoroti sisi gelap dari kemajuan bioteknologi yang pesat. Pendidikan sains di Indonesia dinilai masih lemah dalam literasi etis. Akibatnya, banyak eksperimen laboratorium dilakukan secara mekanis tanpa memikirkan dampak moral terhadap makhluk hidup. Atok menawarkan model pembelajaran OIDDE (Orientation, Identify, Discussion, Decision, Engage in Behavior). Model ini melatih mahasiswa dan ilmuwan muda untuk tidak hanya pintar secara teknis, tapi juga bijak dalam mengambil keputusan. “Lemahnya literasi etis berpotensi melahirkan praktik berisiko yang mengabaikan keselamatan organisme. Ilmuwan masa depan harus mampu mengambil keputusan yang etis, bukan hanya benar secara teori,” ujarnya menutup. (dan/ian)
Mahasiswa Hukum UMM Gelar Sosialisasi SPP-IRT untuk Pelaku Usaha Rumahan di Merjosari

detikzone.id – Malang, 20 November — Tiga mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yakni Suci Rohmatun Zunairoh, Intan Dwi Saputri, dan Fidelia Meishira, mengadakan kegiatan sosialisasi terkait Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT) bagi pelaku usaha pangan rumahan. Kegiatan ini diselenggarakan melalui Laboratorium Hukum UMM dan berlangsung di Desa Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Para pelaku usaha yang mengikuti kegiatan tersebut merupakan produsen olahan makanan seperti keripik usus, kerupuk seblak, dan basreng kering—usaha yang telah mereka jalankan selama kurang lebih tiga tahun namun belum memiliki SPP-IRT. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa UMM untuk memberikan pemahaman mendalam terkait prosedur hukum, regulasi, serta pentingnya legalitas usaha demi menjamin keamanan pangan bagi konsumen. Selain penyuluhan hukum, kegiatan ini juga diisi dengan pendampingan teknis pendaftaran SPP-IRT. Mahasiswa membantu para pelaku usaha memahami jenis produk yang bisa dan tidak bisa didaftarkan, alur administratif, pengisian OSS-RBA, persyaratan dokumen, hingga tata cara pengajuan sertifikat sesuai regulasi Dinas Kesehatan. Melalui pendampingan langsung, pelaku usaha dapat mempraktikkan tahapan pendaftaran SPP-IRT sambil mendapatkan penjelasan detail dari mahasiswa Fakultas Hukum UMM. Kegiatan berlangsung interaktif; para pelaku usaha aktif berdiskusi mengenai persoalan yang kerap menjadi kendala dalam proses legalisasi usaha. Ketiga mahasiswa pelaksana kegiatan menyampaikan bahwa program ini diharapkan menjadi jembatan antara dunia akademik dan masyarakat. “Kami ingin membantu pelaku usaha kecil memahami bahwa aspek hukum bukanlah penghalang, tetapi jaminan agar produk mereka lebih dipercaya dan berpeluang menembus pasar lebih luas,” ujar salah satu mahasiswa. Dengan terlaksananya sosialisasi dan pendampingan ini, ketiga mahasiswa Fakultas Hukum UMM berharap dapat menumbuhkan kesadaran hukum di kalangan pelaku usaha mikro, sekaligus turut mendukung peningkatan kualitas produk lokal yang aman, halal, dan berdaya saing tinggi.
Sosialisasi SPP-IRT oleh Mahasiswa UMM Mendorong UMKM Kripik Talas Bu Sri Lebih Berdaya Saing

Suara Time, Malang – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan kegiatan sosialisasi Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT) kepada pelaku UMKM pada 06 November 2025. Kegiatan ini menyasar usaha Kripik Talas Bu Sri yang berlokasi di Jl. Sidomakmur No.76, Sengkaling, Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Sosialisasi dilakukan karena produk tersebut belum terdaftar dalam SPP-IRT meskipun telah diproduksi dan dipasarkan secara rutin. Melalui kegiatan ini, mahasiswa berharap dapat meningkatkan kesadaran pelaku UMKM mengenai pentingnya legalitas pangan. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari program pengabdian mahasiswa dalam mendukung penguatan UMKM lokal. Dalam sosialisasi ini, pemilik usaha, Bu Sri, menyampaikan bahwa produk kripik talas buatannya memiliki komposisi sederhana, yakni talas, garam, bawang putih, dan penyedap rasa. Produk ini diproduksi secara rumahan dan telah memiliki pelanggan tetap di sekitar wilayah Sengkaling. Namun, minimnya pengetahuan mengenai perizinan membuat usaha tersebut belum memiliki SPP-IRT. Melalui diskusi yang berlangsung aktif, mahasiswa memberikan penjelasan mengenai manfaat sertifikasi pangan bagi pelaku usaha. Pemilik usaha pun menyambut baik pendampingan yang diberikan mahasiswa. Para mahasiswa UMM yang terlibat dalam kegiatan ini antara lain M. Izzu’ Wildan Firdaus, Aditya Pratama, Rama Dwi Pangestu, Gusti Ardian Rivandi Prananda, dan Alvito Yogha Pamungkas. Mereka memaparkan materi dengan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami oleh pelaku usaha. Mahasiswa menjelaskan prosedur pendaftaran SPP-IRT, mulai dari persyaratan administrasi hingga proses verifikasi oleh dinas terkait. Selain itu, mereka memberikan contoh label pangan yang sesuai ketentuan. Pendekatan edukatif ini dilakukan agar pelaku usaha benar-benar memahami pentingnya perizinan produk. SPP-IRT adalah sertifikat resmi yang diberikan oleh pemerintah kepada pelaku usaha pangan skala kecil atau rumahan sebagai bukti bahwa produk yang dihasilkan telah memenuhi standar keamanan pangan. Sertifikat ini memastikan bahwa proses produksi, peralatan, serta bahan yang digunakan aman untuk dikonsumsi masyarakat. Melalui SPP-IRT, produk memiliki legalitas yang memungkinkan perluasan pemasaran ke toko, pusat oleh-oleh, maupun platform daring. Tanpa sertifikat ini, pelaku usaha sering terkendala dalam kerja sama dengan pihak lain karena tidak memiliki bukti keamanan produk. Oleh sebab itu, SPP-IRT menjadi elemen penting dalam keberlanjutan usaha pangan rumahan. Dalam kegiatan sosialisasi, mahasiswa juga menekankan bahwa SPP-IRT memberikan perlindungan hukum bagi pelaku usaha. Sertifikasi ini melindungi usaha dari potensi sanksi ketika terjadi pemeriksaan dari instansi terkait. Mahasiswa turut memberikan pendampingan dalam pengisian formulir dan pengumpulan dokumen persyaratan. Mereka juga membantu pemilik usaha memahami cara menjaga higienitas ruang produksi. Pendampingan semacam ini menjadi bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam memberdayakan masyarakat. Melalui sosialisasi ini, mahasiswa UMM berharap Kripik Talas Bu Sri dapat segera mengajukan permohonan SPP-IRT agar usahanya semakin berkembang. Legalitas produk akan meningkatkan kepercayaan konsumen dan membuka peluang pemasaran yang lebih luas. Bu Sri menyatakan komitmennya untuk melengkapi seluruh persyaratan yang telah dijelaskan. Kegiatan sosialisasi ini diharapkan menjadi contoh kolaborasi positif antara mahasiswa dan UMKM. Dengan adanya pendampingan berkelanjutan, usaha rumahan seperti kripik talas dapat lebih siap bersaing di pasar yang semakin kompetitif.
Tiga Guru Besar Baru FKIP UMM: Menyatukan Kurikulum, Menyembuhkan Lingkungan, Menguatkan Etika Sains

FKIP UMM menegaskan perannya sebagai pusat inovasi pendidikan dengan mengukuhkan tiga guru besar baru yang menawarkan gagasan besar—dari kurikulum pemersatu, teknologi mikrobiologi ramah lingkungan, hingga model pendidikan sains beretika. Tagar.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan capaian akademik penting. Pada 22 November 2025, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) akan mengukuhkan tiga guru besar baru. Ketiganya membawa kepakaran yang beragam: pengembangan kurikulum, mikrobiologi lingkungan, hingga ilmu pendidikan bioetika. Mereka adalah Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, MM.; Prof. Dr. Lud Waluyo, Drs., M.Kes.; dan Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd. Kurikulum Indonesia Satu: Pemersatu tanpa Menghilangkan Keberagaman Mahfud Effendi akan menyampaikan gagasan, bahwa Kurikulum Indonesia Satu (KIS) harus menjadi pemersatu bangsa tanpa menyingkirkan keragaman budaya. Selama ini, pendidikan nasional, menurutnya, terlalu sering terjebak pada pola penyeragaman, padahal Indonesia berdiri di atas ribuan identitas budaya. Karena itu, Mahfud menempatkan KIS sebagai kurikulum yang memberi ruang luas bagi kearifan lokal, menjadikannya akar pembelajaran sekaligus dasar bagi peserta didik memasuki dunia global. Ia menilai, kurikulum yang baik bukan sekadar mengikuti perubahan zaman, tetapi menuntun arah peradaban menuju tujuan pendidikan yang humanis dan berkeadaban. Baca Juga: Malam Penuh Cahaya, UMM Sambut Mahasiswa Baru dengan Flashlight Mob dan Laser Show “Kurikulum Indonesia Satu harus menuntun, bukan menyeragamkan. Anak-anak Indonesia berhak belajar dari akar budayanya sendiri sambil bersiap menghadapi dunia yang semakin global. Jika kita mengajarkan anak-anak seperti kemarin, kita merampas masa depan mereka,” ujarnya, dikutip dari siaran pers Humas UMM yang diterima Tagar.co, Kamis (20/11/25). Mahfud menambahkan bahwa KIS harus integratif, menghubungkan pengetahuan dengan nilai, budaya, dan realitas sosial, agar pembelajaran lebih bermakna. Kurikulum yang humanis, inklusif, dan berbasis teknologi berkeadilan, menurutnya, menjadi prasyarat lahirnya generasi Indonesia Emas 2045. Teknologi Hijau Mikrobiologi: Jawaban atas Krisis Limbah Modern Lud Waluyo akan mengupas persoalan limbah cair yang semakin kompleks seiring pertumbuhan penduduk dan pola konsumsi masyarakat. Kehadiran senyawa rekalsitran dan xenobiotik yang sulit terurai membuat pendekatan kimia tak lagi memadai. Ia menegaskan bahwa solusi berbasis mikrobiologi lingkungan menjadi kebutuhan mendesak. Lud mengulas riset panjangnya sejak 1998 hingga 2025. Ia berhasil mengidentifikasi 108 isolat bakteri heterotrofik toleran deterjen dan LAS serta efektif membasmi patogen. Riset itu kemudian dirumuskan menjadi konsorsium bakteri stabil yang mampu menurunkan BOD, COD, TSS, dan residu deterjen. “Solusi limbah terbaik berasal dari mikroba indigen yang hidup dalam limbah itu sendiri,” katanya, menegaskan temuan kuncinya. Ia juga mengembangkan konsep biofitoremediator, sistem hibrid yang mengombinasikan bakteri Bacillus spp. dengan tumbuhan air seperti Salvinia molesta, Pistia stratiotes, Eichhornia crassipes, dan Hydrilla verticillata. Teknologi ini terbukti mempercepat penurunan polutan, memperluas jangkauan remediasi, dan memperkuat ketahanan mikroba terhadap toksikan hingga 100 ppm. Inovasi tersebut telah diterapkan pada limbah domestik, industri tahu, perhotelan, hingga tapioka, sekaligus menjadi bukti bahwa bioremediasi merupakan bentuk nyata tanggung jawab moral terhadap keberlanjutan ekologis. Bioetika: Pilar Moral yang Hilang dalam Pendidikan Sains Di sisi lain, Atok akan menyoroti lemahnya pendidikan sains karena peserta didik tidak dibiasakan mempertimbangkan dimensi moral dalam eksperimen laboratorium. Perkembangan bioteknologi yang sangat cepat memunculkan dilema etis baru yang sering tak terwadahi dalam kurikulum konvensional. Akibatnya, keputusan ilmiah menjadi rentan dilihat hanya dari sisi teknis, bukan etis. Menurut Atok, lemahnya literasi etis membuat mahasiswa menjalankan eksperimen secara mekanis tanpa memahami implikasi moralnya. Kondisi ini berisiko menimbulkan praktik yang tidak aman dan mengabaikan kesejahteraan organisme. Untuk menjawab masalah itu, ia mengembangkan model pembelajaran OIDDE (Orientation, Identify, Discussion, Decision, Engage in Behaviour). Penelitiannya menunjukkan bahwa model ini mampu meningkatkan penalaran etis, memperkuat pertimbangan moral dalam menghadapi dilema eksperimen, dan memperbaiki perilaku laboratorium mahasiswa. “Model ini menjadi landasan penting bagi masa depan pendidikan sains karena membentuk ilmuwan yang tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga mampu mengambil keputusan ilmiah yang bijak dan etis,” ujanya. (*)
Perkuat Integritas Demokrasi, Bawaslu dan UMM Sinergikan Pengawasan Pemilu Berbasis Data dan Riset Ilmiah

Korannusantara.id – Malang, 20 November 2025, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) RI mengambil langkah strategis dalam modernisasi pengawasan pemilu dengan menggandeng Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kolaborasi ini diwujudkan melalui kegiatan Literasi Data untuk Pengawasan Pemilu yang digelar pada Kamis (20/11) di Aula GKB 4, Universitas Muhammadiyah Malang. Mengusung tema besar “Sinergi Universitas dan Pengawas Pemilu melalui Literasi Data,” acara ini menjadi bagian integral dari Roadshow Literasi Data Bawaslu yang menyasar 13 perguruan tinggi terkemuka di Indonesia. Inisiatif ini bertujuan mengubah paradigma pengawasan pemilu dari konvensional menjadi pengawasan partisipatif yang berbasis data (data-driven), analitik, dan riset ilmiah. Transformasi Digital: Portal Satu Data Bawaslu Dalam sesi utama, Bawaslu memperkenalkan inovasi Portal Satu Data. Tim Bawaslu memaparkan bagaimana integrasi dataset kepemiluan dapat dimanfaatkan sebagai fondasi pengawasan modern. Para peserta yang terdiri dari akademisi dan mahasiswa diajak menyelami potensi riset untuk mendeteksi kerawanan pemilu, memprediksi potensi pelanggaran, serta merancang strategi pengawasan yang lebih presisi dan adaptif di era digital. Pengukuhan Kerja Sama Riset dan Inovasi Momentum krusial dalam kegiatan ini ditandai dengan penandatanganan dan penyerahan simbolik “Perjanjian Kerja Sama Penelitian dan Inovasi Berbasis Data Pengawasan Pemilihan Umum dan Pemilihan Kepala Daerah.” Kerja sama ini membuka gerbang lebar bagi civitas akademika UMM untuk terlibat langsung dalam ekosistem kepemiluan. Melalui perjanjian ini, Bawaslu dan UMM berkomitmen mengembangkan model pengawasan baru serta menciptakan inovasi teknologi yang relevan dengan kebutuhan demokrasi Indonesia saat ini. Bedah Buku: Dinamika di Balik Layar Pengawasan Selain aspek teknis data, acara ini juga menyentuh aspek substansial kelembagaan melalui bedah buku “Dinamika Pengawasan Pemilu: Peran Bawaslu dan Interaksi Kepentingan” karya Anggota Bawaslu RI, Dr. Puadi. Dalam pemaparannya, Dr. Puadi memberikan perspektif mendalam mengenai tantangan Bawaslu dalam menjaga integritas pemilu di tengah himpitan berbagai kepentingan politik dan publik. Buku ini diharapkan menjadi referensi otoritatif bagi mahasiswa dan peneliti dalam memahami kompleksitas pengawasan pemilu. Kolaborasi Tokoh dan Akademisi Diskusi yang berlangsung dinamis ini dipandu oleh pegiat pemilu, Achmad Fachrudin, serta menghadirkan narasumber ahli: Prof. Dr. Lili Romli (Pakar Politik BRIN) Wahyudi Kurniawan (Dosen Fakultas Hukum UMM) Yana S. Hijri (Dosen FISIP UMM) Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pimpinan tinggi, termasuk Rektor UMM Prof. Dr. H. Nazaruddin Malik, SE., M.Si., Wakil Rektor IV Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., Dekan Fakultas Hukum Prof. Dr. Tongat, SH., M.Hum., dan Dekan FISIP Dr. Fauzik Lendriyono, S.Sos., M.Si., serta jajaran Bawaslu Provinsi Jawa Timur dan Kabupaten Malang. Peserta aktif dalam forum ini meliputi 40 mahasiswa FISIP UMM, 40 mahasiswa Fakultas Hukum UMM, 10 dosen, serta staf terkait dari Kabupaten Malang. Membangun Ekosistem Pengawasan Masa Depan Kehadiran Bawaslu di UMM menegaskan bahwa kampus adalah mitra strategis dalam menjaga kualitas demokrasi. Melalui sinergi ini, diharapkan lahir kajian-kajian akademis dan inovasi teknologi yang mampu memperkuat pengawasan pemilu yang transparan dan akuntabel demi masa depan Indonesia.