Dari Kampus Putih, UMM Hadirkan Dua Guru Besar Baru untuk Menjawab Tantangan Pangan

Agroredaksi.com-Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengukuhkan dua guru besar baru pada Sabtu, 29 November 2025, sebagai bagian dari komitmen memperkuat kapasitas riset dan inovasi kampus. Pengukuhan ini menegaskan fokus UMM pada pengembangan keilmuan strategis di bidang silvikultur dan teknik produksi tanaman hortikultura yang berperan penting bagi ketahanan pangan. Langkah tersebut juga sejalan dengan pendirian Direktorat Saintek UMM yang bertujuan mempercepat hilirisasi riset dan menghadirkan inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Adapun dua guru besar yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Ir. Joko Triwanto, MP., IPU. dan Prof. Dr. Ir. Syarif Husen, MP. Dalam pemaparannya, Syarif menyoroti tantangan rendahnya produktivitas kentang nasional yang masih jauh dari potensi maksimal akibat keterbatasan benih bermutu. Ia menjelaskan bahwa produktivitas yang hanya mencapai 17,67 ton/ha dapat ditingkatkan apabila petani memperoleh benih bebas virus dan memahami standar kualitas benih unggul. Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena penggunaan benih generasi lanjut dan minimnya akses petani terhadap benih berkualitas tinggi. Untuk menjawab persoalan ini, UMM mengembangkan teknologi kultur meristem, planlet in vitro, serta sistem Temporary Immersion Bioreactor (TIB) sebagai upaya menghasilkan benih sehat dan berstandar. “UMM telah memiliki SOP produksi, legalitas, dan hak cipta yang mendukung penyediaan benih unggul. Teknologi stek pucuk berakar serta produksi benih G0 hingga G2 menjadi langkah penting untuk menyediakan benih secara cepat, efisien, dan terstandar. Teknologi tersebut perlu diteruskan melalui pendampingan dan pelatihan agar petani dapat mengaplikasikannya langsung di lapangan. Dengan cara itu, peningkatan produktivitas dan kemandirian benih nasional dapat tercapai secara berkelanjutan,” ujarnya. Lebih lanjut, Syarif menjelaskan bahwa UMM bekerja sama dengan pemerintah daerah, penangkar milenial, dan BUMDes untuk memastikan inovasi ini tidak berhenti pada skala laboratorium. Berbagai program pelatihan dirancang agar petani memahami cara memanfaatkan teknologi produksi benih secara benar dan berkelanjutan. Ia menilai bahwa kerja kolaboratif tersebut merupakan kunci untuk memperkuat ketahanan pangan nasional dan meningkatkan pendapatan petani dalam jangka panjang. Berbeda dengan Syarif,Prof Joko menekankan pentingnya pemanfaatan lahan di bawah tegakan hutan sebagai strategi berkelanjutan untuk memperkuat ketahanan pangan tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan. Ia menyebut bahwa model agroforestri mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar kawasan hutan. Pendekatan ini dipandang relevan dalam menghadapi perubahan iklim, degradasi lahan, dan meningkatnya kebutuhan pangan yang memerlukan solusi berkelanjutan. “Lingkungan bawah tegakan hutan memiliki potensi besar jika dikelola secara bijak. Melalui agroforestri, kita bisa menghasilkan pangan yang beragam, menjaga stabilitas ekosistem, dan meningkatkan kesejahteraan petani. Berbagai tanaman toleran naungan seperti ganyong, garut, talas, dan porang dapat dikembangkan secara produktif di area tersebut. Potensi ini harus dimanfaatkan secara optimal agar manfaat ekologis dan ekonominya semakin luas,” ujarnya. Dalam penjelasan lanjutnya, Joko menguraikan bahwa integrasi tanaman pangan dengan pohon hutan tidak hanya memperkaya ketersediaan pangan lokal, tetapi juga menjaga kesehatan tanah dan memperkuat infiltrasi air. Menurutnya, agroforestri mampu menjaga keanekaragaman hayati sekaligus memberikan sumber pendapatan baru bagi masyarakat sekitar hutan. Karena itu, pemanfaatan lahan bawah tegakan merupakan peluang besar yang perlu didorong melalui riset, pelatihan, dan pendampingan berbasis masyarakat. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan peran guru besar yang sangat strategis dalam memperkuat riset dan menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Ia menilai pembentukan Direktorat Saintek menjadi langkah penting bagi UMM untuk mempercepat hilirisasi riset dan memastikan inovasi kampus dapat dimanfaatkan secara luas. Nazaruddin juga menekankan pentingnya riset terapan sebagai jawaban terhadap tantangan deindustrialisasi nasional. “UMM akan terus berinvestasi pada riset terapan untuk melahirkan inovasi yang mampu mendorong transformasi ekonomi dari konsumsi menuju produksi,” ujarnya. (Sflhms)

Dosen PGSD UMM Jelaskan Peran Guru di Era Gempuran AI

Malangpariwara.com – Di tengah derasnya arus teknologi yang mempercepat proses pendidikan, para guru dan dosen justru sedang menghadapi transformasi yang cukup besar dalam perannya. Banyak yang menilai bahwa kecerdasan buatan atau Artifical Intelligence (AI) yang ada mulai mengambil alih peran pendidik dalam proses belajar mengajar. Perkembangan teknologi ini juga mengubah dinamika pendidikan lebih cepat dari sebelumnya. Menurut Dr. Beti Istanti Suwandayani, M.Pd. selaku dosen prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengemukakan pandangannya. Perkembangan Teknologi dalam Kelas Ia mengungkap perubahan ini bukan sekadar soal alat baru di kelas, tetapi perubahan cara belajar dan mengajar. “AI itu tidak hanya mengubah cara guru mengajar, tetapi juga cara belajar siswa dan mahasiswa. Saat ini, guru bukan menjadi sumber informasi utama bagi siswa,” ujarnya. Namun, dibalik kemudahan itu peran pendidik tidak bisa lagi hanya sebagai penyampai materi, tetapi lebih krusialnya menjadi kurator. Dalam hal ini, pendidik bukan hanya memberi informasi tetapi juga memilah mana sumber yang valid, relevan, dan layak dijadikan rujukan oleh siswa maupun mahasiswa nya. Dalam ekosistem pendidikan, pendidik perlu memposisikan diri sebagai pembimbing utama dalam pemanfaatannya. Menurut Beti, pendidik dituntut untuk bisa menjadi learning experience designer atau mendesain pembelajaran yang adaptif sekaligus menjadi critical thinking coach. Bukan hanya sekedar memberikan jawaban, tetapi mengajak siswa atau mahasiswa bertanya dari “apa” menjadi “bagaimana” dan “mengapa.” Hal ini tentu akan melatih jiwa keterampilan analitis dan argumentasi. Di balik kekhawatiran akan hilangnya orisinalitas akibat penggunaan AI, Beti justru melihat peluang. Menurutnya, pendidik dapat mendorong pelajar menghasilkan karya otentik meskipun memanfaatkan teknologi. Baginya, AI boleh membantu, tetapi kreativitas, intuisi, dan nilai tetap menjadi orisinalitas manusia. “Yang paling penting Itu mendorong mereka membuat karya otentik, meskipun menggunakan atau memanfaatkan AI. Para peserta didik tetap memiliki sisi orisinalitas yang tidak bisa dibuat oleh AI,” ujarnya. Lebih lanjut, Beti berpesan bahwa penggunaan AI cukup sebagai alat untuk memperbesar potensi diri, bukan sebagai pengganti diri. Baginya, pendidikan seharusnya membentuk generasi yang bukan hanya mampu menggunakan AI, tetapi juga memahami cara kerjanya. “Pendidikan tidak hanya mampu menerima AI tetapi mampu memanfaatkannya untuk mencerdaskan menusia secara lebih utuh. Begitupun dengan pendidik yang seharusnya bisa memanfaatkan AI untuk memajukan pendidikan sekaligus mendorong siswa-siswi agar bisa menjadi lebih baik,” tutupnya. (Djoko W)

UMM Tambah Dua Guru Besar yang Berkiprah di Ketahanan Pangan

Malangpariwara.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengukuhkan dua guru besar baru pada Sabtu (29/11/2025) sebagai bagian dari komitmen memperkuat kapasitas riset dan inovasi kampus. Pengukuhan ini menegaskan fokus UMM pada pengembangan keilmuan strategis di bidang silvikultur. Juga pada bidang teknik produksi tanaman hortikultura yang berperan penting bagi ketahanan pangan. Langkah tersebut juga sejalan dengan pendirian Direktorat Saintek UMM yang bertujuan mempercepat hilirisasi riset dan menghadirkan inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Dua guru besar yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Ir. Joko Triwanto, M.P., IPU. dan Prof. Dr. Ir. Syarif Husen, M.P. Teknologi Produktivitas Kentang Dalam pemaparannya, Syarif menyoroti tantangan rendahnya produktivitas kentang nasional yang masih jauh dari potensi maksimal akibat keterbatasan benih bermutu. Ia menjelaskan bahwa produktivitas yang hanya mencapai 17,67 ton/ha. Nantinya dapat ditingkatkan apabila petani memperoleh benih bebas virus dan memahami standar kualitas benih unggul. Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena penggunaan benih generasi lanjut dan minimnya akses petani terhadap benih berkualitas tinggi. Untuk menjawab persoalan ini, UMM mengembangkan teknologi kultur meristem, planlet in vitro, serta sistem Temporary Immersion Bioreactor (TIB). Hal ini dianggap sebagai upaya menghasilkan benih sehat dan berstandar. “UMM telah memiliki SOP produksi, legalitas, dan hak cipta yang mendukung penyediaan benih unggul. Teknologi stek pucuk berakar serta produksi benih G0 hingga G2 menjadi langkah penting untuk menyediakan benih secara cepat, efisien, dan terstandar,” katanya. “Teknologi tersebut perlu diteruskan melalui pendampingan dan pelatihan agar petani dapat mengaplikasikannya langsung di lapangan. Dengan cara itu, peningkatan produktivitas dan kemandirian benih nasional dapat tercapai secara berkelanjutan,” ujarnya. Kolaborasi Lintas Sektor Lebih lanjut, Syarif menjelaskan bahwa UMM bekerja sama dengan pemerintah daerah, penangkar milenial, dan BUMDes untuk memastikan inovasi ini tidak berhenti pada skala laboratorium. Berbagai program pelatihan dirancang agar petani memahami cara memanfaatkan teknologi produksi benih secara benar dan berkelanjutan. Ia menilai bahwa kerja kolaboratif tersebut merupakan kunci untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Juga strategi dalam meningkatkan pendapatan petani dalam jangka panjang. Berbeda dengan Syarif, Joko menekankan pentingnya pemanfaatan lahan di bawah tegakan hutan. Ia menganggap hal ini sebagai strategi berkelanjutan untuk memperkuat ketahanan pangan tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan. Ia menyebut bahwa model agroforestri mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar kawasan hutan. Pendekatan ini dipandang relevan dalam menghadapi perubahan iklim, degradasi lahan, dan meningkatnya kebutuhan pangan yang memerlukan solusi berkelanjutan. “Lingkungan bawah tegakan hutan memiliki potensi besar jika dikelola secara bijak. Melalui agroforestri, kita bisa menghasilkan pangan yang beragam, menjaga stabilitas ekosistem, dan meningkatkan kesejahteraan petani.” katanya. “Berbagai tanaman toleran naungan seperti ganyong, garut, talas, dan porang dapat dikembangkan secara produktif di area tersebut. Potensi ini harus dimanfaatkan secara optimal agar manfaat ekologis dan ekonominya semakin luas,” ujarnya. Integrasi Tanaman Dalam penjelasan lanjutnya, Joko menguraikan bahwa integrasi tanaman pangan dengan pohon hutan tidak hanya memperkaya ketersediaan pangan lokal. Tetapi juga menjaga kesehatan tanah dan memperkuat infiltrasi air. Menurutnya, agroforestri mampu menjaga keanekaragaman hayati sekaligus memberikan sumber pendapatan baru bagi masyarakat sekitar hutan. Karena itu, pemanfaatan lahan bawah tegakan merupakan peluang besar yang perlu didorong melalui riset, pelatihan, dan pendampingan berbasis masyarakat. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan peran guru besar yang sangat strategis dalam memperkuat riset dan menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Ia menilai pembentukan Direktorat Saintek menjadi langkah penting bagi UMM untuk mempercepat hilirisasi riset dan memastikan inovasi kampus dapat dimanfaatkan secara luas. Nazaruddin juga menekankan pentingnya riset terapan sebagai jawaban terhadap tantangan deindustrialisasi nasional. “UMM akan terus berinvestasi pada riset terapan untuk melahirkan inovasi yang mampu mendorong transformasi ekonomi dari konsumsi menuju produksi,” ujarnya. (Djoko W)

Guru Sebagai Kurator Pembelajaran di Tengah Gempuran AI

Malang, Tugumalang.id – Peran guru di tengah kemajuan teknologi sejak kemunculan Artificial Intelligence (AI) tetap dinilai krusial. Kehadiran AI tidak serta-merta menggantikan posisi guru dalam proses pembelajaran, mengingat teknologi ini tidak memiliki fungsi pendampingan dan sentuhan edukatif secara langsung. Pandangan tersebut disampaikan dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Beti Istanti Suwandayani, M.Pd. Ia menegaskan, perubahan yang terjadi bukan sekadar hadirnya alat baru di ruang kelas, tetapi transformasi mendasar dalam cara belajar dan mengajar. “AI itu tidak hanya mengubah cara guru mengajar, tetapi juga cara belajar siswa dan mahasiswa. Saat ini, guru bukan menjadi sumber informasi utama bagi siswa,” ujarnya. Derasnya arus teknologi yang mempercepat proses pendidikan membuat guru dan dosen menghadapi transformasi besar dalam perannya. Tidak sedikit yang menilai kecerdasan buatan mulai mengambil alih sebagian fungsi pendidik dalam proses belajar mengajar. Namun, di balik kemudahan tersebut, peran pendidik justru semakin strategis. Guru tidak lagi cukup hanya sebagai penyampai materi, melainkan berperan sebagai kurator yang memilah, memverifikasi, dan memastikan sumber informasi yang digunakan siswa benar-benar valid, relevan, serta layak dijadikan rujukan. Dalam konteks ini, pendidik dituntut memposisikan diri sebagai pembimbing utama dalam pemanfaatan teknologi. Beti menjelaskan bahwa guru perlu menjadi learning experience designer dengan merancang pembelajaran yang adaptif, sekaligus berperan sebagai critical thinking coach yang mengasah daya pikir peserta didik. “Jadi bukan hanya sekadar memberikan jawaban, tetapi mengajak siswa atau mahasiswa bertanya dari ‘apa’ menjadi ‘bagaimana’ dan ‘mengapa’. Hal ini tentu akan melatih keterampilan analitis dan argumentasi,” kata dia. Di tengah kekhawatiran akan menurunnya orisinalitas akibat penggunaan AI, Beti justru melihat adanya peluang. Menurutnya, pendidik bisa mendorong peserta didik tetap menghasilkan karya otentik meski memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu. “Paling penting itu mendorong mereka membuat karya otentik, meskipun menggunakan atau memanfaatkan AI. Para peserta didik tetap memiliki sisi orisinalitas yang tidak bisa dibuat oleh AI,” ungkap Beti. Ia menambahkan, AI seharusnya menjadi sarana untuk memperbesar potensi diri, bukan menggantikan kapasitas manusia. Pendidikan, menurutnya, perlu membentuk generasi yang tidak hanya mampu menggunakan AI, tetapi juga memahami cara kerjanya secara kritis dan bertanggung jawab. “Pendidikan tidak hanya mampu menerima AI, tetapi mampu memanfaatkannya untuk mencerdaskan manusia secara lebih utuh. Begitu pun dengan pendidik yang seharusnya bisa memanfaatkan AI untuk memajukan pendidikan sekaligus mendorong siswa-siswi agar bisa menjadi lebih baik,” tandasnya.