Mimpi Kuliah Semakin Dekat, UMM dan Pemkot Batu Hadirkan Program 1000 Sarjana

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menunjukkan komitmen kuatnya dalam mempercepat pembangunan sumber daya manusia di Kota Batu melalui kolaborasi strategis. Hal ini ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara UMM dan Pemerintah Kota Batu untuk pelaksanaan Program 1000 Sarjana. Kegiatan yang bertujuan meningkatkan indeks pembangunan manusia ini dilaksanakan di GOR Gajah Mada Kota Batu pada 9 Desember lalu. Menandai komitmen bersama antara institusi pendidikan dan pemerintah daerah untuk mengoptimalkan akses pendidikan tinggi. Inisiatif Program 1000 Sarjana Pemerintah Kota Batu digagas sebagai upaya konkret untuk mendorong remaja daerah agar melanjutkan studi pada program-program unggulan. Terutama yang menopang keunggulan sumber daya alam lokal seperti pertanian dan pariwisata. UMM, sebagai salah satu institusi pendidikan terkemuka di Kota Pendidikan. Digandeng sebagai mitra strategis untuk menjadi support system bagi daerah Kota Batu. Wali Kota Batu, Nurochman, menyebut investasi pendidikan tak bisa ditawar dan pemerintah akan terus memastikan setiap pelajar memperoleh kesempatan menempuh pendidikan tinggi tanpa terkendala biaya. Ia menegaskan bahwa komitmen tersebut diwujudkan melalui penguatan program beasiswa sebagai langkah strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah. “Pendanaan beasiswa menjadi prioritas untuk melahirkan SDM yang lebih kompetitif,” ujarnya Disisi lain, Muhammad Fath Mashuri, M.A., Kepala Bagian Kerjasama UMM pada Bidang IV, menjelaskan bahwa UMM tidak hanya ingin berdampak luas untuk Indonesia, tetapi juga ingin memberikan dampak nyata pada wilayah terdekat, salah satunya Kota Batu. “UMM tidak hanya mengandalkan anggaran dari Pemerintah Kota Batu, tetapi juga turut memberikan subsidi tambahan. Bentuk dukungan tersebut berupa potongan biaya studi bagi mahasiswa asal Kota Batu, di mana sebagian biaya SPP ditanggung oleh UMM dan sisanya dibayarkan oleh Pemerintah Kota Batu,” ujar Fath, menyoroti peran UMM yang proaktif dalam kemitraan ini. Dalam mekanisme Program 1000 Sarjana, proses seleksi penerima beasiswa melibatkan verifikasi dua pihak. UMM dan Pemerintah Kota Batu yang bekerja sama dalam mengidentifikasi mahasiswa aktif ber-KTP Batu. Untuk menjamin kualitas penerima, program ini menerapkan filter IPK minimum dan batas maksimal studi semester 8. Fath sapaan akrabnya menjelaskan, batasan ini penting untuk menjamin bahwa benar-benar penerima award ini adalah mahasiswa yang memiliki komitmen serius dalam menjalani proses perkuliahan. Fath yang juga merupakan dosen psikologi UMM itu juga menambahkan, bahwa Pemerintah Kota Batu secara rutin menerima laporan perkembangan studi mahasiswa dari UMM. Hal ini menjadi bahan evaluasi yang ketat untuk memastikan keberlanjutan program beasiswa setiap semesternya. Sistem evaluasi ini diselaraskan dengan visi UMM dalam mendukung percepatan pembangunan daerah, khususnya di sektor pertanian dan ketahanan pangan. “Sektor ini menjadi fokus utama karena UMM dikenal kuat dalam program-program tersebut, dan Pemerintah Kota Batu secara langsung menyoroti efektivitas kinerja UMM di bidang ini sangat mumpuni,” pungkas Fath, oleh karena itu lulusan UMM diharapkan memiliki kesiapan kompetensi yang mumpuni untuk langsung mendukung program-program unggulan Kota Batu. Selain beasiswa pendidikan, pengembangan soft skill dan karakter juga telah terintegrasi dalam kurikulum UMM melalui program P2KK (Pengembangan Kepribadian dan Kepemimpinan) serta bimbingan teknis bahasa pemrograman Python. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya dibekali kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan kepemimpinan, etika, kerja sama, serta kompetensi digital yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Terakhir, Fath berpesan bahwa penting bagi generasi muda Kota Batu agar memanfaatkan peluang besar ini. “Pemerintah daerah Kota Batu dalam hal ini memberikan kepedulian yang besar, terhadap pembangunan manusia dan pengembangan soft skill generasi muda. Oleh karena itu generasi muda di Kota Batu harus memanfaatkan dan menyerap sebanyak mungkin pengetahuan yang bisa didapatkan di perguruan tinggi,” pungkasnya.(ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

UMM Turunkan Tim Kedokteran Bidang Medis Hingga Psikososial

MALANG POSCO MEDIA, MALANG– Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberangkatkan tim bantuan kebencanaan ke Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, Selasa (16/12) kemarin. Upaya ini sebagai respon civitas akademika terhadap kondisi masyarakat pasca bencana. Tim UMM akan menjalankan program bertajuk Optimalisasi Layanan Medis dan Dukungan Psikososial Pascabencana yang dijadwalkan berlangsung hingga 27 Desember 2025 mendatang. Pada agenda besar ini UMM membangun kolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti-Saintek). UMM dipercaya menjalankan program secara penuh dengan menangani langsung lokasi terdampak bencana di Kabupaten Agam. Koordinator tim, Dr. Arina Restian, M.Pd., menjelaskan bahwa program di Agam bertujuan melanjutkan serta memaksimalkan layanan yang telah ada, khususnya di bidang kesehatan. Kebutuhan utama masyarakat meliputi layanan medis, kefarmasian, dan dukungan kedokteran, termasuk pemulihan psikososial bagi warga terdampak bencana. “Sebelumnya pada tanggal 8 Desember lalu sudah ada tim yang datang kesana. Nah ini merupakan lanjutannya. Yang sekarang ini kami fokuskan kepada ranah kesehatan,” ungkapnya. Tim yang diberangkatkan terdiri atas 10 mahasiswa koas (calon dokter muda) Fakultas Kedokteran serta berbagai element kesehatan yang ada di UMM. Mereka membawa berbagai logistik bantuan berupa alat kesehatan, obat-obatan, teknologi tepat guna, sistem filtrasi air bersih, serta perangkat pemeriksaan darah. Sementara itu, Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., PhD., menyampaikan bahwa kondisi pascabencana di Agam masih membutuhkan perhatian serius. Ribuan penyintas yang terdampak bencana dan proses pemulihan tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. “Program ini menjadi semangat bagi kami untuk hadir langsung membantu para penyintas yang terdampak bencana. Ini adalah panggilan kemanusiaan,” ujarnya. Ia menambahkan, bahwa keterlibatan UMM dalam program ini merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Salis, sapaan akrabnya juga menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai Muhammadiyah, kode etik, serta nama baik institusi selama menjalankan misi kemanusiaan. “Niatkan seluruh kegiatan sebagai ibadah dan amal jariyah. Fokus pada kebermanfaatan dan hindari segala bentuk kerugian,” pesannya kepada tim. Melalui program yang berlangsung hingga akhir Desember ini, UMM membuktikan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pemulihan masyarakat Agam sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam respons kebencanaan berbasis kemanusiaan dan keilmuan. (imm/udi)

UMM Kirim Tim Koas Kedokteran Bantu Pemulihan Pascabencana di Agam

Agam, JATIMSATUNEWS.COM – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengirim tim bantuan kebencanaan ke Palembayan, Kabupaten Agam, untuk menjalankan program Optimalisasi Layanan Medis dan Dukungan Psikososial Pascabencana. Program ini berlangsung hingga 27 Desember 2025 dan merupakan bagian dari kolaborasi UMM dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti-Saintek). Dr. Arina Restian, M.Pd., salah satu koordinator kegiatan, menjelaskan bahwa program ini bertujuan melanjutkan layanan yang telah ada, terutama di bidang kesehatan. Tim fokus pada layanan medis, kefarmasian, serta dukungan psikososial bagi warga terdampak bencana. “Sebelumnya pada 8 Desember sudah ada tim yang datang ke sana, dan sekarang kami fokus pada ranah kesehatan,” ujarnya. Tim UMM yang diberangkatkan terdiri dari 10 mahasiswa koas Fakultas Kedokteran dan berbagai elemen kesehatan lainnya. Mereka membawa logistik berupa alat kesehatan, obat-obatan, teknologi tepat guna, sistem filtrasi air bersih, serta perangkat pemeriksaan darah. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., PhD., menekankan bahwa kondisi pascabencana masih memerlukan perhatian serius. Ribuan penyintas membutuhkan proses pemulihan yang tidak bisa dilakukan secara instan. “Program ini menjadi semangat bagi kami untuk hadir langsung membantu para penyintas yang terdampak bencana. Ini adalah panggilan kemanusiaan,” ujarnya. Salis menambahkan, keterlibatan UMM dalam program ini adalah amanah yang harus dijalankan dengan tanggung jawab penuh. Ia mengingatkan tim untuk menjaga nilai-nilai Muhammadiyah, kode etik, dan nama baik institusi selama menjalankan misi kemanusiaan. “Niatkan seluruh kegiatan sebagai ibadah dan amal jariyah. Fokus pada kebermanfaatan dan hindari segala bentuk kerugian,” pesannya. Program yang berlangsung hingga akhir Desember ini sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam respons kebencanaan berbasis kemanusiaan dan keilmuan, serta membuktikan kontribusi nyata UMM bagi pemulihan masyarakat Agam.

Solidaritas untuk Korban Bencana di Sumatera, UMM Kirim Calon Dokter Muda ke Kabupaten Agam

SURYAMALANG.COM, MALANG – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) baru saja memberangkatkan tim bantuan kebencanaan ke Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Selasa (16/12/2025). Tim tersebut akan menjalankan program bertajuk Optimalisasi Layanan Medis dan Dukungan Psikososial Pascabencana yang dijadwalkan berlangsung hingga 27 Desember 2025. Program ini merupakan bagian dari kolaborasi UMM dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (KemendiktiSaintek), di mana UMM dipercaya untuk menangani langsung wilayah terdampak bencana di Kabupaten Agam. Salah satu koordinator kegiatan, Dr Arina Restian MPd, menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk melanjutkan sekaligus memaksimalkan layanan yang sebelumnya telah diberikan kepada masyarakat terdampak. “Kami fokus pada ranah kesehatan. Sebelumnya, pada 8 Desember lalu sudah ada tim yang datang ke lokasi, dan keberangkatan kali ini merupakan lanjutan dengan fokus lebih intens pada layanan medis,” ujarnya. Ia menambahkan, kebutuhan utama masyarakat pasca bencana saat ini meliputi layanan medis, kefarmasian, pendampingan kedokteran, hingga pemulihan psikososial bagi para penyintas. Dalam misi kemanusiaan tersebut, UMM menurunkan 10 mahasiswa koas (calon dokter muda) Fakultas Kedokteran, yang didukung oleh berbagai elemen tenaga kesehatan internal kampus. Tim juga membawa sejumlah logistik kesehatan, seperti alat medis, obat-obatan, teknologi tepat guna, sistem filtrasi air bersih, serta perangkat pemeriksaan darah. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi MPsi PhD, menegaskan bahwa kondisi pasca bencana di Kabupaten Agam masih membutuhkan perhatian serius dan berkelanjutan. “Ribuan penyintas masih terdampak, dan proses pemulihan tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.” “Program ini menjadi wujud kehadiran kami untuk membantu secara langsung. Ini adalah panggilan kemanusiaan,” katanya. Salis menambahkan, keterlibatan UMM dalam program tersebut merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Ia juga mengingatkan seluruh tim untuk senantiasa menjaga kode etik profesi, serta nama baik institusi selama menjalankan misi di lapangan. “Niatkan seluruh kegiatan sebagai ibadah dan amal jariyah.” “Fokus pada kebermanfaatan bagi masyarakat dan hindari segala bentuk kerugian,” tandasnya. Sumber: SuryaMalang  

Universitas Muhammadiyah Malang Kirim Calon Dokter Muda Bantu Penyintas Bencana di Sumatra

TRIBUNJATIM.COM, MALANG – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) baru saja memberangkatkan tim bantuan kebencanaan ke Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, Selasa (16/12/2025). Tim tersebut akan menjalankan program bertajuk Optimalisasi Layanan Medis dan Dukungan Psikososial Pascabencana yang dijadwalkan berlangsung hingga 27 Desember 2025. Program ini merupakan bagian dari kolaborasi UMM dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (KemendiktiSaintek), di mana UMM dipercaya untuk menangani langsung wilayah terdampak bencana di Kabupaten Agam. Salah satu koordinator kegiatan, Dr Arina Restian, M.Pd, menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk melanjutkan sekaligus memaksimalkan layanan yang sebelumnya telah diberikan kepada masyarakat terdampak. “Kami fokus pada ranah kesehatan. Sebelumnya, pada 8 Desember lalu sudah ada tim yang datang ke lokasi, dan keberangkatan kali ini merupakan lanjutan dengan fokus lebih intens pada layanan medis,” ujarnya. Ia menambahkan, kebutuhan utama masyarakat pasca bencana saat ini meliputi layanan medis, kefarmasian, pendampingan kedokteran, hingga pemulihan psikososial bagi para penyintas. Dalam misi kemanusiaan tersebut, UMM menurunkan 10 mahasiswa koas (calon dokter muda) Fakultas Kedokteran, yang didukung oleh berbagai elemen tenaga kesehatan internal kampus. Tim juga membawa sejumlah logistik kesehatan, seperti alat medis, obat-obatan, teknologi tepat guna, sistem filtrasi air bersih, serta perangkat pemeriksaan darah. Sementara itu, Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., PhD, menegaskan bahwa kondisi pasca bencana di Kabupaten Agam masih membutuhkan perhatian serius dan berkelanjutan. “Ribuan penyintas masih terdampak, dan proses pemulihan tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat,” “Program ini menjadi wujud kehadiran kami untuk membantu secara langsung. Ini adalah panggilan kemanusiaan,” katanya. Salis menambahkan, keterlibatan UMM dalam program tersebut merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Ia juga mengingatkan seluruh tim untuk senantiasa menjaga kode etik profesi, serta nama baik institusi selama menjalankan misi di lapangan. “Niatkan seluruh kegiatan sebagai ibadah dan amal jariyah,” “Fokus pada kebermanfaatan bagi masyarakat dan hindari segala bentuk kerugian,” tandasnya.

UMM Turunkan Tim Koas Kedokteran untuk Pemulihan Pascabencana di Kabupaten Agam

pwmu.co –Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmen kemanusiaannya. Pada Selasa (16/12/2025), UMM memberangkatkan tim bantuan kebencanaan ke Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, untuk mendukung pemulihan pascabencana.Tim tersebut akan menjalankan program bertajuk Optimalisasi Layanan Medis dan Dukungan Psikososial Pascabencana yang dijadwalkan berlangsung hingga 27 Desember 2025. Program ini merupakan bagian dari kolaborasi UMM dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti-Saintek). Dalam kolaborasi tersebut, UMM dipercaya menangani secara penuh wilayah terdampak bencana di Kabupaten Agam. Fokus Layanan Kesehatan dan Psikososial Salah satu Koordinator Kegiatan, Dr. Arina Restian, M.Pd., menjelaskan bahwa kehadiran tim UMM di Agam bertujuan untuk melanjutkan sekaligus mengoptimalkan layanan yang sebelumnya telah berjalan, khususnya pada sektor kesehatan. “Kebutuhan utama masyarakat saat ini meliputi layanan medis, kefarmasian, serta dukungan kedokteran, termasuk pemulihan psikososial bagi warga terdampak bencana,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa kegiatan kali ini merupakan lanjutan dari tim sebelumnya yang telah lebih dulu terjun ke lokasi. “Sebelumnya pada 8 Desember sudah ada tim yang datang ke sana. Nah, kegiatan kali ini adalah kelanjutannya, dengan fokus utama pada ranah kesehatan,” ungkap Arina. Turunkan Koas Kedokteran dan Lengkapi Logistik Medis Tim bantuan yang diberangkatkan terdiri atas 10 mahasiswa koas (calon dokter muda) Fakultas Kedokteran UMM, didukung oleh berbagai elemen kesehatan internal kampus. Mereka membawa sejumlah logistik penting, mulai dari alat kesehatan, obat-obatan, teknologi tepat guna, sistem filtrasi air bersih, hingga perangkat pemeriksaan darah. Kehadiran tim ini diharapkan mampu membantu percepatan pemulihan kondisi kesehatan masyarakat sekaligus memperkuat layanan medis di wilayah terdampak. Wakil Rektor IV: Ini Panggilan Kemanusiaan Sementara itu, Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., PhD., menegaskan bahwa kondisi pascabencana di Kabupaten Agam masih membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak. “Jumlah penyintas cukup besar, dan proses pemulihan tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Program ini menjadi semangat bagi kami untuk hadir langsung membantu para penyintas. Ini adalah panggilan kemanusiaan,” tegasnya. Ia juga menekankan bahwa keterlibatan UMM dalam program ini merupakan amanah besar yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Salis—sapaan akrabnya—berpesan agar seluruh tim senantiasa menjaga nilai-nilai Muhammadiyah, kode etik, serta nama baik institusi. “Niatkan seluruh kegiatan sebagai ibadah dan amal jariyah. Fokus pada kebermanfaatan dan hindari segala bentuk kerugian,” pesannya. Peran Kampus dalam Respons Kebencanaan Melalui program yang berlangsung hingga akhir Desember ini, UMM kembali membuktikan peran strategis perguruan tinggi dalam respons kebencanaan berbasis kemanusiaan dan keilmuan. Kehadiran langsung di tengah masyarakat terdampak menjadi wujud nyata kontribusi kampus dalam membantu pemulihan dan membangun harapan baru bagi warga Kabupaten Agam. (*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Azrohal Hasan

AI UMM Dorong Guru Masa Depan lewat Magang CoE dan Kolaborasi Pendidikan

pwmu.co –Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat perannya dalam menyiapkan guru masa depan yang adaptif dan profesional. Hal tersebut ditandai dengan penutupan Program Magang Center of Excellence (CoE) sekaligus penandatanganan kerja sama pendidikan, Kamis (11/12/2025).Kegiatan yang digelar di Aula PDM Bojonegoro ini melibatkan Majelis Dikdasmen dan Pendidikan Nonformal (PNF) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bojonegoro serta empat sekolah Muhammadiyah. Momentum ini menjadi langkah strategis memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan satuan pendidikan di daerah. Perkuat Sinergi Kampus dan Sekolah Muhammadiyah Penutupan magang CoE PAI UMM dirangkaikan dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Prodi PAI UMM dengan Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Bojonegoro serta empat sekolah mitra. Keempat sekolah tersebut yakni SMP Muhammadiyah 2 Bojonegoro, SMP Muhammadiyah 4 Balen Bojonegoro, MTs Muhammadiyah 1 Banjaranyar, dan MI Muhammadiyah 26 Mudung Bojonegoro. Kerja sama ini diharapkan menjadi fondasi penguatan pelaksanaan pendidikan, pengembangan pembelajaran, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia di lingkungan sekolah Muhammadiyah. Kaprodi PAI: Magang Bukan Akhir Pembelajaran Ketua Prodi PAI UMM, Zulfikar Yusuf, M.Pd.I., menegaskan bahwa penutupan magang CoE bukanlah akhir dari proses pembelajaran mahasiswa. Justru, pengalaman langsung di sekolah mitra menjadi bekal penting dalam membentuk karakter calon pendidik yang adaptif dan kontekstual. “Pengalaman lapangan inilah yang akan membentuk mahasiswa menjadi guru yang kreatif, relevan dengan kebutuhan zaman, dan siap menghadapi dinamika dunia pendidikan,” tegasnya. Ia juga menekankan bahwa kerja sama yang terjalin harus berorientasi pada program konkret dan berkelanjutan, bukan sekadar seremoni penandatanganan. Dekan FAI: Kampus Harus Hadir Jadi Solusi Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) UMM, Dr. Imamul Hakim, M.Sh., menambahkan bahwa kolaborasi ini merupakan wujud nyata komitmen FAI UMM dalam mengimplementasikan konsep link and match antara dunia akademik dan praktik pendidikan di lapangan. Menurutnya, kampus tidak boleh terjebak pada teori semata, melainkan harus hadir langsung menjawab persoalan riil yang dihadapi sekolah. “Kampus harus turun tangan dan menjadi bagian dari solusi atas tantangan pendidikan yang ada di masyarakat,” ujarnya. PDM Bojonegoro Sambut Positif Kerja Sama Dari pihak mitra, Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Bojonegoro, Mustadjid, S.Ag., menyambut positif kerja sama tersebut. Ia berharap kolaborasi ke depan dapat diperluas, tidak hanya dalam bentuk magang mahasiswa, tetapi juga mencakup riset bersama dan inovasi pembelajaran. “Kehadiran mahasiswa PAI UMM membawa semangat baru di sekolah. Kami berharap kerja sama ini terus berlanjut secara berkesinambungan,” tuturnya. Komitmen PAI UMM untuk Pendidikan Islam Berkualitas Melalui penutupan magang CoE dan penandatanganan kerja sama ini, Prodi PAI UMM menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi dalam peningkatan mutu pendidikan Islam. Kolaborasi ini diharapkan mampu melahirkan pendidik yang berlandaskan nilai keislaman dan kemuhammadiyahan, sekaligus responsif terhadap perkembangan zaman. (*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Azrohal Hasan

UMM Turunkan Tim Koas Kedokteran, Bantu Pemulihan Pascabencana di Kabupaten Agam

KLIKMU.CO – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberangkatkan tim bantuan kebencanaan ke Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, Selasa (16/12/2025). Tim ini akan menjalankan program bertajuk Optimalisasi Layanan Medis dan Dukungan Psikososial Pascabencana hingga 27 Desember 2025. Program tersebut merupakan bagian dari kolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti-Saintek). Dalam kerja sama ini, UMM dipercaya menjalankan program secara penuh dengan menangani langsung lokasi terdampak bencana di Kabupaten Agam. Salah satu koordinator kegiatan, Dr Arina Restian MPd, menjelaskan bahwa program di Agam bertujuan melanjutkan sekaligus memaksimalkan layanan yang telah berjalan, khususnya di bidang kesehatan. Kebutuhan utama masyarakat terdampak meliputi layanan medis, kefarmasian, serta dukungan kedokteran, termasuk pemulihan psikososial. “Sebelumnya, pada 8 Desember lalu sudah ada tim yang datang ke sana. Kegiatan kali ini merupakan kelanjutannya. Fokus kami sekarang berada pada ranah kesehatan,” ujarnya. Tim yang diberangkatkan terdiri atas 10 mahasiswa koas atau calon dokter muda Fakultas Kedokteran UMM, serta berbagai elemen kesehatan yang ada di lingkungan kampus. Mereka membawa beragam logistik bantuan, mulai dari alat kesehatan, obat-obatan, teknologi tepat guna, sistem filtrasi air bersih, hingga perangkat pemeriksaan darah. Sementara itu, Wakil Rektor IV UMM Muhamad Salis Yuniardi MPsi PhD menyampaikan bahwa kondisi pascabencana di Kabupaten Agam masih membutuhkan perhatian serius. Menurutnya, ribuan penyintas terdampak bencana dan proses pemulihan tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. “Program ini menjadi semangat bagi kami untuk hadir langsung membantu para penyintas terdampak bencana. Ini adalah panggilan kemanusiaan,” tuturnya. Ia menambahkan, keterlibatan UMM dalam program ini merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Salis juga menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai Muhammadiyah, kode etik, serta nama baik institusi selama menjalankan misi kemanusiaan. “Niatkan seluruh kegiatan sebagai ibadah dan amal jariyah. Fokus pada kebermanfaatan dan hindari segala bentuk kerugian,” pesannya kepada tim. Melalui program yang berlangsung hingga akhir Desember ini, UMM menunjukkan kontribusi nyata dalam pemulihan masyarakat Kabupaten Agam sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam respons kebencanaan berbasis kemanusiaan dan keilmuan. (Faqih/AS)

UMM Kerahkan Tim Koas Kedokteran untuk Perkuat Pemulihan Pascabencana di Agam

Malangpariwara.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap penanganan bencana dengan memberangkatkan tim bantuan tim koas ke Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, Selasa (16/12/2025). Tim ini akan menjalankan program Optimalisasi Layanan Medis dan Dukungan Psikososial Pascabencana yang dijadwalkan berlangsung hingga 27 Desember 2025. Sebagai bagian dari kolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti-Saintek). Dalam program ini, UMM dipercaya untuk menangani langsung wilayah terdampak di Kabupaten Agam. Perkuat Layanan Kesehatan Salah satu koordinator kegiatan, Dr. Arina Restian, M.Pd., menjelaskan bahwa program di Agam difokuskan untuk melanjutkan sekaligus memperkuat layanan yang telah berjalan. Khususnya pada sektor kesehatan. Kebutuhan utama masyarakat saat ini mencakup layanan medis, kefarmasian, serta dukungan kedokteran. Termasuk pemulihan psikososial bagi warga terdampak bencana. “Sebelumnya pada tanggal 8 Desember lalu sudah ada tim yang datang kesana, nah ini merupakan lanjutannya. Yang sekarang ini kami fokuskan kepada ranah kesehatan” ungkapnya. Tim yang diberangkatkan terdiri atas 10 mahasiswa koas (calon dokter muda) Fakultas Kedokteran UMM beserta unsur pendukung kesehatan lainnya. Mereka membawa berbagai bantuan logistik. Seperti alat kesehatan, obat-obatan, teknologi tepat guna, sistem filtrasi air bersih, hingga perangkat pemeriksaan darah. Kondisi Agam Pascabencana Sementara itu, Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., PhD., menegaskan bahwa kondisi pascabencana di Agam masih memerlukan perhatian berkelanjutan. Ia menyebut ribuan penyintas masih membutuhkan pendampingan, sementara proses pemulihan tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. “Program ini menjadi semangat bagi kami untuk hadir langsung membantu para penyintas yang terdampak bencana. Ini adalah panggilan kemanusiaan,” ujarnya. Salis menambahkan bahwa keterlibatan UMM dalam program ini merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Ia juga mengingatkan seluruh tim untuk menjaga nilai-nilai Muhammadiyah, kode etik, serta nama baik institusi selama menjalankan misi kemanusiaan. “Niatkan seluruh kegiatan sebagai ibadah dan amal jariyah. Fokus pada kebermanfaatan dan hindari segala bentuk kerugian,” pesannya kepada tim. Melalui program yang berlangsung hingga akhir Desember ini, UMM menegaskan komitmennya untuk berkontribusi nyata dalam pemulihan masyarakat Kabupaten Agam. Sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam respons kebencanaan yang berbasis kemanusiaan dan keilmuan. (Djoko W/Yaya)