Berbagi Untuk Negeri, UMM Bangun Instalasi Air Bersih di Maninjau

AGAM, Suara Muhammadiyah – Di tengah krisis air bersih yang berkepanjangan akibat bencana longsor, harapan baru akhirnya mengalir bagi warga Muaro Pauah, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam. Melalui program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memasang instalasi filter air bersih di Surau Dr. H. Abdul Karim Amrullah, Maninjau, pada 23 Desember lalu. Program ini diharapkan mampu membantu pemenuhan kebutuhan air layak bagi lebih dari 100 kepala keluarga di sekitar surau. Surau Dr. H. Abdul Karim Amrullah merupakan bangunan bersejarah peninggalan ayah Buya Hamka, tokoh besar Muhammadiyah dan bangsa Indonesia. Selain sebagai tempat ibadah, surau ini juga menjadi pusat aktivitas sosial dan keagamaan masyarakat, sehingga dipilih sebagai titik strategis pemasangan dan distribusi air bersih. Paket bantuan yang disalurkan meliputi instalasi filter air bersih, toren air berkapasitas besar, jerigen untuk distribusi ke rumah warga, serta genset sebagai sumber listrik cadangan. Fasilitas tersebut menjadi solusi atas kondisi sumber air masyarakat yang tercemar lumpur pascalongsor, sehingga sebelumnya tidak layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Bapak Fajri, selaku Bapak Jorong Muaro Pauah, menyampaikan apresiasi atas bantuan tersebut. Menurutnya, sejak bencana longsor melanda kawasan Maninjau, warga mengalami kesulitan air bersih. Untuk memasak, masyarakat terpaksa membeli air mineral, sementara untuk mandi menggunakan air bercampur lumpur yang memicu berbagai keluhan kesehatan seperti gatal-gatal. “Kami mengucapkan terima kasih kepada UMM. Bantuan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya. Sementara itu, Mukti Cahyani, salah satu koordinator tim pengabdian masyarakat UMM, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud komitmen UMM dalam memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat, sejalan dengan tagline “Dari Muhammadiyah untuk Bangsa.” Ia menambahkan, Maninjau memiliki nilai historis bagi Muhammadiyah sebagai tempat kelahiran Buya Hamka, sehingga UMM merasa terpanggil untuk berkontribusi langsung. Dengan beroperasinya instalasi filter air bersih ini, warga Muaro Pauah kini memiliki akses air yang lebih layak dan berkelanjutan sebagai bagian dari upaya pemulihan pascabencana di kawasan Maninjau. (diko)

UMM Beri Pendampingan Psikologis untuk Mahasiswa Terdampak Bencana Sumatera

Indonesiandaily.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan layanan Bimbingan dan Konseling (BK). Khususnya untuk mahasiswa yang keluarganya terdampak bencana di wilayah Sumatera, termasuk Aceh. Layanan ini menjadi bagian dari upaya kampus dalam memastikan mahasiswa. Agar mereka tetap memiliki ketahanan mental, di tengah kondisi krisis yang memengaruhi keluarga mereka. Kepala Bimbingan dan Konseling (BK) UMM, Dr Cahyaning Suryaningrum MSi menjelaskan bahwa layanan ini merupakan bagian dari fungsi BK. Yakni dalam melayani sivitas akademika, yang meliputi mahasiswa, dosen, dan karyawan. Namun, dalam konteks bencana, fokus utama sementara ini yaitu pendampingan diarahkan pada mahasiswa UMM yang berada di Malang. Namun yang memiliki keluarga di wilayah terdampak. Pendekatan ini dipilih karena mahasiswa merupakan kelompok yang paling cepat dijangkau. Juga berpotensi mengalami tekanan psikologis yang berdampak pada aktivitas akademiknya. “Kami dampingi secara cepat mahasiswa yang keluarganya berada di wilayah terdampak bencana,” ungkap Cahyaning. Lantas Kepala BK ini menjelaskan, kondisi tersebut dapat memicu kecemasan, shock, yang dapat mengganggu konsentrasi belajar. Sehingga membutuhkan dukungan psikologis dengan segera, agar tidak berkembang menjadi masalah yang lebih berat. Dalam konteks yang lebih luas, BK UMM memposisikan diri sebagai bagian dari sistem pendukung kesehatan mental sivitas akademika. Pendampingan psikologis ini tidak hanya bersifat responsif terhadap situasi bencana. Tetapi juga menjadi bagian dari komitmen jangka panjang kampus dalam menjaga kesejahteraan mental mahasiswa. Menurut Cahyaning, tekanan emosional yang tidak tertangani berpotensi memengaruhi keberlangsungan studi mahasiswa. Pendekatan yang digunakan BK UMM tidak hanya bersifat kuratif, tetapi juga promotif dan preventif. Edukasi kesehatan mental terus dilakukan melalui berbagai konten yang disebarluaskan agar mahasiswa memiliki pemahaman dan kemampuan dalam mengelola emosi secara mandiri. Upaya ini diharapkan dapat membantu mahasiswa membangun ketahanan psikologis. Terutama ketika menghadapi situasi krisis yang berkaitan dengan kondisi keluarga. “Tujuan utama kami adalah memberdayakan mahasiswa agar mampu menghadapi situasi sulit, bukan membuat mereka bergantung pada layanan konseling,” ucapnya. Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan tetap dapat menjalani perkuliahan secara optimal. Meskipun berada dalam kondisi emosional yang menantang akibat bencana yang menimpa keluarga mereka. Sebagai bentuk dukungan konkret, BK UMM membuka layanan konseling yang dapat diakses melalui beberapa mekanisme. Yakni dengan mendaftar secara daring, datang langsung ke kantor BK. Maupun melalui layanan komunikasi awal berbasis chat. Selain itu, BK UMM juga membuka kemungkinan pendampingan secara daring melalui platform digital. Dengan menyesuaikan kondisi dan kebutuhan mahasiswa. Melalui layanan konseling ini, UMM menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik. Termasuk juga pada kesejahteraan mental mahasiswa. BK UMM diharapkan menjadi ruang aman dan inklusif bagi mahasiswa yang membutuhkan dukungan psikologis. Sekaligus mempertegas bahwa kesehatan mental merupakan kebutuhan mendasar, dan mendapat perhatian serius dalam ekosistem pendidikan di kampus Putih ini

Kisah Relawan Universitas Muhammadiyah Malang dan Universitas Brawijaya Tangani Mental Korban Bencana di Agam, Sumatera Barat

 RADAR MALANG– MALAM bagi kebanyakan orang merupakan waktu yang tepat untuk beristirahat. Tetapi hal itu tidak berlaku bagi warga Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar). Ketika matahari terbenam dan langit mulai gelap, sebagian dari mereka mengingat kembali suara gemuruh air yang meluluhlantakkan permukiman. Malam itu, 25 November lalu, banjir besar menyapu hampir seluruh harta benda mereka. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap, per 22 Desember lalu tercatat 1.106 korban jiwa. Trauma warga korban bencana itu ditangkap oleh tim relawan dari Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ketika bertugas di daerah terdampak. Keberadaan tim UMM dan UB bertujuan mengikis memori kelam yang masih dirasakan oleh warga. Dipimpin dr Zuhrotun Ulya SpKJ, tim melakukan penanganan psikosial di beberapa titik terdampak bencana di Kabupaten Agam. Penanganan dimulai pada 7-19 Desember lalu. Tahapan awal yang dilakukan adalah assessment kondisi mental korban terdampak. ”Kondisinyabisa dilihat dari tingkah laku mereka maupun dengan wawancara langsung dengan korban,” ujar Zuhrotun mengawali wawancara dengan Jawa Pos Radar Malang kemarin. Setelah assessment, kemudian tim melakukan intervensi sesuai kondisi mental korban terdampak bencana. Dari hasil assessment, ditemui berbagai kondisi mental. Mulai stres ringan hingga depresi berat. Stres ringan yang dialami korban terdampak misalnya ketika malam hari, timbul kecemasan. Mereka masih sering mengingat memori pada saat banjir besar melanda. Sedangkan yang depresi berat, ada yang sampai ingin berniat bunuh diri. “Kenapa mereka lebih takut malam hari?Karena saat itu tidak ada aktivitas, memori mereka kemudian terisi peristiwa bencana banjir. Ada juga yang masih teriak tolong-tolong,” jelas dokter Uul, sapaan akrab Zuhrotun Ulya. Untuk stres ringan, penanganan yang diberikan lebih banyak mengajak bicara korban. Tim relawan memberikan pemahaman jika kondisi bencana akan segera terlewati. Setelah mereka menerima, kemudian ditumbuhkan semangat untuk memulai hidup dari awal dan tak mudah menyerah. Sedangkan untuk depresi berat, penanganan yang dilakukan lebih kompleks. Pasien harus mendapatkan obat-obatan rutin setiap hari. Kemudian orang terdekat harus memantau perilaku pasien tersebut. Sebab dikhawatirkan melakukan hal yang berbahaya. ”Kalau yang depresi itu malah berpikir ingin tidak selamat.Lebih baik hanyut terbawa banjir bersama rumah karena tidak sanggup melihat harta bendanya habis dan melewati fase berat,” urai Uul. Meskipun ada korban dalam kondisi mental yang sangat terpuruk, hingga saat ini situasi terkendali dengan bantuan obat dan kontrol dari orang terdekat. Selain depresi berat, kondisi paling memilukan yang ditemui Uul adalah ketika ibu hamil kehilangan dua anaknya. Saat kejadian, ada satu ibu hamil yang berusaha menyelamatkan tiga anaknya. Satu anak ditaruh di atas kepalanya, sedangkan dua anak lainnya digandeng di tangan kanan dan kiri. Nahas, dua anak yang di kanan dan kiri itu terbawa arus banjir. Sehingga hampir dipastikan tidak selamat. Ibu tersebut hanya bisa menyelamatkan satu orang anak yang masih bayi di atas kepalanya. Satu anak lagi yang masih di kandungan. ”Pasca-banjir, tentunya ibu tersebut mengalami stres berat, karena harus kehilangan dua anaknya. Saat itu menjadi tugas kami agar mentalnya tetap stabil, supaya anak yang di kandungan tetap aman,” papar dokter berusia 38 tahun tersebut. Berkat peran Uul dan timnya, ibu tersebut mulai menerima keadaan, meski proses pemulihannya membutuhkan waktu yang sangat lama. Untuk stres ringan dan depresi, sebagian besar dialami masyarakat dewasa hingga lanjut usia (lansia). Meskipun demikian, anak-anak juga perlu diperhatikan kesehatan mentalnya. Untuk itu, ada program khusus trauma healing kepada mereka. Trauma healing dilakukan melalui pendekatan psikososial berbasis permainan, kemudian dilakukan pengamatan ekspresi non-verbal. Bentuk kegiatan tidak terbatas pada game. Bisa dilakukan dengan storytelling, menggambar, mewarnai, bermain peran, permainan boneka tangan dan interaksi dengan para relawan. “Pada trauma healing itu, anak yang tampak tidak aktif bermain kemudian dilakukan pendekatan personal. Anak diberi tempat dan waktu yang aman untuk mengungkapkan kondisi yang dirasakan sebenarnya,” ungkap dokter yang bertugas di Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran UB itu. Satu lagi pihak yang butuh diperhatikan kondisi mentalnya adalah tenaga kesehatan (nakes). Mereka adalah korban, tetapi dalam keadaan darurat, tetap dipaksa menjalani tugas sebagai tenaga medis. Tim relawan juga melakukan assessment kepada mereka yang bertugas. Dari hasil penilaian itu, banyak nakes yang dalam kondisi stres berat. “Kami menemukantujuh tenaga medis yang rumahnya tersapu banjir, tetapi mereka harus memperhatikan kondisi korban yang lain. Kami datang untuk mereka dengan meringankan beban dan kondisi mental tenaga medis yang terdampak,” pungkas Uul. (*/dan)

UMM Buka Pendampingan Psikologis bagi Mahasiswa Terdampak Bencana di Sumatera dan Aceh

Malang, JATIMSATUNEWS.COM — Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuka layanan pendampingan psikologis bagi mahasiswa yang keluarganya terdampak bencana di wilayah Sumatera, termasuk Aceh. Layanan ini disediakan melalui Bimbingan dan Konseling (BK) UMM sebagai bentuk kepedulian kampus terhadap kesehatan mental mahasiswa di tengah situasi krisis. Kepala BK UMM, Dr. Cahyaning Suryaningrum, M.Si., menjelaskan bahwa pendampingan difokuskan pada mahasiswa UMM yang berada di Malang namun memiliki keluarga di wilayah terdampak bencana. Kelompok ini dinilai paling rentan mengalami tekanan psikologis yang berpotensi mengganggu konsentrasi dan aktivitas akademik. “Mahasiswa yang keluarganya terdampak bencana berisiko mengalami kecemasan, shock, hingga penurunan fokus belajar. Karena itu, dukungan psikologis sejak dini penting agar kondisi tersebut tidak berkembang menjadi masalah yang lebih berat,” ujarnya. Menurutnya, pendampingan ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang UMM dalam menjaga kesejahteraan mental sivitas akademika. BK UMM tidak hanya berperan secara kuratif, tetapi juga promotif dan preventif melalui edukasi kesehatan mental agar mahasiswa mampu mengelola emosinya secara mandiri. “Tujuan kami adalah memberdayakan mahasiswa agar tetap tangguh menghadapi situasi sulit, bukan membuat mereka bergantung pada layanan konseling,” tambahnya. Layanan konseling BK UMM dapat diakses melalui pendaftaran daring, kunjungan langsung ke kantor BK, komunikasi awal berbasis chat, serta pendampingan secara daring sesuai kebutuhan mahasiswa. Melalui langkah ini, UMM menegaskan komitmennya menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi akademik, tetapi juga berpihak pada kesehatan mental mahasiswa.

Kisah Dana, Dokter Muda FK UMM yang Terjun dalam Layanan Psikososial Pascabencana di Sumbar

Malang, JATIMSATUNEWS.COM — Berhadapan langsung dengan penyintas yang kehilangan rumah dan anggota keluarga menjadi pengalaman paling mengguncang bagi Muhammad Hafidz Putra Perdana. Dokter muda Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM) yang akrab disapa Dana ini terjun langsung dalam layanan psikososial pascabencana banjir bandang di Sumatera Barat. Dana merupakan mahasiswa profesi dokter FK UMM asal Banjarmasin yang tergabung dalam program tanggap bencana UMM bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (KemendiktiSaintek). Program ini berfokus pada pelayanan medis dan pendampingan psikososial bagi masyarakat terdampak banjir bandang, dengan penugasan relawan sepanjang Desember 2025. Dalam tim tersebut, Dana dipercaya bergabung sebagai anggota layanan psikososial yang mendampingi penyintas dengan gangguan mental akibat trauma bencana. “Saya langsung turun ke masyarakat untuk melakukan asesmen dan menggali gejala gangguan mental yang muncul pascabencana,” ujarnya. Hari pertama bertugas di Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, menjadi titik awal Dana bersentuhan langsung dengan realitas pahit bencana. Ia mengunjungi tiga rumah singgah yang menampung penyintas dari Kecamatan Palembayan, salah satu wilayah zona merah dengan tingkat kerusakan parah. “Mereka bercerita rumahnya rata dengan tanah, bahkan banyak yang kehilangan anggota keluarga,” ungkap Dana. Menurutnya, mayoritas penyintas mengalami kecemasan berat, gangguan panik, serta tekanan emosional akibat kehilangan orang terdekat. Pendampingan dilakukan melalui asesmen psikologis, konseling, teknik relaksasi, serta pemberian obat-obatan yang dipantau secara berkala selama dua pekan. “Sebagian besar pasien adalah mereka yang kehilangan keluarga, tetapi semangat mereka untuk bertahan hidup tetap luar biasa,” katanya. Pengalaman paling membekas bagi Dana terjadi saat bertugas di salah satu rumah singgah di Lubuk Basung yang menampung penyintas dari Palembayan. Ia mendengar kisah seorang ayah yang berjuang keras menyelamatkan keluarganya di tengah bencana. “Cerita mereka sangat mengguncang saya secara personal dan menjadi pengingat kuat tentang arti kemanusiaan,” tuturnya. Meski telah menjalani stase kejiwaan selama masa koas, Dana mengaku pengalaman lapangan ini memberikan pelajaran yang jauh lebih mendalam. “Ini pengalaman yang tidak tergantikan bagi saya sebagai calon dokter,” ujarnya. Dana berharap kehadiran program tanggap bencana UMM bersama KemendiktiSaintek, khususnya pada layanan medis dan psikososial, dapat membantu mempercepat pemulihan mental dan sosial para penyintas pascabencana.

Kuliah Praktisi FISIP-UMM; Menyoal Tantangan dan Peluang Pekerja Sosial Koreksional di Pemasyarakatan

Malang-harianjatim.com. Di tengah tuntutan profesionalisme pekerja sosial di Indonesia, Program Studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang terus melakukan berbagai upaya aktualisasi peran pekerja sosial dalam berbagai setting layanan. Salah satunya adalah praktik intervensi pekerja sosial koreksional di Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) dan Balai Pemasyarakatan (BAPAS). Kegiatan tersebut di kemas dalam pelaksanaan kuliah praktisi pada Selasa (23/12) bertempat di Basement Dome Kampus III UMM dan dibuka langsung oleh Wakil Rektor I UMM sesaat setelah sambutan Dekan FISIP dan Kaprodi. Menurut Hutri Agustino., Ph.D selaku Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial menyampaikan bahwa praktik intervensi pekerja sosial di LAPAS dan BAPAS memegang peran penting dalam mendukung proses pembinaan, rehabilitasi, dan reintegrasi sosial warga binaan serta klien pemasyarakatan. “Praktik intervensi di LAPAS lebih menitikberatkan pada rehabilitasi sosial, penguatan kapasitas personal, serta pembentukan perilaku adaptif selama masa pidana,” katanya. Sementara itu, di BAPAS kata dia pekerja sosial berperan penting dalam pendampingan klien pemasyarakatan saat menjalani pembebasan bersyarat, cuti bersyarat, maupun asimilasi, agar mampu kembali berfungsi secara sosial di tengah masyarakat. Pemasyarakatan yang humanis membutuhkan pekerja sosial yang kompeten, reflektif, dan berorientasi pada pemberdayaan. “Dengan praktik intervensi yang tepat, risiko pengulangan tindak pidana dapat ditekan. Disinilah tujuan utama kegiatan kuliah praktisi ini di laksanakan, agar mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial sebagai calon Pekerja Sosial dapat memahami secara utuh praktik intervensi koreksional di setting pemasyarakatan,” tegas dia. Kepala BAPAS Kelas I Malang Karto Rahardjo, Bc. IP., S.H., M.H. menegaskan bahwa pekerja sosial pemasyarakatan saat ini menghadapi berbagai tantangan yang semakin kompleks. ”Tantangan tersebut antara lain meningkatnya dinamika permasalahan sosial klien, keterbatasan sumber daya, hingga stigma masyarakat terhadap mantan warga binaan pemasyarakatan,” jelas dia. Menurutnya, pekerja sosial pemasyarakatan dituntut tidak hanya memahami aspek hukum, tetapi juga mampu membaca kondisi sosial, psikologis, dan lingkungan klien secara komprehensif. Meski demikian, ia menekankan bahwa di balik tantangan tersebut terdapat peluang besar untuk memperkuat peran pekerja sosial dalam sistem pemasyarakatan. Perkembangan kebijakan pemasyarakatan yang berorientasi pada keadilan restoratif dan reintegrasi sosial kata dia membuka ruang bagi pekerja sosial untuk lebih berinovasi dan berkolaborasi dengan berbagai pihak. ”Peluang ini harus dimanfaatkan dengan meningkatkan kompetensi, profesionalisme, serta sinergi dengan pemerintah daerah, lembaga sosial, dunia pendidikan, dan masyarakat. Dengan demikian, klien pemasyarakatan dapat kembali berfungsi secara sosial dan mandiri,” jelasnya. Ia juga berharap pekerja sosial pemasyarakatan mampu menjadi agen perubahan yang tidak hanya melakukan pembimbingan administratif, tetapi juga pendampingan yang humanis dan berkelanjutan.             Guru besar di Program Studi Kesejahteraan Sosial Prof. Dr. Oman Sukmana, M.Si. selaku guru besar di Program Studi Kesejahteraan Sosial menegaskan pentingnya peran dan intervensi pekerja sosial koreksional dalam sistem pemasyarakatan sebagai upaya strategis untuk mendukung proses pembinaan dan reintegrasi sosial warga binaan dan klien pemasyarakatan.             Ia menjelaskan bahwa pekerja sosial koreksional memiliki posisi kunci dalam menjembatani aspek hukum, sosial, dan kemanusiaan. Intervensi yang dilakukan tidak hanya berfokus pada penyelesaian masalah individu, tetapi juga pada penguatan fungsi sosial, keluarga, dan lingkungan tempat klien akan kembali.             “Intervensi pekerja sosial koreksional harus berbasis asesmen yang komprehensif, mencakup kondisi psikososial, relasi keluarga, serta faktor lingkungan yang memengaruhi perilaku klien,” ungkapnya.             Tanpa intervensi yang tepat, sambung dia proses reintegrasi sosial akan sulit tercapai. Lebih lanjut, Prof. Oman menekankan bahwa pendekatan pekerja sosial koreksional sejalan dengan paradigma pemasyarakatan modern yang menempatkan pemulihan, rehabilitasi, dan keadilan restoratif sebagai tujuan utama.             “Melalui pendampingan, konseling, bimbingan sosial, serta penguatan jejaring sosial, pekerja sosial dapat meminimalkan risiko pengulangan tindak pidana,” jelas dia.             Ia juga menyoroti perlunya peningkatan kapasitas dan profesionalisme pekerja sosial koreksional agar mampu menjawab tantangan yang semakin kompleks di bidang pemasyarakatan.             ”Kolaborasi lintas sektor dengan lembaga pemerintah, akademisi, dan masyarakat dinilai menjadi kunci keberhasilan intervensi yang berkelanjutan. Pemasyarakatan tidak bisa berjalan sendiri. Intervensi pekerja sosial koreksional harus didukung oleh sinergi semua pihak agar klien dapat kembali menjadi anggota masyarakat yang produktif dan bertanggung jawab,” katanya Prof. Oman berharap pemahaman mengenai peran dan intervensi pekerja sosial koreksional dapat terus diperkuat, sehingga sistem pemasyarakatan di Indonesia semakin humanis, berkeadilan, dan berorientasi pada pemulihan sosial.

UMM Beri Layanan Konseling Mahasiswa Terdampak Bencana Sumatera-Aceh

Kota Malang, Bhirawa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bergerak cepat merespons dampak psikologis bencana alam yang melanda wilayah Sumatera dan Aceh. Melalui layanan Bimbingan dan Konseling (BK), Kampus Putih membuka pintu pendampingan psikologis khusus bagi mahasiswa yang keluarganya menjadi korban bencana di wilayah tersebut. Langkah ini diambil untuk memastikan ketahanan mental mahasiswa tetap terjaga, sehingga proses akademik tidak terganggu meski tengah didera kecemasan akibat kondisi keluarga di kampung halaman. Kepala BK UMM, Dr. Cahyaning Suryaningrum, M.Si., mengungkapkan bahwa fokus utama layanan saat ini adalah memberikan dukungan mental kepada mahasiswa yang berada di Malang namun memiliki ikatan emosional langsung dengan wilayah terdampak. Menurutnya, kelompok ini rentan mengalami tekanan psikologis yang signifikan. “Mahasiswa yang keluarganya berada di wilayah bencana adalah prioritas kami. Kondisi ini sangat rentan memicu kecemasan, shock, hingga gangguan konsentrasi belajar. Kami hadir untuk memberikan dukungan psikologis sejak dini agar tekanan tersebut tidak berkembang menjadi masalah mental yang lebih berat,” tegas Cahyaning saat, Selasa (23/12) kemarin. Cahyaning menjelaskan, BK UMM tidak hanya bertindak saat krisis terjadi (responsif), namun juga memposisikan diri sebagai sistem pendukung jangka panjang bagi seluruh sivitas akademika. Pendekatan yang digunakan mencakup aspek kuratif, promotif, hingga preventif. “Tujuan utama kami adalah pemberdayaan. Kami ingin mahasiswa memiliki ketahanan psikologis (resilience) sehingga mampu mengelola emosi secara mandiri di tengah situasi sulit. Edukasi kesehatan mental terus kami masifkan agar mereka tidak hanya bergantung pada konseling, tapi mampu bangkit secara mandiri,” imbuhnya. Berita Terkait :  DPRD Kota Kediri Setujui Perubahan Status Perumda BPR Bank Kota Kediri Menjadi Perseroda Guna memudahkan akses, Kampus Putih menyediakan berbagai jalur layanan. Mahasiswa dapat mendaftar secara daring (online), datang langsung ke kantor BK, hingga melakukan konsultasi awal melalui pesan singkat (chat). Bahkan, bagi mahasiswa yang membutuhkan pendampingan jarak jauh, BK UMM telah menyiapkan platform digital khusus. Komitmen ini mempertegas posisi UMM bahwa pendidikan tinggi tidak hanya soal mengejar nilai akademik, namun juga tentang memanusiakan manusia melalui perhatian pada kesejahteraan mental. BK UMM kini diproyeksikan menjadi “ruang aman” yang inklusif bagi seluruh mahasiswa di tengah berbagai tantangan bencana nasional. [mut.wwn]

Mahasiswa FT UMM Amankan Podium Nasional Lewat Inovasi Drone Berbasis AI

Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (FT UMM) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Melalui Tim Airborn UMM, mahasiswa FT UMM berhasil meraih Juara 3 Kompetisi Inovasi Drone Nasional (KIDN) 2025 pada kategori drone tetap sasaran. Kompetisi tersebut digelar pada 18 Desember 2025 di Lapangan Aldiron, Jakarta Selatan, dan diikuti oleh tim-tim terbaik dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Prestasi ini diraih berkat pengembangan drone berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mampu mendeteksi dan melacak target secara real time. Sistem drone dirancang untuk dapat menjalankan misi secara mandiri dengan tingkat akurasi tinggi melalui integrasi AI dan navigasi presisi. Perancangan arsitektur sistem drone dikembangkan oleh M. Darma Putra Ramadhan, salah satu anggota Tim Airborn UMM. Ia menjelaskan bahwa teknologi utama drone memanfaatkan algoritma deep learning YOLOv5 yang dikonversi ke TensorRT guna mengoptimalkan kinerja perangkat Jetson Nano. Optimalisasi ini memungkinkan proses komputasi visual berjalan lebih cepat dan stabil tanpa membebani sistem. “Konversi ke TensorRT menjadi kunci agar drone tetap responsif menghadapi dinamika lapangan saat lomba,” jelas Darma. Teknologi AI tersebut kemudian diintegrasikan dengan sistem navigasi berbasis GNSS dan GPS lock, sehingga drone tidak hanya mampu mengenali objek sasaran, tetapi juga bergerak menuju target secara presisi berdasarkan koordinat. Drone yang dikembangkan memiliki kapasitas angkut hingga tiga kilogram. Namun, dalam KIDN 2025, tim menyesuaikan payload menjadi 750 gram dengan baterai satu kilogram demi menjaga stabilitas terbang. Selain itu, Tim Airborn UMM menerapkan fitur target lock, di mana operator dapat memilih objek sasaran melalui antarmuka click and drag. Setelah target terkunci, drone akan bergerak otomatis mengikuti skenario misi, termasuk untuk misi khusus yang mengharuskan drone menabrakkan diri ke target. Pada kategori drone tetap sasaran, penilaian juri meliputi desain, konsep pengembangan, teknologi, presentasi, daya tahan, dan kecepatan drone. Berdasarkan pengujian internal, sistem drone Airborn UMM mencatat tingkat keberhasilan hingga 95 persen selama uji coba dan perlombaan. Meski demikian, tim menghadapi tantangan berupa keterbatasan waktu latihan dan kondisi cuaca. Untuk mengatasinya, tim bahkan memanfaatkan waktu malam hari untuk latihan di lapangan sepak bola UMM. Ke depan, Tim Airborn UMM berencana mengembangkan sistem drone berbasis cloud dan Internet of Things (IoT) agar mampu menjalankan misi jarak menengah hingga jauh secara terintegrasi. Capaian ini menjadi pijakan awal FT UMM dalam memperkuat riset drone berbasis AI yang adaptif dan berdaya saing nasional. (vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Ahmad Faqih Wafir Rahman

Pasca Banjir Banyak Penyintas Stres: Dokter Muda FK UMM Lakukan Psikososial

MALANG POST – Berada di hadapan para penyintas yang kehilangan rumah dan keluarga menjadi pengalaman paling mengguncang bagi Muhammad Hafidz Putra Perdana. Dokter muda yang akrab disapa Dana ini harus belajar menyeimbangkan empati dan profesionalisme saat mendampingi korban banjir bandang Sumatra melalui layanan psikososial. Dana merupakan dokter muda Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM) asal Banjarmasin. Ia tergabung dalam program tanggap bencana UMM yang berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (KemendiktiSaintek) yang berfokus pada pelayanan medis dan psikososial. Para relawan diterjunkan ke Sumatra barat sepanjang bulan Desember 2025 untuk membantu pemulihan masyarakat terdampak banjir bandang. Dalam program tersebut, Dana dipercaya bergabung sebagai anggota tim psikososial, yang bertugas mendampingi penyintas dengan gangguan mental akibat trauma bencana. “Saya langsung turun ke masyarakat dan menanyai perihal gejala serta gangguan mental mereka akibat post-trauma banjir bandang ini,” ujar Dana. Hari pertama bertugas di Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, menjadi momen awal Dana bersentuhan langsung dengan realitas bencana. Ia mengunjungi tiga rumah singgah yang dihuni penyintas dari Kecamatan Palembayan, wilayah zona merah dengan tingkat kerusakan tinggi. “Mereka menceritakan bahwa rumahnya sudah rata dengan tanah, bahkan banyak anggota keluarga yang sudah tidak ada,” katanya. Dana menjelaskan bahwa mayoritas penyintas yang ia dampingi mengalami kecemasan berat, gangguan panik, serta tekanan emosional akibat kehilangan. Pendampingan dilakukan melalui asesmen, konseling, relaksasi, serta pemberian obat-obatan yang dipantau secara berkala selama dua minggu. “Sebagian besar pasien adalah mereka yang kehilangan anggota keluarga, tetapi itu tidak mematahkan semangat mereka untuk bertahan hidup,” ungkapnya. Pengalaman paling membekas baginya terjadi saat bertugas di Rumah Singgah Sitingkah Tapi Kec. Lubuk Basung lokasi penyintas dari Kec. Palembayan, salah satu zona merah dengan dampak paling parah. “Saya bertemu seorang ayah yang rela mengkorbankan dirinya agar istri dan anaknya bisa selamat sebelum akhirnya tergerak untuk melukai diri agar bisa terbebas selamat dari jeratan galodo setelah mendengar pertanyaan, ayah setelah ini kemana? Ayah ikut kan?. Cerita mereka benar-benar menggoyahkan saya secara personal,” tutur Dana. Meski pernah menjalani stase kejiwaan saat koas, Dana mengaku pengalaman lapangan ini memberi pelajaran yang jauh lebih dalam. “Ini adalah pengalaman yang tidak akan tergantikan bagi saya sebagai calon dokter,” ujarnya. Dana berharap kehadiran program UMM bersama KemendiktiSaintek yang fokus kepada layanan medis dan psikososial ini dapat membantu mempercepat pemulihan mental dan sosial para penyintas pascabencana.(*/M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)

Kuliah Praktisi UMM: Membedah Peran Pekerja Sosial di Dunia Pemasyarakatan

pwmu.co –Program Studi Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak tenaga profesional yang siap terjun ke masyarakat.Selasa (23/12/2025), bertempat di Basement Dome Kampus III UMM, digelar Kuliah Praktisi bertajuk “Tantangan dan Peluang Pekerja Sosial Koreksional di Pemasyarakatan”. Acara ini menjadi ruang diskusi strategis untuk membedah peran krusial pekerja sosial dalam sistem peradilan pidana di Indonesia. Kegiatan resmi dibuka oleh Wakil Rektor I UMM Prof. Akhsanul In’am, setelah sebelumnya diawali dengan sambutan dari Dekan FISIP Dr. Fauzik Lendriyono, M.Si, dan Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial Hutri Agustino, Ph.D. “Praktik pekerja sosial dalam ranah koreksional memiliki urgensi tinggi dalam mendukung proses pembinaan dan reintegrasi sosial warga binaan,” kata Hutri Agustino. Menurut dia, terdapat dua fokus utama dalam intervensi ini: Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS): Menitikberatkan pada rehabilitasi sosial, penguatan kapasitas personal, serta pembentukan perilaku adaptif bagi warga binaan selama menjalani masa pidana. Balai Pemasyarakatan (BAPAS): Berperan penting dalam pendampingan klien saat menjalani pembebasan bersyarat, cuti bersyarat, maupun asimilasi agar mereka mampu kembali berfungsi secara sosial. “Pemasyarakatan yang humanis membutuhkan pekerja sosial yang kompeten, reflektif, dan berorientasi pada pemberdayaan. Dengan intervensi yang tepat, risiko pengulangan tindak pidana (residivisme) dapat ditekan secara signifikan,” tegas Hutri. Kepala BAPAS Kelas I Malang, Karto Rahardjo, Bc. IP, SH, MH, hadir sebagai pemateri yang membedah realita di lapangan. Ia tidak menampik bahwa pekerja sosial koreksional saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Beberapa kendala utama yang dihadapi meliputi dinamika permasalahan sosial klien yang semakin beragam, keterbatasan sumber daya pendukung, stigma negatif masyarakat yang masih melekat kuat pada mantan warga binaan.   Meski demikian, Karto menekankan bahwa kebijakan nasional yang kini mulai bergeser ke arah keadilan restoratif (restorative justice) dan reintegrasi sosial justru menjadi peluang besar. “Pekerja sosial dituntut tidak hanya memahami aspek hukum, tetapi juga mampu membaca kondisi sosial, psikologis, dan lingkungan klien secara komprehensif. Peluang ini harus dimanfaatkan dengan meningkatkan profesionalisme serta sinergi dengan pemerintah daerah, lembaga sosial, dan dunia pendidikan,” ungkap Karto. Senada dengan hal tersebut, Guru Besar Program Studi Kesejahteraan Sosial UMM, Prof. Dr. Oman Sukmana, M.Si, menegaskan bahwa posisi pekerja sosial koreksional adalah kunci untuk menjembatani aspek hukum dan kemanusiaan. Oman menjelaskan, intervensi tidak boleh hanya berhenti pada penyelesaian masalah individu, melainkan harus berbasis asesmen komprehensif yang mencakup relasi keluarga dan faktor lingkungan. “Intervensi pekerja sosial koreksional sejalan dengan paradigma pemasyarakatan modern yang menempatkan pemulihan dan rehabilitasi sebagai tujuan utama. Tanpa intervensi yang tepat, proses reintegrasi sosial akan sulit tercapai,” jelas Oman. Dia juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, pemasyarakatan tidak bisa berjalan sendiri; dibutuhkan sinergi antara akademisi, praktisi, dan masyarakat agar klien dapat kembali menjadi anggota masyarakat yang produktif dan bertanggung jawab. “Kuliah praktisi ini diharapkan mampu membekali mahasiswa Kesejahteraan Sosial UMM dengan pemahaman utuh mengenai praktik intervensi di lapangan,” terang Oman. Dengan melihat langsung tantangan dan peluang yang ada, para mahasiswa dipersiapkan untuk menjadi pekerja sosial yang tidak hanya melakukan pembimbingan administratif, tetapi juga pendampingan yang humanis dan berkelanjutan. Melalui penguatan kapasitas ini, UMM berharap dapat terus berkontribusi dalam mewujudkan sistem pemasyarakatan di Indonesia yang lebih humanis, berkeadilan, dan berorientasi pada pemulihan sosial yang nyata. (*) *) Penulis : Abdus Salam *) Editor : Agus Wahyudi