Prodi Akuntasi UMM Cetak Lulusan yang Relevan dengan Kebutuhan Global Maupun Ekonomi Lokal

Indonesiandaily.com – Prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Kuliah Tamu Center of Excellence (CoE). Hal tersebut guna menjawab paradigma Akuntasi tidak hanya menghitung angka secara konvensional. Agenda ini membahas kelas profesional unggulan, yakni School of Sustainability Accounting (SSAC) dan School of Accounting for SME’s (SAFS). Dirancang untuk mencetak lulusan yang relevan dengan kebutuhan industri global maupun penguatan ekonomi lokal. CoE SSAC hadir untuk menghasilkan mahasiswa yang memiliki sertifikasi internasional dari National Center for Sustainability Reporting (NCSR). Lulusan ini nantinya menjadi ahli dalam menyusun laporan keberlanjutan perusahaan secara profesional. Sementara itu, CoE SAFS memfokuskan pendidikannya pada pengembangan sektor UMKM. Yakni melalui pendalaman manajemen bisnis dan keuangan yang diisi langsung oleh para praktisi. Sinergi kedua program ini bertujuan agar lulusan UMM mampu merumuskan strategi bisnis jangka panjang yang profitabel. Hal ini dilakukan tanpa memberikan dampak negatif pada aspek lingkungan dan sosial demi keberlanjutan masa depan. Selaku pemateri, Arief Satrio dari PT Petrokimia Gresik, menekankan bahwa integrasi pilar sosial, lingkungan, dan ekonomi adalah kewajiban mutlak bagi perusahaan modern. Menurutnya, konsep perusahaan wajib menggunakan kerangka Sustainable Development Goals (SDGs) agar tidak mengeksploitasi alam secara sepihak dan tetap mengedepankan keadilan sosial. “Perusahaan harus mengintegrasikan pilar sosial dan ekonomi secara seimbang. Hingga tercipta kesejahteraan masyarakat dan ketahanan pangan yang kuat. Diantaranya melalui praktik industri yang efisien,” jelas Arief mengenai pentingnya akuntansi keberlanjutan. Sejalan dengan semangat SAFS yang berfokus pada UMKM, Alan Hafludin SE MAk dari Narasumber.id, memaparkan transformasi besar profesi akuntan yang kini telah bergeser menjadi strategic business partner. Ia menekankan pentingnya business acumen, yaitu keahlian memahami bagaimana sebuah bisnis menghasilkan nilai ekonomi dan kemampuan membaca peluang di tengah risiko. Profesi akuntan hari ini dituntut menjadi problem solver yang mampu membantu pemilik usaha memahami financial story bisnis mereka. Kemampuan ini sangat krusial untuk menjembatani kebutuhan modal dengan pihak investor maupun penyedia pembiayaan. Alan mengungkapkan bahwa banyak unit usaha, terutama di sektor UMKM, mengalami kegagalan bukan karena produknya tidak laku, melainkan akibat kesalahan fatal dalam manajemen keuangan. Oleh karena itu, melalui kelas SAFS, mahasiswa diajarkan untuk tidak hanya mencatat transaksi. Tetapi juga menafsirkan angka menjadi strategi pertumbuhan. “Banyak bisnis gagal bukan karena tidak laku, tapi karena salah kelola keuangan. Maka akuntan hari ini dituntut menjadi mitra strategis yang memahami alur bisnis secara utuh,” ungkapnya. Sebagai penutup, ia berpesan agar mahasiswa Akuntansi UMM memperkuat penguasaan dasar akuntansi. Sembari memperluas wawasan industri serta berani membangun portofolio di dunia UMKM dan startup. Dunia kerja saat ini sangat membutuhkan kombinasi antara akuntansi, kreativitas, dan teknologi untuk menghasilkan inovasi seperti software akuntansi koperasi. “Dunia kerja menunggu akuntan yang paham bisnis dan bukan hanya sekadar urusan pajak atau laporan keuangan. Pasalnya akuntansi hari ini adalah tentang bagaimana angka memberikan dampak nyata,” pungkasnya.

Drone AI Karya Mahasiswa FT UMM Catat Akurasi 95 Persen di KIDN 2025

TEROPONGMEDIA.ID – Keberhasilan Tim Airborn Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang (FT UMM) meraih Juara 3 Kompetisi Inovasi Drone Nasional (KIDN) 2025 menjadi bukti bahwa riset teknologi mahasiswa mampu bersaing di level nasional, meski dihadapkan pada keterbatasan waktu dan kondisi lapangan. Kompetisi yang digelar di Lapangan Aldiron, Jakarta Selatan, pada 18 Desember 2025 tersebut mempertemukan tim-tim terbaik perguruan tinggi di Indonesia. Dalam kategori drone tetap sasaran, Tim Airborn UMM tampil dengan drone berbasis kecerdasan buatan yang dirancang untuk menjalankan misi secara mandiri dan presisi tinggi. Keunggulan utama drone Airborn UMM terletak pada integrasi teknologi Artificial Intelligence (AI) dengan sistem navigasi akurat. Drone ini mampu mendeteksi, mengunci, dan melacak target secara real time, lalu bergerak mengikuti skenario misi tanpa intervensi manual yang intensif. Arsitektur sistem drone dikembangkan langsung oleh mahasiswa FT UMM. Salah satu anggota tim, M. Darma Putra Ramadhan, menjelaskan bahwa sistem pengenalan objek menggunakan algoritma deep learning YOLOv5 yang dikonversi ke TensorRT. Langkah ini dilakukan untuk mengoptimalkan performa komputasi visual pada perangkat Jetson Nano agar tetap cepat dan stabil saat drone beroperasi. “Optimalisasi ini penting karena kondisi lomba menuntut respons sistem yang cepat dan konsisten di tengah perubahan lingkungan,” jelas Darma, melansir laman resmi UMM, Kamis (25/12/2025). Teknologi AI tersebut kemudian dipadukan dengan sistem navigasi berbasis GNSS dan GPS lock. Dengan kombinasi ini, drone tidak hanya mampu mengenali target, tetapi juga menghitung pergerakan dan posisi sasaran berdasarkan koordinat secara presisi. Dari sisi teknis, drone Airborn UMM dirancang mampu membawa beban hingga tiga kilogram. Namun, untuk kebutuhan KIDN 2025, tim menyesuaikan payload menjadi 750 gram dengan baterai seberat satu kilogram demi menjaga stabilitas dan daya tahan terbang. Fitur lain yang menjadi nilai tambah adalah sistem target lock. Operator dapat memilih objek sasaran melalui antarmuka visual, lalu drone akan menjalankan misi secara otomatis, termasuk skenario khusus seperti misi tabrak sasaran yang menjadi salah satu tantangan lomba. Meski mencatat tingkat keberhasilan hingga 95 persen dalam pengujian internal, perjalanan tim tidak lepas dari kendala. Keterbatasan waktu latihan dan cuaca yang kurang bersahabat memaksa tim memaksimalkan sesi latihan malam hari di lapangan sepak bola UMM. Ke depan, Tim Airborn UMM menargetkan pengembangan drone berbasis cloud dan Internet of Things (IoT) agar mampu menjalankan misi jarak menengah hingga jauh secara terintegrasi. Capaian di KIDN 2025 ini pun menjadi fondasi penting bagi FT UMM untuk memperkuat riset drone berbasis AI yang adaptif dan berorientasi pada kebutuhan masa depan.

Kuliah Praktisi UMM Kaji Peluang dan Tantangan Pekerja Sosial di Pemasyarakatan

KLIKMU.CO – Di tengah tuntutan profesionalisme pekerja sosial di Indonesia, Program Studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang terus melakukan berbagai upaya aktualisasi peran pekerja sosial dalam berbagai setting layanan. Salah satunya melalui praktik intervensi pekerja sosial koreksional di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan Balai Pemasyarakatan (Bapas). Kegiatan tersebut dikemas dalam pelaksanaan kuliah praktisi pada Selasa (23/12/2025) yang bertempat di Basement Dome Kampus III UMM. Acara ini dibuka langsung oleh Wakil Rektor I UMM sesaat setelah sambutan Dekan FISIP dan Kaprodi. Menurut Ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial Hutri Agustino PhD, praktik intervensi pekerja sosial di Lapas dan Bapas memegang peran penting dalam mendukung proses pembinaan, rehabilitasi, dan reintegrasi sosial warga binaan serta klien pemasyarakatan. Praktik intervensi di Lapas lebih menitikberatkan pada rehabilitasi sosial, penguatan kapasitas personal, serta pembentukan perilaku adaptif selama masa pidana. Sementara itu, di Bapas, pekerja sosial berperan penting dalam pendampingan klien pemasyarakatan saat menjalani pembebasan bersyarat, cuti bersyarat, maupun asimilasi agar mampu kembali berfungsi secara sosial di tengah masyarakat. Pemasyarakatan yang humanis membutuhkan pekerja sosial yang kompeten, reflektif, dan berorientasi pada pemberdayaan. Dengan praktik intervensi yang tepat, risiko pengulangan tindak pidana dapat ditekan. “Di sinilah tujuan utama kegiatan kuliah praktisi ini dilaksanakan, yaitu agar mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial sebagai calon pekerja sosial dapat memahami secara utuh praktik intervensi koreksional di setting pemasyarakatan,” tuturnya. Selanjutnya, dalam paparannya, Kepala Bapas Kelas I Malang Karto Rahardjo Bc IP SH MH menegaskan bahwa pekerja sosial pemasyarakatan saat ini menghadapi berbagai tantangan yang semakin kompleks. Tantangan tersebut antara lain meningkatnya dinamika permasalahan sosial klien, keterbatasan sumber daya, hingga stigma masyarakat terhadap mantan warga binaan. Pekerja sosial pemasyarakatan dituntut tidak hanya memahami aspek hukum, tetapi juga mampu membaca kondisi sosial, psikologis, dan lingkungan klien secara komprehensif. Meski demikian, di balik tantangan tersebut terdapat peluang besar untuk memperkuat peran pekerja sosial dalam sistem pemasyarakatan. Perkembangan kebijakan pemasyarakatan yang berorientasi pada keadilan restoratif dan reintegrasi sosial membuka ruang bagi pekerja sosial untuk lebih berinovasi dan berkolaborasi dengan berbagai pihak. Peluang ini harus dimanfaatkan dengan meningkatkan kompetensi, profesionalisme, serta sinergi dengan pemerintah daerah, lembaga sosial, dunia pendidikan, dan masyarakat. “Dengan demikian, klien pemasyarakatan dapat kembali berfungsi secara sosial dan mandiri,” ujarnya. Ia juga berharap pekerja sosial pemasyarakatan mampu menjadi agen perubahan yang tidak hanya melakukan pembimbingan administratif, tetapi juga pendampingan yang humanis dan berkelanjutan. Sementara itu, Prof Dr Oman Sukmana MSi, guru besar Program Studi Kesejahteraan Sosial, menegaskan pentingnya peran dan intervensi pekerja sosial koreksional dalam sistem pemasyarakatan sebagai upaya strategis untuk mendukung proses pembinaan dan reintegrasi sosial warga binaan dan klien pemasyarakatan. Ia menjelaskan bahwa pekerja sosial koreksional memiliki posisi kunci dalam menjembatani aspek hukum, sosial, dan kemanusiaan. Intervensi yang dilakukan tidak hanya berfokus pada penyelesaian masalah individu, tetapi juga pada penguatan fungsi sosial, keluarga, dan lingkungan tempat klien akan kembali. Intervensi pekerja sosial koreksional harus berbasis asesmen yang komprehensif, mencakup kondisi psikososial, relasi keluarga, serta faktor lingkungan yang memengaruhi perilaku klien. Tanpa intervensi yang tepat, proses reintegrasi sosial akan sulit tercapai. Lebih lanjut, Prof Oman menegaskan bahwa pendekatan pekerja sosial koreksional sejalan dengan paradigma pemasyarakatan modern yang menempatkan pemulihan, rehabilitasi, dan keadilan restoratif sebagai tujuan utama. Melalui pendampingan, konseling, bimbingan sosial, serta penguatan jejaring sosial, pekerja sosial dapat meminimalkan risiko pengulangan tindak pidana. Ia juga menyoroti perlunya peningkatan kapasitas dan profesionalisme pekerja sosial koreksional agar mampu menjawab tantangan yang semakin kompleks di bidang pemasyarakatan. Kolaborasi lintas sektor dengan lembaga pemerintah, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan intervensi yang berkelanjutan. “Pemasyarakatan tidak dapat berjalan sendiri. Intervensi pekerja sosial koreksional harus didukung oleh sinergi semua pihak agar klien dapat kembali menjadi anggota masyarakat yang produktif dan bertanggung jawab,” ujarnya. Prof Oman berharap pemahaman mengenai peran dan intervensi pekerja sosial koreksional dapat terus diperkuat sehingga sistem pemasyarakatan di Indonesia semakin humanis, berkeadilan, dan berorientasi pada pemulihan sosial. (Tim Penulis Prodi Kesos UMM/AS)

Mahasiswa PAI UMM Gelar Pelatihan Canva Sebagai Upaya Peningkatan Kreativitas Siswa di SMP Satu Atap Pesanggrahan 02 Kota Batu

pwmu.co –Pada era digital saat ini, kemampuan desain grafis menjadi salah satu keterampilan penting bagi pelajar. Tidak hanya untuk menunjang tugas sekolah, tetapi juga sebagai bekal kreativitas dan komunikasi visual. Melihat kebutuhan tersebut, mahasiswa semester 5 Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Malang di bawah bimbingan Dosen Zulfikar Yusuf, M.Pdi, menyelenggarakan sebuah pelatihan desain menggunakan platform Canva untuk memperkenalkan keterampilan desain dasar kepada pelajar tingkat SMP. Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi pengabdian mahasiswa kepada masyarakat sekaligus ruang praktis bagi mereka untuk memanfaatkan salah satu teknologi pendidikan. Pelatihan Canva Pelatihan ini dilaksanakan secara tatap muka di Villa Shalom pada bulan November lalu dengan melibatkan para siswa dan siswi SMPN Satu Atap Pesanggrahan 02 Kota Batu. Kegiatan ini berlangsung sejak sore hingga malam hari dalam suasana yang hangat serta interaktif. Sebanyak 15 peserta mengikuti kegiatan ini dengan antusias. Mereka mendapatkan bimbingan langsung dari para mahasiswa PAI UMM yang telah menyiapkan rangkaian materi teknis seputar penggunaan aplikasi Canva. Kegiatan dibuka dengan pengenalan fitur-fitur dasar platform desain, dilanjutkan dengan praktik membuat poster, presentasi, hingga unggahan media sosial. Para peserta diajak mengeksplorasi template, memodifikasi elemen grafis, mengatur tipografi, serta memanfaatkan gambar dan ikon secara efektif. Pembimbing memberikan contoh langsung dan mendampingi peserta satu per satu, sehingga proses belajar berlangsung menyenangkan dan mudah dipahami. Menurut koordinator kegiatan, Rochman Aji Maulana menjelaskan bahwa pelatihan ini bertujuan memberi bekal keterampilan kreatif yang dapat dimanfaatkan siswa dalam tugas sekolah maupun kegiatan organisasi. Selain itu, pelatihan juga diharapkan mampu menumbuhkan kepercayaan diri siswa dalam berkarya secara digital. Kegiatan ditutup dengan sesi presentasi hasil desain dari para peserta dan penyerahan sertifikat teknologi, tak lupa pula pembagian hadiah sebagai bentuk apresiasi kepada peserta dengan desain terbaik. Para siswa mengaku sangat terbantu dan termotivasi untuk terus mengembangkan kemampuan desain mereka. Melalui kegiatan seperti ini, mahasiswa PAI UMM semakin menunjukkan komitmen mereka terhadap pemberdayaan generasi muda melalui pendidikan kreatif berbasis teknologi. (*)

CoE Akuntansi UMM Perkuat Kompetensi Mahasiswa, Dari UMKM hingga Industri Global

Paradigma profesi akuntansi saat ini tidak lagi sekadar urusan “hitung angka” di atas kertas pembukuan konvensional. Menjawab tantangan tersebut, Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menghadirkan Kuliah Tamu Center of Excellence (CoE) pada Kamis, 18 Desember lalu. Agenda ini membahas kelas profesional unggulan, yakni School of Sustainability Accounting (SSAC) dan School of Accounting for SME’s (SAFS). Dirancang untuk mencetak lulusan yang relevan dengan kebutuhan industri global maupun penguatan ekonomi lokal. CoE SSAC hadir untuk menghasilkan mahasiswa yang memiliki sertifikasi internasional dari National Center for Sustainability Reporting (NCSR). Lulusan ini nantinya menjadi ahli dalam menyusun laporan keberlanjutan perusahaan secara profesional. Sementara itu, CoE SAFS memfokuskan pendidikannya pada pengembangan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Fokus ini dilakukan melalui pendalaman manajemen bisnis dan keuangan yang diisi langsung oleh para praktisi. Sinergi kedua program ini bertujuan agar lulusan UMM mampu merumuskan strategi bisnis jangka panjang yang profitabel. Hal ini dilakukan tanpa memberikan dampak negatif pada aspek lingkungan dan sosial demi keberlanjutan masa depan. Hadir sebagai pemateri, Arief Satrio Wibowo, SE., dari PT Petrokimia Gresik, menekankan bahwa integrasi pilar sosial, lingkungan, dan ekonomi adalah kewajiban mutlak bagi perusahaan modern. Menurutnya, konsep perusahaan wajib menggunakan kerangka Sustainable Development Goals (SDGs) agar tidak mengeksploitasi alam secara sepihak dan tetap mengedepankan keadilan sosial. “Perusahaan harus mengintegrasikan pilar sosial dan ekonomi secara seimbang, sehingga tercipta kesejahteraan masyarakat dan ketahanan pangan yang kuat melalui praktik industri yang efisien,” jelas Arief mengenai pentingnya akuntansi keberlanjutan. Sejalan dengan semangat SAFS yang berfokus pada UMKM, Alan W. Hafludin, SE., M.Ak., dari Narasumber.id, memaparkan transformasi besar profesi akuntan yang kini telah bergeser menjadi strategic business partner. Alan menekankan pentingnya business acumen, yaitu keahlian memahami bagaimana sebuah bisnis menghasilkan nilai ekonomi dan kemampuan membaca peluang di tengah risiko. Profesi akuntan hari ini dituntut menjadi problem solver yang mampu membantu pemilik usaha memahami financial story bisnis mereka. Kemampuan ini sangat krusial untuk menjembatani kebutuhan modal dengan pihak investor maupun penyedia pembiayaan. Alan mengungkapkan bahwa banyak unit usaha, terutama di sektor UMKM, mengalami kegagalan bukan karena produknya tidak laku, melainkan akibat kesalahan fatal dalam manajemen keuangan. Oleh karena itu, melalui kelas SAFS, mahasiswa diajarkan untuk tidak hanya mencatat transaksi, tetapi juga menafsirkan angka menjadi strategi pertumbuhan. “Banyak bisnis gagal bukan karena tidak laku, tapi karena salah kelola keuangan, sehingga akuntan hari ini dituntut menjadi mitra strategis yang memahami alur bisnis secara utuh,” ungkap Alan. Sebagai penutup, ia berpesan agar mahasiswa Akuntansi UMM memperkuat penguasaan dasar akuntansi. Sembari memperluas wawasan industri serta berani membangun portofolio di dunia UMKM dan startup. Dunia kerja saat ini sangat membutuhkan kombinasi antara akuntansi, kreativitas, dan teknologi untuk menghasilkan inovasi seperti software akuntansi koperasi. “Dunia kerja menunggu akuntan yang paham bisnis dan bukan hanya sekadar urusan pajak atau laporan keuangan, karena akuntansi hari ini adalah tentang bagaimana angka memberikan dampak nyata,” pungkasnya. (*ali/faq)   Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Sebulan di Zona Bencana: Kiprah Indra Ferry, Dosen UMM Mengabdi di Sumatera Barat

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengirimkan sejumlah elemen dalam misi kemanusiaan di Agam Sumatera Barat, meliputi dokter muda Fakultas Kedokteran, dokter umum, perawat, dan apoteker RS UMM, hingga Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana). Salah satu sosok yang terlibat langsung adalah Rindya Fery Indrawan, S.Pi MP., dosen Akuakultur UMM, yang meninggalkan rutinitas akademiknya untuk menjadi relawan di wilayah terdampak bencana Sumatera Barat. Sepanjang Desember 2025, ia berada di lokasi bencana guna memastikan koordinasi relawan serta penyaluran bantuan kemanusiaan tetap berjalan meski dihadapkan pada medan yang sulit. Dalam pelaksanaannya, UMM bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) sebagai mitra strategis dalam penguatan peran perguruan tinggi pada respon kebencanaan. Indra Ferry sapaan akrabnya dipercaya mengemban peran sebagai Ketua Pos Koordinasi, dengan tanggung jawab menghubungkan kerja antar-klaster sekaligus memanajemen kebutuhan logistik sejak tahap persiapan hingga distribusi di lapangan. “Saya sebagai ketua poskor harus bisa menjembatani antara koordinator klaster satu dengan yang lainnya, memanajemen kebutuhan, baik logistik internal maupun eksternal,” ujarnya 25 Desember lalu saat diwawancara tim humas UMM. Wilayah penugasan difokuskan di Kabupaten Agam, meliputi Malalak, Maninjau, dan Palembayan. Setiap lokasi menghadirkan tantangan medan yang berbeda. Di Malalak, jembatan terputus memaksa relawan menyeberangi sungai dengan risiko tinggi saat debit air meningkat. “Kalau sungainya lagi naik, kita tidak bisa menyeberang karena takut terbawa arus.” Sementara itu, di Maninjau, ancaman longsor susulan menjadi kewaspadaan utama. Banjir bandang membawa material bebatuan gunung yang berpotensi bergerak kembali ketika hujan turun dalam durasi panjang. “Ketika hujan sudah lebih dari dua jam, kita harus ekstra hati-hati karena takut ada longsoran susulan.” Untuk memastikan penanganan berjalan efektif, kegiatan dibagi ke dalam empat klaster. Klaster medis memberikan layanan kesehatan di puskesmas serta melakukan kunjungan langsung ke rumah-rumah penyintas. “Penanganannya itu di puskesmas dan juga moving door to door atau home visit ke para penyintas.”ujarnya. Klaster dukungan psikososial menyasar seluruh lapisan masyarakat termasuk anak-anak, lansia, ibu-ibu, hingga remaja untuk membantu pemulihan kondisi mental pascabencana. Klaster logistik menyalurkan obat-obatan, sembako, kebutuhan dapur umum, hingga alat kesehatan seperti kursi roda bagi penyintas yang membutuhkan. Adapun klaster WASH menyediakan akses air bersih melalui unit filtrasi yang ditempatkan di fasilitas umum dan hunian darurat. Keterlibatan Indra Ferry menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan kampus putih untuk hadir dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Melalui aksi kemanusiaan ini, UMM menegaskan perannya sebagai kampus yang berdampak, tidak hanya melalui pendidikan dan riset, tetapi juga melalui pengabdian langsung di tengah krisis. Terakhir, ia menyampaikan pesan penguatan kepada para penyintas agar tetap bertahan dan tidak merasa sendirian, sembari mengapresiasi dukungan berbagai pihak dalam misi kemanusiaan ini. “Tetap semangat karena kalian tidak sendiri, ada kami para relawan dan semua pihak yang berjibaku membantu saudara-saudara yang terdampak bencana,” tutupnya.(*faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman