Wujudkan Desa Tangguh: BEM UMM Bekali Warga Kedungdalem Kesiapan Mental dan Ketahanan Ekonomi

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar aksi nyata dalam penguatan kapasitas masyarakat pesisir di Desa Kedungdalem, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo pada 24 September lalu. Melalui pendekatan holistik, para mahasiswa ini membekali warga dengan dua pilar utama menghadapi krisis: Pertolongan Psikologis Awal (PFA) dan Manajemen Risiko Usaha Tangguh Bencana. Desa Kedungdalem yang terletak di wilayah pesisir dikenal rentan terhadap ancaman banjir rob dan angin kencang. Menyadari risiko tersebut, BEM UMM menilai bahwa ketangguhan sebuah wilayah tidak hanya diukur dari infrastruktur fisik, tetapi juga dari kesiapan mental dan stabilitas ekonomi warganya. Dalam sesi pertama, peserta yang terdiri dari ibu rumah tangga, pemuda, dan kader lingkungan diajarkan teknik Psychological First Aid (PFA). Tujuannya agar warga mampu menjadi penolong pertama bagi korban yang mengalami trauma pada menit-menit awal pasca-bencana. Fasilitator kegiatan, M. ‘Ainurridho ‘Allaamsyah, menekankan bahwa kehadiran yang empatik jauh lebih berharga daripada penjelasan medis yang rumit. “Sering kali, yang dibutuhkan korban bukan penjelasan panjang, melainkan kehadiran yang menenangkan,” ujarnya. Warga diajarkan teknik pernapasan untuk menstabilkan emosi serta cara berkomunikasi yang tepat guna mencegah perburukan kondisi psikologis korban di lapangan. Tak hanya mental, aspek ekonomi juga menjadi sorotan. BEM UMM memberikan edukasi mengenai keberlanjutan usaha bagi pelaku UMKM setempat. Mengingat banjir sering melumpuhkan aktivitas ekonomi, warga dibekali strategi business continuity plan dalam skala rumahan. Narasumber kegiatan, Ainur Rifqi Almahdani Rahmat, S.M., M.M., mengungkapkan bahwa banyak usaha kecil gulung tikar bukan karena kerusakan fisik semata, melainkan absennya perencanaan darurat. Peserta diajak menyusun prioritas pemulihan usaha dan pengelolaan aset agar tetap bisa bertahan di fase awal pascabencana. “Selama ini kalau bencana ya pasrah. Ternyata ada langkah-langkah agar usaha tetap bisa jalan,” ungkap salah seorang peserta yang merasa mendapatkan perspektif baru mengenai manajemen risiko. Melalui integrasi kesiapan mental dan ekonomi ini, BEM UMM berharap warga Kedungdalem tidak lagi sekadar menjadi objek terdampak, melainkan subjek yang aktif dan tangguh. Program ini rencananya akan diperluas ke wilayah rawan bencana lainnya di Probolinggo hingga akhir tahun mendatang. Dengan sinergi antara mahasiswa dan masyarakat, diharapkan tercipta komunitas pesisir yang adaptif dan mampu bangkit lebih cepat dari setiap krisis yang melanda. (rik/faq)   Penulis: Roudhotul Mufarikha  | Editor: Ahmad Faqih Wafir Rahman

Lima Bulan di Thailand, Mahasiswa Agribisnis UMM Dalami Riset Jagung di Pusat Penelitian Internasional

Belajar bersama mahasiswa dari berbagai negara, mengikuti perkuliahan penuh berbahasa Inggris, hingga praktik langsung di pusat riset pertanian ternama Thailand menjadi pengalaman berharga bagi Akhmad Murtadho. Mahasiswa Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang akrab disapa Dodo ini mengikuti program student exchange di Kasetsart University, Bangkok, Thailand, selama kurang lebih lima bulan, sejak Juli hingga Desember 2025. Salah satu pengalaman paling berkesan bagi Dodo adalah suasana kelas yang bersifat internasional. Dalam satu kelas, mahasiswa berasal dari berbagai negara dengan latar belakang budaya dan akademik yang beragam. Kondisi tersebut membuat proses pembelajaran tidak hanya berfokus pada materi perkuliahan, tetapi juga pertukaran budaya serta perluasan jejaring global, khususnya di bidang agribisnis. Lingkungan internasional ini dinilainya sangat mendukung peningkatan kemampuan bahasa Inggris sekaligus membangun relasi lintas negara. “Di satu kelas itu mahasiswanya campur internasional. Jadi serunya, kami bisa saling berbagi budaya dari daerah masing-masing,” ujar Dodo. Ia menambahkan, “Program ini cocok untuk mahasiswa yang ingin meningkatkan bahasa Inggris sekaligus mencari relasi antarnegara.” Salah satu pengalaman unik yang ia dapatkan adalah kunjungan akademik ke Suwan Farm, yang secara resmi dikenal sebagai National Corn and Sorghum Research Center, pusat penelitian jagung dan sorgum milik Kasetsart University yang berlokasi di Pak Chong, Provinsi Nakhon Ratchasima, Thailand. Di tempat ini, Dodo dan mahasiswa lainnya mempelajari riset pertanian secara mendalam, mulai dari pemuliaan varietas hingga pengembangan teknologi pertanian. “Suwan Farm itu bukan sekadar kebun, tapi pusat riset. Kami belajar bagaimana varietas jagung dikembangkan dari berbagai negara dan diuji ketahanannya terhadap penyakit,” jelas Dodo. Suwan Farm dikenal sebagai pusat pengembangan varietas unggul, salah satunya Suwan 1, varietas jagung hasil riset dari berbagai germplasm internasional yang tahan terhadap penyakit downy mildew dan telah menjadi unggulan Thailand sejak 1970-an. Pusat riset ini juga menjalin kerja sama internasional, termasuk dengan CIMMYT (International Maize and Wheat Improvement Center), serta mengembangkan produk turunan seperti UHT corn milk sebagai bentuk hilirisasi riset. Meski demikian, Suwan Farm tidak berorientasi pada produksi massal atau komersialisasi, melainkan fokus pada riset pertanian intensif. Selain Suwan Farm, mahasiswa juga mengunjungi perkebunan jagung, karet, dan kelapa untuk mempelajari proses budidaya dari hulu hingga hilir. Di luar kegiatan akademik, Dodo turut merasakan kehidupan sosial dan budaya masyarakat Thailand. Meski menghadapi tantangan adaptasi, seperti keterbatasan akses makanan halal, pengalaman belajar di lingkungan multikultural justru memperkaya pengembangan dirinya. “Soal makanan memang perlu penyesuaian. Tapi secara keseluruhan, hidup dan belajar di sana tetap menyenangkan dan memberi banyak pelajaran,” pungkasnya. Dodo menegaskan bahwa pengalaman belajar di Thailand tidak berhenti sebagai cerita akademik semata. Ia berencana menerapkan ilmu dan pendekatan yang dipelajarinya selama program exchange untuk mendukung pengembangan agribisnis di Indonesia. “Apa yang saya pelajari di sana ingin saya terapkan di Indonesia, terutama soal riset pertanian dan cara menghubungkan teori dengan praktik di lapangan,” ujarnya.(*vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Cegah Bullying dari Rumah, Mahasiswa Doktor PAI UMM Rokayah Gelar PKM Bersama DPD Al Hidayah dan PKK Pangkalpinang

PANGKALPINANG, TIMELINES.ID — Isu perundungan dalam lingkup keluarga menjadi sorotan dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Mahasiswa Program Studi Doktor Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Rokayah, S.E., M.Pd, yang berkolaborasi dengan DPD Pengajian Al Hidayah Kota Pangkalpinang. Kegiatan bertema “Lisan Ibu, Luka Anak: Mencegah Bullying dari Rumah dalam Cahaya Islam” ini digelar pada Sabtu (27/12/2025) di Masjid Nurul Iman, Kelurahan Bacang, Pangkalpinang. Kegiatan tersebut menghadirkan Dra. Hj. Siti Hapsoh sebagai mubaligho, Ketua DPD Pengajian Al Hidayah Kota Pangkalpinang Hj. Sri Asmawaty Yusuf, serta dihadiri Ketua TP PKK Kota Pangkalpinang, Susanti Saparudin. Baca Juga  Yuk Hadiri Workshop Bersama Kak Tere: Cegah Bullying, Bangun Jiwa Kepemimpinan pada Anak Dalam sambutannya, Ketua DPD Pengajian Al Hidayah Kota Pangkalpinang, Hj. Sri Asmawaty Yusuf, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Ketua TP PKK Kota Pangkalpinang yang turut memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut. Ia menjelaskan bahwa pengajian bulanan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi dan mempererat rasa kekeluargaan antaranggota, tetapi juga sarana menimba ilmu keagamaan. Selain itu, kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari program PKM yang dijalankan Rokayah dalam rangka penyelesaian studi doktoralnya di UMM. Ketua TP PKK Kota Pangkalpinang, Susanti Saparudin, berharap materi yang disampaikan dapat memberikan manfaat nyata bagi keluarga dan lingkungan sekitar. Ia mengajak para jamaah untuk menyimak materi dengan sungguh-sungguh agar dapat mengambil hikmah dan ilmu yang disampaikan. Sementara itu, dalam paparannya di hadapan sekitar seratus ibu-ibu jamaah pengajian, Rokayah mengupas persoalan bullying atau perundungan yang kerap terjadi dalam lingkungan rumah tangga, khususnya yang bersumber dari komunikasi verbal orang tua kepada anak.

Hadapi 2026 yang Kompetitif, Muhadjir Effendy Tegaskan Arah Pembaruan PTMA

MALANG, Suara Muhammadiyah – Menatap tantangan tahun 2026 yang semakin kompleks, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar pengarahan dan pengajian khusus bagi seluruh tenaga pendidik dan kependidikan. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya institusi dalam menyiapkan langkah strategis menghadapi dinamika pendidikan tinggi yang kian kompetitif dan cepat berubah. Hadir sebagai narasumber utama, Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP., menekankan pentingnya membangun mentalitas pantang menyerah serta kesiapan beradaptasi di tengah perubahan. Dalam arahannya pada Jumat, 26 Desember 2025, ia mengingatkan bahwa perguruan tinggi tidak boleh terjebak pada zona nyaman, meskipun telah meraih berbagai capaian. Muhadjir mengibaratkan pengembangan institusi seperti industri pertambangan. Semakin dalam proses penggalian untuk memperoleh kualitas terbaik, semakin besar pula tantangan dan biaya yang harus dihadapi. Karena itu, pembaruan sistem secara berkala dinilai menjadi kunci agar universitas tidak terus berhadapan dengan persoalan yang sama. “Setiap kesulitan harus kita hadapi dan selesaikan dengan langkah yang jelas. Setelah satu masalah selesai, kita perlu segera bersiap menghadapi tantangan berikutnya agar institusi terus berkembang ke tingkat yang lebih baik,” tegasnya. Ia juga menegaskan perlunya meninggalkan budaya one man show dan membangun kerja tim yang kuat. Menurutnya, keberhasilan kampus tidak bergantung pada satu figur. Melainkan pada sistem kerja yang saling mendukung, di mana setiap individu berperan sebagai bagian penting dari keseluruhan ekosistem kampus. Salah satu fokus utama yang disoroti adalah konsolidasi sistem penerimaan mahasiswa baru. Muhadjir meminta seluruh civitas akademika berperan aktif dalam proses rekrutmen bertahap guna menjaring calon mahasiswa sejak dini. Langkah ini dinilai penting di tengah persaingan antarperguruan tinggi yang semakin ketat serta adanya pergeseran minat masyarakat terhadap program studi tertentu. Oleh karena itu, UMM dituntut berani berinvestasi lebih besar, baik dalam penguatan teknologi informasi maupun peningkatan kualitas layanan akademik. Selain aspek manajerial, Muhadjir juga mengingatkan pentingnya menjaga ruh akademik, yakni profesionalitas yang berlandaskan nilai keilmuan, etika, dan tanggung jawab sosial. Ia menegaskan bahwa pencapaian institusi tidak boleh menjadi titik akhir, melainkan pijakan untuk meraih target yang lebih tinggi.  Muhadjir berharap tahun 2026 dapat menjadi momentum bagi UMM untuk melakukan penguatan dan pembaruan talenta di berbagai bidang. Ia mengajak seluruh civitas akademika untuk terus belajar, berbenah, dan menjaga nilai-nilai etik dalam menjalankan peran masing-masing. “Pencapaian hari ini bukanlah tujuan akhir, melainkan modal untuk mempermudah kita melangkah menuju capaian yang lebih besar di masa depan,” pungkasnya. (diko) Artikel ini telah tayang di suaramuhammadiyah.id dengan judul: Hadapi 2026 yang Kompetitif, Muhadjir Effendy Tegaskan Arah Pembaruan PTMA, https://suaramuhammadiyah.id/read/hadapi-2026-yang-kompetitif-muhadjir-effendy-tegaskan-arah-pembaruan-ptma

Refleksi Akhir Tahun, UMM Pertegas Jati Diri sebagai Kampus Islami

Malangpariwara.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali meneguhkan eksistensinya dalam dunia pendidikan tinggi nasional. Momentum Milad Muhammadiyah ke-113 yang dirangkaikan dengan kegiatan Refleksi Akhir Tahun, yang berlangsung di Masjid AR Fachruddin pada Sabtu (27/12/2025). Kegiatan ini menjadi penanda penting bagi kampus putih. Dalam kesempatan tersebut, UMM secara resmi meluncurkan identitas barunya sebagai Kampus Islami. Peluncuran ini sekaligus menjadi penegasan arah strategis UMM setelah berhasil menempati peringkat pertama sebagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) terbaik se-Indonesia versi Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Pencapaian tersebut menunjukkan konsistensi UMM dalam menginternalisasi nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) ke dalam sistem tata kelola dan aktivitas akademik. UMM dinilai mampu menjadi contoh perguruan tinggi modern yang tetap berpijak kuat pada nilai spiritual serta ideologi persyarikatan. Rangkaian prestasi UMM semakin lengkap dengan diraihnya Cabang Ranting Award. Hal itu merupakan sebuah penghargaan atas kepedulian universitas dalam pengembangan cabang dan ranting Muhammadiyah serta kemakmuran masjid. Sinergi yang terbangun antara kampus dan struktur organisasi inilah yang semakin mengokohkan posisi UMM di tengah masyarakat. Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) PP Muhammadiyah, K.H. Jamaluddin Ahmad, S.Psi., menyampaikan refleksi mendalam mengenai daya tahan Muhammadiyah hingga memasuki usia 113 tahun. Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid PP Muhammadiyah sampaikan tiga pilar utama persyarikatan (Ist) Tiga Pilar Utama Persyarikatan Ia menekankan adanya tiga pilar utama yang menjaga keberlangsungan persyarikatan. Antara lain keikhlasan para penggeraknya, kemandirian amal usaha, serta kepatuhan terhadap sistem organisasi yang tertata dengan baik. “Muhammadiyah mampu bertahan lebih dari satu abad karena tidak bertumpu pada figur individu, melainkan pada kekuatan sistem dan keikhlasan kolektif. UMM telah menunjukkan bahwa kampus harus hadir dan berperan aktif di tengah masyarakat. Prestasi sebagai PTMA terbaik harus sejalan dengan kebermanfaatan bagi cabang dan ranting Muhammadiyah sebagai ujung tombak dakwah,” ujar Jamaluddin. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa identitas UMM sebagai Kampus Islami harus tercermin nyata dalam sikap serta perilaku seluruh sivitas akademika, mulai dari mahasiswa hingga jajaran pimpinan. Menurutnya, Islam yang dikembangkan UMM merupakan Islam berkemajuan yang mampu menawarkan solusi atas berbagai persoalan bangsa tanpa meninggalkan jati diri Muhammadiyah. “Melalui konsep Kampus Islami, kita diajak menghidupkan kembali fungsi masjid seperti pada masa KH Ahmad Dahlan. Masjid tidak hanya menjadi pusat ibadah ritual, tetapi juga ruang lahirnya gagasan, laboratorium sosial, hingga pusat pemberdayaan ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat,” jelasnya. Sementara itu, Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., MM., CA., menyampaikan bahwa stabilitas dan berbagai capaian yang diraih universitas merupakan hasil kerja kolektif seluruh elemen kampus yang menjunjung tinggi nilai kejujuran dan profesionalisme dalam pengelolaan manajemen. “Prestasi ini menjadi kado akhir tahun yang patut disyukuri. Namun refleksi hari ini juga mengingatkan kami bahwa mempertahankan posisi terbaik jauh lebih menantang. Karena itu, pengelolaan keuangan yang sehat dan manajemen yang bersih akan terus kami arahkan untuk memperkuat dakwah Muhammadiyah hingga ke tingkat cabang dan ranting,” pungkasnya. (Djoko W)

UMM Matangkan Strategi Hadapi 2026, Muhadjir Effendy Tekankan Adaptasi dan Kerja Tim

MALANG, JATIMSATUNEWS — Persaingan pendidikan tinggi yang semakin ketat menuntut perguruan tinggi bergerak lebih lincah dan adaptif. Menyikapi hal tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar pengarahan dan pengajian bagi seluruh dosen serta tenaga kependidikan sebagai bagian dari konsolidasi internal menjelang 2026. Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Muhadjir Effendy, menegaskan bahwa tantangan ke depan tidak bisa dihadapi dengan pola lama. Ia mengingatkan agar seluruh elemen kampus tidak terjebak dalam rasa aman akibat capaian yang telah diraih, melainkan terus menyiapkan pembaruan secara berkelanjutan. Dalam arahannya pada Jumat, (26/12/25), Muhadjir menekankan pentingnya membangun mental tangguh dan kesiapan menghadapi perubahan. Menurutnya, kemajuan institusi selalu sejalan dengan meningkatnya tingkat kesulitan yang harus dihadapi. Ia mengibaratkan proses pengembangan universitas layaknya aktivitas pertambangan. Semakin dalam penggalian untuk memperoleh kualitas terbaik, semakin besar pula tantangan dan biaya yang harus ditanggung. Karena itu, pembaruan sistem dinilai menjadi keharusan agar kampus tidak berulang kali terjebak pada persoalan yang sama. “Setiap masalah harus diselesaikan dengan tuntas. Setelah itu, kita harus siap menghadapi tantangan berikutnya agar institusi terus naik kelas,” tegasnya. Muhadjir juga mengingatkan pentingnya meninggalkan pola kerja one man show. Ia menilai keberhasilan universitas tidak ditentukan oleh satu sosok, melainkan oleh kekuatan sistem dan soliditas tim yang saling menguatkan. Perhatian khusus juga diarahkan pada sistem penerimaan mahasiswa baru. Ia mendorong seluruh civitas akademika untuk terlibat aktif dalam proses rekrutmen sejak tahap awal. Langkah ini dipandang krusial di tengah persaingan antar perguruan tinggi yang semakin ketat, sekaligus adanya perubahan minat calon mahasiswa terhadap bidang studi tertentu. UMM, lanjutnya, perlu berani melakukan investasi strategis, baik dalam penguatan teknologi informasi maupun peningkatan mutu layanan akademik, agar tetap kompetitif dan relevan dengan kebutuhan zaman. Selain aspek manajerial, Muhadjir menegaskan bahwa ruh akademik tidak boleh tergerus. Profesionalitas, integritas keilmuan, serta tanggung jawab sosial harus tetap menjadi fondasi utama dalam setiap langkah pembaruan institusi. Menatap 2026, ia berharap UMM dapat menjadikan momentum ini sebagai titik penguatan talenta dan sistem kerja di berbagai lini. Seluruh civitas akademika diajak untuk terus belajar, berbenah, dan menjaga nilai etika dalam menjalankan peran masing-masing. “Capaian hari ini bukan garis finis. Ini adalah modal untuk melangkah lebih jauh dan meraih target yang lebih besar ke depan,” pungkasnya. (raf)

UMM Terjunkan Tim Medis dan Relawan ke Lokasi Banjir Sumbar

Kota Malang, BhirawaUniversitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya sebagai “Kampus Berdampak” dengan merespons cepat bencana banjir yang melanda Sumatera Barat. Sepanjang Desember ini, Kampus Putih menerjunkan puluhan relawan lintas disiplin untuk melakukan aksi kemanusiaan dan pemulihan pascabencana di wilayah terdampak. Tim yang dikirim terdiri dari kolaborasi apik antara Dokter Muda Fakultas Kedokteran, Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana), hingga tenaga profesional dari RS UMM yang meliputi dokter, perawat, dan apoteker. Gerakan ini dilaksanakan melalui sinergi bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., PhD., mengungkapkan bahwa kehadiran UMM di Sumatera Barat bukan sekadar aksi formalitas, melainkan bentuk tanggung jawab moral dan akademik. “UMM tidak ingin menjadi menara gading yang hanya bergerak di ranah akademik tanpa kehadiran nyata di tengah masyarakat. Kami hadir untuk memastikan ilmu pengetahuan dan riset yang kami miliki benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga yang sedang berduka,” tegas Salis saat ditemui di sela kegiatannya. Tim UMM memusatkan operasinya di Kabupaten Agam, khususnya di tiga titik terparah yakni Kecamatan Malalak, Kecamatan Palembayan, dan Kecamatan Tanjung Raya. Di sana, mereka tidak hanya memberikan layanan kesehatan gratis, tetapi juga melakukan pendampingan psikososial bagi warga yang trauma. Selain layanan medis, UMM juga mendistribusikan ratusan hygiene kit dan ribuan obat-obatan ke puskesmas setempat. Salah satu langkah krusial yang dilakukan adalah instalasi filter air bersih untuk menjamin kebutuhan dasar masyarakat pascabanjir tetap terpenuhi dengan standar kesehatan yang baik. Berita Terkait :  BIG Group Segera Buka 99 Titik Tambang di 17 Konsesi Tambang Edukasi dan Empati Lebih lanjut, Salis menjelaskan bahwa pelibatan mahasiswa dalam jumlah besar bertujuan untuk membentuk karakter generasi masa depan yang memiliki kepekaan sosial tinggi. Menurutnya, pengalaman di lapangan adalah laboratorium terbaik bagi mahasiswa. “Kami ingin melahirkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga memiliki empati. Mahasiswa harus punya pengalaman nyata berinteraksi dengan persoalan kemanusiaan agar tumbuh kepekaan yang kuat,” imbuhnya. Ia berharap, aksi kemanusiaan ini bisa bertransformasi menjadi data riset yang kuat untuk memperkuat kajian mitigasi bencana di masa depan. “Pengalaman ini akan kami bawa pulang untuk memperkuat riset di bidang lingkungan dan kesehatan. Jadi, kontribusi UMM tidak hanya pada penanganan saat bencana, tapi juga pada upaya pencegahan di masa mendatang,” pungkas Salis. [mut.wwn]

UMM Kembali Terjunkan Relawan Nakes ke Sumatera

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menurunkan puluhan relawan untuk terjun langsung dalam aksi pengabdian masyarakat tanggap darurat bencana di Sumatera. Fokus utamanya pada layanan medis dan dukungan psikososial. Sepanjang Desember ini, kampus putih mengirimkan relawan lintas disiplin. Mulai dari Dokter Muda Fakultas Kedokteran, Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana), hingga tenaga medis Rumah Sakit UMM yang meliputi dokter, perawat, dan apoteker. Tim UMM memusatkan kegiatan di Kabupaten Agam tepatnya berada di tiga kecamatan terdampak, yakni Kecamatan Malalak, Kecamatan Palembayan, dan Kecamatan Tanjung Raya. Beragam program dilakukan, mulai dari pelayanan kesehatan bagi warga terdampak, pendampingan psikososial, pendistribusian ratusan hygiene kit, penyaluran ribuan obat-obatan ke sejumlah puskesmas, hingga instalasi filter air bersih untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat pascabanjir. Wakil Rektor IV UMM Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., PhD., menegaskan bahwa UMM tidak ingin menjadi kampus yang hanya bergerak di ranah akademik tanpa kehadiran nyata di tengah masyarakat. Menurutnya, keterlibatan langsung dosen dan mahasiswa di lokasi bencana merupakan bentuk tanggung jawab moral dan akademik universitas. “Melalui kegiatan tersebut, UMM berupaya memastikan bahwa ilmu pengetahuan, riset, dan pengabdian masyarakat benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga terdampak,” katanya. Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa keterlibatan langsung dosen dan mahasiswa dalam penanganan pascabencana merupakan bagian dari komitmen UMM untuk melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki empati sosial dan kepedulian terhadap lingkungan. Menurutnya, mahasiswa perlu mendapatkan pengalaman nyata berinteraksi dengan persoalan kemanusiaan agar tumbuh kepekaan sosial yang kuat. “Kami sengaja melibatkan mahasiswa dalam jumlah besar karena kami ingin membentuk generasi yang peka terhadap penderitaan sesama, memiliki empati sosial, dan siap hadir ketika masyarakat membutuhkan. Bagi kami, ini adalah bagian penting dari proses pendidikan,” tambahnya. Lebih lanjut, Salis menjelaskan bahwa kegiatan tanggap darurat yang dilakukan UMM di Sumatera Barat juga menjadi implementasi konkret dari integrasi pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat. Ia menekankan bahwa makna kampus berdampak harus diwujudkan melalui solusi nyata atas persoalan masyarakat. “Apa yang kami lakukan di lapangan merupakan implementasi langsung dari riset dan pengabdian masyarakat. Dampak yang kami maksud bukan sekadar laporan atau luaran akademik, tetapi perubahan nyata yang bisa dirasakan masyarakat, terutama dalam situasi darurat seperti bencana,” tegasnya.(imm/lim)

Student Day Fakultas Psikologi UMM 2025 Resmi Ditutup, Mengawali Langkah dan Perjuangan Mahasiswa Baru

MALANG, JATIMSATUNEWS.COM — Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (FAPSI UMM) secara resmi menutup rangkaian kegiatan Student Day 2025 pada Sabtu, 20/11/2025. Penutupan ini menjadi puncak dari serangkaian kegiatan yang melibatkan mahasiswa aktif Fakultas Psikologi dan telah berlangsung sejak pertengahan November 2025. Kegiatan penutupan Student Day dilaksanakan di lingkungan Kampus 3 Universitas Muhammadiyah Malang dan dihadiri oleh jajaran pimpinan fakultas, senat fakultas, panitia pelaksana, serta mahasiswa baru Fakultas Psikologi. Acara berlangsung dengan khidmat dan penuh antusiasme sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi aktif mahasiswa selama rangkaian kegiatan berlangsung. Student Day FAPSI UMM 2025 diselenggarakan sebagai wadah pengembangan potensi mahasiswa, baik dalam aspek akademik maupun non-akademik. Melalui kegiatan ini, mahasiswa didorong untuk meningkatkan kreativitas, kemampuan kerja sama tim, serta mengembangkan keterampilan interpersonal dan kepemimpinan sejak awal masa perkuliahan. Wakil Dekan II Fakultas Psikologi UMM dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan Student Day 2025. “Student Day bukan hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga ruang belajar bagi mahasiswa untuk mengembangkan soft skill, tanggung jawab, dan kolaborasi. Pengalaman selama mengikuti Student Day 2025 diharapkan dapat menjadi bekal berharga bagi mahasiswa baru ke depannya,” ujarnya. Pelaksanaan Student Day FAPSI UMM 2025 dilakukan melalui serangkaian kegiatan terstruktur yang mencakup pemberian materi di kelas-kelas peminatan seperti Leadership, Public Speaking, Kepenulisan Ilmiah, Influencer, Interpersonal Communication, dan Kelas PKM. Selain itu, kegiatan juga diisi dengan outbound untuk melatih kerja sama dan kepemimpinan, serta pertunjukan seni sebagai wadah pengembangan minat dan bakat mahasiswa baru Fakultas Psikologi. Setiap kelas peminatan menetapkan satu mahasiswa baru terbaik berdasarkan keaktifan, kreativitas, dan capaian selama mengikuti rangkaian kegiatan. Dengan berakhirnya Student Day FAPSI UMM 2025, fakultas berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan pada tahun-tahun berikutnya sebagai sarana pembinaan mahasiswa baru yang berkelanjutan serta berorientasi pada penguatan karakter dan kompetensi mahasiswa. (raf)

Kampus Berdampak, UMM Kirim Puluhan Relawan ke Sumatera Barat

Agroredaksi.com-Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat masih menyisakan duka dan tantangan pemulihan bagi warga terdampak. Merespons kondisi tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menurunkan puluhan relawan untuk terjun langsung dalam aksi pengabdian masyarakat tanggap darurat bencana di Sumatera, dengan fokus utama layanan medis dan dukungan psikososial. Sepanjang Desember ini, kampus putih mengirimkan relawan lintas disiplin mulai dari Dokter Muda Fakultas Kedokteran, Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana), hingga tenaga medis Rumah Sakit UMM yang meliputi dokter, perawat, dan apoteker. Kegiatan ini bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). tim UMM memusatkan kegiatan di Kabupaten Agam tepatnya berada di tiga kecamatan terdampak, yakni Kecamatan Malalak, Kecamatan Palembayan, dan Kecamatan Tanjung Raya. Beragam program dilakukan, mulai dari pelayanan kesehatan bagi warga terdampak, pendampingan psikososial, pendistribusian ratusan hygiene kit, penyaluran ribuan obat-obatan ke sejumlah puskesmas, hingga instalasi filter air bersih untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat pascabanjir. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., PhD., menegaskan bahwa UMM tidak ingin menjadi kampus yang hanya bergerak di ranah akademik tanpa kehadiran nyata di tengah masyarakat. Menurutnya, keterlibatan langsung dosen dan mahasiswa di lokasi bencana merupakan bentuk tanggung jawab moral dan akademik universitas. Melalui kegiatan tersebut, UMM berupaya memastikan bahwa ilmu pengetahuan, riset, dan pengabdian masyarakat benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga terdampak. Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa keterlibatan langsung dosen dan mahasiswa dalam penanganan pascabencana merupakan bagian dari komitmen UMM untuk melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki empati sosial dan kepedulian terhadap lingkungan. Menurutnya, mahasiswa perlu mendapatkan pengalaman nyata berinteraksi dengan persoalan kemanusiaan agar tumbuh kepekaan sosial yang kuat. “Kami sengaja melibatkan mahasiswa dalam jumlah besar karena kami ingin membentuk generasi yang peka terhadap penderitaan sesama, memiliki empati sosial, dan siap hadir ketika masyarakat membutuhkan. Bagi kami, ini adalah bagian penting dari proses pendidikan,” tambahnya. Lebih lanjut, Salis menjelaskan bahwa kegiatan tanggap darurat yang dilakukan UMM di Sumatera Barat juga menjadi implementasi konkret dari integrasi pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat. Ia menekankan bahwa makna kampus berdampak harus diwujudkan melalui solusi nyata atas persoalan masyarakat. “Apa yang kami lakukan di lapangan merupakan implementasi langsung dari riset dan pengabdian masyarakat. Dampak yang kami maksud bukan sekadar laporan atau luaran akademik, tetapi perubahan nyata yang bisa dirasakan masyarakat, terutama dalam situasi darurat seperti bencana,” tegasnya. Ia berharap, pengalaman di wilayah terdampak banjir tersebut dapat menjadi pembelajaran berharga bagi sivitas akademika UMM dalam memperkuat kajian mitigasi bencana dan keberlanjutan lingkungan di masa depan. “Kami berharap pengalaman ini tidak berhenti pada aksi kemanusiaan semata, tetapi juga memperkuat riset-riset UMM di bidang lingkungan, kesehatan, ketahanan pangan, dan keberlanjutan. Dengan begitu, kampus dapat berkontribusi tidak hanya dalam penanganan bencana, tetapi juga dalam upaya pencegahan bencana di masa mendatang,” pungkasnya.(Sfl/hms)