Undang Pakar Internasional, Ilmu Pemerintahan UMM Kupas Pemerintahan Digital Berbasis AI

Perkembangan kecerdasan buatan dan transformasi digital kini menjadi faktor kunci dalam membentuk arah pemerintahan masa depan. Merespons dinamika tersebut, Program Studi Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar International Guest Lecture bertajuk “Innovation and Digital Transformation for Future Government” pada Selasa (30/12/2025). Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Lantai 2 GKB V UMM ini menghadirkan dua narasumber internasional dari Pakistan dan Turki. Forum ini menjadi ruang diskusi strategis untuk memperkaya perspektif mahasiswa mengenai pemanfaatan teknologi digital dalam tata kelola pemerintahan. Diawal, Mr. Muhammad Younus dari Department of Product Research and Software Development TPL Logistics Pvt Ltd, Karachi, Pakistan, menyampaikan topik Power and Progress of Artificial Intelligence. Ia menjelaskan bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah menjadi alat yang sangat kuat dalam mengidentifikasi pola data, mengoptimalkan proses, serta mendukung pengambilan keputusan. “Artificial intelligence mampu mengotomatisasi sekitar 64 hingga 69 persen waktu yang sebelumnya digunakan untuk pengumpulan dan pemrosesan data,” ungkapnya, merujuk pada temuan McKinsey. Namun demikian, ia menekankan bahwa perkembangan AI juga membawa tantangan serius, terutama terkait konsumsi energi dan dampak lingkungan akibat meningkatnya kebutuhan komputasi dan pusat data. Younus sapaan akrabnya memaparkan bahwa pusat data AI membutuhkan energi, sistem pendingin, serta sumber daya air yang besar. Ia mencontohkan bahwa menghasilkan satu gambar AI dapat mengonsumsi energi sekitar 2,2 kWh dan hampir 4 liter air. Oleh karena itu, ia menegaskan pentingnya optimalisasi model AI, penggunaan perangkat keras yang efisien, serta pemanfaatan energi terbarukan. “Masa depan AI sangat bergantung pada bagaimana kita menyeimbangkan manfaatnya dengan tuntutan sumber daya yang digunakan,” tegasnya. Sementara itu, pemateri kedua, Dr. Onur Kulac dari Department of Political Science and Public Administration Pamukkale University, Turkey, membahas Transformation of the Role of Government. Ia menekankan bahwa peran pemerintah saat ini tidak lagi sebatas regulator dan penyedia layanan, tetapi juga sebagai fasilitator dan platform kolaborasi bagi masyarakat. “Inovasi di sektor publik bukan tentang keuntungan, melainkan tentang menciptakan nilai publik dan memperkuat legitimasi pemerintah,” jelasnya. Menurutnya, inovasi dan transformasi digital menjadi kebutuhan mendesak karena kompleksitas persoalan sosial tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan birokrasi konvensional. Dr. Onur juga menyoroti pentingnya digital transformation yang tidak hanya berfokus pada adopsi teknologi, tetapi juga mencakup perubahan organisasi dan budaya kerja pemerintahan. Ia mencontohkan praktik e-Government Gateway di Turki yang berhasil memangkas birokrasi dan meningkatkan efisiensi layanan publik melalui sistem digital terintegrasi. Menutup pemaparannya, Dr. Onur menegaskan bahwa masa depan pemerintahan ditentukan oleh kemampuan memadukan inovasi, akuntabilitas, serta pendekatan yang berpusat pada warga negara. Ia mendorong mahasiswa untuk merefleksikan pembelajaran ini dalam konteks pemerintahan Indonesia. Melalui kegiatan ini, UMM berharap mahasiswa memperoleh perspektif global mengenai tantangan dan peluang inovasi serta transformasi digital dalam mewujudkan pemerintahan yang berkelanjutan dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. (bim/faq) Penulis: Bima Chusnul Triwibowo | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Komitmen Cerdaskan Bangsa, UMM Buka Beragam Jalur Beasiswa Mahasiswa Baru

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat komitmennya dalam memperluas akses pendidikan tinggi melalui penyediaan beragam program beasiswa bagi mahasiswa baru. Skema beasiswa ini ditujukan untuk menjaring calon mahasiswa berprestasi, mahasiswa dari keluarga kurang mampu, kader dan keluarga besar Muhammadiyah, hingga aktivis organisasi dan mubaligh. Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi UMM dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia sekaligus menjalankan misi sosial-keagamaan persyarikatan. Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., menegaskan bahwa kebijakan beasiswa merupakan bentuk nyata kepedulian UMM terhadap problematika pendidikan di Indonesia, khususnya persoalan akses dan pembiayaan. Menurutnya, masih banyak anak bangsa yang memiliki potensi besar namun terkendala secara ekonomi untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. “UMM berkomitmen untuk tidak membiarkan keterbatasan ekonomi menjadi penghalang bagi generasi muda yang ingin menempuh pendidikan tinggi. Melalui berbagai skema beasiswa, kami ingin membuka peluang seluas-luasnya bagi calon mahasiswa untuk berkembang dan berkontribusi bagi bangsa,” ujarnya. Ia menjelaskan, UMM menyediakan Beasiswa Jalur Prestasi bagi calon mahasiswa dengan capaian akademik maupun nonakademik, berupa potongan Biaya Sumbangan Studi (BSS) sebesar 75 persen atau 50 persen pada semester pertama. Selain itu, terdapat Beasiswa Indonesia Emas yang memberikan potongan BSS sebesar 50 persen pada semester pertama untuk sejumlah program studi tertentu. UMM juga menghadirkan Beasiswa Saudara Kandung bagi mahasiswa yang memiliki saudara aktif kuliah di UMM, serta Beasiswa Anak Kandung Alumni UMM sebagai bentuk apresiasi kepada keluarga besar alumni. Bagi lulusan SMA/SMK/MA Muhammadiyah, UMM memberikan Beasiswa Alumni Sekolah Muhammadiyah berupa potongan 100 persen BSS pada semester pertama untuk seluruh program studi. Selain itu, UMM memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan melalui Beasiswa Yatim dan Yatim Piatu, serta mendukung kaderisasi persyarikatan melalui Program Pendidikan Ulama Tarjih (PPUT) yang membebaskan biaya studi dan menyediakan fasilitas pemondokan. Tersedia pula Beasiswa KATAMM bagi mubaligh dan mubalighat Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, Beasiswa Golden Ticket bagi aktivis organisasi kesiswaan, serta beasiswa bagi kader dan anak pengurus Persyarikatan Muhammadiyah. Ahmad Juanda menambahkan, pengelolaan beasiswa UMM juga melibatkan berbagai mitra strategis untuk memastikan keberlanjutan program. “Kolaborasi dengan mitra menjadi bagian dari ikhtiar kami agar skema beasiswa semakin kuat dan berdampak luas. Ini adalah wujud dakwah Muhammadiyah melalui pendidikan,” ungkapnya. Melalui berbagai program beasiswa tersebut, UMM menegaskan posisinya sebagai perguruan tinggi yang inklusif, berkeadilan, dan berorientasi pada keberlanjutan, sekaligus konsisten menjalankan peran pendidikan sebagai sarana transformasi sosial dan kemajuan bangsa. (faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman