Merawat Luka Psikologis Pasca Bencana: Maharesigana UMM Hadirkan Ruang Aman bagi Anak-anak Langkat

MALANG POST – Hari-hari yang semula dipenuhi ketakutan dan kecemasan kini perlahan berganti dengan tawa ceria. Senyum anak-anak kembali merekah di Desa Sekoci, Dusun Sukaramai, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, setelah mereka mendapatkan pendampingan psikososial pascabanjir. Kehadiran Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi angin segar bagi pemulihan kondisi psikologis warga terdampak. Pada Desember tahun lalu, tim Maharesigana UMM melaksanakan Layanan Dukungan Psikososial (LDP) bagi anak-anak dan penyintas banjir. Kegiatan ini bertujuan membantu mereka mengatasi trauma serta mengembalikan rasa aman dan percaya diri setelah bencana melanda wilayah tersebut. Salah satu anggota tim Maharesigana, Fadilla Azzahra, mengungkapkan bahwa pendampingan psikososial menjadi kebutuhan penting setelah bencana, terutama bagi anak-anak. “Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan terdampak secara psikologis. Melalui kegiatan bermain dan interaksi positif, kami berupaya membantu mereka mengekspresikan perasaan serta kembali merasa aman,” ujar Fadilla. Layanan Dukungan Psikososial ini dilakukan melalui berbagai distract activity seperti bermain bersama, bernyanyi, dan kegiatan kreatif lainnya. Selain itu, relawan juga memberikan psikoedukasi kepada orang tua dan penyintas tentang cara berdamai dengan bencana serta teknik relaksasi sederhana untuk mengurangi kecemasan dan stres pascatrauma. Sebanyak 47 anak mengikuti kegiatan ini dengan antusias. Mereka didampingi oleh tiga ibu dan sepuluh guru setempat yang turut membantu menciptakan suasana aman dan mendukung selama proses pendampingan berlangsung. Para orang tua mengaku senang dan mengapresiasi kehadiran relawan karena kegiatan ini dinilai mampu menghibur anak-anak sekaligus memberikan edukasi yang bermanfaat. Salah satu warga menyampaikan bahwa sebelum adanya pendampingan, anak-anak masih sering menunjukkan tanda-tanda trauma. “Mereka mudah takut dan gelisah setelah banjir. Sekarang terlihat lebih ceria dan berani,” tuturnya. Ia juga menambahkan bahwa edukasi yang diberikan kepada orang tua dan guru sangat membantu dalam mendampingi anak-anak pascabencana. Selama masa bencana, aktivitas anak-anak sempat terhambat. Proses belajar terganggu akibat buku hanyut, listrik padam, dan jaringan internet terputus. Bahkan, sebagian anak harus membantu orang tua membersihkan rumah dari lumpur dan sisa material banjir. Melalui kegiatan Layanan Dukungan Psikososial ini, harapannya bahwa anak-anak terdampak banjir dapat kembali pulih secara emosional, mengurangi kecemasan, serta membangun ketahanan psikologis agar mampu menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih tenang dan percaya diri.(*/M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)
Ilmu Pemerintahan UMM Undang Pakar Internasional, Kupas Pemerintahan Digital Berbasis AI

MALANG POSCO MEDIA – Perkembangan kecerdasan buatan dan transformasi digital kini menjadi faktor kunci dalam membentuk arah pemerintahan masa depan. Merespons dinamika tersebut, Program Studi Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar International Guest Lecture bertajuk “Innovation and Digital Transformation for Future Government” pada, Selasa (30/12/2025). Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Lantai 2 GKB V UMM ini menghadirkan dua narasumber internasional dari Pakistan dan Turki. Forum ini menjadi ruang diskusi strategis untuk memperkaya perspektif mahasiswa mengenai pemanfaatan teknologi digital dalam tata kelola pemerintahan. Di awal, Mr. Muhammad Younus dari Department of Product Research and Software Development TPL Logistics Pvt Ltd, Karachi, Pakistan, menyampaikan topik Power and Progress of Artificial Intelligence. Ia menjelaskan bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah menjadi alat yang sangat kuat dalam mengidentifikasi pola data, mengoptimalkan proses, serta mendukung pengambilan keputusan. “Artificial intelligence mampu mengotomatisasi sekitar 64 hingga 69 persen waktu yang sebelumnya digunakan untuk pengumpulan dan pemrosesan data,” ungkapnya, merujuk pada temuan McKinsey. Namun demikian, ia menekankan bahwa perkembangan AI juga membawa tantangan serius, terutama terkait konsumsi energi dan dampak lingkungan akibat meningkatnya kebutuhan komputasi dan pusat data. Younus sapaan akrabnya memaparkan bahwa pusat data AI membutuhkan energi, sistem pendingin, serta sumber daya air yang besar. Ia mencontohkan bahwa menghasilkan satu gambar AI dapat mengonsumsi energi sekitar 2,2 kWh dan hampir 4 liter air. Oleh karena itu, ia menegaskan pentingnya optimalisasi model AI, penggunaan perangkat keras yang efisien, serta pemanfaatan energi terbarukan. “Masa depan AI sangat bergantung pada bagaimana kita menyeimbangkan manfaatnya dengan tuntutan sumber daya yang digunakan,” tegasnya. Sementara itu, pemateri kedua, Dr. Onur Kulac dari Department of Political Science and Public Administration Pamukkale University, Turkey, membahas Transformation of the Role of Government. Ia menekankan bahwa peran pemerintah saat ini tidak lagi sebatas regulator dan penyedia layanan, tetapi juga sebagai fasilitator dan platform kolaborasi bagi masyarakat. “Inovasi di sektor publik bukan tentang keuntungan, melainkan tentang menciptakan nilai publik dan memperkuat legitimasi pemerintah,” jelasnya. Menurutnya, inovasi dan transformasi digital menjadi kebutuhan mendesak karena kompleksitas persoalan sosial tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan birokrasi konvensional. Dr. Onur juga menyoroti pentingnya digital transformation yang tidak hanya berfokus pada adopsi teknologi, tetapi juga mencakup perubahan organisasi dan budaya kerja pemerintahan. Ia mencontohkan praktik e-Government Gateway di Turki yang berhasil memangkas birokrasi dan meningkatkan efisiensi layanan publik melalui sistem digital terintegrasi. Menutup pemaparannya, Dr. Onur menegaskan bahwa masa depan pemerintahan ditentukan oleh kemampuan memadukan inovasi, akuntabilitas, serta pendekatan yang berpusat pada warga negara. Ia mendorong mahasiswa untuk merefleksikan pembelajaran ini dalam konteks pemerintahan Indonesia. Melalui kegiatan ini, UMM berharap mahasiswa memperoleh perspektif global mengenai tantangan dan peluang inovasi serta transformasi digital dalam mewujudkan pemerintahan yang berkelanjutan dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.(imm/lim)
Konsep Smart Bridge Bawa Mahasiswa Teknik Sipil UMM Raih Juara Nasional

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional. Tim dari LSO Surya Teknik Sipil UMM berhasil meraih Juara 3 Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) 2025 pada kategori Jembatan Model Pelengkung yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (KemdiktiSaintek). Tim UMM diketuai oleh Ayunda Elvandari, mahasiswa Teknik Sipil Fakultas Teknik angkatan 2022, dengan partnernya Akbar Nurfitriono, mahasiswa Teknik Sipil angkatan 2023. Ayunda menjelaskan bahwa persiapan mengikuti KJI 2025 telah dimulai sejak Juli hingga Agustus 2025 melalui penyusunan proposal desain jembatan. “Setelah itu kami menunggu pengumuman finalis pada awal September. Dari hampir 150 proposal yang masuk, hanya 10 tim yang lolos ke final untuk kategori pelengkung,” jelasnya. Rangkaian kegiatan KJI-KBGI 2025 sendiri dilaksanakan pada 12-17 November 2025. Pada kategori jembatan pelengkung, proses perakitan jembatan dilaksanakan pada 15 November 2025, sementara malam awarding berlangsung pada 16 November 2025. Kompetisi ini mempertemukan perguruan tinggi dari seluruh Indonesia dan menjadi ajang unjuk kemampuan desain, ketepatan konstruksi, serta kerja sama tim. Dalam kompetisi tersebut, tim UMM mengusung konsep jembatan optimum, ramah lingkungan, dan berorientasi masa depan yang selaras dengan visi Asta Cita menuju Indonesia Emas 2045. Ayunda menyampaikan bahwa konsep ini dipilih sebagai respons atas keterbatasan akses transportasi di Indonesia. “Kami juga mengembangkan konsep smart bridge, di mana jembatan dilengkapi sensor untuk mendeteksi potensi kerusakan. Dari sisi keberlanjutan, kami juga menerapkan efisiensi material dengan memanfaatkan kembali limbah pembuatan jembatan sebagai alat bantu perakitan,” ujarnya. Meski demikian, perjalanan menuju podium tidak lepas dari tantangan. Ia mengungkapkan bahwa kendala terbesar justru muncul setelah pengumuman finalis. “Pada tahap fabrikasi, beberapa pekerjaan tidak selalu sesuai dengan timeline yang direncanakan, sehingga waktu latihan harus disesuaikan,” katanya. Untuk menyiasatinya, tim membagi peran secara jelas, mulai dari pengendalian proses fabrikasi di lapangan hingga penyusunan presentasi dan ornamen jembatan. Menurut Ayunda, keberhasilan ini ditentukan oleh kerja sama tim yang solid serta proses trial and error yang dilakukan berulang kali. Prestasi ini menjadi kebanggaan tersendiri karena mampu mengembalikan nama LSO Surya ke podium setelah dua tahun terakhir belum meraih gelar juara. “Kami terus mengevaluasi desain hingga menemukan struktur yang paling efisien dan kuat. Selain itu, dukungan dari anggota LSO Surya juga sangat berpengaruh,” tuturnya. Sementara itu, Dosen pembina tim, Dr. Ir. Moh. Abduh, MT., IPM., ACPE., menyampaikan bahwa kompetisi KJI-KBGI menuntut kesiapan tim secara menyeluruh. “Prestasi tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan intelektual. Pengendalian emosi dan ego, ketangguhan mental, serta kerja sama tim yang baik menjadi kunci utama,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa keberhasilan lahir dari perpaduan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik yang berjalan selaras. “Saya berharap capaian ini dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa Teknik Sipil UMM lainnya untuk terus berinovasi, berani berkompetisi di tingkat nasional, serta mengharumkan nama universitas melalui karya-karya teknik yang berdampak bagi masyarakat,” pungkasnya. (bim/faq) Penulis: Bima Chusnul Triwibowo | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Produktif di Tengah Keterbatasan, Akuaponik UMM Perkuat Kemandirian Pangan Warga Jetis

Keterbatasan lahan tidak menjadi penghalang bagi warga Dusun Jetis, Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, untuk tetap produktif di sektor pertanian dan perikanan. Melalui inovasi sistem akuaponik, lahan sempit di lingkungan Jalan Margojoyo RT.01/RW.02 kini mampu dimanfaatkan secara optimal untuk budidaya ikan dan sayuran secara terpadu. Program ini merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang melibatkan dosen lintas disiplin dari Pendidikan Biologi, Perikanan, serta Ekonomi dan Bisnis, bersama lima mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Biologi, Teknik Informatika, dan Psikologi. Kegiatan dilaksanakan pada Juli hingga Desember 2025 melalui skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat yang didukung Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Ketua tim pengabdian, Prof. Dr. Yuni Pantiwati, MM., M.Pd., menjelaskan bahwa akuaponik dipilih karena efisien, ramah lingkungan, dan sesuai dengan kondisi lahan warga. “Akuaponik memungkinkan masyarakat memproduksi pangan secara mandiri dengan memadukan budidaya ikan dan tanaman dalam satu sistem yang saling menguntungkan,” ujarnya. Menurutnya, program ini tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga peningkatan nilai ekonomi hasil panen. Pelatihan teknis budidaya dikoordinasikan oleh Dony Prasetyo, S.Pi., M.Si., dosen Fakultas Perikanan dan Peternakan UMM. Ia menuturkan bahwa warga dilibatkan langsung dalam setiap tahap kegiatan. “Mulai dari perancangan sistem, pemilihan komoditas, pembibitan, hingga perakitan instalasi akuaponik kami lakukan bersama warga agar mereka benar-benar mandiri,” jelas Dony. Tanaman yang dibudidayakan meliputi sawi pakcoy, kangkung, bayam, dan seledri, sementara ikan yang dipilih adalah lele (Clarias sp.). Tahap lanjutan program difokuskan pada pengolahan hasil panen dan pemasaran digital. Pendampingan dilakukan oleh Dr. Erna Retno Rahadjeng, M.M., dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM. Ia menyampaikan bahwa anggota PKK Dusun Jetis diarahkan mengembangkan produk bernilai tambah seperti keripik sayur dan abon lele. “Kami ingin hasil panen tidak hanya habis dikonsumsi, tetapi juga menjadi peluang usaha keluarga,” katanya. Antusiasme warga, khususnya anggota PKK, terlihat tinggi sepanjang kegiatan. Mereka menilai sistem akuaponik sebagai solusi nyata atas keterbatasan lahan sekaligus sumber pendapatan tambahan. Secara lebih luas, program ini menjadi bentuk kontribusi UMM dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada aspek ketahanan pangan, peningkatan ekonomi keluarga, serta pengurangan kemiskinan dan kelaparan berbasis komunitas. (faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman