Bikin Inovasi COLARIX, Mahasiswa UMM Sabet Emas PKMM Kategori Karsa Cipta

Berangkat dari kepekaan terhadap persoalan nyata di sektor peternakan, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali membuktikan kapasitasnya sebagai inovator muda di tingkat nasional. Melalui ajang Penghargaan Kreativitas Mahasiswa Muhammadiyah (PKMM) yang digelar pada November 2025, dua mahasiswa Program Studi Informatika UMM sukses menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih medali emas kategori PKMM-KC (Karsa Cipta). Dua mahasiswa tersebut adalah Putri Nayla Sabri dan Nisrina Nurhafihah yang berhasil mengungguli peserta lain berkat inovasi teknologi bertajuk COLARIX, sebuah perangkat cerdas untuk pemantauan kesehatan ternak. Capaian ini menegaskan peran mahasiswa UMM sebagai generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga aktif menghadirkan solusi berbasis teknologi atas persoalan riil di masyarakat. Putri Nayla Sabri menjelaskan bahwa PKMM merupakan wadah strategis bagi mahasiswa Muhammadiyah untuk mengembangkan gagasan inovatif berbasis riset dan kebutuhan nyata. Menurutnya, skema kompetisi ini memiliki kemiripan dengan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tingkat nasional, namun diselenggarakan secara khusus oleh Muhammadiyah sebagai ruang aktualisasi intelektual mahasiswa. Mahasiswa asal Wamena tersebut menuturkan bahwa timnya mengangkat isu serius di sektor peternakan, yakni penyakit mulut dan kuku (PMK). Penyakit ini berdampak signifikan terhadap kesehatan ternak sekaligus menimbulkan kerugian ekonomi bagi peternak. Berdasarkan data kasus, PMK tercatat menginfeksi lebih dari 14.000 ekor ternak dalam rentang Desember 2024 hingga Januari 2025, sehingga dinilai sebagai persoalan mendesak yang membutuhkan pendekatan inovatif dan berbasis teknologi. Berangkat dari permasalahan tersebut, tim kemudian mengembangkan COLARIX, sebuah smart collar berbasis Internet of Things (IoT) dan Artificial Intelligence (AI) yang berfungsi memantau kondisi sapi pasca infeksi PMK secara otomatis dan real time. Perangkat ini mengintegrasikan kamera ESP32-CAM, sensor suhu DS18B20, serta sensor gerak MPU6050. Data yang diperoleh kemudian diproses menggunakan algoritma MobileNet dan Dempster-Shafer Theory, sebelum ditampilkan dalam sebuah dashboard pemantauan kesehatan ternak. “COLARIX ini merupakan smart collar berbasis IoT dan AI yang digunakan untuk memonitoring kondisi sapi pasca infeksi penyakit mulut dan kuku,” ujar Putri. Dalam proses pengembangannya, tim mengakui masih menghadapi sejumlah keterbatasan. Riset dilakukan dalam waktu relatif singkat, kurang dari dua minggu, dan produk yang dihasilkan masih berada pada tahap prototipe fungsional awal tanpa uji lapangan. Meski demikian, Putri menegaskan bahwa fokus utama tim adalah memastikan kelayakan teknis serta landasan ilmiah alat sebagai pijakan pengembangan lanjutan. Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan pihak kampus. Tim memperoleh pendampingan dari dosen pembimbing, fasilitasi akademik, hingga ruang pengembangan ide di lingkungan Program Studi Informatika UMM. Dukungan tersebut menjadi faktor penting yang mendorong mahasiswa berani berinovasi dan berkompetisi di tingkat nasional. Sementara itu, Zamah Sari, S.T., M.T., Dosen Fakultas Teknik Program Studi Informatika sekaligus dosen pembina tim PKMM-KC UMM, menilai inovasi COLARIX memiliki keunggulan pada sistem pemantauan real time dan non-invasif, penggunaan multi-sensor yang meningkatkan akurasi, serta biaya produksi yang relatif terjangkau sehingga berpotensi diterapkan di peternakan komunal. Sebagai penutup, Ia berpesan kepada mahasiswa UMM agar tidak ragu memulai ide dan berinovasi meskipun belum sempurna. Menurutnya, inovasi bernilai lahir dari keberanian mengangkat masalah nyata dan kemauan untuk terus belajar. Prestasi ini menjadi bukti konsistensi UMM dalam melahirkan mahasiswa yang peka terhadap persoalan sosial dan mampu menghadirkan solusi berbasis teknologi bagi masyarakat. (bim/faq)   Penulis: Bima Chusnul Tribowo | Editor; Faqih Ahmad Wafir Rahman

UMM dan RBC Institute Jalankan SDGs Lewat Program Mobil Pustaka di Poncokusumo

  pwmu.co – Dalam upaya meningkatkan minat baca serta memperkuat budaya literasi anak di tingkat komunitas, RBC Institute Abdul Malik Fadjar melaksanakan kegiatan literasi melalui Mobil Pustaka—yang akrab disebut “Mobil Terbang”—di Pondok Anyam, salah satu cabang komunitas literasi Republik Gubuk yang berlokasi di Dusun Paras, Desa Karangnongko, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang (4/1/2026).Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan RBC Institute dalam menghadirkan akses bacaan yang inklusif serta mendekatkan literasi kepada masyarakat secara langsung. Dalam kegiatan di Pondok Anyam, sekitar 75 orang terlibat mengikuti aktivitas membaca dan belajar dengan penuh antusias. Kehadiran Mobil Pustaka yang membawa beragam koleksi buku bacaan anak menarik perhatian peserta. Mobil Pustaka Hani Masudi, Kepala Dusun Paras, Desa Karangnongko, Kecamatan Poncokusumo, menilai kehadiran Mobil Pustaka sangat relevan dengan kondisi anak-anak saat ini, khususnya di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. “Kami sangat antusias dengan kehadiran Mobil Pustaka dari RBC Institute. Program ini sangat membantu kami di kampung untuk meningkatkan minat baca anak-anak. Di era sekarang, teknologi berkembang sangat cepat sehingga minat membaca buku mulai berkurang, dan mobil ini menjadi inovasi baru yang mampu menarik kembali perhatian anak-anak terhadap buku,” ujarnya. Republik Gubuk merupakan komunitas literasi yang menaungi sejumlah ruang belajar berbasis masyarakat, termasuk Pondok Anyam. Komunitas ini dipimpin oleh Fachrul Alamsyah, yang akrab disapa Cak Irul, selaku Presiden Republik Buku. Di bawah kepemimpinannya, Pondok Anyam berperan sebagai ruang belajar alternatif bagi anak-anak di lingkungan Dusun Paras, khususnya dalam menumbuhkan minat baca, kreativitas, dan kebiasaan belajar sejak usia dini. Kehadiran Mobil Pustaka dinilai selaras dan mampu memperkuat ekosistem literasi yang telah dibangun oleh Republik Gubuk. Kegiatan literasi ini juga didampingi oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang turut membersamai anak-anak dalam proses membaca dan belajar. Keterlibatan mahasiswa tersebut sekaligus mempertegas bahwa kegiatan ini selaras dengan komitmen UMM terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang diarusutamakan melalui kurikulum perkuliahan, khususnya dalam mendorong pendidikan berkualitas, pemberdayaan komunitas, dan pengabdian masyarakat berbasis dampak. Kolaborasi antara RBC Institute, komunitas lokal, dan mahasiswa menciptakan suasana literasi yang inklusif serta memperkuat nilai pengabdian kepada masyarakat. Melalui program ini, RBC Institute Abdul Malik Fadjar terus berkomitmen menghadirkan literasi secara langsung, kontekstual, dan menyenangkan bagi anak-anak di tingkat komunitas, sebagai bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan merawat budaya literasi sejak usia dini. (*)

Mahasiswa Sosiologi UMM Kembali ke Sekolah, Kenalkan Dunia Kampus di SMAN 1 Kutorejo

pwmu.co – Program Mahasiswa Back To School (MBTS) yang digagas oleh Program Studi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali digelar sebagai agenda rutin tahunan. Kegiatan yang berlangsung pada Senin (5/1/2026) ini menjadi ruang strategis bagi mahasiswa untuk kembali ke sekolah menengah atas dan berbagi pengalaman akademik sekaligus memperkenalkan dunia perguruan tinggi kepada para siswa. Kali ini, MBTS Prodi Sosiologi UMM menyasar SMAN 1 Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, dengan melibatkan siswa-siswi kelas XII sebagai peserta utama. Sejumlah mahasiswa Sosiologi UMM turut terlibat aktif dalam kegiatan ini, menyampaikan pemaparan seputar perkuliahan, iklim akademik kampus, hingga prospek keilmuan sosiologi di tengah dinamika masyarakat. Kegiatan Mahasiswa Back To School dinilai penting sebagai upaya memberikan gambaran yang utuh mengenai Program Studi Sosiologi, khususnya yang ada di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui pendekatan dialogis dan berbagi pengalaman langsung dari mahasiswa, para siswa diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih konkret tentang kehidupan kampus dan pilihan studi lanjutan setelah lulus SMA. Program ini tidak hanya menjadi sarana sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB), tetapi juga menjadi media inspiratif bagi siswa untuk mulai memetakan minat, bakat, serta rencana masa depan akademik mereka. Wakil Kepala Sekolah SMAN 1 Kutorejo, Nur Itwati, S.Pd, menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada UMM, khususnya Program Studi Sosiologi, atas terselenggaranya kegiatan MBTS di sekolahnya. “Kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada Universitas Muhammadiyah Malang, khususnya Program Studi Sosiologi, atas pelaksanaan kegiatan Mahasiswa Back To School di SMAN 1 Kutorejo. Kegiatan ini sangat positif karena mampu memberikan wawasan baru kepada siswa mengenai dunia perguruan tinggi,” ujarnya. Menurutnya, kehadiran mahasiswa UMM di lingkungan sekolah memberikan sudut pandang yang lebih dekat dan realistis bagi siswa dalam memahami kehidupan kampus, dibandingkan sekadar informasi tertulis atau promosi formal. Lebih lanjut, Nur Itwati berharap melalui kegiatan sosialisasi PMB ini, siswa dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang Program Studi Sosiologi UMM, baik dari sisi keilmuan, peluang karier, maupun peran strategis sosiologi dalam membaca dan menyelesaikan persoalan sosial di masyarakat. “Kami berharap siswa-siswi kelas XII dapat memahami bahwa sosiologi memiliki peran penting dalam kehidupan sosial, serta membuka peluang karier yang luas di berbagai bidang. Semoga kegiatan ini juga memotivasi mereka untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi dan mempersiapkan masa depan akademik dengan lebih matang,” tuturnya. Melalui program MBTS, Prodi Sosiologi UMM menegaskan komitmennya dalam mendekatkan perguruan tinggi dengan sekolah menengah, sekaligus membangun kesadaran akademik sejak dini. Kegiatan ini diharapkan terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak sekolah, sehingga semakin banyak generasi muda yang terinspirasi untuk melanjutkan pendidikan tinggi dan berkontribusi bagi masyarakat melalui keilmuan sosiologi. (*)

Mahasiswa Back To School; Kenalkan Prodi Sosiologi UMM Secara Utuh pada Siswa

Surabaya-harianjatim.com. Mahasiswa Program Studi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali melaksanakan Program Mahasiswa Back To School (MBTS) di tahun 2026. Kali ini kegiatan itu digelar di SMAN 1 Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Senin, 5 Januari 2026. Kegiatan rutin tahunan ini digelar untuk memberikan gambaran secara utuh tentang Program Studi Sosiologi khususnya di UMM. Kegiatan MBTS Tahun ini disambut sangat antusias, baik oleh siswa kelas 12 dan juga jajaran akdemik SMAN 1 Kurtorejo. “Kami sangat mengapresiasi dan terima kasih kepada Universitas Muhammadiyah Malang, khususnya Program Studi Sosiologi, atas pelaksanaan kegiatan Mahasiswa Back To School (MBTS) di sekolah kami,” kata Wakil Kepala Sekolah Nur Irawati, Irawati menilai kegiatan MBTS sebagai langkah positif dalam memberikan wawasan kepada siswa mengenai dunia perguruan tinggi serta pilihan program studi yang relevan dengan perkembangan sosial masyarakat. Irawati berharap melalui sosialisasi PMB, siswa dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai Program Studi Sosiologi UMM, baik dari sisi keilmuan, peluang karier, maupun peran sosiologi dalam memahami dan menyelesaikan persoalan sosial di masyarakat. “Selain itu, kegiatan MBTS diharapkan mampu memotivasi siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi dan mempersiapkan masa depan akademik mereka dengan lebih matang,” tegas dia.

Mahasiswi PAI UMM Raih Prestasi Nasional di Stand Up Comedy dan Bisnis Public Speaking

MALANG, JATIMSATUNEWS.COM— Mahasiswi Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Umi Khabibah, mencatatkan prestasi di bidang industri kreatif dengan meraih Juara Harapan 1 Stand Up Comedy pada ajang KMI Expo 2025. Capaian tersebut diraih Umi yang merupakan mahasiswa angkatan 2023. Melalui stand up comedy, Umi menggabungkan kemampuan public speaking dengan pesan-pesan kritis yang disampaikan secara ringan dan komunikatif. Ia menilai kemampuan berbicara menjadi keterampilan penting, khususnya bagi mahasiswa PAI, agar pesan keagamaan dapat disampaikan secara tepat dan bertanggung jawab di ruang publik. “Kalau lulusan PAI tidak mahir bicara, panggung dakwah bisa diisi oleh sosok yang keliru. Banyak yang pandai bicara, tetapi tidak memiliki kompetensi keilmuan,” ujar Umi. Selama menjalani perkuliahan di UMM, Umi aktif mengikuti berbagai kegiatan pengembangan diri, di antaranya Unit Kegiatan Mahasiswa MTQ, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), serta menjadi Ambassador I’am Women Indonesia 2023. Aktivitas tersebut, menurutnya, menjadi ruang belajar penting dalam membangun kepercayaan diri dan kemampuan komunikasi. Selain berprestasi di bidang seni, Umi juga menekuni dunia wirausaha. Ia menjabat sebagai CEO Speak Minds Academy, lembaga kursus public speaking dengan sepuluh kelas spesialisasi. Umi juga mengantongi sejumlah sertifikasi nasional, seperti Certified Public Speaker (CPS), neuro linguistic programming (NLP), serta sertifikasi penyiar televisi level 3 KKNI. Bisnis lain yang dirintisnya, Tale Gifts and Co, berhasil memperoleh pendanaan dari Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) dan dikonversi menjadi nilai mata kuliah melalui kebijakan akademik UMM. Di luar aktivitas akademik dan bisnis, Umi mendirikan Komunitas Santri Putri Khawla Benazir. Komunitas ini menjadi wadah pemberdayaan santri putri, khususnya dalam meningkatkan kepercayaan diri dan keterampilan menulis serta public speaking. Umi berpesan agar mahasiswa memanfaatkan masa kuliah untuk membangun portofolio dan berani mencoba berbagai peluang yang tersedia. Menurutnya, lingkungan kampus menyediakan ruang aman untuk belajar, bereksperimen, dan gagal sebelum terjun ke dunia profesional. (raf)

Prodi Sosiologi UMM Kembali Gelar Program Back to School’

Mojokerto, (afederasi.com)  – Program Studi (Prodi) Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar program rutin tahunan, Mahasiswa Back to School (MBTS). Kegiatan yang bertujuan memberikan gambaran utuh tentang studi sosiologi kepada siswa SMA ini dilaksanakan di SMAN 1 Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, pada Selasa (6/1/2026). Kegiatan sosialisasi dan sharing session ini dihadiri secara antusias oleh para siswa kelas 12, yang sedang mempersiapkan pilihan studi lanjutan. Mahasiswa dari Prodi Sosiologi UMM hadir secara langsung untuk berbagi pengalaman, informasi kurikulum, kehidupan kampus, serta prospek karir lulusan sosiologi. Wakil Kepala Sekolah SMAN 1 Kutorejo  Nur Itwati S.Pd, menyampaikan apresiasi tinggi kepada Universitas Muhammadiyah Malang, khususnya Prodi Sosiologi. Menurutnya, program MBTS UMM ini merupakan langkah positif dan strategis untuk membuka wawasan siswa tentang dunia perguruan tinggi serta pilihan program studi yang relevan dengan dinamika sosial masyarakat. “Kami berterima kasih atas terlaksananya kegiatan ini. Melalui sosialisasi ini, siswa dapat memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai Program Studi Sosiologi UMM, baik dari sisi keilmuan, peluang karier, maupun peran sosiologi dalam memahami dan menyelesaikan persoalan sosial,” ujarnya. Lebih lanjut, Wakasek berharap kegiatan Mahasiswa Back to School ini tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga mampu memotivasi siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi dan mempersiapkan masa depan akademik mereka dengan lebih matang dan terencana. Program MBTS Prodi Sosiologi UMM tidak hanya sekadar promosi, tetapi juga menjadi jembatan antara dunia sekolah dan kampus, memperkenalkan ilmu sosiologi secara aplikatif, serta menginspirasi generasi muda untuk berkontribusi dalam memecahkan masalah sosial di masyarakat. (san)

OSCE Berbasis Mini Hospital Tingkatan Kompetensi Mahasiswa Keperawatan UMM

MALANG POST – Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan kesehatan berkualitas melalui pelaksanaan Objective Structured Clinical Examination (OSCE) berbasis mini hospital. Ujian keterampilan klinis ini digelar di Gedung Kuliah Bersama (GKB V), fasilitas baru berteknologi tinggi yang dirancang menyerupai lingkungan rumah sakit modern. OSCE menjadi salah satu instrumen utama evaluasi kompetensi mahasiswa keperawatan karena tidak hanya menguji kemampuan teknis, tetapi juga menilai komunikasi terapeutik, berpikir kritis, clinical reasoning, hingga pengambilan keputusan dalam kondisi gawat darurat. Sejak pagi hari, suasana ujian tampak dinamis dengan mahasiswa yang berpindah dari satu station ke station lain sesuai alur skenario klinis yang telah ditetapkan. Pelaksanaan OSCE kali ini memiliki keunggulan pada penerapan konsep mini hospital yang menghadirkan simulasi klinis secara realistis. Berbagai station dirancang mencerminkan kondisi nyata pelayanan kesehatan, mulai dari penanganan kegawatdaruratan, perawatan luka, pemeriksaan fisik komprehensif, penyuluhan kesehatan, hingga pelayanan pasien dengan penyakit kronis dan kasus maternitas serta anak. Kepala Departemen Keperawatan Gawat Darurat (KGD) UMM, Indah Dwi Pratiwi, S.Kep., Ns., M.Ng, menjelaskan bahwa OSCE merupakan metode paling relevan untuk memastikan kesiapan mahasiswa menghadapi dunia kerja. “OSCE mini hospital di GKB V memberikan gambaran nyata bagaimana mahasiswa menghadapi pasien dalam kondisi kritis, berkomunikasi di bawah tekanan, serta melakukan tindakan klinis berbasis keselamatan pasien. Inilah yang membentuk mereka menjadi perawat profesional di masa depan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa station kegawatdaruratan dirancang menyerupai Instalasi Gawat Darurat (IGD) modern, meliputi simulasi resusitasi jantung paru, penanganan trauma, triase bencana, hingga stabilisasi perdarahan dan koordinasi tim keperawatan. Keberhasilan OSCE juga didukung oleh fasilitas GKB V yang dilengkapi laboratorium keperawatan terintegrasi, manekin digital multiprogram, ruang mini ICU, sistem kamera pemantau tindakan, hingga simulasi rekam medis elektronik. Kaprodi S1 Keperawatan FIKES UMM, Nur Aini, Ph.D, menuturkan bahwa OSCE bukan sekadar ujian praktik, melainkan bagian dari sistem penjaminan mutu pendidikan. “Dengan fasilitas GKB V, kami memastikan mahasiswa tidak hanya lulus secara akademik, tetapi juga siap bersaing di dunia kerja nasional maupun global dengan kompetensi dan empati yang seimbang,” jelasnya. Ia juga mengapresiasi keterlibatan tim penguji lintas bidang keperawatan yang memastikan penilaian dilakukan secara komprehensif dan objektif. Melalui pelaksanaan OSCE mini hospital ini, Prodi Keperawatan UMM menegaskan bahwa transformasi pendidikan kesehatan bukan hanya wacana, tetapi telah diwujudkan secara nyata. UMM tidak sekadar membangun gedung baru, melainkan membangun budaya mutu dan profesionalisme demi menyiapkan tenaga kesehatan masa depan yang andal dan berintegritas.(*/M Abd Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)

Mahasiswi PAI UMM Torehkan Prestasi Multitalenta, dari Juara Stand Up Comedy hingga Founder Bisnis

pwmu.co – Latar belakang sebagai mahasiswi Pendidikan Agama Islam (PAI) tidak menghalangi Umi Khabibah untuk berprestasi di berbagai bidang. Mahasiswi angkatan 2023 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini sukses menorehkan prestasi nasional dengan meraih Juara Harapan 1 Stand Up Comedy pada ajang KMI Expo 2025. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa lingkungan akademik UMM mendorong lahirnya mahasiswa multitalenta yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Melalui dunia komedi tunggal, Umi tidak hanya tampil menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan-pesan kritis dengan pendekatan komunikasi yang cerdas dan membumi. Bagi Umi, kemampuan public speaking bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan bagian dari tanggung jawab moral dalam menyampaikan nilai-nilai kebaikan kepada masyarakat. Ia menilai, latar belakang keilmuan PAI justru memberi kekuatan tersendiri dalam membangun komunikasi yang beretika dan berlandaskan ilmu. “Kalau lulusan PAI tidak mahir bicara, panggung dakwah bisa diisi oleh orang yang keliru. Sekarang banyak yang pintar bicara, tetapi tidak memiliki kompetensi keilmuan. Di sinilah pentingnya mahasiswa PAI menguasai komunikasi,” tegasnya. Selama menempuh studi di UMM, Umi aktif mengikuti berbagai kegiatan pengembangan diri. Ia tercatat sebagai anggota UKM MTQ, aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), serta pernah dipercaya menjadi Ambassador I’am Women Indonesia 2023. Berbagai pengalaman tersebut menjadi ruang pembelajaran kepemimpinan dan komunikasi yang membentuk kepercayaan dirinya. “Justru dari organisasi saya belajar banyak, mulai dari mengelola tim, menyampaikan gagasan, hingga memahami perbedaan karakter,” ujarnya. Ia juga memanfaatkan forum presentasi kelas sebagai sarana melatih kemampuan membaca audiens dan strategi komunikasi yang tepat. Tak berhenti di situ, Umi juga menapaki dunia wirausaha. Ia kini menjabat sebagai CEO Speak Minds Academy, lembaga kursus komunikasi profesional dengan sepuluh kelas spesialisasi. Ia mengantongi sejumlah sertifikasi nasional, seperti Certified Public Speaker (CPS), neuro linguistic programming (NLP), serta sertifikasi penyiar TV level 3 KKNI. Selain itu, bisnis rintisannya, Tale Gifts and Co, berhasil lolos pendanaan Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) dan dikonversi menjadi nilai mata kuliah melalui kebijakan akademik UMM. Di bidang sosial, Umi mendirikan Komunitas Santri Putri Khawla Benazir sebagai wadah pemberdayaan santri putri. Komunitas ini rutin menggelar workshop untuk membangun kepercayaan diri santri, khususnya dalam bidang menulis dan public speaking. “Saya sering melihat santri minder ketika masuk dunia kampus. Padahal potensi mereka besar. Komunitas ini ingin menegaskan bahwa santri juga bisa tampil percaya diri dan berprestasi,” jelasnya. Menutup kisahnya, Umi berpesan agar mahasiswa berani membangun portofolio sejak dini dan memanfaatkan seluruh fasilitas kampus. Menurutnya, masa kuliah adalah fase terbaik untuk belajar, bereksplorasi, dan menempa diri. “Selama masih mahasiswa, kita punya banyak akses dan dukungan. Jangan takut mencoba, karena banyak peluang berharga justru hanya datang saat kita masih kuliah,” pungkasnya. (*) *) Penulis : Hassan Al Wildan *) Editor : Azrohal Hasan

Mahasiswa Back to School Prodi Sosiologi UMM Hadir di SMAN 1 Kutorejo

Kegiatan Mahasiswa Back to School (MBTS) Prodi Sosiologi UMM menjadi ruang temu mahasiswa dan siswa SMAN 1 Kutorejo dalam memperluas wawasan akademik, sosial, dan perencanaan studi lanjut. Tagar.co – Program Mahasiswa Back to School (MBTS) yang digagas Program Studi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggeliat, Senin (5/1/26). Kegiatan tahunan itu, kali ini menyasar SMAN 1 Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, dengan melibatkan mahasiswa Prodi Sosiologi UMM dan diikuti antusias oleh para siswa kelas XII. Ketua Program Studi Sosiologi Awan Setia Dharmawan M.Si menjelaskan, program MBTS dirancang sebagai jembatan informasi antara dunia sekolah menengah dan perguruan tinggi. “Melalui kegiatan ini, mahasiswa Sosiologi UMM kembali ke sekolah-sekolah untuk berbagi pengalaman, wawasan akademik, serta memperkenalkan secara utuh karakter dan prospek Program Studi Sosiologi, khususnya yang ada di UMM,” ujarnya. Di hadapan ratusan siswa kelas XII SMAN 1 Kutorejo, para mahasiswa menyampaikan gambaran mengenai dunia perkuliahan, dinamika pembelajaran di Prodi Sosiologi, serta peran penting sosiologi dalam membaca dan merespons persoalan sosial yang berkembang di masyarakat. Langkah Strategis Wakil Kepala SMAN 1 Kutorejo, Nur Itwati, S.Pd., menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Universitas Muhammadiyah Malang, khususnya Program Studi Sosiologi, atas pelaksanaan kegiatan MBTS di sekolahnya. Menurutnya, kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam memperluas wawasan siswa mengenai pendidikan tinggi dan pilihan program studi yang relevan dengan tantangan sosial masa kini. “Melalui sosialisasi ini, siswa memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang Program Studi Sosiologi UMM, baik dari sisi keilmuan, peluang karier, maupun peran sosiologi dalam memahami dan menyelesaikan persoalan sosial di masyarakat,” ujarnya. Ia juga berharap kegiatan MBTS mampu menumbuhkan motivasi siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, sekaligus membantu mereka menyiapkan masa depan akademik dengan lebih terarah dan matang. Program MBTS ini tidak hanya menjadi ruang promosi akademik, tetapi juga wadah pembelajaran sosial yang mempertemukan pengalaman mahasiswa dengan kebutuhan informasi siswa sekolah menengah. Kehadirannya menjadi bagian penting dari upaya UMM dalam membangun literasi pendidikan dan memperluas akses pengetahuan tentang dunia kampus kepada generasi muda. (#)

Dosen Keperawatan UMM Tekankan Pencegahan Dini Hadapi Cuaca Ekstrem 2026

Malangpariwara.com – Cuaca ekstrem yang diprediksi terjadi pada awal 2026 dinilai tidak hanya berdampak pada kondisi lingkungan, tetapi juga berisiko terhadap kesehatan masyarakat. Perubahan suhu, curah hujan tinggi, dan peningkatan kelembapan memengaruhi kemampuan tubuh dalam beradaptasi. Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ns. Zaqqi Ubaidillah, M.Kep., Sp.Kep.MB., menyebut kondisi tersebut sebagai stresor lingkungan. Di mana yang meningkatkan gangguan pemenuhan kebutuhan dasar kesehatan, terutama pada kelompok rentan. “Cuaca ekstrem tidak bisa dipandang hanya sebagai perubahan cuaca semata, tetapi harus dilihat sebagai risiko kesehatan populasi. Ketika tubuh terus-menerus terpapar stres lingkungan dan tidak mampu beradaptasi secara optimal, maka kerentanan terhadap penyakit akan meningkat. Karena itu, respons kesehatan harus bersifat promotif dan preventif, bukan sekadar reaktif ketika sakit sudah terjadi,” ujar Zaqqi. Cuaca Ekstrem Picu Stres Kronik Ia menambahkan, cuaca ekstrem dapat memicu stres fisiologis kronik yang berdampak pada penurunan daya tahan tubuh. Suhu dingin dan kelembapan tinggi berpotensi melemahkan pertahanan mukosa saluran pernapasan. Sementara suhu panas ekstrem meningkatkan kehilangan cairan dan elektrolit. Kondisi ini dapat menimbulkan kelelahan fisiologis, gangguan termoregulasi, penurunan toleransi aktivitas, hingga meningkatnya risiko infeksi. “Penurunan daya tahan tubuh sebenarnya bukan semata-mata disebabkan oleh cuaca. Tetapi karena tubuh gagal mempertahankan homeostasis secara optimal. Ketika keseimbangan ini terganggu dalam waktu lama, maka tubuh menjadi lebih mudah terserang penyakit,” jelasnya. Langkah Pencegahan Dalam menghadapi kondisi tersebut, pendekatan keperawatan menekankan pencegahan primer. Melalui perubahan perilaku hidup bersih dan sehat, pemenuhan nutrisi seimbang, serta kecukupan cairan tubuh. Asupan protein, vitamin, dan mineral berperan penting dalam mendukung sistem imun, sementara suplemen hanya bersifat pendukung dan tidak dapat menggantikan pola makan sehat. Kebutuhan cairan juga perlu diperhatikan karena dalam cuaca ekstrem tubuh cenderung kehilangan cairan lebih cepat meski rasa haus tidak selalu muncul. “Langkah-langkah sederhana seperti mencuci tangan secara konsisten. Memastikan keamanan makanan dan air minum, menjaga asupan gizi. Serta memenuhi kebutuhan cairan sekitar 2–2,5 liter per hari untuk orang dewasa merupakan bentuk pencegahan yang sangat efektif. Upaya ini jauh lebih baik dibandingkan menunggu sakit lalu berobat,” kata Zaqqi. Zaqqi juga menyoroti kerentanan kelompok anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit kronis. Serta pekerja lapangan yang memiliki kapasitas adaptasi fisiologis dan psikososial lebih rendah. Perlindungan terhadap kelompok ini membutuhkan dukungan keluarga dan komunitas. Melalui pengawasan kesehatan, pengaturan aktivitas harian, pemenuhan nutrisi, serta lingkungan yang aman dan mendukung. Gencarkan Kesehatan Mental Selain itu, kesehatan mental dinilai memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan tubuh. “Stres dan kecemasan akibat cuaca ekstrem dapat meningkatkan hormon stres yang berdampak pada penurunan imunitas. Karena itu, menjaga kesehatan mental adalah bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga kesehatan fisik. Ketahanan kesehatan tidak dibangun saat krisis, tetapi melalui kebiasaan hidup sehat yang konsisten dan adaptif terhadap perubahan lingkungan,” pungkasnya. Terakhir, Ia berharap masyarakat semakin meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan kesehatan menghadapi cuaca ekstrem. Tidak hanya dengan kewaspadaan individu, tetapi juga melalui penguatan peran keluarga, komunitas, dan fasilitas layanan kesehatan. Menurutnya, sinergi antara edukasi kesehatan yang berkelanjutan, kebijakan yang responsif, serta partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci dalam menekan dampak kesehatan akibat perubahan iklim. Dengan upaya preventif yang konsisten dan berbasis ilmu pengetahuan. Ia optimistis masyarakat dapat tetap menjaga ketahanan kesehatan dan kualitas hidup meski di tengah tantangan cuaca ekstrem yang semakin kompleks. (Djoko W)