Siswa SMAN 1 Kutorejo Antusias Kenal Dunia Kampus Lewat Program MBTS UMM

www.majelistabligh.id –Mahasiswa Program Studi Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar program Mahasiswa Back To School (MBTS), sebuah agenda rutin tahunan yang bertujuan mengenalkan dunia perguruan tinggi kepada siswa sekolah menengah. Kegiatan MBTS kali ini dilaksanakan pada Senin (5/1/2026) di SMAN 1 Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, dan diikuti oleh siswa-siswi kelas XII. Sejumlah mahasiswa dari Program Studi Sosiologi UMM terlibat langsung dalam kegiatan sosialisasi tersebut. Program “Kembali ke Sekolah” ini dirancang untuk memberikan gambaran utuh tentang Program Studi Sosiologi UMM, mulai dari bidang keilmuan, proses pembelajaran, hingga peluang karier lulusannya. Para mahasiswa menyampaikan materi secara komunikatif dan dialogis, sehingga mudah dipahami oleh para siswa. Melalui MBTS, mahasiswa Sosiologi UMM tidak hanya berbagi informasi kampus, tetapi juga menanamkan semangat belajar dan kesadaran akan pentingnya pendidikan tinggi sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan. Wakil Kepala Sekolah SMAN 1 Kutorejo, Nur Itwati, S.Pd., menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Universitas Muhammadiyah Malang, khususnya Program Studi Sosiologi, atas terselenggaranya kegiatan MBTS di sekolahnya. Menurutnya, kegiatan ini menjadi langkah positif dalam membuka wawasan siswa mengenai dunia perguruan tinggi serta membantu mereka mengenal berbagai pilihan program studi yang relevan dengan perkembangan sosial masyarakat saat ini. Ia berharap, melalui sosialisasi ini, para siswa memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang ilmu sosiologi, baik dari sisi akademik, prospek kerja, maupun peran strategisnya dalam memahami dan menyelesaikan persoalan sosial di tengah masyarakat. “Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat untuk memotivasi siswa agar melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi dan mempersiapkan masa depan akademik mereka dengan lebih matang,” pungkasnya. (Muchamad Noval Dwi Prasetyo)

Dosen Keperawatan UMM Tekankan Pencegahan Dini Hadapi Cuaca Ekstrem 2026

Malangpariwara.com – Cuaca ekstrem yang diprediksi terjadi pada awal 2026 dinilai tidak hanya berdampak pada kondisi lingkungan, tetapi juga berisiko terhadap kesehatan masyarakat. Perubahan suhu, curah hujan tinggi, dan peningkatan kelembapan memengaruhi kemampuan tubuh dalam beradaptasi. Dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ns. Zaqqi Ubaidillah, M.Kep., Sp.Kep.MB., menyebut kondisi tersebut sebagai stresor lingkungan. Di mana yang meningkatkan gangguan pemenuhan kebutuhan dasar kesehatan, terutama pada kelompok rentan. “Cuaca ekstrem tidak bisa dipandang hanya sebagai perubahan cuaca semata, tetapi harus dilihat sebagai risiko kesehatan populasi. Ketika tubuh terus-menerus terpapar stres lingkungan dan tidak mampu beradaptasi secara optimal, maka kerentanan terhadap penyakit akan meningkat. Karena itu, respons kesehatan harus bersifat promotif dan preventif, bukan sekadar reaktif ketika sakit sudah terjadi,” ujar Zaqqi. Cuaca Ekstrem Picu Stres Kronik Ia menambahkan, cuaca ekstrem dapat memicu stres fisiologis kronik yang berdampak pada penurunan daya tahan tubuh. Suhu dingin dan kelembapan tinggi berpotensi melemahkan pertahanan mukosa saluran pernapasan. Sementara suhu panas ekstrem meningkatkan kehilangan cairan dan elektrolit. Kondisi ini dapat menimbulkan kelelahan fisiologis, gangguan termoregulasi, penurunan toleransi aktivitas, hingga meningkatnya risiko infeksi. “Penurunan daya tahan tubuh sebenarnya bukan semata-mata disebabkan oleh cuaca. Tetapi karena tubuh gagal mempertahankan homeostasis secara optimal. Ketika keseimbangan ini terganggu dalam waktu lama, maka tubuh menjadi lebih mudah terserang penyakit,” jelasnya. Langkah Pencegahan Dalam menghadapi kondisi tersebut, pendekatan keperawatan menekankan pencegahan primer. Melalui perubahan perilaku hidup bersih dan sehat, pemenuhan nutrisi seimbang, serta kecukupan cairan tubuh. Asupan protein, vitamin, dan mineral berperan penting dalam mendukung sistem imun, sementara suplemen hanya bersifat pendukung dan tidak dapat menggantikan pola makan sehat. Kebutuhan cairan juga perlu diperhatikan karena dalam cuaca ekstrem tubuh cenderung kehilangan cairan lebih cepat meski rasa haus tidak selalu muncul. Dosen Keperawatan UMM, Ns. Zaqqi Ubaidillah, M.Kep., Sp.Kep.MB. (Ist) “Langkah-langkah sederhana seperti mencuci tangan secara konsisten. Memastikan keamanan makanan dan air minum, menjaga asupan gizi. Serta memenuhi kebutuhan cairan sekitar 2–2,5 liter per hari untuk orang dewasa merupakan bentuk pencegahan yang sangat efektif. Upaya ini jauh lebih baik dibandingkan menunggu sakit lalu berobat,” kata Zaqqi. Zaqqi juga menyoroti kerentanan kelompok anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit kronis. Serta pekerja lapangan yang memiliki kapasitas adaptasi fisiologis dan psikososial lebih rendah. Perlindungan terhadap kelompok ini membutuhkan dukungan keluarga dan komunitas. Melalui pengawasan kesehatan, pengaturan aktivitas harian, pemenuhan nutrisi, serta lingkungan yang aman dan mendukung. Gencarkan Kesehatan Mental Selain itu, kesehatan mental dinilai memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan tubuh. “Stres dan kecemasan akibat cuaca ekstrem dapat meningkatkan hormon stres yang berdampak pada penurunan imunitas. Karena itu, menjaga kesehatan mental adalah bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga kesehatan fisik. Ketahanan kesehatan tidak dibangun saat krisis, tetapi melalui kebiasaan hidup sehat yang konsisten dan adaptif terhadap perubahan lingkungan,” pungkasnya. Terakhir, Ia berharap masyarakat semakin meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan kesehatan menghadapi cuaca ekstrem. Tidak hanya dengan kewaspadaan individu, tetapi juga melalui penguatan peran keluarga, komunitas, dan fasilitas layanan kesehatan. Menurutnya, sinergi antara edukasi kesehatan yang berkelanjutan, kebijakan yang responsif, serta partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci dalam menekan dampak kesehatan akibat perubahan iklim. Dengan upaya preventif yang konsisten dan berbasis ilmu pengetahuan. Ia optimistis masyarakat dapat tetap menjaga ketahanan kesehatan dan kualitas hidup meski di tengah tantangan cuaca ekstrem yang semakin kompleks. (Djoko W)

Maharesigana UMM Mengembalikan Senyum Anak-anak Penyintas Bencana

www.majelistabligh.id – Kehadiran Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi angin segar bagi pemulihan kondisi psikologis warga terdampak. Senyum anak-anak di Desa Sekoci, Dusun Sukaramai, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, kembali ceria setelah mereka mendapatkan pendampingan psikososial pascabanjir. Tim Maharesigana UMM sudah turun ke lokasi bencana sejak Desember 2025 lalu, melaksanakan Layanan Dukungan Psikososial (LDP) bagi anak-anak dan penyintas banjir. Kegiatan ini bertujuan membantu mereka mengatasi trauma serta mengembalikan rasa aman dan percaya diri setelah bencana melanda wilayah tersebut. Salah satu anggota tim Maharesigana, Fadilla Azzahra, mengungkapkan bahwa pendampingan psikososial menjadi kebutuhan penting setelah bencana, terutama bagi anak-anak. “Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan terdampak secara psikologis. Melalui kegiatan bermain dan interaksi positif, kami berupaya membantu mereka mengekspresikan perasaan serta kembali merasa aman,” ujar Fadilla. Layanan Dukungan Psikososial ini dilakukan melalui berbagai distract activity seperti bermain bersama, bernyanyi, dan kegiatan kreatif lainnya. Selain itu, relawan juga memberikan psikoedukasi kepada orang tua dan penyintas tentang cara berdamai dengan bencana serta teknik relaksasi sederhana untuk mengurangi kecemasan dan stres pascatrauma. Sebanyak 47 anak mengikuti kegiatan ini dengan antusias. Mereka didampingi oleh tiga ibu dan sepuluh guru setempat yang turut membantu menciptakan suasana aman dan mendukung selama proses pendampingan berlangsung. Para orang tua mengaku senang dan mengapresiasi kehadiran relawan karena kegiatan ini dinilai mampu menghibur anak-anak sekaligus memberikan edukasi yang bermanfaat. Salah satu warga menyampaikan bahwa sebelum adanya pendampingan, anak-anak masih sering menunjukkan tanda-tanda trauma. “Awalnya mereka mudah takut dan gelisah setelah banjir. Sekarang terlihat lebih ceria dan berani,” tuturnya. Ia juga menambahkan bahwa edukasi yang diberikan kepada orang tua dan guru sangat membantu dalam mendampingi anak-anak pascabencana. Selama masa bencana, aktivitas anak-anak sempat terhambat. Proses belajar terganggu akibat buku hanyut, listrik padam, dan jaringan internet terputus. Bahkan, sebagian anak harus membantu orang tua membersihkan rumah dari lumpur dan sisa material banjir. Melalui kegiatan Layanan Dukungan Psikososial ini, harapannya bahwa anak-anak terdampak banjir dapat kembali pulih secara emosional, mengurangi kecemasan, serta membangun ketahanan psikologis agar mampu menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih tenang dan percaya diri. (*/tim)

Pertama Dari Indonesia, Dosen Fisioterapi UMM Ikuti Course DNS Internasional Di Turki

Tahun 2026 dibuka dengan langkah strategis menuju panggung internasional dari Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Konsistensi dalam pengembangan kompetensi dosen kembali ditunjukkan melalui partisipasi aktif Rakhmad Rosadi, SST.Ft., Ftr., M.Sc.PT., Ph.D., yang tercatat sebagai dosen pertama dari Indonesia dalam Course Dynamic Neuromuscular Stabilization (DNS) tingkat internasional di Istanbul, Turki. Course bergengsi ini mengangkat tema “Clinical Evaluation of Patients with Scoliosis” yang berfokus pada pemanfaatan DNS functional tests untuk mengevaluasi pasien dengan Adolescent Idiopathic Scoliosis (AIS) serta berbagai kondisi asimetri postural. Pendekatan yang digunakan menitikberatkan pada evaluasi klinis berbasis neuromuskular guna memahami gangguan stabilisasi postural secara komprehensif dan sistematis. Dalam pelatihan tersebut, peserta memperoleh pemahaman mendalam mengenai klasifikasi dan etiologi AIS, skoliosis yang bersifat didapat (acquired scoliosis), hingga berbagai bentuk asimetri postur yang muncul sejak usia anak-anak. Selain itu, dibahas pula prinsip sagittal stabilization pada anak, dewasa, maupun atlet, dengan tujuan mencapai postur optimal sekaligus meningkatkan performa fungsional dan olahraga pada individu dengan skoliosis. “Ini tidak hanya menjadi upaya peningkatan kompetensi profesional sebagai fisioterapis dan akademisi, tetapi juga bagian dari strategi pengembangan pendidikan di Program Studi Fisioterapi UMM. Pengetahuan dan pengalaman internasional yang diperoleh diharapkan dapat diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran, baik pada mata kuliah inti maupun mata kuliah pilihan,” ujarnya Rakhmad. Sebagai bentuk komitmen tersebut, Program Studi S1 Fisioterapi UMM memiliki sejumlah mata kuliah pilihan unggulan yang dirancang sesuai kebutuhan praktik profesional. Salah satunya adalah mata kuliah Dynamic Neuromuscular Stabilization (DNS). Seluruh mata kuliah pilihan dibimbing langsung oleh dosen tersertifikasi, sehingga mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga keterampilan klinis aplikatif yang sesuai dengan standar internasional. Mata kuliah DNS sendiri membekali mahasiswa dengan pemahaman tentang kontrol motorik, stabilisasi postural, serta penerapan DNS dalam berbagai kasus muskuloskeletal. Ketua Program Studi S1 Fisioterapi UMM, Dimas Sondang Irawan, Ph.D., menyampaikan bahwa melalui pengembangan kurikulum berbasis keilmuan mutakhir serta keterlibatan aktif dosen dalam forum internasional, Prodi Fisioterapi UMM terus berupaya mencetak lulusan yang kompeten, adaptif, dan memiliki daya saing global. “Keikutsertaan dosen dalam course DNS internasional ini merupakan bukti nyata komitmen kami dalam menghadirkan pendidikan fisioterapi yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan praktik klinis terkini. Ilmu dan pengalaman yang diperoleh akan kami integrasikan langsung ke dalam proses pembelajaran agar mahasiswa siap menghadapi tantangan profesional di tingkat global,” pungkasnya. (faq)\   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman