Ribuan Mahasiswa PPG UMM Dikukuhkan, Siap Menggerakkan Transformasi Pendidikan Nasional

Sebanyak 3.016 mahasiswa Profesi Guru Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi dikukuhkan dan disumpah, 22 Januari 2026. Ribuan mahasiswa yang hadir secara luring maupun daring itu merupakan bagian dari program PPG Dalam Jabatan bagi Guru Madrasah Mata Pelajaran Umum Batch II Kementerian Agama Tahun 2025. Kegiatan ini sekaligus menjadi komitmen UMM untuk mencetak guru-guru profesional yang unggul. “Mutu pendidikan madrasah tidak ditentukan oleh kurikulum semata, melainkan oleh sejauh mana negara memastikan guru-gurunya berdiri sebagai profesi yang diakui, berkompetensi, dan berkelanjutan,” tegas Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kementerian Agama RI, Dr. Fesal Musaad, M.Pd., dalam paparannya. Menurutnya, peningkatan mutu pendidikan nasional harus dimulai dari penguatan profesionalisme guru madrasah melalui peningkatan kualifikasi, sertifikasi, dan kompetensi yang terintegrasi. Sebab guru merupakan penentu utama keberhasilan pembelajaran dan kualitas lulusan. Sehingga tanpa guru yang kompeten, sejahtera, dan memiliki kepastian status profesional, cita-cita melahirkan generasi Indonesia yang kompetitif dan berakhlak mulia tidak akan tercapai secara optimal. “Peserta didik tidak mungkin mencapai kompetensi tinggi apabila gurunya berkompetensi rendah. Guru adalah kunci dan ujung tombak pembelajaran, sehingga upaya sertifikasi, PPG dalam jabatan, serta penguatan kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian harus dipahami sebagai ikhtiar negara dalam menjamin mutu pendidikan madrasah,” ujarnya. Tonggak profesionalisme guru madrasah juga ditegaskan oleh Ketua Program PPG FKIP Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M.. Ia memandang pengambilan sumpah profesi sebagai fase penting dalam perjalanan pendidik, karena PPG dalam jabatan tidak sekadar proses administratif memperoleh sertifikat pendidik, melainkan bentuk pengakuan resmi atas dedikasi, kompetensi, dan komitmen guru dalam meningkatkan kualitas diri serta mutu pendidikan nasional. “Menjadi pendidik profesional bukan hanya tentang memiliki sertifikat, melainkan komitmen untuk terus belajar, berinovasi, dan mengembangkan diri. Apalagi profesionalisme menuntut penguasaan kompetensi pedagogik, sosial, kepribadian, dan profesional secara utuh yang telah bapak dan ibu buktikan melalui Program PPG dalam Jabatan,” ujarnya. Ia juga menyoroti perubahan lanskap pendidikan di era digital yang menempatkan guru pada tuntutan baru untuk mampu mengintegrasikan teknologi secara bijak dan bermakna. Mengingat peserta didik merupakan generasi digital yang tumbuh bersama teknologi, pembelajaran harus dirancang lebih kontekstual dan menarik tanpa menghilangkan nilai keteladanan dan peran guru sebagai pusat pembelajaran. “Di tengah derasnya arus digitalisasi, peran guru sebagai inspirator dan pembentuk karakter justru semakin penting, dan pendidikan inklusif harus menjadi komitmen bersama karena setiap anak berhak memperoleh pendidikan yang berkualitas demi terwujudnya generasi emas Indonesia 2045 yang tidak hanya cakap secara digital, tetapi juga mulia dalam karakter,” tegasnya. Sementara itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menempatkan pengambilan sumpah profesi guru madrasah sebagai momentum strategis dalam meneguhkan pilihan karier pendidik. Ia juga menegaskan bahwa pendidikan madrasah merupakan bagian integral dari kultur pendidikan bangsa Indonesia dan tidak lagi dapat diposisikan sebagai entitas yang terpisah dari pendidikan umum. Melainkan satu kesatuan strategis dalam sistem pendidikan nasional. “Pendidikan madrasah dan pendidikan umum bukan lagi sebuah dikotomi, tetapi tatanan pendidikan yang menyatu untuk melahirkan manusia Indonesia yang berkarakter, dan yang paling penting adalah bagaimana bapak-ibu merawat niat untuk terus memberikan yang terbaik demi tercapainya cita-cita mulia pendidikan,” ujarnya. Pengukuhan dan pengambilan sumpah profesi guru PPG dalam jabatan ini pada akhirnya tidak hanya menandai berakhirnya satu tahap pendidikan profesi. Tetapi juga membuka babak tanggung jawab baru bagi para guru madrasah mata pelajaran umum untuk menjadi pendidik profesional di era digital, yang berkomitmen pada nilai inklusi, penguasaan kompetensi abad ke-21, dan pengabdian berkelanjutan dalam membangun Generasi Emas Indonesia 2045. (*vin/wil) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Hasssanalwildan Ahmad Zain
Dari UMKM hingga Disabilitas, Inovasi Mahasiswa Teknik Industri UMM Tampil di IE EXPO 2026

Malangpariwara.com — Program Studi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Industrial Engineering Expo (IE EXPO) 2026 pada Rabu (22/1/2026). Acara ini bertempat di GKB 4 lantai 9 UMM, kegiatan ini menjadi ajang pameran karya sekaligus apresiasi atas capaian pembelajaran mahasiswa yang terintegrasi antara riset, perancangan sistem, dan pengembangan produk aplikatif. IE EXPO 2026 menampilkan puluhan karya mahasiswa yang berasal dari mata kuliah Perancangan Sistem Terpadu (PST) dan Perancangan dan Pengembangan Produk (P3). Berbagai inovasi dipamerkan, mulai dari alat pendukung UMKM seperti mesin ekstraksi buah dan roaster kopi, hingga alat pengering gabah bagi petani padi tanpa bergantung pada sinar matahari. Bed Dryer Gabah, salah satu karya inovasi yang dkembangkan oleh Mahasiswa Teknik Industri UMM (Ist) Selain itu, terdapat pula inovasi berupa alat bantu tunanetra yang mampu mendeteksi area sekitar melalui getaran berbasis sensor. Karya-karya tersebut menunjukkan keberpihakan mahasiswa terhadap kebutuhan kelompok masyarakat yang beragam. Ketua Program Studi Teknik Industri UMM, Dr. Dana Marsetiya Utama, M.T., menyampaikan bahwa IE EXPO 2026 menampilkan total 74 produk mahasiswa. Sebanyak 47 produk berasal dari mata kuliah Perancangan Sistem Terpadu dan 27 produk lainnya dari Perancangan dan Pengembangan Produk. “Poster dan produk terbaik akan kami daftarkan Hak Kekayaan Intelektualnya, khususnya hak cipta desain industri. Dengan begitu, karya mahasiswa tidak berhenti sebagai tugas kuliah, tetapi memiliki nilai lanjut dan perlindungan hukum,” jelas Dana. Karya-karyanya dapat Dilanjutkan Menjadi Topik Skripsi Mahasiswa Ia juga menambahkan bahwa hasil pengembangan produk dari mata kuliah P3 dan PST dapat dilanjutkan sebagai topik skripsi mahasiswa. Skema ini memungkinkan mahasiswa mengembangkan penelitian yang telah dirancang tanpa harus memulai dari awal. Dengan adanya pendekatan tersebut, kesinambungan antara pembelajaran, riset, dan inovasi diharapkan dapat terbangun secara lebih terarah dan berkelanjutan. Disamping itu, Wakil Dekan I Fakultas Teknik UMM, Dr. Machmud Effendy, M.Eng., menegaskan bahwa seluruh produk yang dipamerkan merupakan hasil nyata dari proses pembelajaran komprehensif di ruang kelas. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga dilatih membangun pola pikir sistematis dan terintegrasi lintas disiplin. Bed Dryer Gabah, Alat Penjemur Gabah Berbasis Angin Panas Hasil Pembakaran Minyak Bekas (Ist) “Melalui proses ini, mahasiswa dilatih untuk mengenali kebutuhan pengguna, menyusun konsep, mengembangkan desain, hingga melakukan evaluasi kinerja produk secara menyeluruh. Tahapan tersebut membentuk pola pikir mahasiswa agar lebih sistematis, kritis, dan berorientasi pada solusi nyata,” ungkap Effendy. Ia menambahkan bahwa penyelenggaraan IE EXPO selaras dengan visi Fakultas Teknik UMM. Tujuannya untuk mencetak lulusan yang inovatif, adaptif, serta relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan kawasan berbasis industri. Melalui pameran ini, mahasiswa tidak hanya dinilai dari capaian akademik semata. Mereka juga memperoleh ruang untuk berbagi pengetahuan, menerima masukan profesional dari reviewer. Selan itu, mahasiswa diharapkan mampu membangun kepercayaan diri sebagai calon praktisi dan profesional teknik industri. Melalui IE EXPO 2026, Program Studi Teknik Industri UMM berharap pameran karya mahasiswa dapat menjadi sarana pembelajaran kontekstual. Kegiatan ini juga diharapkan menjadi jembatan kolaborasi dengan dunia industri serta wahana pembentukan karakter mahasiswa yang siap terjun sebagai profesional di bidang teknik industri. (Djoko W)
KKN Berdampak: Mahasiswa UMM Gelar Penyuluhan Pendidikan di RSI Aisyiyah Malang

MALANG POST – Sebanyak lima mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang tergabung dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik, melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Rumah Sakit Islam (RSI) Aisyiyah Malang. Kegiatan ini berlangsung selama satu bulan. Mulai 24 November hingga 24 Desember 2025, dengan mengusung semangat “KKN Berdampak.” Program KKN Tematik mahasiswa UMM tersebut, difokuskan pada bidang pendidikan, yang diwujudkan melalui kegiatan penyuluhan kepada pasien, keluarga pasien, serta pengunjung rumah sakit. Penyuluhan dilaksanakan sebagai upaya memberikan edukasi dan meningkatkan pemahaman masyarakat melalui penyampaian informasi yang sederhana, jelas dan mudah dipahami. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa menyampaikan materi penyuluhan secara langsung dengan pendekatan komunikatif dan edukatif. Materi disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan lingkungan rumah sakit, sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik dan memberikan manfaat nyata bagi sasaran. Melalui konsep KKN Berdampak, kegiatan penyuluhan ini tidak hanya berorientasi pada terlaksananya program akan tetapi juga pada dampak positif yang dirasakan oleh masyarakat. Edukasi yang diberikan diharapkan mampu menambah wawasan serta mendorong peningkatan kesadaran akan pentingnya pengetahuan sebagai dasar perilaku yang lebih baik. Pihak RSI Aisyiyah Malang menyambut positif kehadiran mahasiswa KKN Tematik UMM. Antusiasme peserta terlihat dari partisipasi aktif selama kegiatan penyuluhan berlangsung, yang menunjukkan bahwa kegiatan edukatif masih sangat dibutuhkan di lingkungan pelayanan kesehatan. Melalui KKN Tematik dengan semangat KKN Berdampak, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang memperoleh pengalaman berharga dalam menerapkan ilmu yang dimiliki, melatih kemampuan komunikasi, serta meningkatkan kepedulian sosial. Meskipun dilaksanakan oleh tim kecil, kegiatan penyuluhan ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan menjadi kontribusi nyata mahasiswa dalam bidang pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat. (M. Abd. Rachman Rozzi)
Waspada Efek Kemudahan QRIS
RBC Institute AMF Berikan Sentuhan Edukatif di Masjid Baiturrahmah Sawojajar

MALANG, Suara Muhammadiyah – Di tengah derasnya arus gawai yang kian menjauhkan anak-anak dari ruang ibadah, Rumah Baca Cerdas Institute Abdul Malik Fadjar (RBC Institute AMF) bersama Masjid Baiturrahmah Sawojajar, Kota Malang dan santri Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI-AMF) justru menghadirkan wajah berbeda. Masjid tak hanya menjadi tempat salat, tetapi juga ruang belajar yang ramah anak melalui kegiatan literasi dan pembinaan akhlak yang digelar pada 18 Januari 2026. Fokus utama kegiatan tersebut diarahkan pada pembentukan akhlak dan adab anak sebagai fondasi pendidikan sejak dini. Seluruh rangkaian aktivitas dikemas secara sederhana dan menyenangkan agar mudah diterima anak-anak, dengan metode yang meliputi kegiatan berkisah, bermain, permainan edukatif, serta berbagai aktivitas kreatif yang disesuaikan dengan usia dan karakter peserta. Pemilihan lokasi Masjid sebagai pusat peradaban dan ruang pendidikan yang ramah anak, mengingat fenomena anak-anak yang rajin datang ke masjid saat kecil namun cenderung menjauh ketika beranjak dewasa. Oleh karena itu, kegiatan ini dirancang untuk menjaga kedekatan anak dengan masjid sejak usia dini. Koordinator Program RBC Institute Abdul Malik Fadjar, Manda Danastri, menegaskan bahwa kehadiran literasi di masjid menjadi ikhtiar penting untuk menyeimbangkan perkembangan anak di tengah arus digital. “Anak-anak hari ini sangat dekat dengan gawai. Karena itu, masjid perlu dihadirkan sebagai ruang alternatif yang menyenangkan, aman, dan mendidik. Melalui literasi dan pembinaan akhlak, kami ingin anak-anak merasa bahwa masjid adalah rumah belajar yang ramah bagi mereka,” ujarnya. Ia menambahkan, kolaborasi antara ibu-ibu masjid dan pelajar IPM menjadi kekuatan utama dalam program ini. “Gerakan literasi akan lebih berdampak jika dilakukan bersama. Ketika masjid, komunitas, dan pelajar bergerak bersama, pembinaan akhlak dan budaya baca anak dapat tumbuh secara berkelanjutan,” katanya. Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Ranting (PR) Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) PPI-AMF, Azhar Izzudin, mengatakan keterlibatan IPM merupakan bentuk kontribusi pelajar dalam kegiatan sosial dan pendidikan masyarakat. “Kami datang ke sini sebagai relawan untuk membantu kegiatan rutin di masjid. Kami bekerja sama dengan RBC melalui mobil baca, mendampingi adik-adik membaca buku, mengenalkan gambar, dan bermain bersama,” ujar Azhar Izzudin. Ia menambahkan, momen yang paling berkesan bagi relawan adalah saat mendampingi anak-anak membaca buku. “Ada adik-adik yang meminta dibacakan buku dan bertanya tentang gambarnya. Dari situ kami belajar mengenali karakter anak-anak,” katanya. Melalui kolaborasi ibu-ibu Masjid Baiturrahmah, RBC Institute Abdul Malik Fadjar, dan IPM PPI-AMF tingkat ranting, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kebiasaan positif, minat literasi, serta kedekatan anak-anak dengan masjid secara berkelanjutan. (diko)
Dosen UMM Ainur Rifqi Almahdani Rahmat, MM: QRIS di Kalangan Generasi Z Pemicu Terkikisnya Finansial
Malang, hariandialog.co.id.– – Dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ainur Rifqi Almahdani Rahmat, M.M., memperingatkan generasi Z mengenai risiko finansial serius di balik kemudahan transaksi nontunai QRIS pada Selasa (21/1/2026). Fenomena “ilusi digital” ini dinilai menjadi pemicu utama terkikisnya kesadaran finansial anak muda karena hilangnya sensasi kehilangan uang secara fisik. Rifqi menjelaskan bahwa terdapat perbedaan psikologis yang sangat tajam antara penggunaan uang tunai dibandingkan dengan metode pindai kode batang. Saat membayar dengan uang fisik, seseorang secara alami merasakan dompet yang menipis sehingga kontrol diri tetap terjaga secara intuitif. “Secara psikologis, ketika kita mengeluarkan uang fisik, ada sensasi kehilangan yang benar-benar terasa karena fisik uang berpindah tangan dan dompet menipis. Namun saat menggunakan QRIS, perasaan itu cenderung memudar; prosesnya terlalu singkat karena cukup klik, scan, lalu transaksi selesai,” jelas Rifqi. Hilangnya hambatan psikologis ini memicu munculnya fenomena latte factor yang sering tidak disadari oleh kalangan mahasiswa maupun pekerja muda. Pengeluaran kecil rutin seperti kopi kekinian atau jajanan receh sering dianggap remeh, padahal akumulasinya mampu menguras tabungan di akhir bulan secara signifikan. Rifqi menegaskan bahwa diskon sering kali mendorong konsumen membeli barang yang sebenarnya tidak menjadi prioritas kebutuhan mendasar mereka. “Konsumen yang awalnya tidak butuh, akhirnya terdorong membeli hanya karena merasa mendapatkan diskon; padahal secara jangka panjang justru perusahaanlah yang paling diuntungkan,” paparnya, tulis beritajatim. Perilaku ini secara perlahan mengubah pola pikir pengguna sehingga hal yang semula bukan kebutuhan berubah menjadi keinginan konsumtif yang sulit dibendung. “Dalam jangka panjang, perilaku konsumtif naik karena terbentuk kebiasaan baru, sehingga akhirnya terjadi repeat order secara terus-menerus,” tambah Rifqi. Bahaya terbesar dari ketergantungan pada saldo digital adalah terbentuknya mentalitas keuangan yang tidak disiplin karena nilai nominal uang terasa sangat abstrak. Gen Z berisiko tinggi mengalami defisit anggaran karena merasa saldo di m-banking masih mencukupi, meski pengeluaran harian sebenarnya sudah melampaui batas wajar, tulis beritajatim. (nanang-01)
Dosen UMM Soroti Efek QRIS, Pengeluaran Kecil Bisa Jadi Masalah Besar

MALANG, Suara Muhammadiyah – Berbekal kemudahan dalam satu genggaman, sistem pembayaran nontunai QRIS kini menjadi primadona di kalangan mahasiswa Gen Z. Namun, di balik kepraktisan tersebut, tersimpan risiko finansial berupa ilusi digital yang sering kali tidak kasat mata bagi para penggunanya. Dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ainur Rifqi Almahdani Rahmat, M.M., menyoroti fenomena ini sebagai pemicu utama terkikisnya kesadaran finansial anak muda. Rifqi sapaan akrabnya menjelaskan, bahwa secara psikologis, bertransaksi dengan QRIS terasa sangat berbeda dibandingkan dengan mengeluarkan lembaran uang fisik dari dompet. Saat menggunakan uang tunai, seseorang akan merasakan sensasi “kehilangan” yang nyata karena fisik uang benar-benar berpindah tangan dan terlihat berkurang. Sebaliknya, pembayaran digital membuat hambatan psikologis untuk belanja menjadi sangat rendah karena prosesnya yang terlalu instan. Kondisi inilah yang memicu munculnya latte factor, yaitu pengeluaran kecil rutin seperti kopi atau jajanan yang sering dianggap remeh namun berdampak signifikan pada tabungan di akhir bulan. “Secara psikologis, ketika kita mengeluarkan uang fisik, ada sensasi kehilangan yang benar-benar terasa. Namun saat menggunakan QRIS, perasaan itu cenderung memudar karena prosesnya sangat singkat, cukup klik, scan, lalu transaksi selesai,” ungkapnya pada tim humas UMM pada 19 Januari lalu. Sistem QRIS sejatinya memiliki keuntungan besar, seperti kemudahan transaksi tanpa perlu repot membawa uang kembalian dan pencatatan otomatis di aplikasi. Namun, kekurangannya terletak pada kontrol diri yang sering kali melemah akibat iming-iming promo cashback. Ia menjelaskan bahwa promo tersebut merupakan strategi bisnis untuk membentuk kebiasaan belanja yang berkelanjutan (repeat order). Konsumen yang semula tidak butuh, akhirnya terdorong membeli hanya karena merasa mendapatkan diskon, padahal secara jangka panjang justru perusahaanlah yang paling diuntungkan. “Dalam jangka panjang, perilaku konsumtif naik karena terbentuk kebiasaan baru, yang semula bukan kebutuhan menjadi keinginan karena adanya promo, sehingga akhirnya terjadi repeat order secara terus-menerus,” jelasnya. Bahaya jangka panjang dari ilusi saldo digital ini adalah mentalitas keuangan yang menjadi tidak disiplin karena nilai uang terasa lebih abstrak. Tanpa adanya evaluasi berkala, terkhusus Gen Z berisiko mengalami defisit anggaran karena merasa saldonya masih mencukupi padahal pengeluaran harian sudah melampaui batas yang ditentukan. Sebagai langkah antisipasi hal itu, Rifqi menyarankan penggunaan satu aplikasi khusus untuk pembayaran harian. Supaya mempermudah rekapitulasi dan evaluasi pengeluaran bulanan. “Gunakan satu aplikasi khusus untuk transaksi QRIS, lalu biasakan mengecek rekap pengeluaran bulanan agar tujuan keuangan jangka panjang tetap terjaga dan tabungan tidak habis oleh pengeluaran kecil yang sering tidak terasa,” pungkasnya. Strategi ini diharapkan mampu membantu mahasiswa tetap menikmati kemudahan teknologi tanpa harus kehilangan kendali atas kondisi finansial mereka. Dengan perencanaan yang matang, Gen Z tetap bisa menjalani gaya hidup cashless yang bijak sekaligus aman dari jebakan konsumerisme berlebih. (diko)
Beri Kontribusi Nyata Dunia Internasional, UMM Lepas Mahasiswa KKN ke Malaysia

KLIKMU.CO — Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan komitmennya dalam memperluas pengabdian masyarakat ke ranah internasional melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional. Program ini menjadi langkah strategis UMM dalam memperluas kontribusi akademik dan sosial secara global. Pelepasan mahasiswa KKN Internasional ke Penang Malaysia berlangsung Selasa (20/1/2026) di ruang inovasi bidang 4 UMM. Sebanyak empat mahasiswa terpilih secara resmi dilepas dan dijadwalkan berangkat Rabu (21/1/2026). Wakil Rektor IV UMM Muhamad Salis Yuniardi MPsi PhD dalam sambutannya menegaskan bahwa KKN Internasional bukan sekadar pengabdian lintas negara, melainkan bagian dari strategi internasionalisasi UMM yang berbasis nilai dan kebermanfaatan nyata. Mahasiswa yang diberangkatkan membawa tanggung jawab sebagai representasi institusi di ruang global. “KKN Internasional ini menjadi pintu awal bagi UMM untuk menghadirkan pengabdian masyarakat yang tidak hanya berdampak lokal, tetapi juga relevan secara internasional. Mahasiswa diharapkan mampu menunjukkan keunggulan akademik, kepekaan sosial, serta nilai-nilai kemuhammadiyahan dalam konteks lintas budaya,” ungkap Salis. Salis menjelaskan, dalam pelaksanaan KKN Internasional ini, UMM menggandeng PERMAI Malaysia (Persatuan Masyarakat Indonesia di Malaysia) sebagai mitra. Kerja sama ini dipilih karena komunitas PERMAI memiliki ikatan kultural dan emosional kuat dengan Indonesia, sehingga menjadi ruang tepat bagi mahasiswa UMM untuk menjalankan pengabdian berbasis lintas budaya. Sejalan dengan itu, Ketua Lembaga Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UMM Prof Dr Ir Sutawi MP menuturkan bahwa KKN Internasional ini merupakan program perdana yang diinisiasi LPPM sebagai bentuk pengembangan skema pengabdian berbasis internasional. Program difasilitasi Bidang Kerja Sama di bawah koordinasi Wakil Rektor IV. Pada periode 2025–2026, UMM memfokuskan penguatan jejaring pengabdian di kawasan ASEAN, seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura. “Kami memulai dari kawasan terdekat agar model pengabdian ini matang dan terukur. Jika program perdana ini berjalan baik dan berdampak nyata, ke depan jejaring pengabdian UMM akan diperluas hingga luar kawasan ASEAN,” jelasnya. Sementara itu, Kepala Divisi Pengabdian LPPM UMM Dr Arina Restian MPd menyampaikan bahwa mahasiswa KKN Internasional tidak hanya menjalankan kegiatan sosial, tetapi juga menghasilkan luaran akademik yang konkret dan berkelanjutan. Luaran mencakup penyusunan buku sejarah diplomasi Malaysia berbasis komunitas, pengajuan Hak Kekayaan Intelektual dari riset fenomena sosial, serta publikasi artikel. “Kami mendorong mahasiswa menjadikan KKN Internasional sebagai ruang integrasi antara pengabdian, riset, dan publikasi. Pengalaman lintas budaya yang diperoleh diharapkan memberikan kontribusi akademik nyata bagi universitas dan masyarakat,” tuturnya. Ke depannya, UMM berharap jumlah peserta KKN Internasional meningkat seiring meluasnya jejaring mitra luar negeri. Program ini diharapkan menjadi salah satu program unggulan pengabdian internasional UMM yang berkelanjutan dan berorientasi pada solusi nyata. (Faqih/AS)
Super Flu: Viral di Media Sosial, Nyata di Dunia Medis