Ramai Disalahgunakan, Dokter Anestesi UMM Peringatkan Risiko Fatal Gas N₂O

Penggunaan gas Dinitrogen Oksida (N₂O) diluar kepentingan medis dan kuliner dalam pembuatan whipped cream menyimpan risiko kesehatan serius yang tidak bisa dianggap ringan. Dalam dunia medis, gas ini sejatinya merupakan bagian dari praktik anestesi yang penggunaannya dibatasi secara ketat, namun belakangan justru disalahgunakan untuk memperoleh sensasi euforia sesaat. Tanpa pengawasan dokter, N₂O dapat mengganggu proses pertukaran oksigen di paru-paru. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan hipoksia, yakni kekurangan oksigen dalam tubuh yang dapat berujung pada gangguan pernapasan hingga kematian mendadak. “Kandungan dalam gas pembuat whipped cream itu sebenarnya adalah N₂O, yang di medis dikenal sebagai gas tertawa, tetapi efeknya tidak sesederhana tertawa saja. N₂O memicu pelepasan hormon endorfin di dalam tubuh, hormon yang efeknya menyerupai morfin. Efek ini menimbulkan sensasi nyaman, rileks, dan euforia ringan, sehingga sering kali membuat penggunanya merasa aman. Padahal, sensasi tersebut justru menutupi risiko fisiologis yang berbahaya bagi sistem pernapasan,” ujar dr. Shonif Akbar, Sp.An-TI., Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang(UMM) 02 Februari lalu pada Tim Humas UMM. Pria yang juga dokter anestesi dan terapi intensif Rumah Sakit UMM itu menjelaskan bahwa dalam praktik kedokteran, N₂O tidak pernah digunakan secara bebas atau tunggal. Gas ini selalu dikombinasikan dengan oksigen serta anestesi lain dalam dosis terukur untuk menekan efek samping dan menjaga keselamatan pasien. Fungsinya adalah sebagai analgesik untuk meredakan nyeri dan ansiolitik untuk memberikan efek menenangkan, bukan sebagai zat rekreasional. Seluruh proses penggunaannya dilakukan di ruang operasi dengan pemantauan ketat terhadap fungsi pernapasan, kadar oksigen, dan sirkulasi darah pasien. Ia mengatakan jika masalah besar muncul ketika N₂O dihirup 100 persen tanpa campuran oksigen dan tanpa pengawasan dokter. “N₂O memiliki sifat mudah berdifusi dan cepat mengisi ruang kosong contohnya di paru, sehingga saat menggunakan N20 dan penggunaannya N2O dihentikan, N2O yang sudah berada di dalam tubuh akan cepat berdifusi ke keluar tubuh dan menumpuk di paru. Akibatnya oksigen gagal masuk ke dalam aliran darah melalui paru yang penuh dengan N2O. Ketika pertukaran oksigen terganggu, kadar oksigen dalam darah akan turun drastis atau mengalami desaturasi. Dalam hitungan menit, kondisi ini dapat memicu penurunan kesadaran, gangguan pernapasan, hingga henti jantung, terutama pada individu dengan kelainan jantung yang belum terdeteksi sebelumnya,” ujarnya. Fenomena ini juga menunjukkan bagaimana informasi kesehatan kerap tereduksi ketika berpindah ke ruang publik dan media sosial. Gas N₂O yang belum beredar luas di masyarakat tetap berpotensi disalahgunakan ketika dipersepsikan sebagai barang aman dan legal tanpa pemahaman ilmiah yang memadai. Ketiadaan narasi risiko yang kuat membuat praktik ini tampak tidak berbahaya, padahal dampaknya bisa fatal. Kondisi ini memperlihatkan celah besar dalam edukasi kesehatan publik, khususnya terkait zat medis yang penggunaannya sangat spesifik. “Selain risiko jangka pendek, penyalahgunaan N₂O juga berdampak pada kesehatan jangka panjang. Paparan berulang dapat mengganggu metabolisme vitamin B12 yang berperan penting dalam fungsi saraf. Akibatnya, pengguna berisiko mengalami gangguan neurologis seperti nyeri saraf, gangguan otot, hingga kelumpuhan secara perlahan. Dampak ini sering tidak disadari karena muncul dalam jangka waktu lama dan tidak langsung terasa, sehingga banyak pengguna tidak mengaitkan keluhan fisik dengan riwayat paparan gas tersebut,” ujarnya. Dokter anestesi tersebut menegaskan bahwa penggunaan gas seperti N₂O seharusnya hanya dilakukan oleh tenaga medis terlatih dengan pengawasan ketat dan dukungan alat bantu pernapasan. Ia mengingatkan bahwa kegagalan pertukaran oksigen di paru-paru, meskipun hanya berlangsung beberapa menit terutama lebih dari empat menit dapat berakibat fatal, terlebih pada individu dengan gangguan jantung atau pernapasan yang tidak terdeteksi sebelumnya. Karena itu, fenomena whip pink menjadi peringatan penting bahwa sensasi euforia sesaat tidak sebanding dengan risiko kesehatan yang mengancam keselamatan jiwa.(vin/faq) Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Lewat Kuliah Perdana, PPG UMM Tegaskan Komitmen Membangun Pendidikan Inklusif

Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengawali perkuliahan semester ini melalui Kuliah Perdana bertema “Kelas yang Menggembirakan: Menumbuhkan Pemahaman Literasi Keragaman melalui Kolaborasi Lintas Budaya.” Kegiatan yang digelar secara daring pada Sabtu (31/1/2026) ini menjadi langkah awal PPG UMM dalam menyiapkan calon guru yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap keberagaman di ruang kelas. Kuliah perdana tersebut menghadirkan Budi H. Setiamarga, Ph.D., Program Advisor Institut Leimena, sebagai pemateri utama. Dalam paparannya, Budi menyoroti tantangan dunia pendidikan di tengah masyarakat yang semakin majemuk, baik dari sisi budaya, agama, maupun latar belakang sosial. Ia menekankan bahwa kelas perlu dipahami sebagai ruang perjumpaan yang hidup, tempat peserta didik belajar mengenali dan memahami perbedaan secara sadar serta konstruktif. Menurut Budi, pembelajaran yang menggembirakan tidak berarti menghilangkan kedalaman materi. Sebaliknya, pembelajaran perlu dirancang sebagai proses yang aman, inklusif, dan mendorong partisipasi aktif peserta didik. Pendekatan tersebut selaras dengan konsep 3H (Head, Heart, Hand), yakni pembelajaran yang menyentuh aspek kognitif (head), membangun kesadaran nilai dan empati (heart), serta diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kolaborasi dan praktik di kelas (hand). “Guru perlu membangun kelas yang memberi rasa aman bagi siswa untuk bertanya, berdialog, dan bekerja sama. Dari situlah pemahaman tentang keragaman tumbuh secara alami,” ujarnya. Lebih lanjut, Budi menjelaskan bahwa literasi keragaman tidak cukup disampaikan sebagai teori atau wacana normatif semata. Nilai-nilai tersebut harus dihadirkan melalui praktik pembelajaran, seperti kerja kelompok lintas latar belakang, diskusi reflektif, serta pengelolaan perbedaan dan konflik secara edukatif. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya mengetahui adanya perbedaan, tetapi juga mampu menghargai dan menyikapinya secara dewasa. Sementara itu, Ketua Program Studi PPG UMM, Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M., menegaskan bahwa kuliah perdana ini menjadi penanda arah pembelajaran PPG UMM ke depan. Ia menyampaikan bahwa PPG UMM berkomitmen mencetak guru profesional yang unggul secara pedagogik, sekaligus memiliki sensitivitas sosial dan wawasan kebangsaan yang kuat. Menurutnya, kelas yang menggembirakan merupakan prasyarat penting bagi tumbuhnya pemahaman peserta didik. Suasana belajar yang positif, aman, dan inklusif memungkinkan siswa terlibat aktif dalam pembelajaran, berani menyampaikan pendapat, serta terbuka terhadap perbedaan. Dalam konteks ini, peran guru tidak hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator yang membangun relasi dialogis dan menumbuhkan sikap saling menghargai di kelas. “Pembelajaran yang bermakna bukan hanya soal penyampaian materi, tetapi bagaimana guru menciptakan suasana belajar yang memanusiakan, menghargai perbedaan, dan menumbuhkan rasa ingin tahu,” ungkapnya. Ia menambahkan, kolaborasi lintas budaya merupakan salah satu kompetensi kunci yang perlu dimiliki calon guru PPG. Melalui pembelajaran yang reflektif dan kontekstual, mahasiswa PPG UMM diharapkan mampu menerjemahkan nilai toleransi, dialog, dan kebinekaan ke dalam praktik pembelajaran di sekolah. Melalui kuliah perdana ini, PPG UMM menegaskan perannya dalam menyiapkan guru masa depan yang adaptif terhadap dinamika sosial, mampu membangun kelas yang inklusif, serta berkontribusi aktif dalam memperkuat persatuan melalui pendidikan.(ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman