Dokter Anestesi UMM Peringatkan Risiko Fatal Penyalahgunaan Gas N₂O

Sketsamalang.com – Penggunaan gas Dinitrogen Oksida (N₂O) diluar kepentingan medis dan kuliner dalam pembuatan whipped cream menyimpan risiko kesehatan serius yang tidak bisa dianggap ringan. Dalam dunia medis, gas ini sejatinya merupakan bagian dari praktik anestesi yang penggunaannya dibatasi secara ketat, namun belakangan justru disalahgunakan untuk memperoleh sensasi euforia sesaat. Tanpa pengawasan dokter, N₂O dapat mengganggu proses pertukaran oksigen di paru-paru. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan hipoksia, yakni kekurangan oksigen dalam tubuh yang dapat berujung pada gangguan pernapasan hingga kematian mendadak. Kandungan dalam gas pembuat whipped cream itu sebenarnya adalah N₂O, yang di medis dikenal sebagai gas tertawa, tetapi efeknya tidak sesederhana tertawa saja. N₂O memicu pelepasan hormon endorfin di dalam tubuh, hormon yang efeknya menyerupai morfin. “Efek ini menimbulkan sensasi nyaman, rileks, dan euforia ringan, sehingga sering kali membuat penggunanya merasa aman. Padahal, sensasi tersebut justru menutupi risiko fisiologis yang berbahaya bagi sistem pernapasan,” ungkap dr. Shonif Akbar, Sp.An-TI., Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pria yang juga dokter anestesi dan terapi intensif Rumah Sakit UMM itu menjelaskan bahwa dalam praktik kedokteran, N₂O tidak pernah digunakan secara bebas atau tunggal. Gas ini selalu dikombinasikan dengan oksigen serta anestesi lain dalam dosis terukur untuk menekan efek samping dan menjaga keselamatan pasien. Fungsinya adalah sebagai analgesik untuk meredakan nyeri dan ansiolitik untuk memberikan efek menenangkan, bukan sebagai zat rekreasional. Seluruh proses penggunaannya dilakukan di ruang operasi dengan pemantauan ketat terhadap fungsi pernapasan, kadar oksigen, dan sirkulasi darah pasien. Ia mengatakan jika masalah besar muncul ketika N₂O dihirup 100 persen tanpa campuran oksigen dan tanpa pengawasan dokter. N₂O memiliki sifat mudah berdifusi dan cepat mengisi ruang kosong contohnya di paru, sehingga saat menggunakan N20 dan penggunaannya N2O dihentikan, N2O yang sudah berada di dalam tubuh akan cepat berdifusi ke keluar tubuh dan menumpuk di paru. Akibatnya oksigen gagal masuk ke dalam aliran darah melalui paru yang penuh dengan N2O. Ketika pertukaran oksigen terganggu, kadar oksigen dalam darah akan turun drastis atau mengalami desaturasi. “Dalam hitungan menit, kondisi ini dapat memicu penurunan kesadaran, gangguan pernapasan, hingga henti jantung, terutama pada individu dengan kelainan jantung yang belum terdeteksi sebelumnya,” ujarnya. Fenomena ini juga menunjukkan bagaimana informasi kesehatan kerap tereduksi ketika berpindah ke ruang publik dan media sosial. Gas N₂O yang belum beredar luas di masyarakat tetap berpotensi disalahgunakan ketika dipersepsikan sebagai barang aman dan legal tanpa pemahaman ilmiah yang memadai. Ketiadaan narasi risiko yang kuat membuat praktik ini tampak tidak berbahaya, padahal dampaknya bisa fatal. Kondisi ini memperlihatkan celah besar dalam edukasi kesehatan publik, khususnya terkait zat medis yang penggunaannya sangat spesifik. Selain risiko jangka pendek, penyalahgunaan N₂O juga berdampak pada kesehatan jangka panjang. Paparan berulang dapat mengganggu metabolisme vitamin B12 yang berperan penting dalam fungsi saraf. Akibatnya, pengguna berisiko mengalami gangguan neurologis seperti nyeri saraf, gangguan otot, hingga kelumpuhan secara perlahan. “Dampak ini sering tidak disadari karena muncul dalam jangka waktu lama dan tidak langsung terasa, sehingga banyak pengguna tidak mengaitkan keluhan fisik dengan riwayat paparan gas tersebut,” ucapnya. Dokter anestesi tersebut menegaskan bahwa penggunaan gas seperti N₂O seharusnya hanya dilakukan oleh tenaga medis terlatih dengan pengawasan ketat dan dukungan alat bantu pernapasan. Ia mengingatkan bahwa kegagalan pertukaran oksigen di paru-paru, meskipun hanya berlangsung beberapa menit terutama lebih dari empat menit dapat berakibat fatal, terlebih pada individu dengan gangguan jantung atau pernapasan yang tidak terdeteksi sebelumnya. Karena itu, fenomena whip pink menjadi peringatan penting bahwa sensasi euforia sesaat tidak sebanding dengan risiko kesehatan yang mengancam keselamatan jiwa.
Penyalahgunaan Gas N₂O Marak, Dokter Anestesi UMM Ingatkan Ancaman Kesehatan hingga Kematian

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Penggunaan gas dinitrogen oksida (N₂O) di luar keperluan medis dan industri kuliner, khususnya sebagai bahan pembuat whipped cream, menyimpan risiko kesehatan serius yang kerap luput dari perhatian. Dalam dunia kedokteran, N₂O merupakan bagian dari praktik anestesi dengan penggunaan yang sangat ketat dan terkontrol. Namun belakangan, gas ini justru disalahgunakan untuk memperoleh sensasi euforia sesaat. Tanpa pengawasan tenaga medis, paparan N₂O dapat mengganggu proses pertukaran oksigen di paru-paru, memicu hipoksia atau kekurangan oksigen dalam tubuh yang berpotensi berujung pada gangguan pernapasan hingga kematian mendadak. Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dr. Shonif Akbar, Sp.An-TI., menjelaskan bahwa gas yang terkandung dalam tabung whipped cream sejatinya adalah N₂O, yang dalam dunia medis dikenal sebagai “gas tertawa”. Namun, menurutnya, efek N₂O tidak sesederhana yang dibayangkan masyarakat. “N₂O memicu pelepasan hormon endorfin, hormon yang efeknya menyerupai morfin. Inilah yang menimbulkan sensasi nyaman, rileks, dan euforia ringan. Sensasi tersebut sering kali membuat pengguna merasa aman, padahal justru menutupi risiko fisiologis yang berbahaya bagi sistem pernapasan,” jelasnya saat diwawancarai Tim Humas UMM, 2 Februari lalu. Dokter anestesi dan terapi intensif di Rumah Sakit UMM itu menegaskan bahwa dalam praktik kedokteran, N₂O tidak pernah digunakan secara bebas atau tunggal. Gas tersebut selalu dikombinasikan dengan oksigen dan anestesi lain dalam dosis terukur. Penggunaannya pun dilakukan di ruang operasi dengan pemantauan ketat terhadap pernapasan, kadar oksigen, dan sirkulasi darah pasien. Fungsi N₂O dalam dunia medis adalah sebagai analgesik untuk meredakan nyeri dan ansiolitik untuk memberikan efek menenangkan, bukan sebagai zat rekreasional. Masalah serius muncul ketika N₂O dihirup dalam kadar 100 persen tanpa campuran oksigen dan tanpa pengawasan dokter. Menurut dr. Shonif, N₂O memiliki sifat mudah berdifusi dan cepat mengisi ruang kosong, termasuk di paru-paru. “Saat penggunaan N₂O dihentikan, gas yang telah masuk ke dalam tubuh akan berdifusi keluar dengan cepat dan menumpuk di paru-paru. Kondisi ini membuat oksigen gagal masuk ke aliran darah karena paru-paru sudah dipenuhi N₂O,” paparnya. Akibat terganggunya pertukaran oksigen tersebut, kadar oksigen dalam darah dapat turun drastis atau mengalami desaturasi. Dalam hitungan menit, kondisi ini bisa menyebabkan penurunan kesadaran, gangguan pernapasan, hingga henti jantung, terutama pada individu yang memiliki gangguan jantung laten yang belum terdeteksi sebelumnya. Fenomena penyalahgunaan N₂O juga mencerminkan bagaimana informasi kesehatan kerap tereduksi ketika masuk ke ruang publik dan media sosial. Gas ini kerap dipersepsikan sebagai barang legal dan aman, tanpa pemahaman ilmiah yang memadai mengenai risikonya. Minimnya narasi risiko membuat praktik tersebut tampak tidak berbahaya, padahal dampaknya bisa fatal. Hal ini menunjukkan masih adanya celah besar dalam edukasi kesehatan publik, khususnya terkait zat medis dengan penggunaan yang sangat spesifik. Selain risiko jangka pendek, dr. Shonif juga mengingatkan dampak jangka panjang dari penyalahgunaan N₂O. Paparan berulang dapat mengganggu metabolisme vitamin B12 yang berperan penting dalam fungsi saraf. “Akibatnya, pengguna berisiko mengalami gangguan neurologis seperti nyeri saraf, gangguan otot, hingga kelumpuhan yang terjadi secara perlahan. Dampak ini sering tidak disadari karena muncul dalam jangka panjang dan tidak langsung terasa,” tambahnya. Ia menegaskan bahwa penggunaan gas medis seperti N₂O seharusnya hanya dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih dengan pengawasan ketat serta dukungan alat bantu pernapasan yang memadai. Gangguan pertukaran oksigen di paru-paru, meski hanya berlangsung beberapa menit—terutama lebih dari empat menit—dapat berakibat fatal, khususnya pada individu dengan gangguan jantung atau pernapasan yang tidak terdeteksi sebelumnya. Oleh karena itu, fenomena penyalahgunaan gas whipped cream atau whip pink menjadi peringatan penting bahwa sensasi euforia sesaat tidak sebanding dengan risiko kesehatan yang dapat mengancam keselamatan jiwa. (*)
Berdayakan PMI Purna di Blitar, Dosen UMM Inisiasi Kelompok Usaha Ecoprint

Liputanjatim.com – Tim Dosen Univeristas Muhammadiyah Malang (UMM) berinisiasi membentuk kelompok usaha batik ecoprint bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) purna dinilai sebagai langkah strategis dalam mendorong kemandirian ekonomi berbasis komunitas. Dosen asal UMM Tutik Sulistyowati ini menegaskan bahwa kegiatan ini dirancang bukan hanya sebagai pelatihan keterampilan, tetapi sebagai skema pemberdayaan jangka panjang yang berorientasi pada dampak nyata bagi masyarakat desa. Menurut Tutik, pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa usaha yang dikelola secara individual sering kali menemui berbagai kendala, mulai dari keterbatasan modal, akses pasar, hingga keberlanjutan produksi. Kondisi inilah yang melatarbelakangi pendekatan berbasis kelompok sebagai model yang lebih berdaya guna. “Oleh karena itu, pendekatan usaha berbasis kelompok akan lebih efektif karena memungkinkan untuk bekerjasama, membagi peran, serta penguatan solidaritas sosial. Jadi, ini akan menjadi ruang untuk saling mendukung dan berkembang bersama,” jelas Tutik di Balai Desa Tapakrejo Blitar, Rabu (4/2/2026). Sebagai langkah antisipatif agar usaha tidak berhenti di tengah jalan, tim pendamping menerapkan sistem belajar kolektif dalam pengelolaan keuangan, pengambilan keputusan, dan perencanaan bisnis jangka panjang. Model ini diharapkan mampu membangun kapasitas anggota kelompok secara berkelanjutan. Pemilihan ecoprint sebagai fokus usaha juga bukan tanpa alasan. Teknik ini dinilai ramah lingkungan, memanfaatkan sumber daya lokal, serta memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai usaha rumahan yang bernilai ekonomi tinggi. “Ecoprint bukan sekadar produk seni, tetapi juga memiliki potensi yang menjanjikan jika dikelola secara kolektif dan berkelanjutan,” ujar Tutik. Dalam praktiknya, anggota kelompok menerapkan sistem produksi bersama dengan pembagian tugas yang lebih terstruktur, mulai dari penyediaan bahan baku, proses pembuatan, hingga strategi pemasaran. Ke depan, program ini akan diperkuat dengan pendampingan lanjutan, pengembangan inovasi produk, serta pemanfaatan platform digital untuk memperluas jangkauan pasar. “Bagaimana pun, strategi digitalisasi ini menjadi penting agar produk batik ecoprint mampu bersaing dan menjangkau konsumen yang lebih luas,” kata ketua tim tersebut. Pemerintah desa menyambut positif inisiatif ini dan berkomitmen memberikan dukungan agar kelompok usaha dapat berjalan konsisten serta berkontribusi pada peningkatan ekonomi lokal. “Tentunya, dukungan desa menjadi modal sosial yang penting agar kelompok usaha ini tumbuh sebagai penggerak ekonomi lokal. Apabila dikelola dengan pendampingan berkelanjutan, kelompok usaha batik ecoprint dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat desa secara lebih luas. Jadi, tidak hanya berkontribusi pada peningkatan pendapatan PMI purna saja,” Tutik menerangkan. Tutik menegaskan bahwa pembentukan kelompok usaha dan pelatihan ecoprint merupakan fondasi awal pemberdayaan masyarakat. Keberlanjutan melalui pendampingan, inovasi, dan digitalisasi menjadi kunci agar program ini benar-benar memberikan dampak sosial-ekonomi yang berkelanjutan bagi PMI purna dan masyarakat desa.
Menapaki Jalan Pengabdian dari Keperawatan ke Militer, Alumnus UMM Berkiprah sebagai Perwira TNI

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Lulusan bidang kesehatan tidak selalu menapaki karier di rumah sakit atau fasilitas layanan medis. Bagi sebagian alumni, bekal keilmuan dan nilai yang diperoleh selama perkuliahan justru mengantarkan mereka pada ruang pengabdian yang lebih luas. Salah satunya adalah Letda Ckm Rizki Hasan Hafizdin, S.Kep., Ns., alumnus Program Studi Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang memilih jalur pengabdian sebagai Perwira Tentara Nasional Indonesia (TNI) usai menyelesaikan pendidikan profesi pada 2024. Dalam menjalankan perannya sebagai perwira kesehatan, Rizki merasakan bahwa penguasaan soft skill menjadi aspek yang tak kalah penting dibandingkan kompetensi teknis keperawatan. Kemampuan komunikasi, kepemimpinan, serta public speaking yang terasah sejak masa kuliah—baik melalui presentasi akademik maupun kegiatan organisasi—dirasakannya sangat membantu dalam pelaksanaan tugas di lapangan. Menurutnya, kesiapan mental, kondisi fisik yang prima, dan niat yang kuat merupakan fondasi utama bagi mahasiswa yang ingin berkarier di lingkungan militer. Ia menilai bahwa keterampilan teknis dapat terus diasah seiring waktu, namun karakter dasar harus dibangun melalui proses panjang sejak masih berada di bangku perkuliahan. “Kuncinya ada di niat, mental, dan fisik. Kalau itu sudah kuat, hal-hal lain bisa dipelajari. Kampus memberi ruang untuk proses itu, tinggal bagaimana kita memanfaatkannya,” ujarnya. Rizki juga menegaskan bahwa UMM tidak hanya berperan sebagai institusi akademik, tetapi menjadi ruang pembentukan karakter yang mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia pengabdian dengan tuntutan disiplin dan ketahanan mental yang tinggi. Ia menilai sistem pembelajaran di Program Studi Keperawatan UMM mampu mengintegrasikan penguasaan akademik dengan pembentukan sikap profesional. Dukungan dosen, lingkungan fakultas yang kondusif, serta kultur akademik yang terjaga dinilainya menjadi fondasi penting selama proses pendidikan. Komitmen UMM dalam menjaga mutu pendidikan pun tercermin dari akreditasi program studi serta pendekatan pembelajaran yang adaptif terhadap kebutuhan dunia kerja. “Selama kuliah, kami tidak hanya dituntut memahami teori keperawatan, tetapi juga dibiasakan disiplin, bertanggung jawab, dan tepat waktu. Kebiasaan-kebiasaan kecil ini sangat terasa manfaatnya ketika saya masuk ke lingkungan TNI,” ungkapnya. Tak hanya di bidang akademik, pengalaman berorganisasi turut membentuk kematangan diri Rizki. Ia pernah mengemban amanah sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMFA). Peran tersebut, menurutnya, menjadi sarana penting dalam melatih kepemimpinan, kemampuan komunikasi, serta pengelolaan dinamika tim yang beragam. Melalui aktivitas organisasi, ia belajar berinteraksi dengan berbagai pihak, mulai dari mahasiswa hingga pimpinan fakultas. Proses berdiskusi, menyelesaikan konflik, membangun kerja sama, serta menjaga etika komunikasi menjadi bekal berharga yang kini relevan dengan tugasnya sebagai perwira kesehatan di lingkungan militer. “Organisasi itu mendewasakan. Kita belajar problem solving, public speaking, dan mengelola emosi. Hal-hal ini sangat terpakai, terutama ketika bekerja dalam sistem yang hierarkis dan penuh tanggung jawab seperti di TNI,” jelasnya. Menutup kisahnya, Rizki berpesan kepada mahasiswa UMM agar tidak ragu untuk aktif di luar kelas dan menjalani proses pembelajaran dengan sungguh-sungguh. Ia menilai perpaduan antara prestasi akademik dan pengalaman organisasi menjadi nilai tambah yang membentuk kesiapan lulusan dalam menghadapi tantangan dunia kerja dan pengabdian. “UMM selalu berusaha mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasarnya. Itu yang membuat lulusannya siap bersaing dan berkontribusi di berbagai bidang,” pungkasnya.(*)
Industri Hiburan Kian Marak, Sosiolog UMM Pertanyakan Status Malang sebagai Kota Pendidikan

KLIKMU.CO – Identitas Kota Malang sebagai kota pendidikan kini berada di titik persimpangan serius. Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan pesat industri hiburan malam, kafe, dan ruang rekreasi komersial membentuk wajah baru kota yang kian lekat dengan budaya hiburan. Fenomena ini bahkan merambah kawasan yang berdekatan langsung dengan fasilitas pendidikan. Pergeseran tersebut tidak hanya mengubah lanskap fisik kota, tetapi juga membawa konsekuensi sosial yang memengaruhi iklim akademik, karakter mahasiswa, serta relasi sosial di lingkungan kampus. Dalam perspektif sosiologis, kondisi ini mencerminkan tarik-menarik antara kepentingan ekonomi perkotaan, kebutuhan rekreatif mahasiswa, dan melemahnya peran institusi pendidikan sebagai ruang hidup intelektual dan sosial. Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Wahyudi Winarjo MSi menilai Malang sejak lama dikenal sebagai kota dengan identitas majemuk yang terus berkembang. “Dulu Malang dikenal sebagai kota ribina cita, mulai dari kota industri, kota pendidikan, hingga kota pariwisata. Besarnya jumlah mahasiswa dan pendatang dari berbagai daerah menjadikan Malang sebagai ruang sosial yang dinamis. Namun, mahasiswa tidak hanya membawa kebutuhan akademik, melainkan juga kebutuhan ruang rekreatif yang memberi rasa senang, nyaman, dan bahagia sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujarnya, Kamis (30/1/2026). Lebih lanjut, Wahyudi menjelaskan bahwa dalam jangka panjang kondisi tersebut berpotensi memicu tumbuhnya budaya hedonisme sekaligus melemahkan kontrol sosial di kalangan mahasiswa. Ketika ruang rekreasi sepenuhnya berada di luar kampus dan dikendalikan oleh logika pasar, nilai akademik dan moral tidak lagi menjadi rujukan utama. Sebaliknya, standar perilaku cenderung diukur secara individual dan subjektif. “Ketika kontrol sosial melemah, seseorang akan menilai baik dan buruk berdasarkan ukuran dirinya sendiri. Dalam situasi seperti ini, mahasiswa berpotensi kehilangan orientasi akademik karena lebih terdorong pada pencarian kesenangan instan dibandingkan proses intelektual yang menuntut kedisiplinan dan kesabaran,” tegasnya. Dampak lanjutan dari fenomena tersebut terlihat pada menurunnya kualitas akademik dan terjadinya pendangkalan intelektual. Mahasiswa cenderung kehilangan fokus belajar, lupa waktu, serta mengabaikan tanggung jawab akademik. Akibatnya, kampus tidak lagi berfungsi optimal sebagai pusat pembentukan kompetensi dan keilmuan yang kuat. Kondisi ini, menurutnya, tidak terlepas dari lemahnya regulasi pemerintah daerah dalam mengendalikan pertumbuhan industri hiburan yang terlalu berorientasi pada keuntungan ekonomi. “Ekonomi memang harus tumbuh, tetapi tidak boleh mengorbankan pendidikan dan moral. Tanpa penataan serius dan dialog antara kampus, pemerintah, dan masyarakat, dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan Malang berisiko menjadi kota dengan relasi sosial yang terkomodifikasi,” jelasnya. Ia juga menyoroti menyempitnya ruang ekspresi rekreatif yang disediakan kampus sebagai salah satu faktor utama pergeseran identitas tersebut. Aktivitas mahasiswa di lingkungan kampus cenderung terpusat pada kegiatan akademik dan formal, sementara ruang nonformal untuk mengekspresikan diri secara santai semakin terbatas. Kondisi ini mendorong mahasiswa mencari alternatif ruang di luar kampus yang justru disediakan oleh industri hiburan berbasis pasar. “Kampus seharusnya tidak hanya menjadi tempat berpikir ilmiah, tetapi juga ruang untuk bernyanyi, berdiskusi santai, berpuisi, atau sekadar melepas kepenatan. Ruang-ruang ini perlu dikelola dengan pengawasan dan aturan yang jelas agar tetap sehat secara sosial dan moral, tanpa mematikan kebebasan berekspresi mahasiswa,” tambahnya. Dia menegaskan pentingnya penguatan ruang publik kampus, regulasi tegas dari pemerintah daerah, serta kolaborasi lintas institusi sebagai langkah strategis menjaga identitas Kota Malang. Tanpa pengendalian sosial yang jelas dan dialog berkelanjutan antara perguruan tinggi dan pemangku kebijakan, identitas Malang sebagai kota pendidikan berisiko terus terkikis dan bergeser menjadi sekadar kota konsumsi. (Faqih/AS)
Berjaya, Karate UMM Borong Enam Medali di Kejuaraan Nasional

Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tim Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karate UMM berhasil memborong enam medali dalam ajang Kejuaraan Karate STKIP Pasundan Open Tournament Series II 2026 Piala Kemenpora. Kompetisi itu digelar di Bandung dan diikuti lebih dari 1.200 atlet dari berbagai daerah di Indonesia. Pada kejuaraan tingkat nasional tersebut, kontingen UMM sukses membawa pulang empat medali perak dan dua medali perunggu. Capaian ini diraih oleh enam atlet dari lintas program studi yang menunjukkan bahwa prestasi olahraga di UMM tumbuh seiring dengan keberagaman latar akademik mahasiswa. Adapun para peraih medali kontingen UMM antara lain Arif Tri Dermawan (Manajemen) yang berhasil meraih Juara 2 Kumite Perorangan Senior Putra. Prestasi berlanjut melalui nomor Kata Beregu Senior Putri yang sukses mengantarkan Miranti Eka Pranejia (Manajemen), Khoirun Nisa Mufadilah (Ekonomi Pembangunan), dan Artika Atha Thaworn Thanyalak (Teknologi Pangan) meraih Juara 2. Sementara itu, Miranti Eka Pranejia kembali menyumbang medali dengan meraih Juara 3 Kata Perorangan Senior Putri, serta Ilma Mazida (Teknologi Pangan) yang mengamankan Juara 3 Kumite Perorangan Senior Putri. Miranti, salah satu peraih medali, mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya atas hasil yang diraih tim UKM Karate UMM. Ia menegaskan bahwa pencapaian ini bukan hanya tentang medali. Namun juga tentang proses panjang yang dilalui bersama tim. “Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dan bangga karena bisa mempersembahkan hasil terbaik, tidak hanya untuk diri sendiri dan orang tua, tetapi juga untuk Universitas Muhammadiyah Malang,” ujarnya. Menurut Mira, tantangan terbesar dalam kejuaraan ini adalah menjaga fokus dan kekompakan, terutama bagi atlet yang turun di lebih dari satu kelas. Tekanan mental dan fisik menjadi ujian tersendiri mengingat ketatnya persaingan antar atlet dari berbagai daerah. “Bertanding di nomor perorangan dan beregu menuntut kami untuk pandai membagi fokus, menjaga komunikasi tim, serta tetap percaya diri di tengah tekanan pertandingan,” jelasnya. Ia juga menekankan bahwa kunci keberhasilan tim terletak pada disiplin latihan dan kebersamaan yang terus dijaga sejak masa persiapan. Intensitas latihan yang tinggi, termasuk latihan penuh menjelang keberangkatan, menjadi bagian dari komitmen seluruh atlet meskipun harus berbagi waktu dengan aktivitas akademik. Dukungan kampus turut berperan besar dalam pencapaian ini. UMM memberikan kemudahan izin akademik dan motivasi. Dukungan fasilitas pun disiapkan secara optimal, mulai dari transportasi hingga akomodasi selama kejuaraan berlangsung. Dengan dukungan tersebut, para atlet dapat bertanding dengan aman, nyaman, dan fokus memberikan performa terbaik. Kepala Bagian Minat dan Bakat Kemahasiswaan UMM, Ir. Ary Bakhtiar, SP., M.Si., IPM., ASEAN Eng., menyampaikan apresiasi atas prestasi UKM Karate UMM. Ia menilai capaian ini sebagai wujud nyata pembinaan kemahasiswaan yang berkelanjutan. “Prestasi ini menjadi salah satu bukti keberhasilan pembinaan minat dan bakat mahasiswa, sekaligus ajang penjaringan atlet potensial yang akan dipersiapkan menuju kompetisi seperti Pomprov dan Pomnas,” tuturnya. Ia juga menambahkan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari peran pelatih dan semangat konsisten para atlet dalam berlatih dan bertanding. Dengan capaian tersebut, UKM Karate UMM diharapkan dapat terus meningkatkan prestasi dan mengharumkan nama kampus di level nasional hingga internasional. (*ali/wil) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Hassanalwildan Ahmad Zain
Perkuat Ketahanan Pangan di Tengah Cuaca Tak Menentu, Mahasiswa UMM Kembangkan Bed Dryer Pengering Gabah

Ketergantungan petani pada sinar matahari kerap berujung pada turunnya kualitas panen, terutama saat musim hujan ketika proses penjemuran tidak berjalan optimal. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan inovasi bed dryer, sebuah teknologi pengeringan gabah yang dirancang lebih efektif dan stabil untuk menjaga mutu hasil panen di tengah cuaca yang semakin tidak menentu. Bed dryer tersebut digagas oleh Malikul Arifin, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2022 asal Jombang, bersama timnya. Melalui penelitian lapangan, Malikul melihat langsung kesulitan petani dalam mengeringkan gabah saat musim hujan. Cuaca yang tidak stabil membuat proses penjemuran tradisional menjadi kurang optimal dan berisiko menurunkan kualitas hasil panen. “Waktu kami melakukan penelitian di Desa Ampeldento, Karangploso, Kabupaten Malang, kebetulan sedang musim hujan. Dari situ kami melihat pengeringan gabah secara manual kurang efektif. Akhirnya kami berinisiatif merancang bed dryer sebagai solusi,” ujar Malikul kepada Tim Humas UMM, 1 Februari lalu. Alat ini bekerja dengan memanfaatkan panas dari pembakaran minyak jelantah yang dikombinasikan dengan kain dan tisu sebagai media pembakaran. Kombinasi tersebut menghasilkan panas yang lebih stabil, sehingga proses pengeringan dapat berlangsung merata dan berkelanjutan. Tak hanya untuk gabah padi, bed dryer ini juga berpotensi digunakan untuk mengeringkan berbagai hasil pertanian lainnya. “Selain gabah, alat ini bisa dimanfaatkan untuk biji-bijian lain seperti jagung dan kopi, sehingga manfaatnya lebih luas,” jelas Malikul. Dalam proses pengembangannya, tim menghadapi sejumlah tantangan, terutama pada tahap pengelasan dan pemilihan material. Mereka harus memastikan bahan yang digunakan tepat agar hasil pengelasan optimal. “Kami sempat kesulitan karena ada kombinasi bahan besi dan aluminium, sehingga proses pengelasan harus dilakukan dengan sangat hati-hati,” ungkapnya. Saat ini, bed dryer yang dikembangkan masih berupa prototipe berskala 1:10 dari ukuran sebenarnya. Meski demikian, prototipe tersebut telah melalui tahap uji coba dan menunjukkan kinerja yang menjanjikan. Hasil pengujian menunjukkan alat ini mampu menurunkan kadar air gabah hingga berada pada kisaran ideal, yakni 12–14 persen. Ke depan, bed dryer ini dirancang untuk direalisasikan dalam skala penuh dengan kapasitas pengeringan sekitar 500 kilogram gabah dalam waktu kurang lebih delapan jam, menggunakan suhu optimal 40–50 derajat Celsius. Dosen pembimbing, Dr. Thomy Eko Saputro, S.T., M.Sc., memberikan apresiasi atas capaian mahasiswa tersebut. Menurutnya, inovasi bed dryer merupakan wujud nyata kemampuan mahasiswa dalam mengintegrasikan kompetensi teknik untuk menjawab kebutuhan masyarakat. “Saya mengapresiasi mahasiswa Capstone Design yang berhasil merancang bed dryer sebagai solusi nyata bagi permasalahan UMKM. Karya ini menunjukkan kemampuan dalam mengidentifikasi kebutuhan pengguna, merancang sistem, memilih material, hingga menguji fungsi alat secara teknis,” tuturnya. Ia juga menilai karya ini mencerminkan peran seorang engineer sebagai problem solver yang mampu menghadirkan solusi aplikatif dan relevan. Ke depan, ia berharap alat tersebut dapat terus dikembangkan dari berbagai aspek, mulai dari efisiensi energi, ergonomi, hingga kesiapan implementasi di lapangan. “Harapannya, karya ini tidak berhenti sebagai prototipe akademik, tetapi dapat dikembangkan melalui kerja sama dengan UMKM, inkubasi produk, dan hilirisasi riset agar siap digunakan secara luas,” tambahnya. Melalui inovasi bed dryer ini, mahasiswa Teknik Industri UMM tidak hanya menghasilkan karya akademik, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi sektor pertanian. Inovasi tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi antara ilmu pengetahuan, kepedulian sosial, dan semangat berkarya mampu melahirkan teknologi tepat guna yang berdampak langsung bagi masyarakat.(rik/faq) Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman