Dulu Aktivis UMM, Begini Kisah Mantan Menhan Timor-Leste Pulang ke Kampus Putih Rampungkan Doktoral

Perjalanan akademik Julio Tomas Pinto seolah kembali ke titik awal. Setelah lama berkecimpung di dunia politik dan pemerintahan Timor-Leste, ia kembali ke bangku kampus tempat masa mudanya ditempa, yakni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Di kampus itulah ia akhirnya meraih gelar doktor melalui riset tentang transformasi militer negaranya. Bagi Julio, UMM bukan sekadar tempat belajar. Ia menyebut kampus di Kota Malang itu sebagai rumah kedua yang membentuk perjalanan intelektual dan kepemimpinannya. “Saya sudah tahu tradisi akademik di kampus ini, jadi tidak ada alasan untuk tidak memilih UMM,” ujarnya 14 Februari lalu saat gala dinner dengan pimpinan UMM. Julio pertama kali datang ke Malang pada 1993 sebagai mahasiswa Ilmu Pemerintahan. Di masa itu, ia dikenal aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dan Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi. Aktivitas organisasi tersebut menjadi ruang belajar politik sekaligus kepemimpinan yang kelak membawanya masuk ke pemerintahan Timor-Leste. Setelah lulus pada 1998, Julio melanjutkan studi Magister Ilmu Politik di Universitas Indonesia. Minatnya pada isu pertahanan dan keamanan semakin kuat seiring perjalanan bangsanya menuju negara merdeka. Ia kemudian terlibat langsung dalam pemerintahan dan pernah dipercaya menjadi Menteri Muda Pertahanan. Kini ia juga menjabat penasihat Presiden Timor-Leste José Ramos-Horta serta anggota Dewan Tinggi Pertahanan dan Keamanan. Meski aktif di dunia politik, Julio tidak pernah benar-benar meninggalkan dunia akademik. Ia mengajar di beberapa universitas dan menulis sejumlah buku mengenai keamanan nasional serta hubungan sipil–militer. Kerinduan untuk kembali belajar akhirnya membawanya pulang ke UMM. Ia memilih menempuh program doktoral dengan fokus pada sosiologi militer di bawah bimbingan Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP. Pilihan itu bukan tanpa alasan. Julio ingin meneliti perjalanan militer negaranya sendiri, terutama transformasi pasukan gerilya FALINTIL menjadi angkatan bersenjata nasional Falintil–Forças de Defesa de Timor-Leste (F-FDTL). “Saya kembali ke UMM karena sudah mengenal kultur akademiknya. Selain itu, saya memang tertarik meneliti sosiologi militer dan ingin belajar langsung dari pak Muhadjir Effendy,” kata Julio. Dalam penelitiannya, ia menyoroti bagaimana profesionalisme militer dibangun dalam konteks negara kecil yang baru keluar dari konflik. Menurutnya, profesionalisme militer tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga merupakan praktik sosial yang dipengaruhi sejarah, budaya, serta relasi kekuasaan. “Tidak ada model transformasi profesionalisme militer yang tunggal. Negara kecil pascakonflik seperti Timor-Leste memiliki caranya sendiri dalam membangun tentara nasional,” jelasnya. Dari riset tersebut, Julio merumuskan konsep professionalismo militar híbrido, yakni model profesionalisme militer yang memadukan dimensi historis, politik, institusional, hingga relasi internasional. Selama penelitian, ia mengaku relatif mudah memperoleh data karena memiliki kedekatan dengan banyak tokoh penting di negaranya, termasuk Perdana Menteri Xanana Gusmão. Ujian doktornya di Malang pun terasa istimewa. Sejumlah pejabat tinggi Timor-Leste hadir menyaksikan sidang promosi tersebut. Kehadiran mereka menjadi simbol dukungan terhadap kontribusi akademik yang diharapkan bermanfaat bagi negara tersebut. Bagi Julio, gelar doktor bukan sekadar pencapaian pribadi. Ia berharap penelitian tersebut dapat memberikan kontribusi nyata bagi penguatan profesionalisme militer serta kebijakan keamanan di Timor-Leste. “Secara teoritik riset ini memperkaya kajian sosiologi militer, dan secara praktis bisa membantu reformasi sektor keamanan yang lebih sesuai dengan konteks sosial dan sejarah negara kami,” tutupnya.(faq)     Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Sensasi Berbuka di Atas Kapal Pesiar, Kapal Garden Hotel Malang by UMM Luncurkan “Ramadhan – Feast of Harmony

Berbuka puasa serasa berada di atas kapal pesiar menjadi daya tarik utama yang ditawarkan salah satu unit bisnis Universitas Muhammadiyah Malang, yakni Kapal Garden Hotel Malang by Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Ramadhan tahun ini. Hotel tersebut telah resmi meluncurkan menu buka puasa terbarunya dalam tajuk “Ramadhan – Feast of Harmony”. Mengusung konsep soft launching dan test food menu iftar. Acara ini dihadiri perwakilan instansi, mitra perbankan, pemerintah setempat, media, serta influencer yang turut menyaksikan dan mencicipi langsung sajian yang ditawarkan. Konsep kapal pesiar yang diangkat bukan sekadar dekorasi tematik. Secara arsitektural, Kapal Garden Hotel memang dirancang menyerupai kapal besar, sehingga identitas tersebut menjadi kekuatan utama dalam membangun pengalaman ruang bagi pengunjung. Sensasi berbuka di kapal pesiar semakin terasa karena kegiatan iftar dilangsungkan di area rooftop hotel. Dari ketinggian tersebut, tamu dapat menikmati panorama sekitar sembari merasakan hembusan angin yang cukup kencang, menciptakan suasana yang imersif layaknya berada di dek kapal. Penataan meja, tata cahaya, hingga alur penyajian menu dirancang selaras dengan konsep tersebut agar pengalaman berbuka tidak hanya soal rasa, tetapi juga atmosfer. Menu yang dihadirkan memadukan cita rasa lokal, nusantara, dan Timur Tengah. Sajian pembuka terdiri atas kurma, infus water, es dawet dengan santan premium, serta kolak pisang yang identik dengan Ramadan. Hidangan utama meliputi nasi putih, sup merah khas Surabaya, ayam bakar bumbu hitam berbahan kluwek khas Madura, bakso Malang, hingga mie ayam berkuah segar. Sentuhan Timur Tengah dihadirkan melalui signature Arus Briyani serta aneka gorengan dengan cocolan petis. Seluruh hidangan diperkenalkan melalui sesi live cooking bersama Chef Kusman yang menjelaskan bahan, teknik pengolahan, serta karakter rasa kepada para tamu undangan. Dalam sambutannya, Manager Kapal Garden Hotel Malang, Teguh Hadi Saputro, menyampaikan bahwa peluncuran menu iftar ini merupakan bagian dari komitmen hotel sebagai unit bisnis UMM untuk terus berinovasi dalam layanan hospitality. Ia menegaskan bahwa Ramadan menjadi momentum penting untuk menghadirkan pengalaman berbuka yang tidak hanya berorientasi pada sajian kuliner, tetapi juga pada nilai kebersamaan dan harmoni. Kehadiran para tamu undangan dinilainya sebagai bentuk dukungan strategis dalam memperkenalkan identitas Kapal Garden yang unik kepada masyarakat Malang Raya. “Pada Rabu, 11 Februari 2026 lalu, kami meluncurkan menu iftar dengan tema Ramadhan Feast of Harmony. Konsep ini kami angkat karena hotel kami memang berbentuk kapal, sehingga kami ingin menghadirkan pengalaman berbuka layaknya berada di kapal pesiar, terlebih lokasinya di rooftop yang memberikan suasana dan angin yang khas. Kami berharap momentum ini menjadi awal kolaborasi yang semakin baik, serta menjadikan Kapal Garden sebagai pilihan utama untuk berbuka puasa bersama keluarga, kolega, maupun komunitas,” ujarnya. Salah satu peserta yang hadir, Vivin Dwi Oktavia, mengaku konsep tersebut memberikan pengalaman berbeda dibandingkan tempat berbuka puasa lainnya di Malang. Menurutnya, perpaduan suasana rooftop dan bentuk bangunan yang menyerupai kapal menghadirkan kesan eksklusif sekaligus nyaman. “Menurut saya ini menarik sekali, karena belum ada di Malang yang konsepnya seperti makan di kapal pesiar. Tempatnya di rooftop, jadi anginnya terasa dan suasananya benar-benar berbeda. Makanannya juga enak dari awal sampai akhir. Yang paling saya suka mie ayamnya, karena kuahnya segar dan pas setelah seharian berpuasa,” ungkapnya. Melalui peluncuran “Ramadhan – Feast of Harmony” ini, Kapal Garden Hotel Malang menegaskan upayanya dalam mengintegrasikan identitas arsitektural dengan inovasi layanan kuliner. Dengan konsep tematik yang kuat serta pengalaman ruang yang khas, program iftar tersebut diharapkan mampu menjadi salah satu destinasi berbuka puasa yang berkesan di Malang Raya pada Ramadan tahun ini.(vin/faq)     Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Solusi Sampah dari Kampus, Mesin Karya Dosen dan Mahasiswa Olah Limbah Harian

Sebagai kampus inovasi yang mandiri dan berdampak di tengah meningkatnya persoalan sampah dan krisis lingkungan, Universitas Muhammadiyah Malang menghadirkan langkah konkret melalui pembangunan sistem pengolahan sampah terpadu di Tempat Penampungan Sementara (TPS) kampus. Inisiatif ini tidak hanya menjadi upaya menjawab tantangan pengelolaan limbah, tetapi juga memperkuat komitmen kampus terhadap pembangunan berkelanjutan, target Sustainable Development Goals (SDGs), serta mendukung indikator penilaian UI GreenMetric World University Rankings. Program tersebut menghasilkan tiga unit mesin pengolahan sampah yang dirancang, diproduksi, dan diinstalasi secara terintegrasi oleh tim internal kampus. Berdasarkan laporan kegiatan, kampus putih dengan populasi sekitar 35.000 warga akademik menghasilkan sekitar 1,2 ton sampah setiap hari. Sampah tersebut terdiri atas plastik sebesar 45 persen atau sekitar 540 kilogram per hari, limbah organik terkontaminasi plastik sebanyak 360 kilogram (30 persen), serta limbah ranting mencapai 300 kilogram atau 25 persen. Sebelum proyek berjalan, TPS UMM hanya berfungsi sebagai tempat pengumpulan tanpa teknologi pengolahan, sehingga sebagian besar sampah masih bergantung pada proses pengangkutan keluar kampus. Ketua pelaksana proyek, Ir, Iis Siti Aisyah, ST., MT., PhD., IPM, mengatakan pembangunan sistem tersebut berawal dari kebutuhan kampus untuk menunjukkan pengelolaan lingkungan yang terukur dalam proses evaluasi GreenMetric. “Awalnya tim GreenMetric membutuhkan bukti bahwa kampus memiliki sistem pengolahan sampah yang nyata untuk mendukung akreditasi dan pemeringkatan lingkungan,” ujarnya 21 Februari lalu pada Tim Humas UMM. Proyek ini dikerjakan oleh Professional Center Teknik Mesin (PROCENTM) UMM yakni unit profesional di bawah Program Studi Teknik Mesin Fakultas Teknik yang biasa menangani proyek rekayasa industri, sertifikasi internasional, hingga kerja sama strategis dengan berbagai lembaga. Seluruh proses mulai dari desain teknik, manufaktur, hingga instalasi dilakukan oleh tim internal yang melibatkan dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa melalui skema pembelajaran berbasis proyek. “Semua desain kami kerjakan sendiri bersama tim Teknik Mesin. Unit ini memang dibentuk untuk mengerjakan proyek profesional sekaligus menjadi ruang belajar nyata bagi mahasiswa agar terlibat langsung dalam pekerjaan industri,” kata Iis. Tiga alat utama yang dipasang meliputi mesin pencacah plastik berkapasitas 100–250 kilogram per jam yang mampu menghasilkan serpihan berukuran 5–10 milimeter untuk meningkatkan nilai jual limbah botol plastik, mesin pencacah ranting berkapasitas hingga 300–500 kilogram per jam yang menghasilkan serbuk biomassa sebagai bahan media tanam atau kompos, serta alat pemisah sampah organik berbasis sensor inframerah dengan efisiensi pemilahan mencapai 90–92 persen. Sistem tersebut dirancang sebagai alur pengolahan terpadu. Sampah campuran dari kantin maupun aktivitas kampus dapat dimasukkan langsung bersama kantong plastiknya ke mesin pemilah. Plastik ringan akan terlempar ke bagian belakang, sementara sisa makanan dan limbah organik mengalir ke bagian depan untuk proses lanjutan. Lebih jauh, Iis menjelaskan bahwa tim perancang menyiapkan konsep pengembangan menuju zero waste. Limbah organik cair direncanakan dialirkan secara gravitasi menuju toren fermentasi karena posisi TPS berada di area lereng, sehingga tidak membutuhkan pompa tambahan. “Kami ingin sistem ini benar-benar zero waste. Limbah organik nantinya bisa difermentasi menjadi biogas. Tekanan gasnya bisa diteliti mahasiswa, bahkan dimanfaatkan sebagai bahan bakar insinerator kecil,” jelasnya. Ke depan, sistem pengolahan sampah terpadu ini diharapkan tidak hanya menjadi fasilitas teknis, tetapi juga pusat edukasi lingkungan dan inovasi riset berkelanjutan. Optimalisasi operasional, peningkatan pasokan sampah organik, serta keterlibatan mahasiswa dalam penelitian biogas dan daur ulang diyakini mampu mendorong lahirnya solusi baru berbasis teknologi tepat guna. Dengan pengembangan berkelanjutan dan kolaborasi lintas sektor, fasilitas ini berpotensi menjadi model pengelolaan sampah kampus yang mandiri, efisien, sekaligus menginspirasi institusi pendidikan lain untuk bergerak menuju masa depan yang lebih hijau dan minim limbah.(faq)     Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman