Tak Perlu Minder Saat Bukber, Psikolog UMM Ingatkan Setiap Orang Punya Ritme Hidup Berbeda

Buka bersama yang semestinya menjadi ruang silaturahmi kerap berubah menjadi arena perbandingan sosial ketika obrolan tentang karier, bisnis, studi, hingga pernikahan membuat sebagian orang mempertanyakan posisinya sendiri. Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Atika Permata Sari, S.Psi., M.Psi., menjelaskan bahwa rasa minder bukan muncul karena bukbernya, melainkan karena pertemuan dengan teman yang memiliki progres kehidupan berbeda, sehingga tanpa sadar seseorang melakukan upward social comparison saat melihat pencapaian orang lain yang dinilai lebih tinggi. “Sebetulnya penekanan yang membuat minder bukan pada kegiatan bukbernya, tapi pada bagaimana saat kita bertemu dengan orang-orang yang progres kehidupannya berbeda dengan kita. Saat kita melihat ada teman yang lebih sukses, kita jadi membandingkan diri kita dengan orang tersebut. Ketika itu terjadi, perasaan iri, cemas, dan minder sangat mungkin muncul sebagai respons,” ujarnya 04 Maret lalu pada Tim Humas UMM. Ia menambahkan bahwa dorongan untuk membandingkan diri semakin kuat ketika pertemuan terjadi dengan teman lama karena adanya faktor kemiripan yang membuat perbandingan terasa lebih relevan dan personal. Teman SMA atau teman kuliah dianggap memiliki titik awal yang sama, sehingga secara tidak sadar dijadikan tolok ukur keberhasilan hidup saat ini. Semakin besar rasa kemiripan yang dirasakan, semakin besar pula kecenderungan menjadikan mereka sebagai benchmark dalam menilai kondisi diri sendiri, baik dari segi karier, relasi, maupun capaian finansial. “Karena merasa punya sejarah yang sama, kita cenderung berpikir seharusnya posisi kita sekarang tidak jauh berbeda. Padahal setiap orang memiliki ritme perkembangan yang tidak sama. Meski begitu, perasaan minder dalam situasi sosial adalah hal yang normal. Secara alami, manusia membandingkan diri untuk mengetahui posisi dan kondisi dirinya saat ini, baik terkait kemampuan, kepribadian, maupun sikap,” jelasnya. Lebih lanjut, Atika menegaskan bahwa proses tersebut tidak selalu berdampak negatif. Membandingkan diri dengan mereka yang lebih sukses bisa menjadi sumber motivasi untuk berkembang, sementara melihat orang dengan capaian berbeda juga dapat menumbuhkan rasa syukur dan memperkuat kepercayaan diri, selama individu mampu memaknainya secara proporsional. “Adapun peran media sosial yang memperkuat kecenderungan perbandingan sosial tersebut. Riset menunjukkan bahwa semakin sering seseorang mengamati kehidupan orang lain di media sosial, semakin rendah tingkat self-esteemyang dimiliki, padahal konten yang ditampilkan sering kali hanya potongan kecil dari kehidupan seseorang dan tidak merepresentasikan realitas secara menyeluruh,” katanya. Untuk tetap percaya diri saat bertemu banyak orang, dosen psikologi tersebut menyarankan agar individu tidak hanya fokus pada mereka yang pencapaiannya lebih tinggi, tetapi juga belajar melihat perjalanan orang lain secara lebih proporsional. Selain itu, penting untuk mengalihkan energi pada pengembangan diri dengan bertanya langkah konkret apa yang bisa dilakukan untuk berkembang, serta membiasakan diri menuliskan setidaknya tiga perkembangan yang telah dicapai sebagai pengingat bahwa setiap orang bertumbuh dengan waktu dan ritme berbeda. Jika overthinking berlangsung lama dan mengganggu aktivitas sehari-hari, ia menekankan bahwa bantuan profesional selalu tersedia.(*vin/faq)   Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Santri PPI-AMF Ubah Limbah Jagung Jadi Produk Ramah Lingkungan, Raih Medali Nasional

Tiga siswa kreatif dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI-AMF) berhasil menciptakan solusi inovatif untuk mengatasi limbah pertanian sekaligus meningkatkan kualitas udara dalam ruangan. Melalui produk bernama Bonggol Arum, Farrell Syatir Wafi Al-Ghani, Athaya Khalfani Arham Prihantoro, dan Maulana Malik Ibrahim berhasil mengolah bonggol jagung menjadi biochar aromatik yang fungsional. Perwakilan tim, Farrell Syatir Wafi Al-Ghani, menjelaskan bahwa ide pembuatan Bonggol Arum berawal dari pengamatan terhadap melimpahnya limbah pertanian di Kabupaten Malang. Sebagai salah satu sentra jagung terbesar di Jawa Timur, wilayah ini menghasilkan sekitar 51 ribu ton bonggol jagung yang sering kali dibuang atau dibakar oleh petani. Para santri melihat kondisi tersebut sebagai tantangan sekaligus peluang pemanfaatan limbah biomassa yang belum optimal. “Di sisi lain, kualitas udara dalam ruangan seperti bau apek dan kelembapan sering menjadi masalah kesehatan pernapasan,” ujar Farrell dalam wawancara pada 2 Maret lalu. Berangkat dari permasalahan itu, tim AMF menghadirkan solusi berbasis ekonomi sirkular dengan mengolah bonggol jagung melalui proses pirolisis terkendali. Proses ini menghasilkan biochar berpori luas yang efektif menyerap polutan. Berbeda dengan produk desikan sintetis di pasaran yang berpotensi beracun dan menambah sampah plastik, Bonggol Arum dirancang lebih aman dan berkelanjutan. Produk ini memiliki inovasi 3-in-1 multi action, yakni menyerap bau tidak sedap, mengontrol kelembapan ruangan, serta menyerap polutan udara ringan seperti amonia dan etanol. Farrell menjelaskan, proses pembuatan dimulai dengan pirolisis bonggol jagung kering pada suhu 300–600 derajat Celcius selama 1 hingga 4 jam untuk menghasilkan biochar padat. Setelah itu, biochar didinginkan dengan cepat dan dibersihkan. Sementara itu, pewangi alami dibuat dengan merebus bahan organik seperti kayu manis, serai, atau daun jeruk selama 20–30 menit. Larutan tersebut kemudian ditambahkan etanol food grade untuk mengikat aroma, lalu disaring hingga jernih. Pada tahap akhir, sebanyak 100 gram biochar dicampur dengan 20–30 mililiter ekstrak pewangi. Campuran tersebut didiamkan dalam wadah tertutup selama 24–48 jam agar aroma terserap optimal. Selanjutnya, bahan dikeringkan kembali pada suhu 40–50 derajat Celcius sebelum dikemas dalam kantung teh dan pouch kain goni. Inovasi ini juga berhasil mengantarkan tim SMA AMF meraih prestasi di tingkat nasional. Dalam ajang Olympicad VIII yang diselenggarakan di Makassar pada Februari 2026, tim Bonggol Arum berhasil meraih medali perak dengan nilai 84,7 dan menempati peringkat kedelapan. Guru pendamping tim, Rachmadanti Chairatul Nisa, mengaku bangga atas capaian tersebut. Selama proses pengembangan, Rachmadanti memberikan berbagai pendampingan, mulai dari validasi ide dan perumusan solusi, penyusunan proposal, hingga proyeksi keuangan. Ia juga membimbing tim dalam pembuatan prototipe produk, penyusunan pitching deck, pelatihan public speaking, serta memberikan motivasi selama proses kompetisi. “Saya sangat bangga dengan capaian tim ini. Mereka tidak hanya mampu melihat persoalan limbah bonggol jagung yang selama ini kurang dimanfaatkan, tetapi juga berhasil mengolahnya menjadi produk inovatif yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi,” ujar Rachmadanti Chairatul Nisa. Ia menjelaskan bahwa selama proses pengembangan, tim mendapatkan pendampingan secara bertahap. Mulai dari validasi ide dan perumusan problem solution, penyusunan proposal penelitian, hingga perhitungan proyeksi keuangan produk. Menurutnya, prestasi ini menjadi bukti bahwa kreativitas dan riset yang dilakukan para santri mampu melahirkan solusi nyata bagi permasalahan lingkungan di sekitar mereka.(*faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Safari Ramadan RSU UMM Tekankan Ketulusan Tenaga Medis

Malang (beritajatim.com) – Rumah Sakit Umum Universitas Muhammadiyah Malang (RSU UMM) melaksanakan Safari Ramadan 1447 Hijriah yang digelar di Aula RSU UMM, Selasa (3/3/2026). Jajaran tenaga medis dan pimpinan diajak untuk merefleksikan kembali makna pengabdian yang jauh dari sekadar logika untung-rugi. Kegiatan ini menghadirkan Zen Amirudin sebagai penceramah utama. Dalam tausiyahnya, ia menyoroti fenomena logika transaksional yang kerap menyusup dalam niat beribadah maupun bekerja, yang jika dibiarkan dapat menggerus etika profesionalisme di ruang publik seperti rumah sakit. Dr. Zen Amirudin mengawali paparannya dengan sebuah analogi tentang seorang pemuda yang mencoba menguji kekuatan sedekah. Pemuda tersebut memberikan seluruh hartanya dengan harapan mendapatkan balasan instan dari Tuhan, namun justru berakhir dengan kegelisahan karena ekspektasinya tidak terpenuhi seketika. “Ibadah tidak bisa dipahami dengan logika transaksional. Ibadah bukanlah mekanisme sebab-akibat yang instan antara memberi dan menerima,” tegas Zen di hadapan sivitas akademika dan tenaga kesehatan UMM. Menurutnya, jika seorang tenaga medis atau pegawai bekerja hanya demi imbalan cepat atau pengakuan materiil, maka yang akan muncul adalah kekecewaan saat ekspektasi tidak tercapai. Sebaliknya, Ramadan mengajarkan ketundukan dan keikhlasan. “Ramadan melatih kita menundukkan diri kepada Allah. Dari ketundukan itu lahir kekuatan untuk menjalankan tanggung jawab dengan jernih, sabar, dan amanah,” tambahnya. Lebih lanjut, Zen menjelaskan bahwa dalam lingkungan pelayanan kesehatan, kepatuhan pada nilai dan etika bukan sekadar formalitas, melainkan penyangga kemanusiaan. Ia membagi tingkatan kesadaran manusia dalam memandang kuasa dan tanggung jawab sebagai kesadaran bahwa setiap amanah memiliki konsekuensi moral. Kedua, seseorang menjalankan peran tanpa dorongan kepentingan pribadi atau privilese, melainkan sebagai kewajiban etis. “Ajaran Islam tentang kuasa bersifat preventif. Ini membangun kesadaran untuk mencegah penyimpangan sejak dini. Di rumah sakit, setiap keputusan menyangkut keselamatan pasien dan integritas profesi,” jelasnya. Senada dengan hal tersebut, Rektor UMM, Nazaruddin Malik, menekankan bahwa Ramadan harus dipandang sebagai momentum pembangunan peradaban. Ia mengingatkan bahwa nilai takwa semestinya bertransformasi menjadi energi positif dalam etos kerja dan disiplin. “Tidak ada kemajuan tanpa pengorbanan. Ramadan melatih kita menahan diri dan berkorban, baik itu materi, waktu, pikiran, maupun komitmen untuk memperbaiki kualitas diri,” ujar Prof. Nazaruddin. Ia berharap semangat Safari Ramadan ini mampu menjaga konsistensi RSU UMM sebagai pusat pelayanan kesehatan yang tidak hanya unggul secara keilmuan, tetapi juga memiliki kedalaman integritas spiritual. (dan/kun)

Rektor UMM: Kepemimpinan Islam Amanah Suci, Bukan Sekadar Kuasa

​MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Kepemimpinan dalam perspektif Islam sejatinya bukanlah panggung untuk memamerkan kekuasaan atau mengejar privilese jabatan. Sebaliknya, ia adalah amanah suci yang berlandaskan pada penegakan keadilan dan visi kemajuan demi keberkahan umat. Hal tersebut ditegaskan secara lugas oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Dr. Nazarudin Malik, M.Si., dalam pembukaan kegiatan Baitul Arqom Organisasi Kemahasiswaan di Pusdiklat UMM, Rabu (4/3) kemarin. ​Di hadapan para aktivis kampus, Prof. Nazar menjelaskan bahwa dalam Islam, kepemimpinan adalah tanggung jawab spiritual yang kelak akan dipertanggungjawabkan langsung di hadapan Allah SWT. Merujuk pada hadis Nabi, ia mengingatkan bahwa setiap individu adalah pemimpin, setidaknya bagi dirinya sendiri, dan setiap tindakan kepemimpinan akan dimintai pertanggungjawaban. ​”Kepemimpinan tanpa keadilan akan kehilangan legitimasi moralnya. Tanpa visi yang jelas, organisasi hanya akan berjalan tanpa arah,” tegas Prof. Nazar. Ia menguraikan bahwa fondasi kepemimpinan dalam Al-Quran berpijak pada konsep manusia sebagai khalifah (QS. Al-Baqarah: 30), perintah berlaku adil (QS. Shad: 26), serta pentingnya musyawarah (syura) sebagaimana termaktub dalam QS. Ali Imran: 159. ​Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya sifat Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathanah sebagai instrumen strategis. Keadilan, menurutnya, harus diwujudkan dalam praktik nyata—mulai dari distribusi sumber daya yang transparan hingga pengambilan keputusan yang setara tanpa diskriminasi. Di era modern yang penuh tekanan kepentingan, pemimpin dituntut untuk terus beradaptasi dengan inovasi tanpa meninggalkan prinsip dasar Al-Quran. ​Senada dengan hal tersebut, Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni UMM, Dr. Tatag Muttaqin, S.Hut., M.Sc., IPM., menyampaikan bahwa Baitul Arqom merupakan agenda rutin strategis untuk menjaga keberlanjutan kader Muhammadiyah. Kegiatan ini dirancang agar estafet kepemimpinan intelektual di lingkungan UMM tidak terputus. ​”Kami telah merancang strategi besar pengembangan kemahasiswaan melalui tiga pendekatan: partisipatif, diferensiasi, dan defensif,” ungkap Tatag. Strategi ini bertujuan untuk memperkuat jiwa kepemimpinan mahasiswa, khususnya mereka yang tergabung dalam Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa). ​Melalui penggemblengan di Baitul Arqom, mahasiswa diharapkan mengalami transformasi kualitas diri, baik dari segi adab, mental, maupun sikap. Dengan mengedepankan budaya umpan balik, kerja tim yang solid, serta keteladanan (uswah hasanah), UMM optimistis dapat mencetak generasi pemimpin visioner yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga adil dan produktif bagi kemajuan bangsa.(imm/lim)

Safari Ramadan RSU UMM: Ibadah Bukan Transaksi, Tapi Pengabdian

pwmu.co – Komitmen meneguhkan nilai-nilai spiritual dalam ruang pelayanan kesehatan kembali ditegaskan oleh Dr. Zen Amirudin, M.Med.Kom dalam ceramahnya pada kegiatan Safari Ramadan 1447 Hijriah yang digelar di Aula RSU Universitas Muhammadiyah Malang, Selasa (3/3/2026). Hadir sebagai penceramah utama, Dr. Zen menyampaikan tausiyah di hadapan jajaran pimpinan, tenaga kesehatan, serta sivitas akademika. K egiatan ini tidak sekadar menjadi agenda rutin tahunan, melainkan ruang refleksi bersama bagi sebuah institusi layanan publik yang setiap hari bersentuhan langsung dengan persoalan kemanusiaan. Dalam suasana Ramadan yang sarat makna, ia mengajak seluruh elemen rumah sakit untuk menata ulang niat, memperkuat tanggung jawab, serta meluruskan orientasi pengabdian. Menurutnya, pelayanan kesehatan bukan hanya soal profesionalitas dan kompetensi teknis, tetapi juga menyangkut keikhlasan dan integritas moral. Ibadah Bukan Logika Transaksional Dalam ceramahnya, Zen Amirudin menegaskan bahwa ibadah tidak dapat dipahami dengan logika transaksional memberi lalu menuntut balasan instan. Ia mengisahkan seorang pemuda yang mencoba “menguji” makna sedekah setelah mendengar tausiyah. Pemuda itu menyedekahkan seluruh uangnya dengan harapan balasan datang seketika. Namun yang muncul justru kegelisahan karena harapannya tak segera terpenuhi. “Dari kisah itu saya ingin menegaskan bahwa ibadah tidak bisa dipahami dengan logika transaksional,” ujarnya. Menurutnya, ibadah bukan mekanisme sebab-akibat yang instan. Ibadah adalah proses ketundukan dan keikhlasan yang menuntut kedewasaan berpikir. Ketika amal dilakukan semata demi imbalan cepat, kekecewaan mudah muncul. Sebaliknya, jika dilandasi kepatuhan dan penghambaan, ketenangan hadir tanpa harus menunggu balasan. Ramadan, lanjutnya, mengajarkan proses tersebut secara bertahapmelalui latihan menahan diri, mengendalikan ego, dan memperbaiki niat. Kuasa sebagai Amanah, Bukan Privilege Zen juga menjelaskan bahwa manusia memiliki tingkatan dalam memaknai kuasa dan tanggung jawab. Pada tahap awal, seseorang memahami bahwa setiap amanah membawa konsekuensi moral. Pada tahap lebih matang, ia mampu menjalankan peran tanpa didorong kepentingan pribadi. Kuasa, menurutnya, bukanlah privilese, melainkan kewajiban yang harus dipertanggungjawabkan secara etis dan sosial. Perspektif ini sangat relevan di lingkungan pelayanan kesehatan. “Pada dasarnya, apa pun yang kita lakukan adalah proses belajar patuh. Ramadan melatih kita menundukkan diri kepada Allah, dan dari ketundukan itu lahir kekuatan untuk menjalankan tanggung jawab dengan jernih, sabar, dan amanah,” ujarnya. Di rumah sakit, kepatuhan pada nilai dan etika menjadi fondasi profesionalisme sekaligus kemanusiaan. Setiap keputusan menyangkut keselamatan pasien, integritas profesi, serta kepercayaan publik. Karena itu, ajaran Islam tentang kuasa bersifat normatif sekaligus preventif—tidak hanya mengatur batas benar dan salah, tetapi juga membangun kesadaran agar penyimpangan dapat dicegah sejak dini. Ramadan sebagai Energi Peradaban Sementara itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menegaskan bahwa Ramadan adalah momentum membangun peradaban, bukan sekadar meningkatkan ritual personal. Menurutnya, takwa semestinya menjadi energi perubahan sosial yang melahirkan etos kerja, disiplin, dan keberanian berinovasi baik di bidang pendidikan maupun layanan kesehatan. “Tidak ada kemajuan tanpa pengorbanan. Ramadan melatih kita menahan diri dan berkorban, bukan hanya dalam materi, tetapi juga waktu, pikiran, dan komitmen memperbaiki kualitas diri,” katanya. Ia optimistis, jika semangat tersebut dijaga bersama, kampus dan rumah sakit akan tumbuh sebagai pusat pelayanan dan keilmuan yang memberi manfaat luas bagi masyarakat. Konsolidasi Nilai dalam Pelayanan Publik Safari Ramadan di RSU UMM pun menjadi lebih dari sekadar forum ceramah. Kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi nilai agar setiap peran baik tenaga medis, akademisi, maupun pimpinan dijalankan dengan kesadaran bahwa pengabdian adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan, baik secara duniawi maupun ukhrawi. Melalui refleksi Ramadan, RSU UMM menegaskan bahwa profesionalisme dan integritas spiritual bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan fondasi utama dalam membangun layanan kesehatan yang humanis dan berkeadaban.

Ramadan Refleksi, Integritas Tanpa Transaksi: Safari Ramadan RSU UMM

MALANG (SurabayaPost.id) – Rumah Sakit Umum (RSU) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Safari Ramadan 1447 Hijriah di Aula RSU UMM, Selasa (3/3/2026). Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pimpinan, tenaga kesehatan, dan sivitas akademika, dengan Dr. Zen Amirudin, M.Med.Kom., sebagai penceramah utama. Zen Amirudin menekankan bahwa ibadah bukanlah mekanisme transaksional, melainkan proses ketundukan dan keikhlasan. “Ibadah tidak bisa dipahami dengan logika transaksional. Ramadan melatih kita menundukkan diri kepada Allah, dan dari ketundukan itu lahir kekuatan untuk menjalankan tanggung jawab dengan jernih, sabar, dan amanah,” ujarnya. Ia menyampaikan kisah seorang pemuda yang mencoba “menguji” makna sedekah demi membuktikan kebenaran secara instan, namun justru merasakan kegelisahan karena harapannya tidak langsung terpenuhi. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si, menambahkan bahwa Ramadan adalah momentum membangun peradaban, bukan sekadar meningkatkan ritual personal. “Takwa semestinya menjadi energi perubahan sosial yang melahirkan etos kerja, disiplin, dan keberanian berinovasi,” katanya. Safari Ramadan di RSU UMM menjadi ruang konsolidasi nilai agar setiap peran dijalankan dengan kesadaran bahwa pengabdian adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan secara duniawi dan ukhrawi. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan profesionalisme dan integritas spiritual tenaga medis dan akademisi. Dengan tema “Ibadah Bukan Transaksi”, Safari Ramadan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya integritas dan profesionalisme dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab. (lil).

Ibadah Bukan Transaksi. Safari Ramadan di RSU UMM Sentil Etika Tenaga Medis

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Komitmen meneguhkan nilai spiritual dalam ruang pelayanan kesehatan kembali ditegaskan melalui Safari Ramadan 1447 Hijriah yang digelar di Aula Rumah Sakit Umum (RSU) Universitas Muhammadiyah Malang pada Selasa (3/3/2026). Kegiatan ini menghadirkan Dr. Zen Amirudin, M.Med.Kom., sebagai penceramah utama dan diikuti oleh jajaran pimpinan, tenaga kesehatan, serta sivitas akademika. Agenda tersebut tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan, tetapi juga ruang refleksi bagi institusi layanan publik yang setiap hari bersentuhan dengan persoalan kemanusiaan. Ramadan dimaknai sebagai momentum menata ulang niat, memperkuat tanggung jawab, dan meluruskan orientasi pengabdian. Dalam ceramahnya, Zen Amirudin menegaskan bahwa ibadah tidak dapat dipahami dengan logika transaksional. Ia menyampaikan pesan tersebut melalui kisah seorang pemuda yang mencoba “menguji” makna sedekah demi membuktikan kebenaran secara instan. “Saya ingin mengangkat kisah seorang pemuda yang mencoba ‘menguji’ makna sedekah setelah mendengar tausiyah seorang ustaz. Karena dorongan ingin membuktikan kebenaran secara cepat, ia menyedekahkan seluruh uang yang dimilikinya dengan harapan balasan akan datang seketika. Namun yang ia rasakan justru kegelisahan, karena harapannya tidak langsung terpenuhi. Dari kisah itu saya ingin menegaskan bahwa ibadah tidak bisa dipahami dengan logika transaksional,” ujarnya Menurutnya, ibadah bukanlah mekanisme sebab-akibat yang instan antara memberi dan menerima. Ibadah adalah proses ketundukan dan keikhlasan yang menuntut kedewasaan berpikir. Ketika seseorang beramal hanya demi imbalan cepat, maka yang muncul adalah kekecewaan. Sebaliknya, jika amal dilakukan sebagai bentuk kepatuhan dan penghambaan, ketenangan akan hadir tanpa perlu menunggu balasan. Ramadan, kata dia, mengajarkan proses itu secara bertahap melalui latihan menahan diri, mengendalikan ego, dan memperbaiki niat. Ia menjelaskan bahwa manusia memiliki tingkatan dalam memaknai kuasa dan tanggung jawab. Tahap awal adalah kesadaran normatif bahwa setiap amanah membawa konsekuensi moral. Pada tahap yang lebih matang, seseorang mampu menjalankan peran tanpa didorong kepentingan pribadi. Kuasa tidak dipandang sebagai privilese, melainkan kewajiban yang harus dipertanggungjawabkan secara etis dan sosial. Perspektif ini, menurutnya, sangat relevan di lingkungan pelayanan kesehatan. “Pada dasarnya, apa pun yang kita lakukan adalah proses belajar patuh. Ramadan melatih kita menundukkan diri kepada Allah, dan dari ketundukan itu lahir kekuatan untuk menjalankan tanggung jawab dengan jernih, sabar, dan amanah,” ujarnya. Ia menambahkan, kepatuhan bukan bentuk kelemahan, melainkan fondasi karakter yang mencegah penyalahgunaan wewenang. Di rumah sakit, sikap patuh pada nilai dan etika menjadi penyangga profesionalisme sekaligus kemanusiaan. Zen juga menekankan bahwa ajaran Islam tentang kuasa bersifat normatif dan preventif. Artinya, ajaran tersebut tidak hanya mengatur batasan benar dan salah, tetapi juga membangun kesadaran untuk mencegah penyimpangan sejak dini. Dalam konteks rumah sakit, setiap keputusan menyangkut keselamatan pasien, integritas profesi, dan kepercayaan publik. Karena itu, Ramadan harus menjadi ruang evaluasi agar profesionalisme berjalan seiring dengan integritas spiritual. Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menyampaikan bahwa Ramadan adalah momentum membangun peradaban, bukan sekadar meningkatkan ritual personal. Ia menegaskan bahwa takwa semestinya menjadi energi perubahan sosial yang melahirkan etos kerja, disiplin, dan keberanian berinovasi, termasuk di bidang pendidikan dan layanan kesehatan. “Tidak ada kemajuan tanpa pengorbanan. Ramadan melatih kita menahan diri dan berkorban, bukan hanya dalam materi, tetapi juga waktu, pikiran, dan komitmen memperbaiki kualitas diri,” katanya. Ia optimistis, jika semangat tersebut dijaga bersama, kampus dan rumah sakit akan tumbuh sebagai pusat pelayanan dan keilmuan yang memberi manfaat luas bagi masyarakat. Safari Ramadan di RSU UMM pun menjadi lebih dari sekadar forum ceramah. Kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi nilai agar setiap peran, baik tenaga medis, akademisi, maupun pimpinan dijalankan dengan kesadaran bahwa pengabdian adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan secara duniawi dan ukhrawi.(ANS)

Langit Memerah di UMM, HKI Tegaskan Gerhana Bukan Sekadar Fenomena Sains

KETIK, MALANG – Fenomena gerhana bulan total tak hanya menjadi peristiwa langit biasa bagi sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Momentum tersebut dimaknai lebih dalam sebagai ruang integrasi antara sains dan keimanan. Laboratorium Syariah Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI), Fakultas Agama Islam (FAI) UMM menggelar Observasi Gerhana Bulan di Rooftop GKB V UMM, Selasa, 3 Maret 2026 pukul 16.00–21.00 WIB. Kegiatan ini diikuti mahasiswa dan dosen sebagai bagian dari pembelajaran ilmu falak yang dikemas secara reflektif. Dosen Prodi HKI UMM, R. Tanzil Fawaiq Sayyaf, M.H., menegaskan bahwa observasi ini bukan sekadar agenda melihat fenomena astronomi, tetapi juga penguatan dimensi spiritual mahasiswa. “Kami tidak ingin mahasiswa hanya memahami gerhana sebagai fenomena sains yang kering dari makna. Melalui observasi langsung, mereka belajar bahwa sains dalam Islam bukan sesuatu yang terpisah dari nilai-nilai keimanan, melainkan sarana untuk membaca tanda-tanda kebesaran Allah SWT,” ujarnya. Menurutnya, pendidikan Islam tidak cukup berhenti pada teori pergerakan benda langit dan hitungan astronomis. Lebih dari itu, mahasiswa perlu menyadari bahwa setiap fenomena alam memiliki pesan ketuhanan yang menguatkan iman. Ia menambahkan, pembelajaran seperti ini menjadi bagian penting dalam membentuk karakter akademik yang seimbang antara kecerdasan intelektual dan kedalaman spiritual. “Inilah esensi pendidikan yang ingin kami hadirkan mengintegrasikan rasionalitas ilmiah dengan komitmen keislaman dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya. Secara ilmiah, gerhana bulan terjadi ketika bumi berada di antara matahari dan bulan sehingga bayangan bumi menutupi cahaya bulan. Proses tersebut dapat dijelaskan secara rasional melalui kajian astronomi. Namun dalam perspektif Islam, gerhana juga menjadi momen untuk memperbanyak dzikir, doa, dan melaksanakan shalat khusuf. Tanzil menegaskan bahwa shalat khusuf merupakan sunnah muakkadah yang sangat dianjurkan saat terjadi gerhana. Ia juga mengingatkan sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang. Apabila kalian melihat gerhana, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, dirikanlah shalat, dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Melalui hadis tersebut, ia menekankan bahwa gerhana bukanlah pertanda mistis ataupun berkaitan dengan nasib seseorang, melainkan tanda kekuasaan Allah SWT yang patut disikapi dengan ibadah dan refleksi diri. Lewat kegiatan observasi ini, Prodi HKI UMM berharap mahasiswa tidak hanya memahami gerhana sebagai fenomena astronomi, tetapi juga sebagai panggilan spiritual untuk memperkuat keimanan dan meningkatkan kualitas penghambaan kepada Allah SWT. (*)