UMM Gelar Buka Puasa Bersama Media, Tradisi Silaturahmi Kampus dan Pers Lebih dari 25 Tahun

MAKLUMAT – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar buka puasa bersama dengan insan pers. Kegiatan yang berlangsung di Aula BAU Kampus 3 UMM, Kamis (5/3/2026), menjadi momentum mempererat silaturahmi antara pimpinan kampus, tim Humas UMM, serta wartawan dari berbagai media. Selain menjadi ajang kebersamaan di bulan Ramadan, kegiatan buka puasa bersama tersebut juga menjadi ruang diskusi mengenai peran media dan perguruan tinggi dalam membaca dinamika masyarakat. Suasana berlangsung hangat dengan berbagai percakapan mengenai perjalanan panjang kolaborasi antara kampus dan media. Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., mengatakan tradisi buka puasa bersama dengan media telah berlangsung sejak masa kepemimpinan Rektor sebelumnya, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP. Tradisi tersebut bahkan telah berjalan lebih dari 25 tahun dan menjadi bagian dari hubungan historis antara UMM dan insan pers. Menjaga Tradisi dan Ukhuwah “Buka puasa bersama dengan media ini sudah dimulai sejak zaman Pak Muhadjir. Artinya tradisi ini sudah berlangsung lebih dari 25 tahun dan terus dijaga hingga sekarang,” ujarnya. Menurut Nazaruddin, hubungan antara kampus dan media memiliki peran penting dalam perkembangan universitas. Dalam banyak momentum, media menjadi jembatan yang membantu masyarakat memahami berbagai gagasan yang lahir dari perguruan tinggi. Ia menjelaskan bahwa lanskap media di Indonesia telah mengalami perubahan besar. Jika dahulu media cetak menjadi sumber utama informasi masyarakat, kini perkembangan teknologi menghadirkan berbagai bentuk media baru dengan pola produksi informasi yang semakin beragam. Digitalisasi Arus Informasi “Dulu media yang kita amati adalah media mainstream, terutama media cetak. Bahkan membawa kartu pers bisa membuka akses ke banyak tempat. Sekarang situasinya berbeda karena media berkembang menjadi non-mainstream dan semakin tidak terinstitusionalisasi,” jelasnya. Meski demikian, Nazaruddin menilai peran media tetap sangat strategis dalam kehidupan sosial. Media tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga ikut membentuk cara pandang publik terhadap berbagai isu. Karena itu, melalui kegiatan buka puasa bersama ini, UMM ingin terus menjaga hubungan baik dengan insan pers. Menurutnya, hubungan tersebut dapat diibaratkan sebagai simbiosis kultural yang saling menguatkan antara perguruan tinggi dan media. Hubungan Media dan Kampus “UMM tidak akan seperti sekarang tanpa media. Perubahan media yang semakin beragam juga memengaruhi bagaimana kampus berkomunikasi dengan masyarakat. Semua itu membawa UMM terus bergerak menjadi universitas yang berdampak,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa menjadi universitas berdampak tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kontribusi nyata bagi masyarakat. Kampus, kata dia, harus mampu menyerap aspirasi sosial dan menerjemahkannya menjadi gagasan serta solusi yang bermanfaat. “Berbuat baik itu ketika kita jauh dari kepentingan pribadi atau golongan. Kebaikan harus dirasakan oleh semua orang. Karena itu kita harus bekerja keras dengan sepenuh hati untuk menghasilkan manfaat bagi banyak pihak,” pungkasnya.
Menyiasati Minder Saat Bukber: Tips dari Psikolog UMM

beritajejakfakta – Buka bersama (bukber) seharusnya menjadi momen mempererat silaturahmi. Namun, tak jarang momen ini justru memicu perbandingan sosial, terutama saat obrolan menyentuh topik karier, bisnis, studi, atau bahkan pernikahan. Lalu, bagaimana cara menyikapi perasaan minder yang mungkin muncul? Menurut Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Atika Permata Sari, rasa minder tidak serta-merta muncul karena acara bukber itu sendiri. Melainkan, karena adanya pertemuan dengan teman-teman yang progres kehidupannya berbeda. Situasi ini tanpa sadar mendorong seseorang melakukan upward social comparison, yakni membandingkan diri dengan orang lain yang pencapaiannya dinilai lebih tinggi. “Sebetulnya penekanan yang membuat minder bukan pada kegiatan bukbernya, tapi pada bagaimana saat kita bertemu dengan orang-orang yang progres kehidupannya berbeda dengan kita. Saat kita melihat ada teman yang lebih sukses, kita jadi membandingkan diri kita dengan orang tersebut. Ketika itu terjadi, perasaan iri, cemas, dan minder sangat mungkin muncul sebagai respons,” ujarnya Jumat (6/3/2026). Atika menambahkan, dorongan untuk membandingkan diri semakin kuat saat bertemu teman lama. Faktor kemiripan membuat perbandingan terasa lebih relevan dan personal. Teman SMA atau kuliah dianggap memiliki titik awal yang sama. Sehingga, secara tidak sadar menjadi tolok ukur keberhasilan hidup saat ini. “Karena merasa punya sejarah yang sama, kita cenderung berpikir seharusnya posisi kita sekarang tidak jauh berbeda,” ucapnya. Padahal, setiap individu memiliki ritme perkembangan yang unik. Meski begitu, perasaan minder dalam interaksi sosial adalah hal yang wajar. Manusia secara alami membandingkan diri untuk memahami posisi dan kondisi diri, termasuk kemampuan, kepribadian, dan sikap. Proses perbandingan diri ini, ditegaskan Atika, tidak selalu berdampak negatif. Membandingkan diri dengan individu yang lebih sukses dapat menjadi motivasi untuk berkembang. Di sisi lain, melihat orang dengan capaian yang berbeda juga bisa menumbuhkan rasa syukur dan kepercayaan diri, asalkan dimaknai secara proporsional. Media sosial, lanjut Atika, juga berperan dalam memperkuat kecenderungan perbandingan sosial. Penelitian menunjukkan bahwa semakin sering seseorang mengamati kehidupan orang lain di media sosial, semakin rendah tingkat self-esteem yang dimilikinya. Padahal, konten yang ditampilkan seringkali hanya sebagian kecil dari kehidupan seseorang dan tidak mencerminkan realitas secara utuh. Untuk menjaga kepercayaan diri saat berinteraksi dengan banyak orang, Atika menyarankan untuk tidak hanya berfokus pada mereka yang pencapaiannya lebih tinggi. Tetapi juga belajar melihat perjalanan hidup orang lain secara lebih proporsional. Selain itu, penting untuk mengalihkan energi pada pengembangan diri. Caranya, dengan menanyakan pada diri sendiri langkah konkret apa yang bisa dilakukan untuk berkembang. Biasakan juga menuliskan setidaknya tiga perkembangan yang telah dicapai sebagai pengingat bahwa setiap individu tumbuh dengan waktu dan ritme yang berbeda. “Jika overthinking berlangsung lama dan mengganggu aktivitas sehari-hari, maka bantuan profesional selalu tersedia,” ucapnya.
Anti Minder Saat Bukber dengan Meningkatkan Self Esteem

Momentum buka bersama (bukber) adalah hal yang paling ditunggu ketika Ramadan. Namun, tak jarang buka bersama menjadi arena pertandingan untuk unjuk kesuksesan. TIMESINDONESIA, MALANG – Momentum buka bersama (bukber) adalah hal yang paling ditunggu ketika Ramadan. Selain bisa berkumpul, buka bersama juga ruang untuk mempererat persaudaraan bersama keluarga, teman, atau kolega. Namun, tak jarang buka bersama menjadi arena pertandingan untuk unjuk kesuksesan. Obrolan tentang karier, pendidikan, bisnis, hingga pernikahan membuat sebagian orang mempertanyakan posisi mereka. Menanggapi hal tersebut, dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Atika Permata Sari menjelaskan bahwa rasa minder yang muncul bukan karena momentum bukber, tetapi karena bertemu teman yang memiliki progress kehidupan berbeda, sehingga memunculkan upward social comparison ketika melihat pencapaian orang lain lebih tinggi. “Ketika kita melihat teman kita lebih sukses, maka secara tidak langsung kita akan membandingkannya, dan itu yang memunculkan rasa cemas, khawatir, perasaan iri, dan minder,” ujarnya. Menurutnya, dorongan untuk membandingkan diri tersebut semakin kuat ketika pertemuan terjadi dengan teman lama karena adanya faktor kemiripan yang relevan. Lanjut Atika, teman SMA atau kuliah dianggap memiliki titik awal yang sama dan secara tidak sadar menjadi tolok kehidupan saat ini. Semakin besar kemiripan yang dirasakan, maka semakin besar pula kecenderungan menjadikan mereka sebagai benchmark dalam menilai kondisi diri sendiri, baik dari segi karier, relasi, maupun capaian finansial. “Karena kita punya sejarah yang sama, akhirnya kita berpikir seharusnya posisi kita tidak jauh berbeda,” imbuhnya. Dosen psikologi tersebut menjelaskan bahwa sebenarnya setiap orang memiliki ritme hidup yang berbeda. Tetapi ia juga tidak menolak bahwa rasa minder yang dirasakan adalah hal yang wajar. Menurut Atika, proses tersebut tidak selalu berdampak negatif. Membandingkan diri dengan mereka yang lebih sukses dapat menjadi sumber motivasi untuk berkembang. Dan selama individu dapat memaknai hal tersebut secara proporsional, maka dapat menumbuhkan rasa bersyukur dan mempererat kepercayaan diri. Ia juga memperingatkan bahwa peran media sosial dalam hal ini cukup berdampak. Orang yang terlalu sering melihat pencapaian orang lain di media sosial cenderung menurunkan self esteem yang dimiliki. “Sering melihat pencapaian orang lain di media sosial bisa menurunkan self esteem, padahal itu hanya potongan kecil dari kehidupan seseorang,” pungkasnya. Supaya tetap percaya diri, Atika menyarankan untuk tetap agar individu tidak hanya fokus pada mereka yang pencapaiannya lebih tinggi, tetapi juga belajar melihat perjalanan orang lain secara lebih proporsional. Ia juga mengingatkan untuk mengalihkan energi pada pengembangan diri dengan bertanya langkah konkret apa yang bisa dilakukan untuk berkembang. “Bisa menuliskan minimal tiga perkembangan apa yang sudah dilakukan, sebagai pengingat bahwa setiap individu memiliki ritme perkembangan yang berbeda,” tutur Atika. (*)
Kampung Budaya Polowijen Jadi Objek Kajian Multidisipliner Pusat Studi Kebudayaan UMM

Kampung Budaya Polowijen (KBP) kembali menjadi ruang belajar sekaligus laboratorium kebudayaan bagi kalangan akademisi. Melalui seri webinar Ramadhan 1447 H, Pusat Studi Kebudayaan (PSK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengangkat Kampung Budaya Polowijen sebagai objek kajian multidisipliner yang melibatkan berbagai bidang ilmu. Kegiatan ini diselenggarakan selama empat hari, Selasa hingga Jumat (3–6/3/2026), dengan menghadirkan 12 pembicara dari berbagai disiplin keilmuan. Selama empat hari pelaksanaan, webinar ini diikuti sekitar 320 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, guru, hingga masyarakat umum dari berbagai daerah di Indonesia. Kepala PSK UMM, Dr. Daroe Iswatiningsih, M.Si., menjelaskan bahwa Kampung Budaya Polowijen dipilih karena dinilai berhasil mengembangkan praktik pelestarian budaya berbasis komunitas. Menurutnya, kampung ini tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga mengelola budaya sebagai sumber pembelajaran, pemberdayaan, dan pengembangan masyarakat. “Ini merupakan komitmen Pusat Studi Kebudayaan UMM dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi berbasis komunitas kebudayaan. Kampung Budaya Polowijen telah menunjukkan bagaimana budaya dapat menjadi kekuatan dalam membangun identitas dan pemberdayaan masyarakat,” ujarnya Kajian yang dilakukan tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga berbasis pada pengalaman lapangan. Sebelum pelaksanaan webinar, para pembicara terlebih dahulu melakukan observasi langsung ke Kampung Budaya Polowijen. Mereka berdialog dengan pengelola kampung budaya dan mengamati berbagai aktivitas budaya yang berkembang di sana, mulai dari kesenian, tradisi kuliner, hingga praktik pendidikan berbasis kearifan lokal. Sementara itu, Sekretaris PSK UMM sekaligus PIC kegiatan, Dr. Frida Kusumastuti, M.Si., menjelaskan bahwa setelah observasi lapangan, para akademisi diberi kesempatan untuk melakukan penggalian data lebih lanjut sesuai dengan perspektif keilmuan masing-masing selama kurang lebih dua bulan. “Dari proses itulah lahir berbagai kajian yang kemudian dipresentasikan dalam webinar ini. Semua tulisan nantinya akan diterbitkan sebagai artikel ilmiah dan juga dihimpun menjadi buku yang akan kami serahkan kepada pengelola Kampung Budaya Polowijen,” jelas Frida. Melalui pendekatan multidisipliner, Kampung Budaya Polowijen dilihat dari berbagai sudut pandang. Dari sisi hukum, dibahas mengenai pentingnya regulasi sebagai pilar pengembangan pariwisata berbasis komunitas. Dari perspektif pendidikan, para peneliti mengkaji nilai-nilai kehidupan dalam tembang macapat serta penerapannya dalam pembelajaran berbasis budaya. Sementara itu, kajian kesehatan menyoroti budaya minum jamu sebagai praktik tradisional yang memiliki potensi meningkatkan imunitas masyarakat. Kajian lain juga membahas makanan tradisional, filosofi budaya, serta praktik kesehatan berbasis kearifan lokal yang masih dijaga oleh masyarakat Polowijen. Dari bidang komunikasi dan teknologi, Kampung Budaya Polowijen dipandang sebagai ruang narasi budaya yang dapat dikembangkan melalui media digital, termasuk pengembangan web galeri interaktif untuk memperluas jangkauan promosi budaya kepada generasi muda. Tidak hanya itu, perspektif sosiologi dan psikologi juga melihat kampung budaya ini sebagai ruang refleksi sosial sekaligus representasi perjalanan nilai-nilai budaya masyarakat. Bahkan tembang-tembang macapat yang hidup di lingkungan kampung tersebut dikaji sebagai refleksi tahapan perkembangan individu dalam perspektif psikologi. Bagi Pusat Studi Kebudayaan UMM, Kampung Budaya Polowijen tidak hanya menjadi objek penelitian, tetapi juga mitra strategis dalam pengembangan pendidikan kebudayaan berbasis pengalaman langsung. Pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat hubungan antara dunia akademik dan komunitas budaya, sekaligus mendorong lahirnya berbagai gagasan baru untuk pelestarian dan pengembangan budaya lokal.(*faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
UMM Sahur On The Road, Ajak Tunawisma hingga Tukang Becak Sahur Bareng dengan Konsep Barbeque

MALANGVOICE– Suasana sahur yang berbeda terlihat di kawasan Pasar Besar Malang pada Kamis dini hari (5/3). Di pinggir jalan, sejumlah orang tampak menikmati makanan yang dimasak langsung dengan konsep barbeque sederhana. Kegiatan tersebut merupakan program Sahur On The Road (SOTR) yang digelar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bekerja sama dengan komunitas Muhammadiyah University Riders (MURID). Tak sekadar membagikan makanan sahur, para relawan juga mengajak tunawisma, tukang becak, hingga pengguna jalan untuk makan bersama. Suasana kebersamaan pun terasa hangat di tengah aktivitas kota pada dini hari. Rombongan Sahur On The Road bergerak mengelilingi sejumlah titik di pusat Kota Malang, terutama di sekitar kawasan alun-alun dan Pasar Besar. Lokasi tersebut diketahui menjadi tempat beristirahat bagi sebagian masyarakat marjinal pada malam hingga dini hari. Para relawan berhenti di beberapa titik untuk membagikan makanan sekaligus mengajak mereka menikmati sahur bersama. Kolaborasi dengan komunitas MURID menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Komunitas yang beranggotakan dosen dan karyawan UMM tersebut ikut bergerak bersama rombongan untuk menjangkau masyarakat di sejumlah lokasi. Ketua komunitas MURID, Zakarija Achmat, S.Psi., M.Si., yang akrab disapa Jack, menjelaskan bahwa MURID merupakan komunitas motor yang menjadi wadah kebersamaan civitas akademika UMM yang memiliki minat pada dunia otomotif sekaligus kegiatan sosial. Menurutnya, komunitas tersebut resmi terbentuk pada 2018, meskipun embrionya sudah muncul dari pertemuan informal antaranggota sebelumnya. “MURID itu komunitas motor yang anggotanya dosen dan karyawan UMM. Kepanjangannya Muhammadiyah University Riders. Filosofinya sederhana, bahwa manusia pada dasarnya adalah murid yang harus terus belajar sepanjang hidup, sejak dari ayunan sampai liang lahat,” ujarnya. Ia menambahkan, penamaan tersebut juga terinspirasi dari pesan dalam tradisi keilmuan Muhammadiyah yang mendorong setiap individu untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat sekaligus mampu berbagi pengetahuan kepada orang lain. Dalam kegiatan sahur bersama ini, makanan dimasak langsung di lokasi menggunakan konsep barbeque sederhana. Cara tersebut menghadirkan pengalaman sahur yang berbeda sekaligus menciptakan suasana yang lebih akrab antara relawan dan masyarakat. “Saya sendiri bahkan baru pertama kali makan sahur dengan konsep seperti ini. Begitu ada undangan dari Humas UMM untuk mengikuti SOTR, saya langsung siap. Rasanya menyenangkan karena kita bisa berbagi sekaligus makan bersama dengan masyarakat,” ungkap Jack. Sementara itu, Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.Ikom., mengatakan kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian sosial kampus kepada masyarakat, khususnya mereka yang berada dalam kondisi rentan seperti tunawisma. Menurutnya, Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk menghadirkan kegiatan sosial yang mampu mempertemukan civitas akademika dengan masyarakat secara lebih dekat. “Melalui kegiatan ini kami ingin menghadirkan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial. Sahur tidak hanya tentang makan, tetapi juga tentang berbagi serta mempererat silaturahmi antara kampus dan masyarakat,” jelasnya. Ia menambahkan, konsep barbeque sengaja dihadirkan agar kegiatan sahur terasa lebih hangat dan tidak sekadar menjadi pembagian makanan. “Dengan memasak bersama di pinggir jalan, masyarakat yang hadir dapat menikmati sahur dalam suasana yang lebih santai dan akrab,” katanya. Melalui kegiatan Sahur On The Road ini, UMM memanfaatkan momentum Ramadan untuk menghadirkan dakwah sosial yang lebih membumi dan inklusif. Kolaborasi bersama komunitas MURID juga menunjukkan bahwa aktivitas kampus tidak hanya berpusat pada ruang akademik, tetapi dapat hadir langsung di tengah masyarakat melalui kegiatan sederhana yang sarat nilai kepedulian dan kebersamaan.(der)
Buka Puasa Bersama: UMM dan Media Perkuat Kolaborasi untuk Perubahan

MALANG (SurabayaPost.id) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menjalin silaturahmi dengan insan pers melalui kegiatan buka puasa bersama di Aula BAU Kampus 3 UMM, Kamis (5/3/2025). Kegiatan ini menjadi momentum refleksi mengenai peran media dan perguruan tinggi dalam membaca dinamika masyarakat. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si, mengatakan tradisi buka puasa bersama dengan media telah berlangsung lebih dari 25 tahun dan menjadi bagian dari hubungan historis antara UMM dan insan pers. “Buka puasa bersama dengan media ini sudah dimulai sejak zaman Pak Muhadjir. Artinya tradisi ini sudah berlangsung lebih dari 25 tahun yang lalu dan terus dijaga hingga sekarang,” ujarnya. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si, mengatakan tradisi buka puasa bersama dengan media telah berlangsung lebih dari 25 tahun. Nazaruddin menjelaskan bahwa perubahan besar dalam dunia media telah memengaruhi cara kampus berkomunikasi dengan masyarakat. Namun, peran pers tetap sangat penting dalam kehidupan sosial, membentuk pemikiran publik, dan mendorong perubahan sosial. “Media tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk pemikiran publik dan mendorong perubahan sosial,” tambahnya. Dalam kesempatan ini, Nazaruddin juga menekankan pentingnya kolaborasi antara UMM dan media dalam meningkatkan kesadaran masyarakat. “UMM tidak ada tanpa media. Perubahan media yang semakin beragam juga memengaruhi bagaimana kampus berkomunikasi dengan masyarakat,” ungkapnya. Kegiatan buka puasa bersama ini dihadiri oleh jajaran pimpinan UMM, tim Humas UMM, dan wartawan dari berbagai media. Suasana akrab dan hangat mewarnai acara ini, dengan diskusi yang mendalam tentang peran media dan perguruan tinggi dalam meningkatkan kesadaran masyarakat. Dengan kegiatan ini, UMM berharap dapat mempererat hubungan dengan insan pers dan meningkatkan komitmen untuk menjalin kolaborasi yang saling menguatkan. “Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan mendorong perubahan sosial,” tutup Nazaruddin. (lil).
Penelitian UMM Soroti Potensi Kampung Budaya Polowijen Malang sebagai Laboratorium Budaya

TIMESMALANG, MALANG – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menyoroti potensi budaya yang berkembang di Kampung Budaya Polowijen (KBP) melalui kajian akademik yang dilakukan oleh Pusat Studi Kebudayaan UMM. Penelitian tersebut menggali lebih dalam potensi KBP dari berbagai perspektif keilmuan, mulai dari kajian hukum, pendidikan dan bahasa, pemberdayaan masyarakat, kesehatan, komunikasi, sosiologi, tarbiyah, hingga psikologi. Kepala Pusat Studi Kebudayaan UMM, Daroe Iswatiningsih, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam menjalankan Tri Dharma, khususnya pengabdian kepada masyarakat berbasis komunitas budaya. “Ini adalah komitmen dari perguruan tinggi untuk KBP,” ujarnya. Ia juga menyoroti pentingnya pendidikan kebudayaan yang bertumpu pada pengalaman langsung serta penulisan kebudayaan sebagai salah satu ciri khas Pusat Studi Kebudayaan yang berada di lingkungan perguruan tinggi. Dalam penelitian ini, Kampung Budaya Polowijen mendapatkan apresiasi atas upaya masyarakatnya dalam membangun infrastruktur sekaligus menjaga keberlanjutan budaya lokal melalui pendekatan komunitas. Proses penggalian data dilakukan para peneliti selama kurang lebih dua bulan. Berbagai topik menarik turut dikaji, mulai dari regulasi pariwisata berbasis komunitas, nilai pendidikan dalam tembang macapat, budaya minum jamu untuk meningkatkan imunitas kesehatan, hingga pengembangan produk minuman fungsional berbasis resep tradisional Polowijen. Selain itu, para peneliti juga menyoroti pentingnya pendidikan berbasis kearifan lokal, pelestarian makanan tradisional, hingga pemanfaatan teknologi melalui web galeri interaktif untuk memperkenalkan budaya Polowijen kepada generasi muda. Hasil penelitian tersebut nantinya akan diterbitkan dalam bentuk artikel ilmiah serta dirangkum menjadi buku yang kemudian diserahkan kepada Kampung Budaya Polowijen sebagai bahan pengembangan di masa mendatang. Sekretaris Pusat Studi Kebudayaan UMM, Frida Kusumastuti, mengatakan bahwa ide-ide dari berbagai disiplin ilmu tersebut diharapkan dapat menjadi pijakan untuk pengembangan kampung budaya secara berkelanjutan. “Nantinya hasil kajian akan kami terbitkan dan serahkan ke KBP. Harapannya ide-ide dari berbagai disiplin ilmu ini secara bertahap dapat dikembangkan di KBP dan Pusat Studi Kebudayaan UMM bersama komunitas lain sehingga semakin menarik perhatian,” ujarnya. Melalui kajian multidisiplin tersebut, Kampung Budaya Polowijen dinilai bukan sekadar kampung yang menjaga tradisi. Lebih dari itu, kawasan ini dipandang sebagai laboratorium budaya yang dapat dikembangkan melalui pendekatan akademik serta kolaborasi lintas bidang ilmu. (*)
UMM dan Komunitas MURID Gelar Sahur On The Road untuk Tunawisma di Kota Malang

pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan sahur unik dengan konsep barbeque di pinggir jalan melalui kegiatan Sahur On The Road (SOTR) yang digelar di kawasan Pasar Besar Malang, Kamis dini hari, 5 Maret 2026.Kegiatan yang berlangsung di pusat Kota Malang ini tidak sekadar membagikan makanan sahur kepada masyarakat. Para relawan justru mengajak tunawisma, tukang becak, hingga pengguna jalan untuk duduk bersama menikmati sahur dengan konsep barbeque sederhana di pinggir jalan. Suasana hangat pun tercipta ketika civitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang berbaur langsung dengan masyarakat yang menjalani aktivitas di ruang-ruang kota pada waktu dini hari. Kolaborasi Kampus dan Komunitas Motor Kegiatan Sahur On The Road ini juga melibatkan komunitas Muhammadiyah University Riders (MURID), yang menjadi salah satu motor penggerak dalam pelaksanaannya. Komunitas yang beranggotakan dosen dan karyawan UMM tersebut ikut bergerak bersama rombongan relawan untuk menjangkau sejumlah titik di pusat Kota Malang. Ketua komunitas MURID, Zakarija Achmat, S.Psi., M.Si., yang akrab disapa Jack, menjelaskan bahwa MURID merupakan komunitas motor yang dibentuk sebagai wadah kebersamaan civitas akademika UMM yang memiliki minat pada dunia otomotif sekaligus kegiatan sosial. Menurutnya, komunitas tersebut resmi terbentuk pada tahun 2018, meskipun embrionya telah muncul dari berbagai pertemuan informal antaranggota sebelumnya. “MURID itu komunitas motor yang anggotanya dosen dan karyawan UMM. Kepanjangannya Muhammadiyah University Riders. Filosofinya sederhana, bahwa manusia pada dasarnya adalah murid yang harus terus belajar sepanjang hidup, sejak dari ayunan sampai liang lahat,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa penamaan tersebut juga terinspirasi dari tradisi keilmuan Muhammadiyah yang mendorong setiap individu untuk terus menjadi pembelajar sepanjang hayat sekaligus mampu berbagi pengetahuan kepada orang lain. Menyasar Masyarakat Marjinal di Pusat Kota Dalam pelaksanaannya, rombongan SOTR mengelilingi sejumlah titik di pusat Kota Malang, khususnya di kawasan sekitar alun-alun dan pasar yang pada malam hingga dini hari sering menjadi tempat beristirahat kelompok masyarakat marjinal. Para relawan berhenti di beberapa lokasi untuk membagikan makanan sahur sekaligus mengajak para tunawisma, tukang becak, serta pengguna jalan yang melintas untuk makan bersama. Konsep barbeque sederhana yang dihadirkan dalam kegiatan ini memberikan pengalaman sahur yang berbeda dari biasanya. Makanan dimasak langsung di lokasi sehingga menghadirkan suasana yang lebih akrab dan penuh kebersamaan. “Saya sendiri bahkan baru pertama kali makan sahur dengan konsep seperti ini. Begitu ada undangan dari Humas UMM untuk mengikuti SOTR, saya langsung siap. Rasanya menyenangkan karena kita bisa berbagi sekaligus makan bersama dengan masyarakat,” ungkap Jack. Ramadan sebagai Momentum Kepedulian Sosial Sementara itu, Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.Ikom., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian sosial kampus kepada masyarakat, terutama mereka yang berada dalam kondisi rentan seperti para tunawisma. Menurutnya, Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk menghadirkan kegiatan sosial yang mampu mempertemukan civitas akademika dengan masyarakat secara lebih dekat. “Melalui kegiatan ini kami ingin menghadirkan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial. Sahur tidak hanya tentang makan, tetapi juga tentang berbagi serta mempererat silaturahmi antara kampus dan masyarakat,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa konsep barbeque sengaja dihadirkan agar kegiatan sahur terasa lebih hangat dan tidak sekadar menjadi pembagian makanan semata. “Dengan memasak bersama di pinggir jalan, masyarakat yang hadir dapat menikmati sahur dalam suasana yang lebih santai dan akrab,” lanjutnya. Melalui kegiatan Sahur On The Road ini, UMM memanfaatkan momentum Ramadan untuk menghadirkan dakwah sosial yang lebih membumi dan inklusif. Kolaborasi bersama komunitas MURID juga menunjukkan bahwa aktivitas kampus tidak hanya berpusat pada ruang akademik, tetapi dapat hadir langsung di tengah masyarakat melalui kegiatan sederhana yang sarat dengan nilai kepedulian dan kebersamaan. *) Penulis : Faqih *) Editor : Satria
UMM Berkembang bersama Media dan Insan Pers

MALANG, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memperkuat hubungan dengan insan pers melalui kegiatan temu media dan buka bersama yang digelar pada Kamis, (5/32026). Kegiatan yang berlangsung di Aula BAU UMM ini dihadiri oleh berbagai media lokal, nasional, influencer, serta media persyarikatan Muhammadiyah. Sejumlah media mainstream dan media persyarikatan yang hadir di antaranya Suara Muhammadiyah, PWMU.CO, Maklumat.id, hingga Majelistabligh.id. Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik beserta jajaran wakil rektor. Acara diawali dengan kultum Ramadan yang memberikan penguatan spiritual bagi para tamu undangan sebelum memasuki sesi dialog dan silaturahmi media. Dalam sambutannya, Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik menegaskan bahwa hubungan antara UMM dan media bukanlah sesuatu yang dibuat-buat, melainkan tumbuh secara alami seiring kebutuhan kampus untuk hadir di tengah masyarakat. Menurutnya, sejak lama UMM menyadari pentingnya media sebagai mitra strategis dalam menyampaikan gagasan, aktivitas, serta kontribusi kampus kepada publik. “UMM itu tumbuh bersama media dan insan pers. Ini semua tidak disetting, tetapi memang kebutuhan kampus agar dikenal orang, agar kita bisa memahami masyarakat,” ujarnya. Ia menambahkan, melalui media, kampus juga dapat menangkap berbagai dinamika yang terjadi di tengah masyarakat sehingga dapat meresponsnya secara lebih peka. “Kampus harus memahami masyarakat, memiliki kepekaan terhadap apa yang dialami masyarakat. Kampus harus bisa merasakannya,” tambahnya. Prof. Nazaruddin Malik juga berbagi pengalaman terkait dunia jurnalistik. Ia mengaku pernah merasa cocok menjadi wartawan. Namun, ketika itu ia mendapatkan pesan dari mantan Rektor UMM Prof. Muhadjir Effendy. (diko)
Lewat Sahur on the Road, UMM Ajak Tunawisma Nikmati Sahur Barbeque di Pinggir Jalan

radarmalang – SAHUR di pinggir jalan dengan konsep barbeque menjadi pemandangan yang tidak biasa di kawasan Pasar Besar Malang pada Kamis (5/3). Kegiatan tersebut digelar oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui program Sahur On The Road (SOTR) yang berkolaborasi dengan komunitas Muhammadiyah University Riders (MURID). Tidak sekadar membagikan makanan sahur, para relawan juga mengajak tunawisma, tukang becak, hingga pengguna jalan untuk menikmati sahur bersama dengan konsep barbeque sederhana di pinggir jalan. Suasana ini menghadirkan kebersamaan yang hangat antara sivitas akademika dan masyarakat yang menjalani aktivitas di ruang-ruang kota pada waktu dini hari. Kolaborasi bersama komunitas MURID menjadi salah satu unsur penting dalam kegiatan tersebut. Komunitas yang beranggotakan dosen dan karyawan UMM ini turut bergerak bersama dalam rombongan SOTR untuk menjangkau sejumlah titik di pusat Kota Malang. Ketua komunitas MURID Zakarija Achmat SPsi MSi yang akrab disapa Jack menjelaskan, MURID merupakan komunitas motor yang dibentuk sebagai wadah kebersamaan civitas akademika UMM yang memiliki minat pada dunia otomotif sekaligus kegiatan sosial. Komunitas ini resmi terbentuk pada tahun 2018 meskipun embrionya telah muncul dari pertemuan informal antaranggota sebelumnya. ”MURID itu komunitas motor yang anggotanya dosen dan karyawan UMM. Kepanjangannya Muhammadiyah University Riders. Filosofinya adalah murid yang harus terus belajar sepanjang hidup, sejak dari ayunan sampai liang lahat. Penamaan itu juga terinspirasi dari pesan dalam tradisi keilmuan Muhammadiyah yang mendorong setiap individu untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat sekaligus mampu berbagi pengetahuan kepada orang lain,” ujarnya. KELILING KOTA: Komunitas Muhammadiyah University Riders (MURID) keliling Kota Malang untuk melakukan SOTR pada Kamis (5/3). (Humas UMM for Radar Malang) Rombongan SOTR bergerak mengelilingi sejumlah titik di pusat Kota Malang, terutama di kawasan sekitar alun-alun dan pasar yang menjadi tempat beristirahat bagi kelompok masyarakat marjinal. Para relawan berhenti di beberapa lokasi untuk membagikan makanan sahur sekaligus mengajak para tunawisma, tukang becak, serta pengguna jalan yang melintas untuk makan bersama. Konsep barbeque sederhana yang dihadirkan dalam kegiatan ini memberikan pengalaman sahur yang berbeda. Makanan dimasak langsung di lokasi sehingga menghadirkan suasana yang lebih akrab dan hangat. ”Saya sendiri bahkan baru pertama kali makan sahur dengan konsep seperti ini. Begitu ada undangan dari Humas UMM, saya langsung siap. Rasanya menyenangkan karena kita bisa berbagi sekaligus makan bersama dengan masyarakat,” ungkap Jack. Sementara itu, Kepala Humas UMM Maharina Novia Zahro MIkom menjelaskan, kegiatan ini merupakan wujud kepedulian sosial kampus kepada masyarakat. Menurutnya, Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk menghadirkan kegiatan sosial yang dapat mempertemukan sivitas akademika dengan masyarakat. ”Melalui kegiatan ini kami ingin menghadirkan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial. Sahur tidak hanya tentang makan, tetapi juga tentang berbagi serta mempererat silaturahmi antara kampus dan masyarakat,” ungkap dia. Melalui SOTR ini, UMM memanfaatkan momentum Ramadan untuk menghadirkan dakwah sosial yang lebih membumi dan inklusif. Kolaborasi bersama komunitas MURID juga menunjukkan bahwa aktivitas kampus tidak hanya berpusat pada ruang akademik, tetapi dapat hadir langsung di tengah masyarakat. (*/adn)