UMM Padukan Literasi, Batik Ecoprint, hingga Live Cooking dalam Ngabuburit Seru di Kayutangan

UMM Padukan Literasi, Batik Ecoprint, hingga Live Cooking dalam Ngabuburit Seru di Kayutangan INFOMU.CO | Malang – Tawa anak-anak, motif batik dari daun dan bunga, hingga aktivitas edukatif mewarnai suasana ngabuburit di kawasan Kayutangan Heritage, Kota Malang, pada Selasa (10/3/2026). Melalui kegiatan Ngebuburead, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan konsep menunggu waktu berbuka puasa yang berbeda dengan memadukan literasi, kampanye ramah lingkungan, serta hiburan interaktif bagi masyarakat. Salah satu daya tarik utama dalam kegiatan ini adalah penampilan batik ecoprint karya dosen UMM yang dikenakan oleh putera-puteri kampus. Batik ecoprint merupakan teknik membatik yang memanfaatkan daun, bunga, dan bahan alami lainnya untuk menghasilkan motif unik pada kain. Selain memiliki nilai estetika tinggi, teknik ini juga dikenal lebih ramah lingkungan karena tidak menggunakan bahan kimia berbahaya. Penampilan tersebut sekaligus menjadi cara kreatif untuk memperkenalkan produk fesyen berbasis keberlanjutan kepada masyarakat yang hadir di kawasan Kayutangan. Kepala Humas UMM, Maharina Novia Zahro, M.I.Kom., menjelaskan bahwa kehadiran batik ecoprint dalam kegiatan ini bukan sekadar pelengkap acara. Menurutnya, hal tersebut merupakan bagian dari upaya edukasi publik mengenai gaya hidup yang lebih peduli terhadap lingkungan. “Batik ecoprint ini kami hadirkan sebagai bentuk kampanye gaya hidup ramah lingkungan. Kami ingin menunjukkan bahwa karya kreatif dari kampus juga bisa berpihak pada keberlanjutan, memanfaatkan bahan alami, dan tetap memiliki nilai seni yang tinggi,” ujarnya. Selain mengangkat isu keberlanjutan, kegiatan Ngebuburead juga dirancang untuk menumbuhkan minat baca di kalangan generasi muda. Untuk mendukung tujuan tersebut, UMM menghadirkan mobil perpustakaan Kamis Membaca (Mobil KaCa) yang membawa berbagai koleksi buku bacaan anak dan remaja. Kehadiran mobil perpustakaan ini memungkinkan pengunjung, khususnya anak-anak, membaca buku secara langsung di ruang terbuka sambil menikmati suasana ngabuburit. “Melalui Mobil KaCa, kami ingin membawa buku lebih dekat ke ruang publik. Literasi tidak harus selalu berlangsung di ruang kelas atau perpustakaan, tetapi juga bisa tumbuh di tengah suasana ngabuburit yang hangat dan penuh kebersamaan,” tambah Maharina. Kemeriahan acara semakin terasa dengan adanya sesi live cooking yang menghadirkan tim dari Hotel Rayz UMM. Hotel yang merupakan salah satu unit bisnis UMM ini juga berfungsi sebagai laboratorium pembelajaran terapan bagi mahasiswa, khususnya di bidang perhotelan dan kuliner. Dalam sesi tersebut, pengunjung dapat menyaksikan langsung proses memasak berbagai hidangan yang disiapkan menjelang waktu berbuka puasa. Antusiasme anak-anak terlihat ketika mereka membaca buku dari Mobil KaCa serta mengikuti berbagai fun game yang telah disiapkan panitia. Suasana kawasan Kayutangan pun terasa semakin hidup dengan kehadiran keluarga yang menikmati kegiatan edukatif sambil menunggu waktu berbuka. Salah satu pengunjung, Roudhodul Mufarikha, mengaku terkesan dengan konsep kegiatan yang dihadirkan. Menurutnya, Ngebuburead menjadi alternatif ngabuburit yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pengalaman positif. “Menurut saya, konsep ngabuburit seperti ini sangat menarik karena bukan hanya menghibur, tetapi juga mengajak anak-anak membaca dan mengenal hal-hal positif. Jadi, sambil menunggu berbuka, ada pengalaman yang bermanfaat dan berkesan,” tuturnya.(*)

Dosen UMM: Nuzulul Qur’an Bukan Sekadar Seremonial

Oleh : Dr. Ahmad Fatoni, Lc., M.AgDosen Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pwmu.co – Peringatan Nuzulul Qur’an pada bulan Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai tradisi keagamaan semata, tetapi juga menjadi momentum refleksi bagi umat Islam untuk kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan. Momentum tersebut dinilai penting untuk meneguhkan kembali peran Al-Qur’an dalam membimbing kehidupan spiritual sekaligus sosial umat, terutama di tengah berbagai tantangan moral yang dihadapi masyarakat modern. Nuzulul Qur’an Bukan Sekadar Seremonial Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Ahmad Fatoni, Lc., M.Ag., menegaskan bahwa peringatan Nuzulul Qur’an seharusnya tidak berhenti pada aspek seremonial saja. Menurutnya, peristiwa turunnya wahyu pertama justru menjadi pengingat bagi umat Islam untuk terus menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. “Nilai-nilai Qur’ani memiliki potensi transformatif dalam membangun kehidupan yang lebih adil, beretika, dan berkeadaban,” ujarnya. Makna Nuzulul Qur’an Secara etimologis, Fatoni menjelaskan bahwa istilah Nuzulul Qur’an berasal dari kata Arab nazala yang berarti “turun”, sedangkan Al-Qur’an berasal dari kata qara’a yang bermakna “bacaan”. Istilah tersebut merujuk pada peristiwa turunnya wahyu Allah kepada Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk bagi umat manusia. Peristiwa tersebut dimulai dengan turunnya wahyu pertama berupa Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril. Dalam kajian Ulumul Qur’an, turunnya wahyu dipahami sebagai proses penyampaian firman Allah kepada Nabi Muhammad SAW, baik secara sekaligus maupun bertahap sesuai kebutuhan dakwah pada masa itu. “Peristiwa ini menandai dimulainya risalah kenabian Nabi Muhammad SAW,” jelasnya. Peristiwa Turunnya Wahyu Mayoritas ulama tafsir juga berpendapat bahwa Nuzulul Qur’an terjadi pada malam 17 Ramadan, sekitar tahun ke-13 sebelum Hijrah, ketika Nabi Muhammad SAW berusia 40 tahun. Peristiwa tersebut berlangsung di Gua Hira, Makkah, tempat Nabi melakukan perenungan spiritual sebelum menerima wahyu pertama. Fatoni menambahkan bahwa turunnya Al-Qur’an secara bertahap memiliki hikmah besar, salah satunya untuk memperkuat spiritualitas Nabi Muhammad SAW dalam menjalankan misi kenabian. Selain itu, proses tersebut juga memudahkan umat Islam dalam memahami ajaran Al-Qur’an secara kontekstual sesuai kondisi sosial masyarakat pada masa itu. “Proses turunnya wahyu yang bertahap memudahkan umat Islam memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an,” katanya. Menghidupkan Nilai Al-Qur’an Karena itu, ia mengajak umat Islam menjadikan momentum Nuzulul Qur’an sebagai sarana untuk memperkuat hubungan spiritual dengan Allah. Hal tersebut dapat dilakukan melalui peningkatan kualitas ibadah, memperbanyak tilawah, memahami tafsir Al-Qur’an, serta mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, Nuzulul Qur’an tidak hanya dipahami sebagai peristiwa historis dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW. Lebih dari itu, peringatan tersebut juga menjadi pengingat bagi umat Islam untuk terus menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an di tengah berbagai tantangan kehidupan modern.

Bakti Sosial UMM Hadir di Bungah Gresik dengan Program Sosial dan Literasi Anak

  pwmu.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar kegiatan bakti sosial Ramadan di Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Melirang, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, pada Kamis (12/3/2026).Kegiatan tersebut dihadiri ratusan warga yang tampak antusias mengikuti berbagai program sosial dan edukatif yang disiapkan oleh tim UMM sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat. Beragam Layanan untuk Warga Dalam kegiatan bakti sosial tersebut, UMM menghadirkan berbagai layanan bagi masyarakat, mulai dari pembagian sembako, fun games, pemeriksaan kesehatan gratis, hingga pelatihan parenting bagi para orang tua. Selain itu, anak-anak juga dapat mengikuti beragam aktivitas edukatif yang dikemas secara menarik oleh panitia sehingga suasana kegiatan berlangsung meriah. Kehadiran Mobil Kamis Membaca (Mobil KaCa) dan Mobil Bakti Terhadap Bangsa (Mobil Terbang) milik UMM turut menambah semarak kegiatan tersebut. Dua mobil perpustakaan keliling itu menghadirkan berbagai aktivitas literasi untuk menumbuhkan minat baca sekaligus meningkatkan budaya literasi pada anak-anak sejak dini. Dukungan Warga Bungah Wakil Rektor V UMM, Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si., menyampaikan rasa senang melihat tingginya antusiasme masyarakat dalam mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan bakti sosial ini diharapkan dapat membawa keberkahan bagi masyarakat Bungah sekaligus menjadi bagian dari upaya meningkatkan ketakwaan di bulan suci Ramadan. “Alhamdulillah saya sangat senang melihat banyak warga yang hadir. Semoga kegiatan ini membawa berkah bagi warga Bungah dan tim UMM, serta menjadi jalan bagi kita semua untuk mencapai ketakwaan yang sesungguhnya,” ujarnya. Sementara itu, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bungah, Drs. Suhali, M.Si., menyampaikan apresiasi kepada tim UMM yang telah memilih Kecamatan Bungah sebagai lokasi pelaksanaan bakti sosial. Ia menjelaskan bahwa gedung PRM dipilih sebagai lokasi kegiatan karena dinilai memiliki fasilitas yang mendukung untuk pelaksanaan kegiatan sosial dan pendidikan. “Saat dihubungi pihak UMM untuk melaksanakan bakti sosial di Kecamatan Bungah, kami langsung menindaklanjutinya dengan mempersiapkan tempat ini. Fasilitasnya sangat mendukung, mulai dari lembaga pendidikan, masjid, aula, hingga halaman yang luas,” ungkapnya. Pembagian Takjil untuk Pengguna Jalan Selain berpusat di area PRM, warga bersama tim UMM juga membagikan takjil gratis di tepi jalan raya bagi para pengguna jalan yang melintas. Takjil berupa buah-buahan tersebut bahkan habis dalam waktu kurang dari 10 menit karena para pengguna jalan telah tertib mengantre sebelum pembagian dimulai. Rangkaian kegiatan berlangsung hangat dan penuh kebersamaan. Melalui kegiatan ini, Universitas Muhammadiyah Malang kembali menunjukkan komitmennya untuk hadir di tengah masyarakat. Tidak hanya sebagai institusi pendidikan, UMM juga berperan sebagai mitra masyarakat yang aktif berkontribusi dalam kegiatan sosial serta pemberdayaan warga. *) Penulis : Humas Universitas Muhammadiyah Malang | Editor : Satria

Bakti Sosial UMM Meriahkan Ramadan Warga Bungah Gresik

MAKLUMAT – Ratusan warga Kecamatan Bungah, Gresik, memadati halaman Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Melirang, Kamis (12/3/2026). Mereka antusias mengikuti rangkaian bakti sosial yang digelar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen kampus dalam menghadirkan program pengabdian langsung bagi masyarakat. Dalam bakti sosial tersebut, UMM menghadirkan beragam layanan yang menyentuh kebutuhan warga. Mulai dari pembagian sembako, pemeriksaan kesehatan gratis, fun games, hingga pelatihan parenting bagi para orang tua. Tak hanya itu, anak-anak juga diajak mengikuti berbagai aktivitas edukatif yang dirancang secara interaktif. Suasana semakin semarak dengan kehadiran dua mobil perpustakaan keliling milik UMM. Keduanya adalah Mobil Kamis Membaca (Mobil KaCa) dan Mobil Bakti Terhadap Bangsa (Mobil Terbang). Melalui fasilitas tersebut, anak-anak diajak mengenal buku dan aktivitas literasi sejak dini. Baksos dan Refleksi Ketakwaan Wakil Rektor V UMM, Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si., menyampaikan bahwa bakti sosial ini merupakan bagian dari upaya kampus untuk berbagi manfaat di tengah masyarakat, khususnya pada momentum Ramadan. “Alhamdulillah kami sangat senang melihat antusiasme warga yang hadir. Semoga kegiatan ini membawa berkah bagi warga Bungah maupun tim UMM, sekaligus menjadi jalan bagi kita semua untuk meningkatkan ketakwaan,” ujarnya. Menurut Tri, kegiatan sosial seperti ini juga menjadi sarana bagi perguruan tinggi untuk memperkuat peran pengabdian kepada masyarakat. Melalui berbagai program yang disiapkan, UMM berharap dapat memberi manfaat nyata bagi warga. Antusiasme Masyarakat dan Dukungan Ranting Sementara itu, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bungah, Drs. Suhali, M.Si., mengapresiasi inisiatif UMM yang memilih wilayah Bungah sebagai lokasi kegiatan bakti sosial. Ia menjelaskan bahwa gedung PRM Melirang dipilih karena memiliki fasilitas yang memadai untuk mendukung berbagai kegiatan sosial dan pendidikan. Di lokasi tersebut terdapat masjid, lembaga pendidikan, aula, serta halaman luas yang dapat dimanfaatkan untuk aktivitas masyarakat. “Saat dihubungi oleh pihak UMM untuk melaksanakan bakti sosial di Kecamatan Bungah, kami langsung menindaklanjuti. Fasilitas di sini sangat mendukung untuk berbagai kegiatan,” jelasnya. Peran Kampus sebgai Mitra Warga Selain kegiatan di area PRM, warga bersama tim UMM juga membagikan takjil gratis kepada para pengguna jalan di sekitar lokasi. Takjil berupa buah-buahan tersebut habis dalam waktu kurang dari sepuluh menit karena masyarakat telah tertib mengantre sejak sebelum pembagian dimulai. Rangkaian kegiatan berlangsung hangat dan penuh kebersamaan. Melalui bakti sosial ini, Universitas Muhammadiyah Malang kembali menegaskan perannya tidak hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai mitra masyarakat yang aktif berkontribusi dalam kegiatan sosial dan pemberdayaan warga.

Asal-usul Nuzulul Qur’an: Awal Turunnya Wahyu kepada Nabi Muhammad

KLIKMU.CO – Peringatan Nuzulul Qur’an pada bulan Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai tradisi keagamaan, tetapi juga menjadi momentum refleksi bagi umat Islam untuk kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan. Momentum ini dinilai penting untuk meneguhkan kembali peran Al-Qur’an dalam membimbing kehidupan spiritual sekaligus sosial umat. Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Malang (PBA UMM) Dr Ahmad Fatoni Lc MAg menegaskan bahwa peringatan Nuzulul Qur’an seharusnya tidak berhenti pada aspek seremonial semata. Menurut dia, peristiwa turunnya wahyu pertama justru menjadi pengingat agar umat Islam terus menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. “Nilai-nilai Qur’ani memiliki potensi transformatif dalam membangun kehidupan yang lebih adil, beretika, dan berkeadaban,” ujarnya, Jumat (13/3/2026). Secara etimologis, Fatoni menjelaskan bahwa istilah Nuzulul Qur’an berasal dari kata Arab nazala yang berarti “turun”, sedangkan Al-Qur’an berasal dari kata qara’a yang bermakna “bacaan”. Istilah tersebut merujuk pada peristiwa turunnya wahyu Allah kepada Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk bagi umat manusia. Peristiwa itu dimulai dengan turunnya wahyu pertama berupa Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril. Dalam kajian Ulumul Qur’an, turunnya wahyu dipahami sebagai proses penyampaian firman Allah kepada Nabi Muhammad, baik secara sekaligus maupun bertahap sesuai dengan kebutuhan dakwah pada masa itu. “Peristiwa ini menandai dimulainya risalah kenabian Nabi Muhammad SAW,” jelasnya. Mayoritas ulama tafsir juga berpendapat bahwa Nuzulul Qur’an terjadi pada malam 17 Ramadan, sekitar tahun ke-13 sebelum hijrah, ketika Nabi Muhammad SAW berusia 40 tahun. Peristiwa tersebut berlangsung di Gua Hira, Makkah, tempat Nabi melakukan perenungan spiritual sebelum menerima wahyu pertama. Dia menambahkan bahwa turunnya Al-Qur’an secara bertahap memiliki hikmah besar, salah satunya untuk memperkuat spiritualitas Nabi Muhammad SAW dalam menjalankan misi kenabian serta memudahkan umat memahami ajaran Al-Qur’an secara kontekstual sesuai kondisi sosial masyarakat saat itu. “Proses turunnya wahyu yang bertahap memudahkan umat Islam memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an,” katanya. Karena itu, ia mengajak umat Islam menjadikan momentum Nuzulul Qur’an sebagai sarana memperkuat hubungan spiritual dengan Allah melalui peningkatan kualitas ibadah, memperbanyak tilawah, memahami tafsir Al-Qur’an, serta mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, Nuzulul Qur’an tidak hanya dipahami sebagai peristiwa historis dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi pengingat bagi umat Islam untuk terus menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an di tengah berbagai tantangan kehidupan modern. (Faqih/AS)

UMM Baksos Ramadan di Bungah Gresik, Layanan Kesehatan hingga Literasi Anak

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar kegiatan bakti sosial di Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Melirang, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, pada 12 Maret 2026. Kegiatan ini dihadiri ratusan warga setempat yang tampak antusias mengikuti berbagai program yang disiapkan oleh tim UMM. Dalam kegiatan tersebut, UMM menghadirkan beragam layanan untuk masyarakat. Mulai dari pembagian sembako, fun games, pemeriksaan kesehatan gratis, hingga pelatihan parenting bagi para orang tua. Tak hanya itu, kegiatan untuk anak-anak juga berlangsung meriah dengan berbagai aktivitas edukatif yang disiapkan panitia. Kehadiran Mobil Kamis Membaca (Mobil KaCa) dan Mobil Bakti Terhadap Bangsa (Mobil Terbang) milik UMM turut menambah semarak kegiatan. Kedua mobil perpustakaan keliling tersebut menghadirkan berbagai aktivitas literasi sebagai upaya menumbuhkan minat baca serta meningkatkan budaya literasi pada anak-anak sejak dini. Wakil Rektor V UMM, Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si., dalam sambutannya menyampaikan rasa senang melihat antusiasme warga yang hadir. Ia berharap kegiatan ini dapat membawa berkah bagi semua pihak sekaligus menjadi bagian dari upaya meningkatkan ketakwaan di bulan Ramadan. “Alhamdulillah saya sangat senang melihat banyak warga yang hadir. Semoga kegiatan ini membawa berkah bagi warga Bungah dan tim UMM, serta menjadi jalan bagi kita semua untuk mencapai ketakwaan yang sesungguhnya,” ujarnya. Sementara itu, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bungah, Drs. Suhali, M.Si., menyampaikan terima kasih kepada tim UMM yang telah memilih Kecamatan Bungah sebagai lokasi kegiatan bakti sosial. Ia menjelaskan bahwa gedung PRM dipilih sebagai lokasi kegiatan karena fasilitasnya dinilai strategis untuk mendukung berbagai rangkaian kegiatan berbasis pendidikan dan sosial. “Saat dihubungi pihak UMM untuk melaksanakan bakti sosial di Kecamatan Bungah, kami langsung menindaklanjutinya dengan mempersiapkan tempat ini. Fasilitasnya sangat mendukung, mulai dari lembaga pendidikan, masjid, aula, hingga halaman yang luas,” ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa pihaknya bersama tim PCM setempat siap berkolaborasi kembali dengan UMM dalam kegiatan serupa di masa mendatang. Selain berpusat di area PRM, warga bersama tim UMM juga membagikan takjil gratis di tepi jalan raya. Takjil berupa buah-buahan tersebut habis dalam waktu kurang dari 10 menit karena para pengguna jalan telah tertib mengantre sebelum pembagian dimulai. Rangkaian kegiatan berlangsung hangat dan penuh kebersamaan. Melalui kegiatan ini, Universitas Muhammadiyah Malang kembali menunjukkan komitmennya untuk hadir di tengah masyarakat, tidak hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai mitra yang aktif berkontribusi dalam kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat.(ANS)

Dari Matahari hingga Kompas, Siswa SD di Malang Belajar Ilmu Falak

timesindonesia, MALANG – SD Muhammadiyah 3 Assalaam (SD Mumtas) Arjosari, Kota Malang mengajak siswa memahami langsung terkait cara menentukan arah kiblat melalui praktik ilmu falak. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangkaian Pondok Ramadan. Pada dasarnya, siswa tidak hanya belajar secara teoritis, tetapi juga praktik lapangan. Sehingga proses belajar terasa lebih hidup dan kontekstual. Dalam mendukung kegiatan ini, sekolah menghadirkan pakar ilmu falak dari Universitas Muhammadiyah Malang, M. Syamsu Alam D., S.H., M.Ag., sebagai narasumber utama. Sebagai permulaan, Syamsu menjelaskan bahwa kiblat merupakan arah menuju Ka’bah di Makkah, yang menjadi arah bagi seluruh umat Islam di dunia ketika melaksanakan salat. “Kiblat merupakan arah bagi seluruh umat islam di dunia ketika akan shalat,” jelasnya di hadapan para murid. Setelah teori selesai, siswa diajak untuk mempraktikkan langsung bagaimana cara menentukan arah kiblat melalui beberapa metode. Baik metode modern atau tradisional turut diperkenalkan. Salah satu metode modern yang digunakan adalah melalui pemanfaatan Google Earth. Dengan aplikasi tersebut, siswa dapat memvisualisasikan posisi geografis sekolah mereka. Berdasarkan data teknis, SD Muhammadiyah 3 Assalaam berada pada koordinat Lintang 07° 55′ 42″ LS dan Bujur 112° 39′ 09″ BT. Dari titik tersebut, terlihat garis lurus yang mengarah langsung menuju Ka’bah di Makkah dengan azimut kiblat 294° 11′ 49″. Akurasi arah kiblat di Masjid Assalaam juga diuji secara langsung menggunakan laser 16 line. Teknologi ini membantu memastikan bahwa arah sajadah dan posisi bangunan masjid telah benar-benar presisi menghadap Ka’bah. Untuk metode tradisional, siswa mempraktekkan penggunaan kompas kiblat dan alat tradisional bernama mizwalah. Mereka belajar bahwa matahari di siang hari dapat berfungsi sebagai “kompas alami raksasa” yang membantu manusia menentukan arah. Siswa juga diajak keluar ruangan untuk mengamati matahari secara langsung menggunakan kacamata khusus matahari (solar eclipse glasses). Pengamatan ini dilakukan untuk memahami fenomena penting dalam ilmu falak yang disebut Istiwa A’zam, yaitu momen ketika matahari berada tepat di atas Ka’bah sehingga arah kiblat dapat ditentukan secara sangat akurat melalui bayangan benda yang berdiri tegak lurus. “Penting juga untuk menyamakan jam dengan jam server BMKG agar hasil pengamatan bayangan kiblat menjadi akurat,” imbuhnya. Kegiatan ini menjadi implementasi dari deep learning di sekolah. Suasana belajar yang eksploratif membuat siswa merasa senang dengan proses belajar (joyfull learning). keterlibatan siswa dalam praktik langsung serta keterkaitan antara ilmu falak, teknologi, dan praktik ibadah memberikan pengalaman belajar yang bermakna (meaningful learning). Terakhir, proses pengamatan yang membutuhkan ketelitian, pemahaman konsep, serta kesadaran terhadap keteraturan alam juga melatih siswa untuk belajar secara sadar dan reflektif (mindful learning). (*)

Baksos PCA UMM: Menguatkan Disiplin, Kesabaran, dan Keikhlasan di Bulan Suci Ramadhan

TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Universitas Muhammadiyah Malang (PCA UMM) menggelar kegiatan bakti sosial dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadhan pada hari Sabtu (7/3/2026) atau bertepatan dengan 18 Ramadhan 1447 H. Kegiatan yang berlangsung di Aula BAU Universitas Muhammadiyah Malang, dihadiri oleh Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah UMM periode 2022- 2027. Sesi penyampaian materi menguatkan rohani peserta yang hadir. Kegiatan bakti sosial (baksos) dengan menyalurkan paket sembako kepada para petugas cleaning service (CS), tenaga harian, serta juru parkir di lingkungan UMM sebagai penerima manfaat. Selain itu bakti sosial ini juga diisi dengan pemeriksaan kesehatan (general check-up) oleh tenaga medis dan paramedis dari UMC UMM, serta kegiatan screening Tuberkulosis (TB) bagi para peserta. Layanan kesehatan ini diharapkan dapat membantu meningkatkan kesadaran peserta terhadap pentingnya menjaga kesehatan, terutama di tengah aktivitas kerja sehari-hari. Sambutan Ketua PCA UMM. Acara diawali dengan doa bersama, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars Sang Surya, dan Mars ‘Aisyiyah yang menambah semangat kebersamaan dalam suasana Ramadhan yang penuh berkah. Selanjutnya, Ketua PCA UMM, Dr. Masiyah Kholmi, M.M., Ak., CA, menyampaikan sambutan sekaligus membuka secara resmi kegiatan bakti sosial tersebut. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa tema kegiatan tahun ini adalah “Menguatkan Disiplin, Kesabaran, dan Keikhlasan.” Menurutnya, bulan puasa merupakan momentum spiritual yang sangat penting bagi umat Islam. Penyerahan bingkisan ramadhan 1447 H dari PCA UMM. “Ramadan bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga merupakan tindakan spiritual untuk melatih disiplin, kesabaran, serta keikhlasan dalam menjalani kehidupan,” ujarnya. Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan bahwa dana yang berhasil dihimpun dari ibu-ibu dosen, tenaga kependidikan, serta para donatur lainnya di lingkungan UMM, mencapai Rp 28.342.500 plus beras 65 Kg. Kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Ibu Luluk Dwi Kumalasari, M.Si. dengan tema yang sama. Penyampaian materi berlangsung hangat, santai, dan diselingi canda ringan yang membuat suasana tetap hidup meskipun para peserta tengah menjalankan ibadah puasa. Dalam pemaparannya, beliau menyampaikan bahwa bulan suci Ramadan harus disambut dengan penuh kegembiraan dan rasa syukur. Ramadan merupakan bulan yang mengajarkan umat untuk memperkuat kesabaran, meningkatkan rasa syukur, serta mempererat solidaritas sosial. Tim kesehatan dan perwakilan PCA UMM. “Ramadhan sering dimaknai sebagai bulan pembakaran dosa-dosa. Namun lebih dari itu, Ramadhan adalah perjalanan spiritual yang menghadirkan banyak pelajaran bagi kehidupan kita, baik secara pribadi maupun sosial,” ungkapnya. Suasana kegiatan semakin meriah dengan adanya pembagian doorprize bagi para peserta yang bisa menjawab pertayaan dari panitia bakti sosial, sehingga menambah semangat dan kebahagiaan di tengah rangkaian acara. Di sela-sela kegiatan, Ketua Panitia Patmawati, S.Pd., M.Pd. menyampaikan bahwa bakti sosial Ramadhan ini merupakan agenda rutin PCA UMM yang terus dilaksanakan setiap tahun. “Kegiatan ini menjadi bentuk kepedulian sosial sekaligus upaya mempererat silaturahmi antara sivitas akademika UMM dengan para tenaga pendukung kampus. InsyaAllah kegiatan ini akan terus berlanjut dan berkembang dengan berbagai program yang lebih bermanfaat di masa mendatang,” tuturnya. Pemeriksaan kesehatan saat baksos. Ia juga berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat bagi seluruh pihak yang terlibat, baik panitia, donatur, maupun para penerima manfaat. “Semoga apa yang kita lakukan hari ini menjadi amal kebaikan, memperkuat rasa kebersamaan, serta menghadirkan keberkahan bagi kita semua, khususnya di bulan suci Ramadan yang penuh rahmat ini,” pungkasnya. Melalui kegiatan bakti sosial ini, PCA UMM berharap nilai-nilai disiplin, kesabaran, keikhlasan, dan kepedulian sosial semakin tumbuh di tengah masyarakat, sekaligus memperkuat semangat berbagi dan kebersamaan dalam keberkahan Ramadhan. (dewi/pca umm)

UMM Hadir di Bungah Gresik, Bakti Sosial Ramadan Hadirkan Layanan Kesehatan hingga Literasi Anak

Jnews.Gresik – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar kegiatan bakti sosial di Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Melirang, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, pada 12 Maret 2026. Kegiatan ini dihadiri ratusan warga setempat yang tampak antusias mengikuti berbagai program yang disiapkan oleh tim UMM. Dalam kegiatan tersebut, UMM menghadirkan beragam layanan untuk masyarakat. Mulai dari pembagian sembako, fun games, pemeriksaan kesehatan gratis, hingga pelatihan parenting bagi para orang tua. Tak hanya itu, kegiatan untuk anak-anak juga berlangsung meriah dengan berbagai aktivitas edukatif yang disiapkan panitia. Kehadiran Mobil Kamis Membaca (Mobil KaCa) dan Mobil Bakti Terhadap Bangsa (Mobil Terbang) milik UMM turut menambah semarak kegiatan. Kedua mobil perpustakaan keliling tersebut menghadirkan berbagai aktivitas literasi sebagai upaya menumbuhkan minat baca serta meningkatkan budaya literasi pada anak-anak sejak dini. Wakil Rektor V UMM, Prof. Dr. Tri Sulistyaningsih, M.Si., dalam sambutannya menyampaikan rasa senang melihat antusiasme warga yang hadir. Ia berharap kegiatan ini dapat membawa berkah bagi semua pihak sekaligus menjadi bagian dari upaya meningkatkan ketakwaan di bulan Ramadan. “Alhamdulillah saya sangat senang melihat banyak warga yang hadir. Semoga kegiatan ini membawa berkah bagi warga Bungah dan tim UMM, serta menjadi jalan bagi kita semua untuk mencapai ketakwaan yang sesungguhnya,” ujarnya. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar kegiatan bakti sosial di Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Melirang, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, pada 12 Maret 2026. Sementara itu, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bungah, Drs. Suhali, M.Si., menyampaikan terima kasih kepada tim UMM yang telah memilih Kecamatan Bungah sebagai lokasi kegiatan bakti sosial. Ia menjelaskan bahwa gedung PRM dipilih sebagai lokasi kegiatan karena fasilitasnya dinilai strategis untuk mendukung berbagai rangkaian kegiatan berbasis pendidikan dan sosial. “Saat dihubungi pihak UMM untuk melaksanakan bakti sosial di Kecamatan Bungah, kami langsung menindaklanjutinya dengan mempersiapkan tempat ini. Fasilitasnya sangat mendukung, mulai dari lembaga pendidikan, masjid, aula, hingga halaman yang luas,” ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa pihaknya bersama tim PCM setempat siap berkolaborasi kembali dengan UMM dalam kegiatan serupa di masa mendatang. Selain berpusat di area PRM, warga bersama tim UMM juga membagikan takjil gratis di tepi jalan raya. Takjil berupa buah-buahan tersebut habis dalam waktu kurang dari 10 menit karena para pengguna jalan telah tertib mengantre sebelum pembagian dimulai. Rangkaian kegiatan berlangsung hangat dan penuh kebersamaan. Melalui kegiatan ini, Universitas Muhammadiyah Malang kembali menunjukkan komitmennya untuk hadir di tengah masyarakat, tidak hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai mitra yang aktif berkontribusi dalam kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat.(*/ARM)

Nuzulul Qur’an Bukan Sekadar Seremonial, Dosen UMM Ajak Umat Hidupkan Nilai Al-Qur’an di Tengah Krisis Moral

Jnews.KotaMalang – Peringatan Nuzulul Qur’an pada bulan Ramadhan tidak hanya dimaknai sebagai tradisi keagamaan, tetapi juga menjadi momentum refleksi bagi umat Islam untuk kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan. Momentum ini dinilai penting untuk meneguhkan kembali peran Al-Qur’an dalam membimbing kehidupan spiritual sekaligus sosial umat. Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Malang (PBA UMM), Dr. Ahmad Fatoni, Lc., M.Ag., menegaskan bahwa peringatan Nuzulul Qur’an seharusnya tidak berhenti pada aspek seremonial semata. Menurutnya, peristiwa turunnya wahyu pertama justru menjadi pengingat agar umat Islam terus menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. “Nilai-nilai Qur’ani memiliki potensi transformatif dalam membangun kehidupan yang lebih adil, beretika, dan berkeadaban,” ujarnya. Secara etimologis, Fatoni menjelaskan bahwa istilah Nuzulul Qur’an berasal dari kata Arab nazala yang berarti “turun”, sedangkan Al-Qur’an berasal dari kata qara’a yang bermakna “bacaan”. Istilah tersebut merujuk pada peristiwa turunnya wahyu Allah kepada Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk bagi umat manusia. Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Malang (PBA UMM), Dr. Ahmad Fatoni, Lc., M.Ag., Peristiwa itu dimulai dengan turunnya wahyu pertama berupa Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril. Dalam kajian Ulumul Qur’an, turunnya wahyu dipahami sebagai proses penyampaian firman Allah kepada Nabi Muhammad, baik secara sekaligus maupun bertahap sesuai dengan kebutuhan dakwah pada masa itu. “Peristiwa ini menandai dimulainya risalah kenabian Nabi Muhammad SAW,” jelasnya. Mayoritas ulama tafsir juga berpendapat bahwa Nuzulul Qur’an terjadi pada malam 17 Ramadhan, sekitar tahun ke-13 sebelum Hijrah, ketika Nabi Muhammad SAW berusia 40 tahun. Peristiwa tersebut berlangsung di Gua Hira, Makkah, tempat Nabi melakukan perenungan spiritual sebelum menerima wahyu pertama. Ia menambahkan bahwa turunnya Al-Qur’an secara bertahap memiliki hikmah besar, salah satunya untuk memperkuat spiritualitas Nabi Muhammad SAW dalam menjalankan misi kenabian serta memudahkan umat memahami ajaran Al-Qur’an secara kontekstual sesuai kondisi sosial masyarakat saat itu. “Proses turunnya wahyu yang bertahap memudahkan umat Islam memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an,” katanya. Karena itu, ia mengajak umat Islam menjadikan momentum Nuzulul Qur’an sebagai sarana memperkuat hubungan spiritual dengan Allah melalui peningkatan kualitas ibadah, memperbanyak tilawah, memahami tafsir Al-Qur’an, serta mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, Nuzulul Qur’an tidak hanya dipahami sebagai peristiwa historis dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW, tetapi juga sebagai pengingat bagi umat Islam untuk terus menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an di tengah berbagai tantangan kehidupan modern.(*/ARM)