Dialog dengan Mahasiswa UMM, H. Rokhmad: Tanpa DPRD, Siapa Awasi Anggaran Negara?

MALANGKOTA (SurabayaPost.id) – Anggota DPRD Kota Malang H. Rokhmad. S.Sos menjadi narasumber dialog bersama Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang di Aula DPRD Kota Malang, Jumat (24/4/2026). Dialog yang didampingi dosen UMM Ahmad Sulaiman dan dipandu moderator Jesicha Putri itu membahas peran lembaga legislatif yang kerap disalahpahami publik. Rokhmad menegaskan fungsi DPRD tidak berhenti pada pembentukan Peraturan Daerah dan pengalokasian anggaran infrastruktur. Fungsi pengawasan justru paling krusial. Menanggapi sentimen publik yang menyerukan pembubaran dewan, ia mengingatkan secara logis. “Tanpa lembaga tersebut, tidak akan ada pihak yang mengontrol dan mengawasi penggunaan anggaran negara agar tidak terjadi penyelewengan,” tegas politisi Fraksi PKS itu. Ia juga mengurai dinamika sosiopolitik masyarakat perkotaan dan perdesaan. Di kawasan seperti Dinoyo yang mayoritas berpendidikan tinggi, instruksi tokoh agama atau takmir masjid untuk memilih calon tertentu tidak serta-merta diikuti. “Warga kota lebih kritis. Arahan tidak langsung ditelan mentah-mentah,” ujarnya. SESI DIALOG: H. Rokhmad didampingi dosen UMM Ahmad Sulaiman dan dipandu moderator Jesicha Putri itu membahas peran lembaga legislatif yang kerap disalahpahami publik. Sebaliknya di perdesaan, pengaruh tokoh masyarakat masih sangat kuat. Warga cenderung patuh pada figur otoritas karena kedekatan emosional ketimbang pertimbangan rasional. Rokhmad menyoroti fenomena politik uang yang mengaburkan logika pemilih. Ia membandingkan kandidat berpendidikan tinggi dan cakap organisasi namun tak punya modal, dengan kandidat kurang kompeten tapi rajin “bagi-bagi sedekah” demi suara. Meski godaan itu nyata, ia menegaskan komitmen menjaga integritas selama dua periode menjabat. “Politisi itu harus seperti Emas 24 Karat. Nilainya tetap sama, mau ditaruh di tempat bersih atau kotor,” katanya. Menutup dialog, Rokhmad berpesan agar setiap langkah hidup didasarkan pada dua prinsip: kebermanfaatan bagi sesama dan kedekatan kepada Tuhan. Ia memakai analogi pertanian untuk menggambarkan hukum sebab-akibat. “Kebaikan yang ditanam akan berbuah kebaikan pula,” ucapnya. Sesi diakhiri pantun hangat yang mengajak rajin beribadah demi kebahagiaan dunia dan akhirat. “Ojo mandek dadi wong apik (Jangan berhenti menjadi orang yang baik), karena setiap menanam padi akan tumbuh rumput. Tetaplah menanam padi, kalau menanam rumput belum tentu tumbuh padi,” pungkasnya. (lil).
Konflik AS-Iran: Pakar UMM Sebut Diplomasi Indonesia Tertinggal

pwmu.co – Di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang terus mengguncang stabilitas ekonomi dan keamanan global, posisi strategis Indonesia kembali diuji. Pertanyaannya, apakah Indonesia akan terus berada di zona nyaman dengan sikap normatif, atau berani tampil sebagai aktor utama dalam percaturan dunia?Isu tersebut mengemuka dalam forum Ruang Gagasan bertajuk “Dinamika Geopolitik Global: Implikasi Konflik Amerika–Iran bagi Indonesia” yang digelar oleh Universitas Muhammadiyah Malang melalui Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB), RBC A. Malik Fadjar Institute, dan Program Studi Hubungan Internasional. Kegiatan ini berlangsung di RBC A. Malik Fadjar Institute pada Kamis (23/4/2026), menghadirkan diskusi mendalam terkait posisi Indonesia dalam dinamika geopolitik global. Guru Besar Hubungan Internasional UMM sekaligus Kepala PSIB UMM, Gonda Yumitro, menyoroti kecenderungan Indonesia yang masih berlindung di balik pendekatan normatif berbasis hukum internasional. Prof. Gonda Yumitro, MA., Ph.D. “Kekuatan narasi yang dibangun Indonesia belum sepenuhnya berdampak pada level internasional. Kebijakan kita masih banyak berada pada tataran konseptual,” tegas Prof. Gonda Yumitro, Ph.D. Menurutnya, keputusan Indonesia untuk tidak secara eksplisit mengutuk Amerika Serikat dan Israel dipandang sebagai upaya menjaga posisi sebagai mediator. Namun, pendekatan tersebut dinilai belum cukup kuat dalam menghadapi realitas geopolitik global. Ia juga menegaskan bahwa Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara Eropa dan ASEAN, terutama dalam hal kemandirian dan kekuatan strategis. Pandangan serupa disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana. Prof. Hikmahanto Juwana, Ph.D. Ia menjelaskan bahwa konflik global akan berdampak langsung terhadap kondisi ekonomi dalam negeri, khususnya melalui lonjakan harga minyak dunia. “Dominasi negara-negara besar dalam rantai produksi global mempersempit ruang gerak negara berkembang. Sikap hati-hati Indonesia dinilai realistis, tetapi belum cukup menjadikan kita aktor strategis,” ujar Prof. Hikmahanto Juwana, Ph.D. Menurutnya, tanpa langkah diplomasi yang lebih tegas, ambisi Indonesia sebagai penengah global berpotensi hanya menjadi wacana. Sementara itu, Rektor UMM Nazruddin Malik menekankan pentingnya pendekatan Islam Berkemajuan dalam menghadapi dinamika global. “Perubahan lanskap ekonomi global menempatkan Indonesia pada posisi yang belum kuat. Sebagai negara dengan pasar besar, potensi kita belum diimbangi kekuatan produksi yang memadai,” paparnya. Prof. Dr. Nazruddin Malik, M.Si. menegaskan bahwa penguatan industri domestik dan kapasitas negosiasi internasional menjadi kunci agar Indonesia tidak terus bersikap reaktif. Forum ini menegaskan bahwa tantangan utama Indonesia bukan hanya memahami konflik global, tetapi menentukan posisi yang tegas dalam percaturan internasional. Tanpa penguatan kebijakan yang implementatif, Indonesia berisiko tetap menjadi “penonton” dalam arena geopolitik global yang semakin kompetitif. Bongkar Dinamika Konflik AS-Iran, Pakar HI UMM Sebut Nyali Diplomasi Indonesia Masih Tertinggal *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria
Bukti Nyata Kampus Inklusif, UMM Antarkan Mahasiswa Berkursi Roda Lulus dengan Deretan Prestasi

Pendidikan tinggi yang bermutu sejatinya adalah hak semua orang, tak terkecuali bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik. Komitmen mewujudkan ekosistem pendidikan yang setara dan inklusif ini dibuktikan secara nyata oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui penyediaan infrastruktur ramah disabilitas dan budaya akademik yang suportif, Kampus Putih sukses mengantarkan Akhmad Ali Akbar, mahasiswa pengguna kursi roda dari Program Studi Psikologi, menyelesaikan masa studinya dengan deretan prestasi gemilang. Pria yang akrab disapa Akbar ini merasakan betul komitmen UMM dalam menyediakan lingkungan kampus yang ramah disabilitas. Dukungan tersebut ia rasakan sejak hari pertama berstatus sebagai mahasiswa. Keberadaan infrastruktur yang memadai, seperti akses khusus jalur kursi roda di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 4 hingga kemudahan mobilitas di berbagai fasilitas praktikum, membuatnya leluasa bergerak. Baginya, kenyamanan aksesibilitas fisik adalah kunci utama yang melancarkan rutinitas perkuliahannya selama empat tahun terakhir. “Sedari awal hingga kelulusan, UMM benar-benar membantu dan mendukung sehingga saya tidak merasa berat menjalani setiap proses perkuliahan meski dengan keterbatasan fisik,” ucapnya. Menariknya, ia menegaskan bahwa kemudahan tersebut murni sebatas pada aspek fasilitas penunjang mobilitas. Dalam urusan akademik, Akbar tidak mendapatkan perlakuan khusus atau keistimewaan. Ia harus melewati standar evaluasi, beban tugas, dan ujian yang sama ketatnya dengan rekan sebaya. Prinsip kesetaraan inilah yang memacu semangatnya untuk bersaing secara sehat dan membuktikan kualitas diri secara objektif di dalam ruang kelas. Selain di bidang akademik, kapasitas kepemimpinan Akbar juga terasah tajam. Kampus memberikannya panggung yang sama untuk berkontribusi secara nyata. Akbar tercatat pernah mengemban amanah sebagai eksekutif muda di Kementerian Luar Negeri Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas periode 2023-2024. Puncaknya, ia dipercaya menjadi Wakil Ketua Pelaksana Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) Fakultas Psikologi 2024. Di bawah arahannya bersama tim, rangkaian acara tersebut sukses menyabet juara tiga sebagai Pesmaba terbaik tingkat universitas. “UMM sudah siap menjadi kampus inklusif dan pastinya akan selalu mendukung teman-teman disabilitas untuk menempuh perkuliahan dengan lancar, bagaimanapun caranya,” tegasnya. Kiprah Akbar rupanya tidak berhenti di lingkungan kampus saja. Ia juga mendedikasikan dirinya pada kegiatan sosial kemasyarakatan dengan bergabung di komunitas Turun Tangan Malang. Mengawali langkah sebagai staf Hubungan Masyarakat (Humas) pada periode 2022-2023, kinerjanya yang cemerlang mengantarkannya pada posisi Ketua Umum di periode berikutnya. Perjalanan memimpin organisasi diakuinya penuh dinamika dan lika-liku. Namun, pasang surut tersebut justru meneguhkan tekadnya untuk terus mencari pengalaman berharga. Di akhir masa studinya, Akbar memberikan pesan bagi seluruh pejuang mimpi, baik yang memiliki keterbatasan fisik maupun tidak. Ia percaya bahwa setiap doa dan kerja keras akan membuahkan hasil manis pada waktunya. “Jangan pernah berhenti berharap, berdoa, dan bermimpi karena sejatinya mimpi-mimpi itu akan terwujud di masa yang akan datang,” pungkasnya. (ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman