UMM Salurkan Puluhan Hewan Kurban dari Malang Raya Hingga Sumbawa

Mengusung semangat kepedulian sosial yang inklusif, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menyalurkan puluhan hewan kurban secara masif. Pendistribusian tahun ini difokuskan pada perluasan jangkauan, tidak hanya menyasar kantong-kantong persyarikatan dan wilayah pelosok, tetapi juga didistribusikan secara khusus bagi warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) serta sekolah-sekolah mitra. Koordinator Distribusi Hewan Kurban UMM, Ir. Ali Mahmud, S.Pt., M.Pt., memaparkan bahwa pendistribusian puluhan ekor sapi dan kambing tahun ini menjangkau teritori yang sangat luas, membentang dari Malang Raya hingga ke Pulau Sumbawa. Ia menambahkan bahwa penyaluran ini turut mengakomodasi berbagai permintaan dari elemen masyarakat, yayasan, organisasi mahasiswa, hingga sekolah-sekolah yang selama ini menjadi penyumbang mahasiswa terbanyak bagi Kampus Putih. “Tahun ini ada 18 ekor sapi dan kurang lebih 50 ekor kambing atau domba. Itu tersebar mulai dari Sumbawa, lalu di Malang Raya seperti Pimpinan Cabang dan Ranting Muhammadiyah, sekolah-sekolah penyumbang mahasiswa terbanyak seperti SMAN Batu dan SMA Muhammadiyah Gondanglegi, hingga organisasi mahasiswa,” ungkapnya 26 Mei kepada Humas UMM. Selain memastikan pemerataan distribusi, UMM juga sangat menjamin kualitas dan kelayakan seluruh hewan yang disalurkan. Ali menegaskan bahwa seluruh hewan kurban, baik sapi maupun kambing dan domba, telah dipastikan lolos dalam pemeriksaan kesehatan hewan kurban secara ketat. Langkah preventif ini dilakukan guna menjamin bahwa hewan-hewan tersebut berada dalam kondisi prima, terbebas dari segala macam penyakit menular, serta telah memenuhi standar syariat berkurban sebelum diserahkan kepada para penerima manfaat. Lebih lanjut, Ali menjelaskan bahwa UMM memberikan perhatian khusus bagi warga binaan dengan menyesuaikan wujud pendistribusian berdasarkan ketersediaan fasilitas pemotongan di masing-masing lokasi. Lapas khusus laki-laki mendapatkan hewan kurban hidup, sementara Lapas perempuan menerima paket daging siap olah guna menyiasati keterbatasan tenaga jagal. “Untuk Lapas 1 Lowokwaru yang laki-laki, kita akan memberikan satu ekor sapi. Sedangkan untuk Lapas perempuan, karena tidak ada yang memotong, jadi kita berikan paket daging kurban dari hasil pemotongan di kampus,” tegasnya. Di tengah masifnya proses distribusi tersebut, UMM tetap mengedepankan aspek keberlanjutan lingkungan dengan menerapkan konsep kurban Go Green. Kampus Putih mengganti total penggunaan kantong plastik sekali pakai dengan wadah organik yang ramah lingkungan sekaligus membawa dampak ekonomi bagi perajin lokal. “Ini konsisten sudah bertahun-tahun kita laksanakan. Kurbannya Go Green, jadi tidak menggunakan kresek atau plastik, tapi menggunakan besek bambu dari kerajinan tangan UMKM dan daun pisang dari kebun sendiri,” tambah Ali. Dampak positif pendistribusian hewan kurban ini dirasakan langsung oleh berbagai pihak, salah satunya adalah perwakilan institusi pendidikan yang selama ini menjalin sinergi erat dengan UMM. Guru SMA Negeri 1 Kota Batu, Eko, menyatakan apresiasi dan rasa syukurnya atas perhatian kampus putih yang telah menyalurkan hewan kurban ke sekolahnya. “Kami mengucap terima kasih banyak kepada UMM. Semoga hewan kurban yang disalurkan ini bermanfaat bagi umat,” ujar Eko. *(faq) Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Tak Hanya Dosen dan Mahasiswa, Tendik UMM Buktikan Diri Tembus 10 Besar Lomba Puisi Nasional

Panggung prestasi tak melulu menjadi milik dosen dan mahasiswa, tenaga kependidikan (tendik) nyatanya juga mampu unjuk gigi dan mengukir prestasi gemilang di tingkat nasional. Bukti nyata ini ditorehkan oleh Agung Prabowo, seorang tendik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang sukses menembus 10 besar harapan dalam kompetisi bergengsi Lomba Menulis Bersama Uda Agus (LMBUA). Kompetisi bergengsi yang digagas oleh komunitas Forum Lingkar Pena sejak tahun 2011 tersebut mengangkat tema besar “Indonesiaku”. Pada ajang tahun ini, peserta dari berbagai penjuru Nusantara bersaing ketat untuk memperebutkan posisi terbaik yang dinilai langsung oleh sastrawan kenamaan nasional, Helvy Tiana Rosa. Agung menjelaskan bahwa karyanya berhasil lolos kurasi dari ratusan naskah yang masuk untuk kemudian dibukukan bersama penulis-penulis hebat lainnya. “Pesertanya sekitar 120 orang, lalu dikurasi menjadi sekitar 70 karya untuk dibukukan oleh Helvy Tiana Rosa. Alhamdulillah, saat diumumkan pada 16 mei lalu, karya saya masuk 10 besar harapan,” ungkapnya. Prestasi ini diraih lewat karya puisinya yang bertajuk “Ironi di Negeriku”. Puisi tersebut menjadi medium kritik sosial terhadap kebijakan pemerintah yang memicu ketimpangan, utamanya dalam menghargai perjuangan di dunia pendidikan formal. Ia menyoroti fenomena di mana gelar akademik seolah kehilangan nilainya di tengah dinamika program-program baru yang menuai pro dan kontra di masyarakat. “Puisi itu tentang ironi negeri ini. Ada program-program yang menurut saya terasa tidak adil bagi mereka yang sudah berjuang menempuh pendidikan sarjana bertahun-tahun,” tegasnya. Bagi pria yang kesehariannya bertugas di balik layar administrasi kampus ini, sastra adalah wadah elegan untuk menyampaikan kritik. Menariknya, rekam jejak Agung sebelumnya lebih banyak berkutat pada literatur nonfiksi, sehingga puisi menjadi medium baru untuk mengeksplorasi kreativitasnya. Lebih lanjut, ia menuturkan bahwa keuntungan terbesar dari ajang ini adalah kesempatan bersejarah bersanding dengan tokoh sastra Indonesia. “Sebelumnya saya banyak menulis buku nonfiksi. Tapi belakangan ini saya ingin mencoba tantangan baru lewat puisi,” paparnya. Lewat puisinya, Agung tidak sekadar menata kata, tetapi mengirimkan pesan kuat. Ia membuktikan bahwa semangat literasi, ketajaman berpikir kritis, dan prestasi gemilang dapat lahir dari siapa saja yang memiliki tekad, termasuk dari mereka yang selama ini sunyi bekerja menjaga denyut nadi universitas. (*rik/faq) Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Dua Mahasiswa UMM Sabet Juara Golf Nasional

Olahraga golf acap kali dipandang sekadar sebagai hobi eksklusif kalangan atas atau sekadar jalan santai. Padahal, olahraga ini sejatinya menuntut ketahanan fisik ekstra dan perhitungan presisi di atas padang rumput yang luas. Menepis anggapan miring tersebut sekaligus membuktikan kualitas, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menaklukkan teriknya cuaca Surabaya dan sengitnya persaingan dengan memborong gelar juara. Prestasi membanggakan ini ditorehkan pada ajang bergengsi Pertandingan Golf Piala Wali Kota Surabaya yang digelar di Bukit Darmo Golf, 16–17 Mei 2026 lalu yang diikuti oleh 200 pegolf dari berbagai daerah. Sebagai Kampus Inovasi, Mandiri, dan Berdampak, UMM selalu mewadahi potensi mahasiswanya. Pada kompetisi yang diikuti oleh puluhan peserta unggulan dari berbagai rentang usia tersebut, kontingen Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Golf UMM sukses membawa pulang dua piala sekaligus. Muhammad Fikri Fakhruddin, mahasiswa Program Studi Agribisnis angkatan 2023, tampil apik dengan menyabet juara pada kategori Best Gross Class A+. Kesuksesan ini disempurnakan oleh delegasi lainnya, Aisya Allea, mahasiswa Program Studi Psikologi angkatan 2024, yang mantap mengamankan predikat Runner Up Gross pada kategori Ladies. Pertandingan yang berjalan selama dua hari berturut-turut ini jelas bukan perkara mudah. Para peserta diwajibkan berjalan kaki menempuh 18 hole setiap harinya di bawah sengatan matahari dari siang hingga sore. Menghadapi tantangan berat tersebut, tim UKM Golf UMM telah mematangkan persiapan melalui pemusatan latihan intensif sejak dua minggu sebelum turnamen. Fikri menjelaskan bahwa kunci utama kemenangannya terletak pada kemampuan mengatur strategi manajemen lapangan dan ketepatan memilih alat untuk mencapai target sasaran. “Strateginya yaitu kita melakukan management course di lapangan dengan perhitungan jarak agar bisa menentukan penggunaan stik iron yang tepat untuk mencapai target,” jelas Fikri. Lebih lanjut, kompetisi ini tidak hanya memeras keringat, tetapi juga menjadi ajang melatih seni pengambilan keputusan di bawah tekanan. Akurasi pukulan sangat bergantung pada ketenangan pikiran, sedikit saja fokus goyah akibat rasa lelah, maka strategi yang telah disusun dapat berantakan. Menghadapi hal tersebut, mental juara Fikri tidak lepas dari fasilitas dan ekosistem kampus yang menunjang. Ia menuturkan bahwa dukungan pendanaan penuh dari pihak kampus, mulai dari pendaftaran hingga akomodasi, membuat para atlet bisa bertanding tanpa memikirkan beban biaya logistik yang terbilang sangat mahal dalam olahraga ini. “Atlet ini jika tidak mendapat dukungan kampus pasti benar-benar mengeluarkan banyak biaya karena pengeluaran di golf itu sangat besar, alhamdulillah masalah biaya dari kampus semuanya teratasi,” ungkap pemuda tersebut dengan rasa syukur. Prestasi bergengsi di ajang Piala Wali Kota Surabaya ini bukanlah titik akhir, melainkan sebuah batu loncatan. Ke depannya, Fikri bertekad kuat untuk terus mengasah kemampuannya demi mewujudkan impian besar menjadi atlet golf profesional yang kelak menembus panggung internasional. Menutup perbincangan, ia menitipkan pesan pemantik semangat kepada rekan-rekan mahasiswa lain yang sedang merintis jalan di berbagai bidang minat dan bakat. “Kalau kalian memang memiliki niat, usahakan dengan sungguh-sungguh dan jangan setengah-setengah, agar semua yang dibangun bisa terbentuk secara maksimal,” pungkasnya. Menanggapi torehan gemilang ini, Kepala Bagian (Kabag) Minat dan Bakat Kemahasiswaan UMM, Ir. Ary Bakhtiar, SP., M.Si., IPM., ASEAN Eng., turut memberikan apresiasi tinggi. Ia menegaskan bahwa kemenangan ini adalah bukti nyata dari keberhasilan pembinaan dan komitmen institusi dalam mengawal potensi mahasiswa. “UMM senantiasa berkomitmen untuk memfasilitasi dan mengembangkan minat bakat mahasiswa secara penuh, tidak hanya di bidang akademik, tetapi juga non-akademik. Keberhasilan kontingen UKM Golf memborong juara ini sangat membanggakan. Kami berharap fasilitas dan ekosistem pendukung yang terus disiapkan kampus dapat melahirkan lebih banyak atlet berprestasi yang siap bersaing di level nasional hingga internasional,” tegasnya.(*ali/faq) Penulis: Alban Hogantara | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman
Selaraskan Kurikulum dengan DUDI
Aturan Masuk SD Usia 5,5 Tahun Dikritik, Pakar UMM Ingatkan Risiko Anak Stres dan Mogok Sekolah

Malang (beritajatim.com) – Kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang melonggarkan batas usia masuk Sekolah Dasar (SD) menjadi 5,5 tahun menuai sorotan dari kalangan akademisi. Aturan baru tersebut dinilai berpotensi memicu gangguan psikologis pada anak apabila tidak diimbangi kesiapan guru dan manajemen sekolah. Pakar Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang, Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd., mendesak pemerintah segera melakukan peningkatan kompetensi pedagogi bagi guru kelas satu SD agar mampu menangani siswa usia dini dengan pendekatan yang tepat. Menurut Arina, selama ini kurikulum pendidikan guru lebih banyak disiapkan untuk menangani siswa usia 7 hingga 12 tahun, sehingga guru berpotensi kesulitan ketika menghadapi anak usia 5,5 tahun yang masih berada dalam fase transisi PAUD ke SD. “Pembekalan ilmu pedagogi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bagi guru kelas satu SD sudah menjadi agenda yang sangat mendesak,” tegas Arina kepada beritajatim.com, Senin (25/5/2026). Ia mengingatkan, tanpa pelatihan khusus, guru bisa memaksakan standar pembelajaran anak usia tujuh tahun kepada siswa yang secara emosional dan psikologis belum siap. “Tanpa upgrade skill melalui pelatihan khusus, guru berpotensi memaksakan standar anak usia tujuh tahun kepada murid 5,5 tahun. Akibatnya sangat fatal, anak bisa stres, mogok sekolah, dan guru rentan salah melabeli mereka sebagai siswa lambat belajar padahal itu fase normal di usianya,” ujarnya. Arina juga meminta sekolah melakukan adaptasi serius dalam penerapan kebijakan baru tersebut. Salah satunya dengan menghadirkan kelas transisi bagi siswa baru kelas satu SD. Menurutnya, ruang kelas perlu didesain lebih ramah anak dengan menyediakan area bermain dan suasana belajar yang tidak terlalu kaku. Selain itu, sekolah juga diminta menerapkan asesmen awal saat masa orientasi untuk memetakan kebutuhan individual siswa, bukan sebagai alat seleksi masuk sekolah. “Manajemen tidak bisa lagi sekadar menerima siswa baru lalu berjalan seperti biasa. Di tiga bulan pertama, durasi belajar wajib dipangkas menjadi 20-30 menit yang diselingi istirahat, agar anak tidak kaget dengan rutinitas baru,” paparnya. Dalam proses pembelajaran, Arina menyarankan guru menggunakan pendekatan singkat, aktif, dan menyenangkan karena rentang fokus anak usia 5,5 tahun masih terbatas. Ia menyebut guru dapat menerapkan pola belajar “15-5-15”, yakni 15 menit pembelajaran inti, lima menit aktivitas bergerak atau bernyanyi, kemudian dilanjutkan kembali dengan 15 menit kegiatan belajar. “Guru bisa menerapkan siklus 15-5-15, yaitu 15 menit kegiatan inti, 5 menit bergerak atau bernyanyi, lalu 15 menit kegiatan lagi. Hindari pemberian lembar kerja di awal, beri mereka pilihan-pilihan kecil untuk mengurangi rasa dikontrol, dan rayakan sekecil apa pun keberaniannya agar sekolah terasa seperti perpanjangan PAUD,” jelasnya. Sebagai penutup, Arina meminta pemerintah tidak menerapkan kebijakan tersebut secara seragam di seluruh daerah tanpa evaluasi berkala terkait dampaknya terhadap kondisi psikologis anak. “Pemerintah harusnya segera melakukan lokakarya pedagogi guru kelas satu dan secepatnya merilis modul praktis transisi PAUD-SD. Jika melalui evaluasi tahunan kelak ditemukan lonjakan angka stres anak atau putus sekolah di awal jenjang dasar, Kemendikdasmen harus mengambil langkah tegas untuk merevisi aturan ini demi melindungi hak tumbuh kembang anak-anak Indonesia,” pungkasnya. [dan/beq]
Pakar UMM Malang Ingatkan Dampak Psikologis Kebijakan Masuk SD Usia 5,5 Tahun

timesindonesia, MALANG –Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mulai menetapkan kebijakan baru mengenai batas usia anak untuk dapat masuk ke jenjang Sekolah Dasar (SD). Jika biasanya anak bisa masuk SD ketika usia 7 tahun, kebijakan baru pemerintah tersebut melonggarkan batas usia menjadi minimal 5,5 tahun. Lantas, apakah kebijakan tersebut efektif terhadap proses pembelajaran anak? Menanggapi hal tersebut, pakar pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd menjelaskan bahwa keputusan tersebut dapat menjadi bom waktu apabila tidak dibarengi perbaikan sistem pembelajaran tingkat SD. Ia menilai, terutama kompetensi padegogi guru perlu ditingkatkan supaya dapat mencegah stress pada anak nantinya. “Kebijakan tersebut perlu dibarengi perbaikan sistem serta peningkatan padegogi guru supaya seimbang,” ujarnya. Arina menilai, kurikulum pendidikan bagi guru saat ini lebih banyak mempersiapkan tenaga pendidik untuk rentang usia 7 hingga 12 tahun. Apabila pendidik tidak dibuatkan masa transisi untuk adaptasi, dikhawatirkan mereka akan gagap saat menghadapi tantrum dan akan kesulitan mengelola emosi anak. Arina juga menekankan apabila hal tersebut tetap dipaksakan sejak awal, maka dapat berakibat fatal. Anak dapat merasa tertekan, stress, mogok sekolah, dan guru akan rentan melabeli mereka sebagai siswa yang lambat belajar. “Dikhawatirkan anak bisa stress hingga mogok sekolah, guru juga rentan melabeli mereka lambat belajar padahal itu normal di usia mereka,” tambahnya. Ia pun menegaskan bahwa pembekalan ilmu pedagogi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bagi guru kelas satu SD kini menjadi agenda mendesak bagi Kemendikdasmen. Ia pun menyarankan untuk mencegah hal tersebut terjadi, manajemen sekolah perlu melakukan tiga adaptasi krusial. Pertama, sekolah wajib mendesain Kelas satu Transisi dengan tata ruang bersudut bermain, melaksanakan standardisasi asesmen awal saat masa orientasi hanya untuk memetakan kebutuhan individual anak, serta menjembatani komunikasi intensif antara pendidik dan orang tua terkait batasan ekspektasi akademik. Lanjutnya, sekolah perlu memangkas waktu belajar 20-30 menit yang diselingi istirahat supaya anak tidak kaget dengan rutinitas baru mereka. Arina menambahkan, untuk anak rentang usia 5,5 tahun, pendekatan pembelajaran di kelas harus berpegang pada prinsip “Singkat – Bergerak – Bermain” dan maksimal 15 menit. Hal tersebut untuk mencegah anak tertekan pada minggu-minggu awal. “Guru dapat menerapkan siklus 15-5-15, yaitu 15 menit kegiatan inti, 5 menit bergerak atau bernyanyi, lalu 15 menit kegiatan lagi,” tambahnya. Ia juga mengingatkan untuk guru menghindari memberikan lembar tugas dahulu dan menyarankan untuk memberikan keleluasaan bagi siswa serta apresiasi sekecil apapun keberanian siswa. Terakhir, ia juga menghimbau Pemerintah untuk tidak menerapkan kebijakan tersebut secara rata. Harus ada asesmen ketat terkait kesiapan psikologis anak. Pemerintah juga dituntut untuk segera melakukan lokakarya pedagogi guru kelas satu dan secepatnya merilis modul praktis transisi PAUD-SD. (*)
Aturan Anak 5,5 Tahun Bisa Masuk SD Tuai Sorotan, Pakar UMM Desak Kemendikdasmen Upgrade Skill Guru

pwmu.co – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) baru saja menggulirkan kebijakan pelonggaran batas usia masuk Sekolah Dasar (SD) menjadi 5,5 tahun. Langkah ini memicu sorotan tajam dari pakar pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd.Ia menilai, aturan tersebut menyimpan bom waktu jika tidak segera dibarengi dengan perombakan manajemen sekolah dasar dan peningkatan kompetensi pedagogi guru secara masif guna mencegah stres pada anak. Arina menegaskan bahwa pembekalan ilmu pedagogi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bagi guru kelas satu SD kini menjadi agenda mendesak bagi Kemendikdasmen. Selama ini, kurikulum pendidikan guru dinilai lebih banyak mempersiapkan tenaga pendidik untuk rentang usia 7 hingga 12 tahun. Jika dipaksakan tanpa adaptasi, pendidik akan gagap saat menghadapi tantrum dan sulit mengelola regulasi emosi anak. “Tanpa upgrade skill melalui pelatihan khusus, guru berpotensi memaksakan standar anak usia tujuh tahun kepada murid 5,5 tahun. Akibatnya sangat fatal, anak bisa stres, mogok sekolah, dan guru rentan salah melabeli mereka sebagai siswa lambat belajar padahal itu fase normal di usianya,” tegasnya 25 Mei pada tim Humas UMM. Untuk mencegah kekacauan di lapangan, manajemen sekolah dasar dituntut melakukan tiga adaptasi krusial. Sekolah wajib mendesain Kelas 1 Transisi dengan tata ruang bersudut bermain, melaksanakan standardisasi asesmen awal saat masa orientasi hanya untuk memetakan kebutuhan individual anak, serta menjembatani komunikasi intensif antara pendidik dan orang tua terkait batasan ekspektasi akademik. “Manajemen tidak bisa lagi sekadar menerima siswa baru lalu berjalan seperti biasa. Di tiga bulan pertama, durasi belajar wajib dipangkas menjadi 20-30 menit yang diselingi istirahat, agar anak tidak kaget dengan rutinitas baru,” paparnya. Singkat, Bergerak, Bermain Selain kesiapan manajemen, Arina turut membagikan trik praktis bagi para pendidik agar siswa tidak tertekan di minggu-minggu pertama pembelajaran. Mengingat rentang fokus anak usia 5,5 tahun maksimal hanya 15 menit, pendekatan pengajaran di kelas harus berpegang teguh pada prinsip ‘Singkat, Bergerak, dan Bermain’. “Guru bisa menerapkan siklus 15-5-15, yaitu 15 menit kegiatan inti, 5 menit bergerak atau bernyanyi, lalu 15 menit kegiatan lagi. Hindari pemberian lembar kerja di awal, beri mereka pilihan-pilihan kecil untuk mengurangi rasa dikontrol, dan rayakan sekecil apa pun keberaniannya agar sekolah terasa seperti perpanjangan PAUD,” urai dosen PGSD tersebut. Sebagai pesan penutup, Arina mengingatkan pemerintah agar pelonggaran usia ini tidak diberlakukan secara pukul rata. Kebijakan ini idealnya tetap bersifat opsional dan didasarkan memberi pengetatan asesmen kesiapan psikologis anak. Pemerintah dituntut segera melakukan lokakarya pedagogi guru kelas satu dan secepatnya merilis modul praktis transisi PAUD-SD. Jika melalui evaluasi tahunan kelak ditemukan lonjakan angka stres anak atau putus sekolah di awal jenjang dasar, Kemendikdasmen harus mengambil langkah tegas untuk merevisi aturan ini demi melindungi hak tumbuh kembang anak-anak Indonesia. (*) *) Penulis : Hassan Al Wildan
Mahasiswa Informatika UMM Sabet Juara Umum Motocross Papua

pwmu.co – Di tengah era digitalisasi ketika mahasiswa teknologi kerap diidentikkan dengan gaya hidup sedentary atau minim gerak di depan layar komputer, Javier Bhagawanta justru membuktikan ketangguhannya di lintasan balap ekstrem. Mahasiswa Informatika UMM Sabet Juara Umum Motocross Papua Mahasiswa Program Studi Informatika Universitas Muhammadiyah Malang angkatan 2023 tersebut sukses menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih gelar Juara Umum pada ajang Motocross & Grasstrack Kejurda Bupati Keerom Cup Seri II 2026 di Papua. Kejuaraan tersebut berlangsung pada 15–17 Mei 2026 di Sirkuit Yuwanain, Arso II, Kabupaten Keerom, Papua. Dalam kompetisi tersebut, Javier tampil dominan dan berhasil membawa pulang tujuh piala sekaligus. Ia dinobatkan sebagai Juara Umum Setanah Papua U-23 setelah meraih: Juara 1 Kelas Sport & Trail Kategori JU Setanah Papua U-23 Juara 2 Kelas Trail Standar 4L 155cc Tak hanya itu, Javier juga meraih sejumlah podium di kategori lain, yakni: Juara 3 Kelas Sport & Trail Kategori JU Setanah Papua Juara 4 Kelas Bebek Modif 4T Tune Up Juara 5 Kelas Special Engine 125-250cc Juara 2 Kelas Bebek Standar 2T 4T Open Prestasi tersebut menjadi bukti kemampuan Javier bersaing dengan para pembalap nasional di lintasan ekstrem Papua. Perjalanan menuju kemenangan tidak dilalui dengan mudah. Javier mengaku sempat mengalami penurunan kondisi fisik drastis hingga harus menghentikan latihan selama sepekan sebelum keberangkatan. Setibanya di arena balap, ia juga harus cepat beradaptasi dengan karakter sirkuit yang menantang serta menghadapi pembalap-pembalap nasional dari Merauke. “Tantangannya cukup sulit karena sirkuitnya tidak sebagus pada umumnya, ditambah saya juga bermain dan bersaing langsung bersama para atlet nasional,” ungkapnya. Untuk menghadapi tekanan di lintasan, Javier menilai kesiapan mental menjadi fondasi utama dalam olahraga motocross. Ia disiplin membagi waktu antara kuliah dan latihan fisik, termasuk rutin berlari sore di lapangan kampus UMM serta pulang ke Kediri setiap akhir pekan untuk berlatih mengendalikan motor. Menurutnya, mental yang kuat menjadi kunci menghadapi persaingan di garis start. “Kalau mental tidak terbentuk, kita melihat lawan itu pasti sudah down duluan. Maka dari itu, mental dalam olahraga motocross ini sangat penting,” tegas pemuda yang sejak kecil rutin mengikuti berbagai kejuaraan tersebut. Pencapaian Javier juga tidak lepas dari dukungan ekosistem pembinaan nonakademik Kampus Putih UMM. Universitas memberikan kemudahan perizinan akademik hingga insentif prestasi sehingga mahasiswa memiliki ruang untuk berkembang di luar disiplin ilmu utamanya. Mahasiswa Informatika UMM Sabet Juara Umum Motocross Papua Kini, deretan trofi tersebut dipersembahkan Javier untuk kedua orang tua serta sahabat-sahabatnya di Papua. Ia juga tengah mempersiapkan kondisi fisik dan performa motor untuk menghadapi Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Regional pada Juli mendatang. Di akhir, Javier menitipkan pesan kepada generasi muda agar tidak takut mengeksplorasi potensi diri di luar zona nyaman. “Jangan pernah takut mencoba, jalani saja sembari kuliah, jangan malu-malu untuk menunjukkan kemampuan di bidangmu selagi itu positif,” pungkasnya. *) Penulis : Humas UMM | Editor : Satria
Selaraskan Kurikulum dengan DUDI: Mahasiswa UMM Magang di Greenfields Indonesia

MALANG POST – Di tengah merebaknya isu kesenjangan antara kompetensi lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan riil dunia industri, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tampil dengan solusi konkret. Melalui program unggulan Center of Excellence (CoE) Ruminansia yang diinisiasi oleh Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP), mahasiswa Kampus Putih berhasil menembus standar ketat raksasa industri susu, PT Greenfields Indonesia. Kemitraan strategis ini bukan sekadar program magang biasa, melainkan bukti sahih keberhasilan UMM dalam menyelaraskan kurikulum akademik dengan dinamika Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Sekaligus, pencapaian ini mengukuhkan posisi UMM sebagai Kampus Inovasi yang mencetak SDM unggul berdaya saing global. Keberhasilan nyata program CoE ini langsung terasa di lapangan. PT Greenfields Indonesia, sebagai perusahaan peternakan skala masif, menjadi laboratorium hidup bagi para mahasiswa. Di sana, mereka dibimbing langsung oleh Wijayanto, Supervisor Heifer Raising yang memegang peran krusial di divisi replacement atau manajemen pengembangan indukan. Wijayanto, yang intens mendampingi peserta magang, menilai bahwa mahasiswa FPP UMM tidak hanya datang dengan bekal teori yang matang. Tetapi juga memiliki kesiapan mental dan kecepatan adaptasi luar biasa dalam menghadapi Standar Operasional Prosedur (SOP) ketat di industri modern. “Sejak awal datang dan mendapat penjelasan mengenai aturan serta SOP di Greenfields, mahasiswa UMM cepat memahami dan menerapkannya di lapangan,” Lebih lanjut, ritme kerja yang dibangun selama program magang mendorong mahasiswa untuk proaktif di setiap lini operasional. Mereka dirotasi secara berkala untuk memahami siklus penuh peternakan modern, mulai dari penanganan awal anak sapi yang baru lahir hingga tahap manajemen pemeliharaan sapi dewasa. Kecekatan dalam merespons dinamika lapangan inilah yang menumbuhkan kepercayaan penuh dari pihak industri, yang pada akhirnya menjadikan Kampus Putih sebagai satu-satunya perguruan tinggi yang dipercaya memegang tanggung jawab operasional di perusahaan tersebut. “Sampai saat ini, yang dari perguruan tinggi dan magang di Greenfields hanya dari UMM saja,” tegas Wije. Sinergi yang diwadahi oleh CoE Ruminansia ini memang didesain secara holistik untuk membentuk manajer masa depan, bukan sekadar pekerja teknis. Wije menjelaskan bahwa pada fase awal, mahasiswa diwajibkan mengikuti ritme operator di lapangan untuk memahami akar masalah operasional. Setelahnya, mereka diberikan tanggung jawab berbasis individu untuk merumuskan solusi strategis dan mempresentasikannya di hadapan manajemen tingkat atas. “Kolaborasi ini sangat penting karena sebelum benar-benar menjadi supervisor, mereka sudah dibekali pengalaman dan pembelajaran dari dasar terlebih dahulu,” pungkasnya. Pada akhirnya, kepercayaan penuh dari raksasa industri sekelas PT Greenfields menjadi legitimasi tak terbantahkan atas ketangguhan lulusan Kampus Putih. Keberhasilan program CoE Ruminansia FPP UMM ini tidak sekadar meruntuhkan menara gading perguruan tinggi, tetapi secara revolusioner berhasil mendobrak sekat antara teori akademik dan kerasnya realitas lapangan. Pencapaian ini sekaligus mengirimkan pesan kuat bagi ekosistem pendidikan nasional: mencetak generasi emas masa depan tidak akan pernah cukup jika hanya dilakukan dari balik meja kelas. Mahasiswa harus berani diterjunkan langsung ke jantung industri, memecahkan masalah nyata, demi lahirnya para inovator dan pemimpin strategis yang siap mengambil alih kemudi kemajuan bangsa (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)