Ketahanan Keuangan dalam Islam

arrahmah – Di tengah hiruk pikuk janji kemakmuran, utang negara justru menumpuk semakin tinggi sementara rakyat kecil terjerat pinjol dan judol yang datanya meroket tiap bulan. Di saat yang sama rupiah melemah, harga plastik dan kedelai merayap naik, dan krisis ekonomi terasa di mana-mana tanpa pandang bulu. Gelombang PHK besar-besaran memutus harapan keluarga, sementara kebijakan fiskal sibuk menambal lubang tanpa menyentuh akar masalah sistem kapitalisme yang rapuh. Rakyat dipaksa percaya bahwa pertumbuhan angka di atas kertas sama dengan kesejahteraan. Padahal, daya beli anjlok dan ketahanan keuangan keluarga makin rapuh. Jika tidak segera membongkar logika sistem yang menjadikan utang dan spekulasi sebagai napasnya, maka krisis berikutnya bukan lagi soal “kapan”, tapi “seberapa parah” menimpa rakyat yang semakin melarat. Dilansir dari babelinsight, total utang pemerintah Indonesia tercatat menyentuh angka Rp9.920,42 triliun hingga 31 Maret 2026, mengalami kenaikan hampir 3 persen dibandingkan posisi Desember 2025 sebesar Rp9.637,9 triliun. Dilansir dari Ekonomi, peningkatan nominal utang ini membawa rasio terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berada pada level 40,75 persen. (bak.unas.ac.id, 8/5/2026) OJK mencatat bahwa utang masyarakat pada layanan pinjaman online telah menembus angka Rp100,69 triliun pada Februari 2026. Angka tersebut meningkat sekitar Rp2 triliun dibandingkan bulan sebelumnya dan tumbuh lebih dari 25 persen secara tahunan. Selain itu, tingkat risiko kredit bermasalah pada industri pinjol juga mengalami peningkatan. Rasio wanprestasi di atas 90 hari (TWP90) mencapai 4,54 persen, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya. Kini, kondisi keuangan Indonesia mencapai titik nadir. Rupiah melemah, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat telah mencapai level Rp17.630 (Rp17.859 per 2 Juni 2026) per dolar AS. Sebuah kondisi yang menimbulkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas ekonomi rumah tangga masyarakat Indonesia. Fenomena ini dipicu oleh kombinasi faktor, termasuk gejolak geopolitik global dan kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat. Tentu saja kondisi ini menjadi sorotan. Nilai tukar yang tertekan ini memberikan tekanan langsung pada daya beli masyarakat dan struktur pengeluaran bulanan keluarga. Rapuhnya Sistem Ekonomi Kapitalisme Dampak pelemahan rupiah ini menimbulkan efek berantai yang signifikan terhadap biaya hidup masyarakat, terutama karena tingginya ketergantungan Indonesia pada komoditas impor. Hal ini dijelaskan oleh Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang, Yunan Syaifullah. Harga bahan pokok naik seperti tahu tempe, karena 90 persen kebutuhan kedelai nasional masih didatangkan dari luar negeri. Kemudian BBM dan transportasi naik karena Indonesia masih ketergantungan impor minyak dan energi, hingga berdampak pada belanja bulanan jadi lebih mahal. Dampak ini bersifat universal, artinya masyarakat yang tidak secara langsung mengonsumsi barang impor tetap akan merasakan kenaikan biaya hidup. Kenaikan biaya produksi di sektor industri lokal yang bergantung pada bahan baku impor, akan turut menaikkan harga jual akhir. (umm.acid, 19/5/2026) Sementara dari sisi makroekonomi, Reuters melaporkan bahwa rupiah mengalami tekanan akibat penguatan dolar AS, tingginya suku bunga Amerika Serikat, kenaikan harga energi global, serta keluarnya modal asing dari pasar negara berkembang. Bahkan, Bank Indonesia harus melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Di sisi lain, inflasi Indonesia diperkirakan meningkat mendekati batas atas target Bank Indonesia, hal ini dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar non-subsidi, tiket pesawat, dan minyak goreng. Kondisi yang terjadi menggambarkan, meningkatnya utang pinjol menunjukkan bahwa sebagian masyarakat menghadapi kesenjangan antara pendapatan dan kebutuhan hidup. Kemudahan akses kredit digital membuat banyak orang memilih jalan instan untuk memenuhi kebutuhan, bahkan tidak sedikit yang terjebak dalam pola konsumsi yang melampaui kemampuan finansialnya. Ketika utang digunakan untuk konsumsi, bukan untuk aktivitas produktif, maka risiko gagal bayar akan semakin besar. Lalu, pelemahan rupiah tidak semata-mata disebabkan faktor domestik. Penguatan dolar AS, tingginya suku bunga global, serta arus keluar modal asing membuat permintaan terhadap dolar meningkat. Ketika permintaan dolar lebih besar dibandingkan pasokannya, nilai rupiah pun semakin melemah.  Fiat money (uang kertas) dan ketergantungan pada dolar, menjadi sumber berulangnya tekanan terhadap rupiah. Selain itu, persoalan teknis dalam ekonomi nasional memperparah tekanan terhadap rupiah. Salah satunya adalah masuknya devisa hasil ekspor ke dalam negeri tidak optimal, meski nilai ekspor tergolong besar. Nilai ekspor saat ini besar dan bisa ratusan miliar dolar seharusnya bisa menahan kenaikan dolar. Namun pertanyaannya, dolarnya ke mana? Ini menunjukkan lemahnya aliran devisa nasional. Ustaz Ismail Yusanto mengatakan, praktik seperti transfer pricing dan penahanan devisa di luar negeri membuat aliran dolar tidak sepenuhnya kembali ke dalam negeri. Kondisi ini menyebabkan pasokan dolar terbatas, sementara kebutuhan terus meningkat. Ini jelas merugikan ekonomi nasional. Jadi, mata uang kertas tidak menyimpan kekayaan secara riil. Dia hanya bernilai karena ditetapkan. Apabila dicabut statusnya, tinggal kertas biasa. Hal ini menunjukan betapa lemah dan rapuhnya sistem ekonomi kapitalisme yang diterapkan. Namun, akar persoalan sesungguhnya terletak pada sistem ekonomi yang menjadikan mata uang tidak lagi berbasis nilai riil dan di balik faktor global tersebut terdapat persoalan yang lebih mendasar, yaitu struktur ekonomi yang masih bergantung pada sistem keuangan berbasis utang, riba, dan dominasi sektor non-riil. Ketika aktivitas ekonomi lebih banyak digerakkan oleh instrumen keuangan dari pada produksi barang dan jasa yang nyata, stabilitas ekonomi menjadi lebih rentan terhadap gejolak pasar. Islam Menjawab Krisis Mata Uang Kekacauan sistem moneter saat ini sesungguhnya tidak perlu terjadi jika dunia kembali mengadopsi standar emas dan perak, meninggalkan sistem ekonomi Kapitalisme, dan beralih kepada Islam. Di dalam Islam, standar moneter yang wajib diterapkan oleh negara adalah standar emas dan perak. Dalilnya antara lain adalah pengaitan sejumlah hukum-hukum Islam dengan mata uang tersebut seperti pada zakat, hudûd, perkawinan, dan hukum pertukaran mata uang (sharf). Dengan demikian, uang yang dikeluarkan oleh negara adalah emas dan perak atau pun mata uang subtitusi seperti tembaga, perunggu atau kertas yang ditopang oleh emas dan perak. Dengan kata lain, nilai nominal uang ditentukan oleh harga riil komoditas itu sendiri (intrinsic value). Kondisi tersebut membuat pemerintah tidak bebas mencetak uang secara masif dan serakah seperti yang dilakukan oleh bank sentral AS untuk mengatasi krisis tahun 2008. Ia hanya dapat menambah jumlah uang beredar sejalan dengan peningkatan cadangan emas dan perak yang dimiliki. Standar emas telah menunjukkan inflasi yang sangat rendah. Selain itu  daya beli emas sepanjang sejarahnya sangat stabil, jauh dibandingkan dengan daya beli mata uang kertas saat ini yang nilainya terus merosot. Lalu bagaimana uang dapat memenuhi transaksi yang terjadi di sektor riil yang terus tumbuh? Ada beberapa penjelasan mengenai hal ini. Di antaranya,

Artificial Intelligence sebagai Pendamping Belajar

Artificial Intelligence dapat membantu guru mengurangi pekerjaan rutin, sehingga ada banyak waktu membimbing dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa. Tagar.co – Pendidikan Indonesia terus berkembang, tetapi lajunya belum mampu mengimbangi perubahan global yang berlangsung sangat cepat. Hasil PISA 2022 menempatkan Indonesia pada peringkat ke-68 dari 81 negara dalam kemampuan membaca dan matematika. Temuan ini menunjukkan praktik pembelajaran yang selama ini diterapkan perlu dievaluasi secara serius. Ketika teknologi telah mengubah berbagai aspek kehidupan, banyak ruang kelas sekolah masih berjalan dengan pola lama: guru menjadi pusat pembelajaran, siswa lebih banyak mencatat, dan nilai ujian dianggap sebagai ukuran utama keberhasilan. Kondisi tersebut berisiko menghambat lahirnya generasi yang siap menghadapi era kecerdasan buatan. Karena itu, pertanyaan yang perlu dijawab bukan lagi apakah pendidikan harus berubah, melainkan bagaimana perubahan tersebut dapat diwujudkan secara nyata. Dalam kerangka Kurikulum Merdeka, terdapat dua gagasan yang layak diperkuat, yaitu pembelajaran berbasis proyek lintas disiplin dan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) sebagai pendamping belajar. Pertama, Proyek Lintas Disiplin Sekolah selama ini cenderung memisahkan pengetahuan ke dalam berbagai mata pelajaran. Padahal kehidupan nyata tidak berjalan dalam sekat-sekat tersebut. Baca Juga:  Nilai Spiritualitas dalam Pendidikan Seseorang yang ingin membangun usaha kopi lokal, misalnya, memerlukan kemampuan berhitung untuk menghitung modal, keterampilan berbahasa untuk menyusun rencana usaha, pengetahuan sains untuk memahami proses produksi, serta kreativitas untuk membangun citra produk. Berbagai kemampuan itu bekerja secara bersamaan. Di sinilah pembelajaran berbasis proyek lintas disiplin (cross-curricular project-based learning) menjadi relevan. Model ini mengajak siswa menyelesaikan persoalan nyata dengan memanfaatkan berbagai bidang ilmu secara terpadu. Contoh, siswa dapat mengembangkan produk pangan lokal dengan menggunakan sains untuk mengkaji kandungan gizi, matematika untuk menghitung biaya produksi, bahasa Indonesia untuk menyusun promosi, dan seni untuk merancang kemasan. Penerapan model ini tidak harus rumit. Sekolah dapat memulainya melalui satu proyek kolaboratif setiap semester yang melibatkan beberapa guru dari mata pelajaran berbeda. Penilaian juga perlu memperhatikan proses belajar, bukan hanya hasil akhir. Kurikulum Merdeka sebenarnya telah menyediakan ruang melalui Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Tantangannya adalah memastikan pelaksanaannya benar-benar memberi pengalaman belajar yang bermakna. Gagasan ini sejalan dengan pandangan John Dewey bahwa pendidikan bukan persiapan untuk kehidupan, melainkan bagian dari kehidupan itu sendiri (Dewey, 1916, hlm. 239). Baca Juga:  TurboQuant, AI Mungil yang makin Cerdas Karena itu siswa perlu belajar melalui pengalaman yang autentik dan berhubungan dengan persoalan nyata. Kedua, Kecerdasan Buatan sebagai Tutor Personal Tantangan lain yang dihadapi guru adalah keberagaman kemampuan siswa dalam satu kelas. Ada siswa yang cepat memahami materi, ada yang membutuhkan waktu lebih lama, dan ada pula yang memerlukan pendampingan lebih intensif. Namun, mereka sering menerima pembelajaran dengan cara yang sama. Akibatnya siswa yang tertinggal dapat kehilangan kepercayaan diri, sedangkan siswa yang lebih maju merasa kurang tertantang. Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan menawarkan peluang untuk membantu mengatasi persoalan tersebut. Platform pembelajaran berbasis AI mampu mengidentifikasi kebutuhan belajar siswa dan menyesuaikan materi, latihan, serta tingkat kesulitannya. Siswa yang belum memahami suatu konsep dapat memperoleh penjelasan tambahan dan latihan yang sesuai dengan tingkat kemampuannya. Pemanfaatan AI juga tidak selalu membutuhkan biaya besar. Berbagai platform dapat digunakan untuk membuat soal adaptif, memberikan umpan balik terhadap tulisan, atau menyediakan simulasi percakapan dalam pembelajaran bahasa. Terpenting, AI tidak dimaksudkan untuk menggantikan guru. Teknologi ini justru dapat membantu guru mengurangi pekerjaan rutin sehingga mereka memiliki lebih banyak waktu untuk membimbing, memotivasi, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa. Pandangan tersebut selaras dengan gagasan Ken Robinson yang menekankan pentingnya meninggalkan model pendidikan yang menyeragamkan siswa dan beralih pada pendekatan yang menghargai potensi setiap individu (Robinson & Aronica, 2015, hlm. 54). Jika dimanfaatkan secara bijaksana, AI dapat menjadi sarana yang mendukung perkembangan siswa sesuai kebutuhan dan karakteristik belajarnya. Inovasi pendidikan bukan sekadar menghadirkan teknologi baru atau mengganti metode lama. Esensinya adalah menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran. Ketika siswa diberi kesempatan untuk berpikir, berkreasi, berkolaborasi, dan memecahkan masalah nyata, ruang kelas akan menjadi tempat tumbuh yang lebih bermakna. Pembelajaran berbasis proyek lintas disiplin dan pemanfaatan AI sebagai tutor personal bukanlah gagasan yang sulit diwujudkan. Keduanya dapat diterapkan dengan sumber daya yang tersedia saat ini. Yang dibutuhkan adalah komitmen bersama dari guru, kepala sekolah, dan pembuat kebijakan untuk berani meninggalkan kebiasaan lama. Generasi masa depan tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, dan belajar sepanjang hayat. Pendidikan harus mempersiapkan mereka untuk menghadapi masa depan tersebut. (#)

Anak 5,5 Tahun Sudah Masuk SD, Pakar Ingatkan Risiko Stres hingga Mogok Sekolah

KOMPAS.com – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melonggarkan batas usia anak masuk SD kini minimal 5,5 tahun. Batas usia ini menjadi perbincangan banyak masyarakat, karena umumnya anak berusa 5,5 tahun masih berada di bangku Taman Kanak-kanak (TK). Di media sosial Threads dan Instagram misalnya, para orangtua khawatir batas usia yang lebih muda ini akan membuat anak-anak stres dan bosan belajar. Karena soal-soal belajar siswa SD kelas 1 sekarang jauh lebih sulit. Ada juga beberapa orangtua dengan anak lebih dari satu ikut berbagi pengalaman. Saat mereka memutuskan anak pertama mereka masuk SD lebih awal, ternyata aspek emosi dan sosialnya tidak sebaik anak kedua atau anak ketiga yang masuk SD pada usia 6-7 tahun. Sementara ada juga orangtua yang merasa tidak ada masalah anak usia 5,5 tahun masuk SD selagi anak tersebut sudah mahir calistung dan memang semangat belajar. Namun dalam peraturan Permendikdasmen yang dikeluarkan tahun 2025, siswa yang masuk SD dengan usia 5,5 tahun berlaku bagi calon siswa yang sudah mendapatkan asesmen psikolog dan dinyatakan cerdas istimewa. Pakar Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Arina Restian, mengatakan orangtua juga bisa lebih bijak untuk tidak langsung memasukkan anak-anak ke jenjang SD lebih awal. Sebab ada dampaknya kalau anak belum berusia 6-7 tahun sudah bisa masuk SD. Menurutnya hal itu berdampak fatal pada kondisi psikologis anak-anak. Dampak anak usia 5,5 tahun masuk SD Arina menyebutkan anak yang berusia 5,5 tahun masih berada dalam fase transisi emosi yang sangat lekat dengan dunia bermain. Sehingga dunianya harus diisi dengan bermain daripada belajar materi sekolah. Ia mengatakan anak-anak usia dini tak bisa dipaksa belajar baca, tulis, hitung (calistung). Karena itu bila ada sekolah yang menyeleksi anak-anak menggunakan tes calistung, dianggap tidak tepat. “Dampaknya bisa fatal. Anak bisa mengalami stres berat hingga akhirnya mogok sekolah,” ungkap Arina saat dihubungi Kompas.com pada Selasa, (2/6/2026). Arina mengatakan anak berusia 5,5 tahun, belum memiliki regulasi emosi yang matang untuk menghadapi rutinitas sekolah formal yang kaku. Jika dipaksakan duduk tenang dalam waktu lama, suasana di dalam kelas justru berisiko berubah menjadi arena frustrasi bagi anak. “Risiko lainnya, guru rentan salah melabeli mereka sebagai siswa yang lambat belajar (slow learner). Padahal, sikap itu adalah fase normal dan wajar di usia mereka yang memang belum siap menerima beban akademik berlebih,” imbuhnya. Guru SD perlu disiapkan skill khusus Melihat besarnya risiko stres pada anak tersebut, Arina mengatakan seharusnya guru SD dapat dibekali ilmu pedagogi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Kalau bisa, pemerintah dapat mempercepat penambahan skill ini pada para guru. Sejauh ini ia melihat kurikulum pendidikan guru lebih banyak dipersiapkan untuk mendidik siswa dengan rentang usia 7 hingga 12 tahun.  Jika tidak ada intervensi dari pemerintah untuk menambah skill guru, para pendidik dikhawatirkan akan gagap menghadapi kondisi psikologis murid-murid belia ini. “Tanpa adanya upgrade skill melalui pelatihan khusus, guru berpotensi memaksakan standar anak usia tujuh tahun kepada murid yang masih 5,5 tahun,” jelas dosen PGSD UMM tersebut. Arina membagikan metode yang tepat saat guru mengajar di dalam kelas. Misalnya menerapkan formula 15-5-15. Formula ini dirancang berdasarkan keterbatasan fokus anak yang hanya bertahan 15 menit. Caranya guru bisa mengajarkan materi belajar selama 15 menit lalu 5 menit berikutnya bergerak atau bernyanyi, lalu 15 menit kegiatan lagi. Manajemen sekolah harus turut berubah agar anak tidak stres Seringkali pihak manajemen sekolah hanya menjalankan sistem belajar yang sama dari tahun ke tahun. Padahal kemampuan dan kepribadian anak-anak akan terus berubah seiring perkembangan zaman. Ia mendesak manajemen sekolah untuk membuat sistem belajar yang baru demi mengantisipasi anak-anak yang stres di awal tahun ajaran baru. Sekolah diminta tidak kaku dalam menjalankan sistemnya. “Harusnya manajemen tidak bisa lagi sekadar menerima siswa baru lalu pembelajaran berjalan seperti biasa,” kata dia. Ia mengatakan sekolah dapat membuat kelas transisi dengan menyediakan sudut bermain layaknya di PAUD. Sekolah juga harus melaksanakan standardisasi asesmen awal saat masa orientasi hanya untuk memetakan kebutuhan individual anak. Supaya anak bisa belajar fokus lebih lama, sekolah dapat memotong durasi belajar pada tiga bulan pertama menjadi hanya 20-30 menit per sesi yang diselingi istirahat agar anak tidak kaget. Arina meminta Kemendikdasmen agar pelonggaran usia ini tetap bersifat opsional dan didasarkan pada pengetatan asesmen kesiapan psikologis anak secara personal, bukan sekadar melihat angka usia di atas kertas. Ia mendesak pemerintah segera mengevaluasi kebijakan ini secara berkala. “Jika ditemukan lonjakan angka stres anak atau putus sekolah di awal jenjang dasar, aturan ini harus segera direvisi demi melindungi hak tumbuh kembang anak-anak Indonesia,” tutupnya.

Persikoba Ditahan Imbang Persigubin, Persaingan Grup M Memanas

MALANG POSCO MEDIA, KOTA ​BATU – Persikoba Kota Batu gagal meraih poin penuh setelah ditahan imbang 1-1 oleh Persigubin Pegunungan Bintang Papua dalam laga kedua Grup M Liga 4 Piala Presiden 2026 di Stadion Brantas, Rabu (3/6). ​Persigubin sempat mengejutkan tuan rumah lewat gol cepat Uopdana di menit ke-46. Namun, keuntungan jumlah pemain setelah punggawa Persigubin, H. Kakadi, dikartu merah berhasil dimanfaatkan Persikoba. Robert mencetak gol penyeimbang pada menit ke-66 untuk menyelamatkan muka tuan rumah. ​Hasil ini tetap menempatkan Persikoba di puncak klasemen sementara dengan empat poin, menyamai raihan Persiharjo Sukoharjo yang di laga lain bermain imbang 3-3 kontra TS Saiburai Lampung. ​Pelatih Persikoba, Arif Suyono, mengaku akan mengevaluasi organisasi lini pertahanannya yang tampil kurang maksimal. Kini, ia langsung membidik laga terakhir melawan Persiharjo sebagai penentu juara grup. “Target kami tetap memberikan yang terbaik dan mengincar kemenangan demi menjaga peluang menjadi tuan rumah di fase berikutnya,” pungkasnya. (eri/lim)

Perkuat Jejaring Global, FIKES UMM Sambut Mahasiswa Exchange dari Mahidol University Thailand

Program Studi Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat jejaring internasionalnya dengan menerima kedatangan dua mahasiswa student exchange dari Faculty of Physical Therapy, Mahidol University, Thailand. Pertukaran mahasiswa ini berlangsung selama tiga pekan, mulai 16 Mei hingga 7 Juni mendatang. Kedatangan mahasiswa asal Negeri Gajah Putih tersebut disambut langsung oleh Dekan FIKES UMM, Dr. apt. Hidajah Rachmawati, S.Si., Sp.FRS.. Ia menjelaskan bahwa program pertukaran ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa asing untuk melakukan studi komparatif terkait sistem pendidikan maupun tata laksana pelayanan kesehatan antarnegara. “Silakan ambil banyak pelajaran selama berada di Indonesia, khususnya di UMM. Thailand dan Indonesia tentu memiliki sistem pelayanan kesehatan yang berbeda, sehingga pengalaman ini dapat menjadi ruang belajar yang sangat baik untuk memahami berbagai pendekatan dalam dunia kesehatan dan fisioterapi,” urainya. Sebagai catatan, kemitraan strategis antara Prodi Fisioterapi UMM dan Mahidol University telah terjalin kuat selama tiga tahun terakhir. Kedatangan mahasiswa pada pertengahan tahun 2026 ini menandai batch kelima dari keberlanjutan kerja sama antarkedua institusi pendidikan tersebut. Pada kesempatan yang sama, Siwat Matro mahasiswa asal Mahidol University, Thailand mengungkapkan bahwa belajar di kampus putih telah memberikannya perspektif baru, khususnya terkait pendekatan keilmuan fisioterapi dan pelayanan kesehatan masyarakat. Ia menambahkan, kesempatan berpraktik langsung di Puskesmas membuatnya lebih memahami sistem penanganan kesehatan tingkat dasar dan pendekatan preventif di Indonesia. Menurutnya, hal ini menjadi pengalaman komparatif yang sangat berharga untuk dibawa kembali ke Mahidol University. Selain berfokus pada esensi keilmuan, program mobilitas ini juga dirancang sebagai medium akulturasi dan pemahaman budaya. Wakil Dekan II FIKES UMM, Henik Tri Rahayu, S.Kep., Ns., MS., Ph.D., menegaskan bahwa penguatan relasi internasional dan pemahaman kultural memiliki urgensi yang sama pentingnya dengan pencapaian target akademik di dalam kelas. Ia juga berharap eskalasi program internasionalisasi semacam ini dapat terus ditingkatkan. Melalui sinergi lintas negara, diharapkan lahir tenaga kesehatan profesional yang tidak hanya mahir secara klinis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, kecakapan komunikasi lintas budaya, serta mampu beradaptasi dengan berbagai dinamika kesehatan di tingkat global.(*faq)   Penulis: Faqih Ahmad Wafir Rahman