Inovasi Visual Flora Fauna bagi Tunarungu Antarkan Mahasiswa UMM Juara Nasional

Akses pendidikan inklusif yang merata di era digitalisasi masih menjadi pekerjaan rumah bagi Indonesia, khususnya bagi anak berkebutuhan khusus. Menjawab tantangan tersebut, tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil menciptakan inovasi media pembelajaran berbasis Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR) khusus anak tunarungu. Gagasan bertajuk “Inovasi Media Pembelajaran IPA Berbasis AR dan VR untuk Pengenalan Flora dan Fauna” ini sukses mengantarkan mereka meraih Gold Medal sekaligus Juara 3 Nasional kategori Pendidikan dalam ajang Mandalika Essay Competition 2026 di Mataram, Nusa Tenggara Barat. ​Tim yang terdiri dari Reynald Dimas Saputra (Prodi Hukum) dan Devi Putri Susilo (Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia) ini sukses menyingkirkan ratusan pesaingnya. Dalam kompetisi yang diselenggarakan Universitas Mataram bersama Lembaga Nusantara Muda pada 16–18 Mei 2026 lalu, inovasi mereka masuk 100 besar dari 400 peserta se-Indonesia, hingga akhirnya menyabet gelar karya terbaik di subtema pendidikan dan menjuarai babak final. ​Inovasi ini lahir dari kepedulian mereka terhadap kesenjangan fasilitas belajar bagi anak berkebutuhan khusus yang dinilai masih minim mengakomodasi potensi visual. Reynald menjelaskan bahwa anak tunarungu memiliki ketajaman visual yang sangat baik, sehingga teknologi AR dan VR adalah jawaban yang tepat untuk menggantikan metode konvensional. ​“Kami melihat masih banyak media pembelajaran yang belum cukup mengakomodasi kebutuhan anak tunarungu. Padahal mereka memiliki kemampuan visual yang sangat baik. Dari situ, kami mencoba menghadirkan solusi dengan memanfaatkan teknologi AR dan VR sebagai media pembelajaran,” ungkap Reynald. ​Gagasan tersebut dirancang secara spesifik untuk membedah mata pelajaran IPA dalam wujud tiga dimensi agar mudah dipahami. Guna memastikan ide ini tidak berhenti di atas kertas, ia menjelaskan bahwa timnya telah menggandeng mahasiswa Teknik Informatika UMM guna merancang prototipe awal aplikasi agar siap diimplementasikan. ​“Harapan kami tentu inovasi ini bisa diwujudkan menjadi aplikasi nyata, sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh anak-anak tunarungu di Indonesia,” ujarnya. ​Keberhasilan ini tak lepas dari peran Kepala Bagian Penalaran Kemahasiswaan UMM, Ali Multazam, S.Ft., Physio., M.Sc. Ia menilai capaian gemilang anak didiknya adalah buah dari proses riset, diskusi panjang, serta konsistensi mereka sejak awal penyusunan esai hingga tahap final. ​“Prestasi ini bukan sesuatu yang didapatkan secara instan. Mereka telah mempersiapkan semuanya sejak awal, mulai dari pengembangan ide, diskusi, hingga penyempurnaan gagasan. Saya sangat mengapresiasi kerja keras dan dedikasi yang telah mereka tunjukkan selama mengikuti kompetisi ini,“ tegasnya. ​Pada akhirnya, raihan prestasi di tingkat nasional ini menjadi bukti nyata bahwa kepedulian sosial yang dipadukan dengan kemajuan teknologi mampu melahirkan solusi aplikatif. Semoga inovasi dari mahasiswa UMM ini dapat menjadi pionir dalam mewujudkan ekosistem pendidikan inklusif yang lebih setara, serta memacu mahasiswa lain untuk terus berkarya meretas batas-batas keterbatasan.(*rik/faq)   Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

Profesor UMM Masuk Jajaran Ilmuwan Paling Berpengaruh Dunia, Raih Predikat World Top 5% Scientist 2025 Artikel ini adalah bagian dari Mitra Promedia Group dan sudah tayang dengan judul “Profesor UMM Masuk Jajaran Ilmuwan Paling Berpengaruh Dunia, Raih Predikat World Top 5% Scientist 2025” Baca selengkapnya di: https://www.pojoksatu.id/edugov/1087409238/profesor-umm-masuk-jajaran-ilmuwan-paling-berpengaruh-dunia-raih-predikat-world-top-5-scientist-2025

POJOKSATU.id – Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan tinggi Indonesia. Dosen Program Studi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ilyas Masudin, berhasil masuk dalam jajaran ilmuwan paling berpengaruh di dunia setelah dinobatkan sebagai World Top 5% Scientist 2025 versi SciRank Global Registry. Pencapaian tersebut menempatkan Prof. Ilyas di kelompok elite peneliti dunia yang dinilai memiliki kontribusi ilmiah signifikan berdasarkan produktivitas riset dan dampak akademik yang dihasilkan. Pemeringkatan dilakukan terhadap lebih dari 10 juta peneliti aktif dari berbagai negara dan disiplin ilmu. Menurut Prof. Ilyas, proses penilaian menggunakan basis data OpenAlex dengan indikator utama Normalized Composite Score, yakni ukuran yang menilai keseimbangan antara jumlah publikasi ilmiah dan pengaruhnya melalui sitasi akademik. “Saya cukup kaget karena informasi ini justru saya ketahui dari kolega. Apalagi, lembaga tersebut melakukan penilaian terhadap lebih dari 10 juta peneliti di seluruh dunia secara objektif tanpa membedakan bidang keilmuan,” ujarnya, Selasa (2/6/2026). Bersaing dengan Lebih dari 10 Juta Peneliti Dunia Masuk ke dalam kelompok 5 persen ilmuwan paling berpengaruh dunia bukanlah pencapaian yang mudah. SciRank melakukan evaluasi terhadap jutaan akademisi dari berbagai bidang, mulai dari teknik, kesehatan, sains, pendidikan, ekonomi, hingga ilmu sosial. Keunggulan sistem penilaian ini terletak pada pendekatan yang tidak hanya menghitung jumlah publikasi, tetapi juga memperhatikan dampak penelitian melalui sitasi dan pengaruh ilmiah yang dihasilkan. Karena itu, penghargaan tersebut menjadi pengakuan internasional terhadap kualitas, konsistensi, dan relevansi riset yang dilakukan seorang akademisi. Rekam Jejak Publikasi yang Kuat Sebagai akademisi yang menekuni bidang logistik, manajemen rantai pasok, dan optimisasi sistem, Prof. Ilyas memiliki portofolio penelitian yang sangat produktif. Hingga saat ini, ia tercatat telah menghasilkan: 126 publikasi terindeks Scopus. H-index Scopus sebesar 24.

FIKES UMM Perkuat Jejaring Global, Sambut Mahasiswa Exchange dari Mahidol University Thailand

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Program Studi Fisioterapi Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memperkuat jejaring internasionalnya dengan menerima kedatangan dua mahasiswa student exchange dari Faculty of Physical Therapy, Mahidol University, Thailand. Pertukaran mahasiswa ini berlangsung selama tiga pekan, mulai 16 Mei hingga 7 Juni mendatang. Kedatangan mahasiswa asal Negeri Gajah Putih tersebut disambut langsung oleh Dekan FIKES UMM, Dr. apt. Hidajah Rachmawati, S.Si., Sp.FRS.. Hidajah menjelaskan bahwa program pertukaran ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa asing untuk melakukan studi komparatif terkait sistem pendidikan maupun tata laksana pelayanan kesehatan antarnegara. “Silakan ambil banyak pelajaran selama berada di Indonesia, khususnya di UMM. Thailand dan Indonesia tentu memiliki sistem pelayanan kesehatan yang berbeda, sehingga pengalaman ini dapat menjadi ruang belajar yang sangat baik untuk memahami berbagai pendekatan dalam dunia kesehatan dan fisioterapi,” tutur Dekan FIKES UMM, Hidajah pada Kamis (4/6). Perlu diketahui, kemitraan strategis antara Prodi Fisioterapi UMM dan Mahidol University telah terjalin kuat selama tiga tahun terakhir. Kedatangan mahasiswa pada pertengahan tahun 2026 ini juga menandai batch kelima dari keberlanjutan kerja sama antarkedua institusi pendidikan tersebut. Dua mahasiswa exchange dari Mahidol University Thailand disambut hangat oleh FIKES UMM./dok.UMM Salah satu mahasiswa asal Mahidol University, Thailand, Siwat Matro  mengungkapkan bahwa belajar di kampus putih telah memberikannya perspektif baru, khususnya terkait pendekatan keilmuan fisioterapi dan pelayanan kesehatan masyarakat. Ia menambahkan, kesempatan berpraktik langsung di Puskesmas membuatnya lebih memahami sistem penanganan kesehatan tingkat dasar dan pendekatan preventif di Indonesia. Menurutnya, hal ini menjadi pengalaman komparatif yang sangat berharga untuk dibawa kembali ke Mahidol University. Selain fokus pada esensi keilmuan, program mobilitas ini juga dirancang sebagai medium akulturasi dan pemahaman budaya. Wakil Dekan II FIKES UMM, Henik Tri Rahayu, S.Kep., Ns., MS., Ph.D., menegaskan bahwa penguatan relasi internasional dan pemahaman kultural memiliki urgensi yang sama pentingnya dengan pencapaian target akademik di dalam kelas. Ia juga berharap eskalasi program internasionalisasi semacam ini dapat terus ditingkatkan. Melalui sinergi lintas negara, diharapkan lahir tenaga kesehatan profesional yang tidak hanya mahir secara klinis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial, kecakapan komunikasi lintas budaya, serta mampu beradaptasi dengan berbagai dinamika kesehatan di tingkat global. *** Editor: YAN

Dari Kine Club UMM Menuju Negeri Ginseng, Kisah Distya Taklukkan Kerasnya Industri Hiburan Korea

Demam Hallyu atau ekspansi budaya pop Korea Selatan terus menggurita dan digandrungi oleh anak muda Indonesia. Menariknya, Distya Putri Handayani memilih jalan yang jauh lebih menantang. Alih-alih sekadar menjadi penggemar penikmat karya, alumnus Program Studi Hukum Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini sukses menembus ketatnya persaingan dan berkarier langsung di industri kreatif Korea Selatan. Kini, ia tidak hanya bekerja di perusahaan hiburan di sana, tetapi juga terlibat penuh dalam memproduksi berbagai program televisi yang menggandeng jajaran idol K-Pop ternama. Distya sapaan akrabnya menjelaskan bahwa peluang emas tersebut bermula ketika ia memutuskan terbang ke Korea Selatan untuk mendalami bahasa di Yonsei University pasca lulus dari UMM. Di tengah kesibukannya sebagai pelajar, ia menerima tawaran kerja paruh waktu di sebuah perusahaan kreatif. Berkat dedikasi dan kinerjanya yang tajam, ia diberi kepercayaan untuk menginisiasi dan mengeksekusi program memasak hidangan khas Nusantara bersama para bintang K-Pop, yang sukses tayang hingga dua musim berturut-turut. Kini, ia menempati posisi strategis di divisi pemasaran perusahaan tersebut. “Karena bosku suka dengan kinerjaku, akhirnya dibuatlah satu program dari ideku, yaitu masak-masak masakan Indonesia bersama idol-idol Korea,” jelas perempuan asal Jakarta tersebut. Keberhasilannya menembus industri hiburan internasional tentu tidak diraih secara instan. Distya menceritakan bahwa minat dan fondasi kompetensinya di dunia kreatif murni dipupuk semenjak ia menjadi mahasiswa baru di Kampus Putih. Kala itu, ia memutuskan bergabung dengan Kine Club UMM. Di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) inilah ia ditempa memegang peran vital, mulai dari asisten manajer yang mengurus manajerial jadwal hingga menjadi produser untuk berbagai produksi karya audiovisual. Selain itu ia juga aktif menjadi partimer di Humas UMM yang bertanggung jawab dalam bagian fotografi dan videografi. “Aku ikut UKM Kine Club sejak jadi mahasiswa baru. Di sana awal mula aku belajar tentang dunia kreatif. Selain itu aku juga menjadi salah satu bagian tim ciptavisual di humas UMM. Ilmu yang aku dapat salam di UKM Kine dan partimer humas UMM juga terpakai banget,” ujarnya. Sebelum menjejakkan kaki di Negeri Ginseng, Distya telah mematangkan pengalamannya di industri hiburan Tanah Air. Ia sempat bekerja di agensi artis di Jakarta dengan menangani hingga 16 selebritas, menjadi personal assistant manager figur publik, hingga bergabung memproduksi film pendek bersama rumah produksi Frame Ritz pada 2020. Meski memiliki portofolio mentereng, langkah awalnya di Korea sempat dihantam krisis finansial yang memaksanya membuka bisnis jasa titip (jastip) lintas negara demi menyambung hidup. “Waktu awal di Korea aku sempat bingung karena habis tertimpa musibah dan rugi besar secara finansial. Sempat mau nyerah karena biaya hidup di sana mahal,” ungkapnya. Bertahan dan bekerja di episentrum industri K-Pop pada akhirnya memberikan wawasan baru bagi Distya, terutama terkait dinamika komunikasi profesional di lapangan. Ia menyoroti tingginya standar kerja serta ketatnya batasan privasi bagi para idol Korea yang harus dihormati oleh seluruh kru produksi. “Kita nggak bisa sembarangan berinteraksi walaupun sebagai kru. Jadi harus benar-benar menjaga sopan santun dan attitude,” katanya menekankan pentingnya etika kerja. Merangkum perjalanan panjangnya yang sarat akan dinamika, Distya menitipkan pesan inspiratif kepada seluruh mahasiswa UMM agar tidak takut menggantungkan cita-cita di panggung global. Baginya, konsistensi dan keberanian untuk terus berproses adalah kunci utama mendobrak segala keterbatasan. “Tidak ada yang nggak mungkin selama kita tekuni apa yang kita mau. Capek boleh, tapi nyerah jangan,” pungkasnya.(*rik/faq)   Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman

CoE Sawit UMM Gandeng PT Bumitama Gunajaya Agro, Jawab Tantangan Kebutuhan SDM Unggul

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Indonesia merupakan salah satu produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia, status ini memegang peranan vital dalam rantai pasok ekonomi dan energi global. Namun ironisnya, industri raksasa ini masih kerap dihadapkan pada tantangan pelik terkait ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang benar-benar siap pakai dan adaptif terhadap kemajuan agribisnis modern. Merespons isu kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan riil industri tersebut, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Center of Excellence (CoE) Sawit resmi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan PT Bumitama Gunajaya Agro pada Jumat (29/5) lalu di Aula BAU UMM. Selain penandatanganan kerja sama, langkah strategis ini juga dirangkaikan dengan agenda kuliah tamu bertajuk ‘Level Up Your Career: Peluang Kerja dan Masa Depan Industri Sawit’. Kerja sama ini secara khusus menyasar mahasiswa Program Studi Agroteknologi dan Teknik Industri UMM. Tujuannya adalah merancang program kolaboratif yang komprehensif, mulai dari fasilitasi magang, rekrutmen langsung, hingga penyesuaian kurikulum pendidikan tinggi yang selaras dengan tantangan sektor perkebunan masa kini. Wakil Rektor IV UMM, M. Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan bahwa sinergi lintas sektor ini merupakan langkah konkret universitas untuk memastikan mahasiswa tidak hanya unggul secara landasan teori, tetapi juga memiliki taktis dan kepekaan yang relevan dengan dinamika industri saat ini. “Kerja sama ini adalah bukti nyata komitmen Kampus Putih dalam mendekatkan mahasiswa dengan dunia profesional. Kami ingin lulusan UMM, khususnya jebolan dari CoE Sawit, tidak lagi canggung saat memasuki dunia kerja, melainkan langsung bisa diserap dan memberikan kontribusi riil bagi industri perkebunan nasional,” jelas Wakil Rektor IV Salis, Kamis (4/6). Kemudian, Agus Sutrisno, S.P., M.M. selaku HC & OSM Director PT Bumitama Gunajaya Agro menjelaskan bahwa industri kelapa sawit saat ini bergerak sangat cepat. Situasi ini membutuhkan tenaga kerja muda yang adaptif terhadap teknologi cerdas serta memiliki daya inovasi tinggi, bukan sekadar pekerja yang mengandalkan metode konvensional di lapangan. “Industri kelapa sawit masa depan sangat bergantung pada efisiensi manajerial dan pembaruan teknologi. Oleh karena itu, kami di dunia industri membutuhkan talenta-talenta unggul dari perguruan tinggi seperti UMM yang siap menghadapi tantangan global dan mampu memberikan solusi teknis yang akurat,” beber Agus Sutrisno. Inisiatif taktis melalui CoE Sawit ini diharapkan terus berlanjut dan menjadi jembatan emas yang menghubungkan dunia akademis dan industri. Melalui pembekalan kompetensi dan pengalaman belajar berbasis praktik ini, mahasiswa UMM tidak hanya disiapkan sekadar untuk mencari kerja setelah lulus, tetapi didorong menjadi inovator penggerak yang akan meningkatkan daya saing sektor pertanian dan perkebunan Indonesia di kancah global. Editor: YAN

UMM Beri Ruang Berekspresi Mahasiswa, Rektor Cup UMM 2026 Siapkan Total Hadiah Ratusan Juta

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Rektor Cup Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali hadir menjadi panggung pembuktian bagi kreativitas dan energi mahasiswa masa kini. Ajang ini bukan sekadar euforia kompetisi biasa di tengah dinamisnya gaya hidup Gen Z. Kampus Putih menjadikan ajang ini sebagai ruang bebas berekspresi sekaligus inkubator untuk mencetak bibit-bibit atlet dan seniman berprestasi. Ketua Panitia Rektor Cup UMM, Ir. Ary Bakhtiar, SP., M.Si., IPM., ASEAN Eng., menjelaskan bahwa rangkaian kompetisi yang akan bergulir secara intensif sejak Mei hingga awal bulan Juli mendatang ini mempertandingkan 25 cabang olahraga (cabor) dan seni. Pihak kampus juga telah menyiapkan total hadiah yang fantastis sebagai bentuk dukungan finansial nyata bagi pengembangan prestasi para peserta. “Kami sediakan apresiasi berupa dana pembinaan. Total nominal keseluruhan hadiah yang kami siapkan mencapai ratusan juta rupiah demi mengapresiasi kerja keras dan keringat para mahasiswa,” ungkap Ary Bakhtiar pada rilis 3 Juni. Ary menjelaskan, upacara pembukaan tahun ini dikemas dengan konsep yang jauh lebih inovatif dan spektakuler dibandingkan edisi sebelumnya. Kemegahan seremoni tersebut sengaja dirancang untuk membangkitkan semangat sportivitas sejak hari pertama pelaksanaan. “Konsep pembukaan kali ini sangat berbeda dan jauh lebih meriah. Kami melibatkan sekitar 6.000 mahasiswa baru UMM, beserta jajaran dosen, karyawan, hingga alumni untuk ikut serta memeriahkan pada 7 Juni mendatang,” bebernya. Terkait kualifikasi peserta, ia menegaskan bahwa ajang bergengsi ini terbuka lebar bagi seluruh mahasiswa berstatus aktif. Ajang ini difungsikan secara khusus sebagai wadah penjaringan bakat untuk mewakili kampus di berbagai kejuaraan eksternal bergengsi pada kalender kompetisi mendatang. “Event ini terbuka untuk seluruh mahasiswa, tujuan utamanya adalah penjaringan bakat, di mana sebagian pemenang dari Rektor Cup ini nantinya akan kami kirim ke ajang luar kampus tahun depan, seperti Peksimida, kompetisi seni daerah, olahraga, hingga Pomprov,” lanjutnya. Rektor Cup UMM 2026 akan dibuka 7 Juni, dan terbuka untuk semua mahasiswa aktif Kampus Putih./dok.UMM Antusiasme yang membara turut dirasakan para mahasiswa yang siap berlaga, salah satunya adalah Anissa Fitriani Harsari. Mahasiswi yang berpartisipasi sebagai peserta di cabor bulu tangkis ini memberikan apresiasi penuh terhadap fasilitas dan wadah kompetisi luar biasa yang disediakan oleh pihak universitas. “Acara Rektor Cup tahun ini benar-benar disajikan dengan sangat menarik dan terkonsep dengan matang. Sebagai mahasiswa, saya merasa bangga dan sangat diapresiasi karena kampus tidak hanya menuntut kami fokus pada akademik, tapi juga mendukung penuh pengembangan minat bakat kami. Saya sendiri sudah berlatih keras untuk bisa merebut gelar juara dan membawa nama baik fakultas,” ujar Cece sapaan akrabnya. Rektor Cup UMM bukan sekadar ajang perebutan medali dan euforia semata, melainkan sebuah kawah candradimuka bagi para mahasiswa untuk mengasah sportivitas, kreativitas, dan daya juang. Melalui iklim kompetisi yang sehat ini, Kampus Putih berharap dapat terus melahirkan generasi juara yang tak hanya unggul di tingkat lokal, tetapi juga mampu mengharumkan nama almamater di kancah yang lebih luas. *** Editor: YAN

Listrik Air hingga Halal Center di China: UMM Wujudkan Visi Berkelanjutan

MALANG POST – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membuktikan dengan menjawab isu krusial nasional seperti tingginya angka stunting, kemiskinan ekstrem, hingga tantangan persaingan di era digital. Kampus Putih secara masif menghadirkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat lokal hingga kancah global. ​Wakil Rektor IV UMM, Muhammad Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D menyatakan. Bahwa seluruh riset dan inovasi kampus putih difokuskan secara tajam. Agar bisa menyelesaikan permasalahan riil yang dihadapi masyarakat dan industri. Bukan lagi sekadar mengisi kekosongan literatur akademis semata. ​”Kita sekarang mengarahkan agar persoalan yang diangkat itu berangkat dari persoalan riil masyarakat atau industri, bukan sekadar gap dari literatur saja,” tegasnya 30 Mei 2026 pada Humas UMM. ​Dampak nyata dari arahan ini terwujud dalam berbagai kolaborasi strategis. Di tingkat nasional, UMM menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengkaji pengelolaan tambang berkelanjutan serta merumuskan standar bahasa isyarat bagi penyandang disabilitas. Di kancah global, ekspansi UMM menembus Tiongkok melalui pendirian Halal Center di Fuzhou University, yang dirancang untuk membuka peluang bagi alumni UMM dalam memimpin ekosistem sertifikasi halal internasional. ​Langkah solutif ini juga diimbangi dengan strategi pengabdian yang terukur. Kepala Biro Riset, Pengabdian, dan Kerja Sama UMM, Dr. Salahudin, M.Si., MPA., menjelaskan. Bahwa program pengabdian kampus selalu didahului dengan pemetaan kondisi krisis di lapangan agar intervensi yang diberikan benar-benar tepat sasaran. Seperti inisiatif penurunan angka stunting dan kemiskinan ekstrem di Nusa Tenggara Timur (NTT). ​”Program pengabdian kepada masyarakat itu tidak berangkat dari ide universitas, tetapi berangkat dari permasalahan masyarakat. Karena itu, sebelumnya kami melakukan mapping problem sosial,” jelasnya. ​Intervensi berkelanjutan UMM tidak berhenti di NTT. Kampus ini juga sukses menghidupkan perekonomian desa lewat Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Sumber Maron, transformasi wisata Jodipan, hingga sistem green farming di lahan terasering Tabanan, Bali, yang berujung pada pengakuan resmi sebagai mitra UNESCO. Untuk memastikan keberlanjutan dampak ini, mahasiswa UMM diterjunkan langsung dan dibekali dengan penguasaan tiga bahasa utama, yakni bahasa Indonesia, bahasa asing, dan bahasa pemrograman (coding).