MALANG, RADAR MALANG – Pemanfaatan kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI) kini resmi merambah pemutakhiran diagnosis medis noninvasif berakurasi 86 persen serta pengawasan energi surya otonom lewat pengukuhan dua guru besar Program Studi Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV Kampus III Kamis (11/6). Dua akademisi terbaik tersebut, Prof. Dr. Ir. Lailis Syafa’ah, M.T. dan Prof. Dr. Ir. Machmud Effendy, S.T., M.Eng., IPM., ASEAN Eng. Meski bergerak pada subkepakaran yang berbeda, keduanya kompak mengintegrasikan algoritma pintar untuk memangkas batasan operasional konvensional. Prof. Lailis Syafa’ah, Guru Besar di bidang Rekayasa Biomedis, menggebrak lewat inovasi di ranah medis transdisipliner yang mengawinkan ilmu kedokteran dengan teknik elektro. Selama ini masyarakat, terutama ibu hamil dan pasien cuci darah (hemodialisis), harus menghadapi jarum suntik secara berkala hanya untuk memantau kadar hemoglobin (Hb). “Dengan rekayasa biomedis ini, pengecekan beralih total menjadi noninvasif alias tanpa rasa sakit,” ujarnya. Aplikasi besutannya memanfaatkan jepretan kamera smartphone pada bagian konjungtiva mata pasien. Melalui algoritma AI yang telah diuji klinis, sistem mampu menganalisis saturasi warna kelopak mata dalam hitungan detik. Akurasi prediksinya bahkan menembus angka 86 persen dibandingkan dengan hasil tes laboratorium konvensional. Teknologi tak kalah canggih juga diinisiasi oleh Prof. Machmud Effendy. Idenya bermula dari rapor merah indikator efisiensi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang sempat anjlok dari 23 persen menjadi 15,85 persen pada tahun 2025. Ia menawarkan solusi nyata guna mengoptimalkan operasional pembangkit tersebut. Inovasi utama yang dipresentasikan Prof. Machmud adalah pengembangan Robot Pembersih Panel Surya Otonom terintegrasi AI dan Kamera Termal. Terobosan tersebut mendapatkan pendanaan dari DIKTISAINTEK melalui program hiliriset 2026. Selama ini, pembersihan panel surya di atas gedung masih mengandalkan tenaga manual manusia yang berisiko tinggi dan kurang konsisten. “Kamera ini berfungsi melacak adanya titik panas ekstrem kerusakan pada sel surya yang tidak kasat mata, sehingga penurunan daya bisa dideteksi sedini mungkin,” urainya. Selain robotik pintar yang didanai Dikti tersebut, riset jangka panjangnya juga berfokus pada sistem akurasi pembagian daya seimbang pada rangkaian panel dan sel baterai. Sistem ini diklaim mampu memperpanjang usia pakai komponen PLTS secara signifikan sekaligus menghindari beban berlebih (overload). Implementasi teknologi ini diharapkan membuat investasi energi hijau menjadi jauh lebih murah dan mandiri.

UMM Bangun Pabrik Infus PT Suryavena Farma Indonesia di Malang

KORAN MANADO-Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperkuat kontribusinya dalam mendukung kemandirian kesehatan nasional melalui pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia di Kabupaten Malang, Jawa Timur, seperti diberitakan oleh Cahaya. Pembangunan fasilitas ini menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai pasok alat kesehatan dalam negeri sekaligus memenuhi kebutuhan medis nasional yang terus meningkat. Selain mendukung sektor kesehatan, proyek tersebut juga diharapkan menjadi pusat kolaborasi antara dunia pendidikan, riset, dan industri. Pabrik infus yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 itu diproyeksikan menjadi salah satu penopang utama kebutuhan alat kesehatan bagi jaringan rumah sakit maupun masyarakat luas. Temukan lebih banyak UMM menyediakan lahan seluas 14 hektare di Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur, untuk mendukung pembangunan kawasan tersebut. Dari total lahan yang disiapkan, sekitar tiga hektare dialokasikan khusus sebagai kawasan industri terpadu yang akan menjadi lokasi pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia. Konsep Socio-Religious Corporation Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan pembangunan pabrik infus tersebut merupakan wujud nyata konsep socio-religious corporation yang dikembangkan Muhammadiyah. Menurutnya, organisasi keagamaan mampu berperan dalam membangun kemandirian ekonomi dan kesehatan melalui pengelolaan bisnis profesional yang berorientasi pada kemaslahatan publik. “Ini bukan untuk Muhammadiyah, ini untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” kata Haedar Nashir. Haedar Nashir menambahkan bahwa agama tidak hanya mengatur aspek akidah dan ibadah, tetapi juga mencakup urusan muamalah dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Karena itu, keterlibatan Muhammadiyah di sektor industri medis dipandang sebagai bentuk pengabdian yang menjunjung nilai kemanusiaan, akuntabilitas, dan keberlanjutan untuk mendukung layanan pendidikan hingga pemberdayaan umat. Kawasan Industri Terintegrasi dengan Pendidikan dan Riset Wakil Rektor II UMM, Ahmad Juanda, menjelaskan kontribusi kampus tidak hanya sebatas penyediaan lahan. Ke depan, kawasan tersebut akan diintegrasikan sebagai bagian dari ekosistem Laboratorium Direktorat Saintek UMM yang menghubungkan kegiatan industri dengan pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia. “Pembangunan ini merupakan bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam menjawab kebutuhan strategis nasional,” ujar Ahmad Juanda. Menurut Ahmad Juanda, kawasan tersebut juga dirancang menjadi pusat kolaborasi yang mengintegrasikan inovasi, pendidikan, dan praktik industri sehingga mampu menghasilkan sumber daya manusia yang relevan dengan perkembangan sektor kesehatan. Diharapkan Perkuat Industri Kesehatan Nasional Dengan beroperasinya pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia, langkah ini diharapkan menjadi tonggak baru dalam penguatan industri kesehatan berbasis nilai sosial di Indonesia. “Kolaborasi lintas sektor ini menjadikan kemandirian ekonomi, inovasi pendidikan, dan pelayanan publik yang inklusif dapat berjalan beriringan demi menghadirkan manfaat yang seluas-luasnya bagi pembangunan bangsa,” ujar Ahmad Juanda. Peletakan batu pertama pembangunan pabrik infus tersebut dihadiri oleh Haedar Nashir, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI sekaligus Sekretaris BPH UMM Fauzan, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Wakil Bupati Malang, Direktur PT Suryavena Farma Indonesia, serta sejumlah undangan lainnya. Pabrik yang ditargetkan beroperasi pada 2027 tersebut diproyeksikan menjadi penopang penting rantai pasok alat kesehatan, baik untuk jaringan rumah sakit Muhammadiyah maupun masyarakat secara luas.

Haedar Nashir Resmikan Infrastruktur Berkualitas Tinggi Nan Visioner Milik UMM

MALANG, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi meluncurkan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5 yang berlokasi di kompleks Rumah Sakit UMM. Gedung sebelas lantai setinggi 45 meter berkonsep green building ini diresmikan langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si pada Kamis (11/6). Fasilitas mutakhir ini didedikasikan sebagai pusat pendidikan medis masa depan bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES). Kehadiran fasilitas megah ini dinilai sebagai penegas dedikasi utuh UMM dalam memajukan peradaban. Haedar sapaan akrabnya memberikan apresiasi kepada jajaran pimpinan Kampus Putih karena dinilai tak pernah lelah berinovasi dan sukses menyulap kawasan tersebut menjadi pusat pendidikan kedokteran bergengsi. Ia menegaskan bahwa UMM telah membuktikan posisinya sebagai barometer kemajuan bagi 164 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) di seluruh Indonesia. “UMM Malang telah membangun dasar kemajuan yang kuat dan menanamkan tradisi besar bagi seluruh sivitas akademika untuk selalu memiliki visi yang luas ke depan serta menjadi pelopor dalam kemajuan,” tegasnya. Lebih jauh, Haedar menilai kemegahan GKB 5 ini merupakan cerminan tradisi keunggulan Kampus Putih dalam mencetak tenaga kesehatan profesional. Lulusan UMM tidak hanya dituntut cerdas secara keilmuan, tetapi juga wajib memiliki karakter, integritas, dan akhlak mulia sebagai landasan utama saat melayani masyarakat. “Gedung GKB 5, rumah sakit UMM, serta seluruh ekosistem kampus UMM menjadi bukti nyata Muhammadiyah yang terus maju, Islam yang berkemajuan, dan UMM sebagai pelopor kemajuan,” imbuhnya. Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menjelaskan bahwa keistimewaan utama dari gedung ini terletak pada kemandirian proses pembangunannya. Mahakarya yang dirintis sejak tahun 2023 tersebut dirancang dan dikerjakan langsung oleh para ahli dari internal kampus. “Gedung ini dibangun murni dengan swadaya dan swakelola, termasuk desain perencanaan sampai dengan pelaksanaannya oleh tim Universitas Muhammadiyah Malang beserta beberapa konsultan,” urainya. Berdiri di atas lahan seluas dua hektar, struktur tahan gempa ini mengusung arsitektur ramah lingkungan yang diformulasikan khusus untuk menekan polusi, memaksimalkan pencahayaan alami, dan memastikan sirkulasi udara sehat. Gedung ini dilengkapi dengan puluhan laboratorium berstandar internasional, sarana olahraga, sistem pengolahan limbah khusus yang terpisah, hingga auditorium megah. Pembangunan infrastruktur berkualitas tinggi ini menjadi langkah visioner UMM untuk memastikan para lulusannya siap, cerdas, dan tangguh. Nazaruddin berharap peresmian ini membawa keberkahan dan menjadi dorongan moral bagi UMM untuk terus berkontribusi secara nyata bagi negara. “Mudah-mudahan peresmian ini sekaligus menjadi doa bagi kita semua dan UMM khususnya untuk berani maju terus ke depan memberikan kontribusi yang terbaik bagi bangsa,” pungkasnya. Berdirinya GKB 5 ini tidak hanya menambah daftar panjang prestasi infrastruktur fisik Kampus Putih, tetapi juga menjadi tonggak sejarah baru dalam standar pendidikan medis di Indonesia. Melalui integrasi ilmu kesehatan, teknologi mutakhir, dan nilai-nilai keislaman, UMM semakin memantapkan langkahnya dalam melahirkan generasi tenaga medis prima yang siap menjawab tantangan kesehatan global di masa depan.

Muhammadiyah Bangun Pabrik Infus untuk Perkuat Kemandirian Kesehatan

pwmu.co –Muhammadiyah terus memperkuat peran strategisnya dalam mewujudkan kemandirian kesehatan nasional. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyediaan lahan untuk pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia di Jalan Raya Ngijo, Karangploso, Kabupaten Malang. Dari total 14 hektare aset lahan milik UMM di lokasi tersebut, sekitar tiga hektare dialokasikan khusus sebagai kawasan industri terpadu. Proyek ini resmi dimulai dengan peletakan batu pertama (groundbreaking) pada Kamis (11/6/2026). Sejumlah tokoh penting turut menghadiri peresmian proyek tersebut, di antaranya Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI yang juga Sekretaris BPH UMM, Direktur Utama BPJS Kesehatan, Wakil Bupati Malang, Direktur PT Suryavena Farma Indonesia, serta Wakil Rektor II UMM Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A. Pabrik yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 ini diproyeksikan menjadi penopang utama rantai pasok alat kesehatan, baik bagi jaringan rumah sakit Muhammadiyah maupun masyarakat luas. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., menegaskan bahwa pendirian pabrik infus ini merupakan manifestasi dari ekosistem socio-religious corporation yang digagas Muhammadiyah. Menurutnya, inisiatif tersebut membuktikan bahwa organisasi keagamaan mampu membangun kemandirian ekonomi dan kesehatan melalui aktivitas bisnis profesional yang berorientasi pada kemaslahatan publik, bukan semata keuntungan finansial.“Ini bukan untuk Muhammadiyah, ini untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” tegasnya.

UMM Resmikan GKB 5 Berkonsep Green Building, Jadi Pusat Pendidikan Medis Masa Depan

KOTA MALANG, jurnalnusa.com — Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi meluncurkan Gedung Kuliah Bersama (GKB) 5 yang berlokasi di kompleks Rumah Sakit UMM, Kamis (11/6/2026). Gedung berlantai 11 dengan tinggi 45 meter yang mengusung konsep green building tersebut diresmikan langsung oleh Haedar Nashir dan diproyeksikan menjadi pusat pendidikan medis masa depan bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES). Dalam peresmian tersebut, Haedar Nashir memberikan apresiasi kepada jajaran pimpinan UMM yang dinilai konsisten melakukan inovasi dan pengembangan kampus. Menurutnya, UMM telah berhasil menjadikan kawasan Rumah Sakit UMM sebagai pusat pendidikan kedokteran yang unggul dan menjadi rujukan bagi 164 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) di Indonesia. “UMM Malang telah membangun dasar kemajuan yang kuat dan menanamkan tradisi besar bagi seluruh sivitas akademika untuk selalu memiliki visi yang luas ke depan serta menjadi pelopor dalam kemajuan,” ujar Haedar. Ia menambahkan, kehadiran GKB 5 menjadi simbol komitmen UMM dalam mencetak tenaga kesehatan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, integritas, dan akhlak mulia dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. “Gedung GKB 5, Rumah Sakit UMM, serta seluruh ekosistem kampus UMM menjadi bukti nyata Muhammadiyah yang terus maju, Islam yang berkemajuan, dan UMM sebagai pelopor kemajuan,” katanya. Sementara itu, Rektor UMM, Nazaruddin Malik, menjelaskan bahwa salah satu keunggulan utama GKB 5 terletak pada proses pembangunannya yang dilakukan secara mandiri oleh internal kampus. Menurutnya, proyek yang mulai dirintis sejak 2023 tersebut dirancang dan dikerjakan melalui sistem swadaya dan swakelola dengan melibatkan tenaga ahli UMM serta sejumlah konsultan pendukung. “Gedung ini dibangun murni dengan swadaya dan swakelola, termasuk desain perencanaan sampai dengan pelaksanaannya oleh tim Universitas Muhammadiyah Malang beserta beberapa konsultan,” ungkap Nazaruddin. Berdiri di atas lahan seluas dua hektare, GKB 5 dirancang sebagai bangunan tahan gempa dengan konsep ramah lingkungan. Desain gedung difokuskan untuk mengurangi polusi, memaksimalkan pencahayaan alami, serta menjaga kualitas sirkulasi udara. Fasilitas yang tersedia di dalamnya meliputi puluhan laboratorium berstandar internasional, sarana olahraga, sistem pengolahan limbah khusus yang terpisah, hingga auditorium berkapasitas besar untuk menunjang kegiatan akademik dan pengembangan kompetensi mahasiswa. Nazaruddin berharap kehadiran GKB 5 dapat memperkuat kualitas pendidikan kesehatan di UMM sekaligus menjadi motivasi bagi kampus untuk terus memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa. “Mudah-mudahan peresmian ini sekaligus menjadi doa bagi kita semua dan UMM khususnya untuk berani maju terus ke depan memberikan kontribusi yang terbaik bagi bangsa,” pungkasnya. Peresmian GKB 5 menandai babak baru pengembangan pendidikan medis di UMM. Dengan integrasi fasilitas modern, teknologi pendidikan kesehatan, dan nilai-nilai keislaman, kampus tersebut semakin memperkuat posisinya dalam menyiapkan tenaga medis profesional yang siap menghadapi tantangan kesehatan global di masa mendatang.

Dari Deteksi Anemia hingga Kedaulatan Energi, Gebrakan 4 Guru Besar Baru UMM Hadirkan Manfaat untuk Masyarakat

Pendidikan Dari Deteksi Anemia hingga Kedaulatan Energi, Gebrakan 4 Guru Besar Baru UMM Hadirkan Manfaat untuk Masyarakat A. Nugroho Kamis, 11 Jun 2026 | 12:18 WIB UNGGUL: Empat Guru Besar baru yang dikukuhkan UMM, Kamis ini (11/6). MALANG, RADAR MALANG – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi mengukuhkan empat Guru Besar baru di Aula GKB 4 Lantai 9 Kampus III UMM, Kamis ini (11/6). Keempatnya adalah Prof Dr Ir Sulianto, M.T, Prof Dr Ir Lailis Syafa’ah, M.T, Prof Dr Machmud Effendy, M.Eng, dan Prof Ir Henik Sukorini, MP, Ph.D, IPM. Pengukuhan ini menjadi langkah strategis Kampus Putih dalam memperluas hilirisasi riset multidisiplin, sekaligus mempertegas komitmen berkelanjutan universitas dalam menghasilkan inovasi aplikatif yang solutif. Hal ini dimaksudkan bagi kemaslahatan masyarakat luas serta kemandirian bangsa. Pada sesi orasi ilmiah pertama, Prof. Dr. Ir. Sulianto, M.T. memaparkan hasil riset mendalamnya mengenai model pengelolaan sumber daya air berkelanjutan untuk menghadapi ancaman krisis lingkungan global. Ia menyampaikan bahwa metode estimasi hidrologi yang presisi menggunakan data historis sangat krusial dalam menjaga stabilitas ketahanan air nasional demi mendukung kemandirian sebuah negara. “Topik ini sangat relevan dengan upaya memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui pemenuhan ketahanan air jangka panjang secara merata,” jelas Sulianto. Selanjutnya, Prof Dr Ir Lailis Syafa’ah, M.T di bidang Rekayasa Biomedis memperkenalkan sebuah terobosan teknologi deteksi dini gejala anemia non-invasif tanpa menggunakan jarum suntik. Ia menjelaskan bahwa inovasi mutakhir tersebut memanfaatkan kamera ponsel pintar untuk memotret konjungtiva mata pasien yang kemudian langsung dianalisis menggunakan algoritma kecerdasan buatan secara instan. “Sinergi komputasi cerdas ini mampu mengeluarkan estimasi indikasi anemia hanya dalam hitungan dua hingga empat detik saja, sebuah lompatan efisiensi yang luar biasa jika dibandingkan dengan pengujian laboratorium konvensional,” tegas Lailis. Sementara itu, Prof Dr Machmud Effendy, M.Eng menyoroti urgensi transisi energi nasional melalui optimalisasi sistem pembangkit berbasis energi terbarukan guna mencapai kedaulatan energi yang mandiri. Ia memaparkan bahwa ketergantungan yang terlampau tinggi terhadap pasokan energi fosil konvensional akan memicu penurunan cadangan energi global serta mengancam kesetabilan ekonomi makro nasional. “Ketergantungan yang tinggi terhadap energi fosil tidak hanya menyebabkan cadangan energi terus menurun, tetapi juga menjadi tantangan serius bagi kedaulatan energi nasional Indonesia di masa depan,” ungkap Machmud. Terakhir ada Prof Ir Henik Sukorini, MP, Ph.D, IPM dari bidang Fitopatologi menekankan pentingnya beralih ke sistem pengendalian hayati demi memulihkan kerusakan tanah tropis akibat paparan zat kimia pertanian yang berlebihan. Ia memperingatkan bahwa ketergantungan akut petani terhadap pestisida sintetis telah merusak mikroorganisme tanah dan mengancam keamanan pangan jangka panjang. “Pengendalian hayati merupakan langkah penyelamatan darurat (emergency exit) yang harus segera diambil oleh seluruh pihak untuk memulihkan tanah tropis kita yang saat ini sedang mengalami degradasi parah,” pungkas Henik.

Muhammadiyah Bangun Pabrik Infus di Karangploso, Perkuat Kemandirian Industri Kesehatan Nasional

dinkes.malangkab KARANGPLOSO – Wakil Bupati Malang, Dra. Hj. Lathifah Shohib, menghadiri kegiatan Groundbreaking  Pembangunan Pabrik Infus PT Suryavena Farma Indonesia yang akan berdiri di Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Kamis (11/6) pagi. Pembangunan pabrik yang diinisiasi oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut menjadi langkah strategis dalam memperkuat kemandirian sektor kesehatan nasional sekaligus mengembangkan ekosistem bisnis kesehatan yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi umat. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, Ketua Bidang Ekonomi, Bisnis, dan Industri Halal PP Muhammadiyah, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., Direktur Utama BPJS Kesehatan, jajaran pimpinan Muhammadiyah, unsur Forkopimda, serta sejumlah tamu undangan dari kalangan akademisi, dunia usaha, dan sektor kesehatan. Pabrik infus yang akan dikelola melalui entitas bisnis Muhammadiyah, PT Suryavena Farma Indonesia, dibangun sebagai bagian dari upaya memperkuat rantai pasok kebutuhan kesehatan yang selama ini masih bergantung pada pihak luar. Muhammadiyah saat ini mengelola sekitar 130 rumah sakit dan lebih dari 300 klinik yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Kehadiran pabrik tersebut diharapkan mampu memenuhi kebutuhan cairan infus dan produk kesehatan lainnya secara mandiri, sekaligus mendukung peningkatan kualitas layanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat. Berlokasi di atas lahan seluas 14 hektare di Kecamatan Karangploso, pembangunan pabrik ini telah melalui berbagai kajian kelayakan dan dinyatakan memenuhi persyaratan untuk pengembangan industri farmasi, termasuk dari aspek ketersediaan dan kualitas sumber daya air yang menjadi salah satu komponen utama dalam proses produksi cairan infus. Pabrik tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada akhir tahun 2027 atau awal tahun 2028. Dalam sambutannya, Haedar Nashir menyampaikan bahwa pembangunan pabrik infus ini merupakan bagian dari ikhtiar Muhammadiyah untuk memperkuat kemandirian bangsa di bidang kesehatan melalui pengembangan industri yang berbasis pada kebutuhan masyarakat. Menurutnya, Muhammadiyah tidak hanya hadir sebagai gerakan dakwah, pendidikan, dan sosial, tetapi juga berkomitmen membangun kekuatan ekonomi produktif yang mampu memberikan manfaat luas bagi umat dan bangsa. Sementara itu, Wakil Bupati Malang Dra. Hj. Lathifah Shohib menyambut baik hadirnya investasi industri kesehatan tersebut di Kabupaten Malang. Menurutnya, pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia tidak hanya akan memperkuat sektor kesehatan nasional, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi daerah melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan investasi, dan pengembangan potensi kawasan industri di Kabupaten Malang. “Pemerintah Kabupaten Malang menyambut baik dan mengapresiasi pembangunan Pabrik Infus PT Suryavena Farma Indonesia ini. Kehadiran industri kesehatan yang diinisiasi oleh Muhammadiyah merupakan langkah nyata dalam mendukung kemandirian sektor kesehatan nasional sekaligus memperkuat ketahanan industri farmasi dalam negeri. Kami berharap investasi ini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan produk kesehatan secara mandiri, tetapi juga memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta tumbuhnya ekosistem industri yang berdaya saing di Kabupaten Malang,” ujar Wakil Bupati Malang, Dra. Hj. Lathifah Shohib. Melalui pembangunan pabrik infus ini, Muhammadiyah menunjukkan komitmennya untuk berkontribusi dalam mewujudkan kemandirian industri kesehatan nasional. Kehadiran PT Suryavena Farma Indonesia diharapkan menjadi tonggak penting dalam penguatan ekosistem farmasi dalam negeri, sekaligus mendukung terciptanya layanan kesehatan yang lebih berkualitas, terjangkau, dan berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia. 

Muhammadiyah Bangun Pabrik Infus di Kabupaten Malang, Target Operasi 2027

Timesindonesia-MALANG – Muhammadiyah memulai pembangunan pabrik infus PT Suryavena Farma Indonesia. Pembangunan itu ditandai dengan peletakan batu pertama (groundbreaking) di kawasan Jalan Raya Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Kamis (11/6/2026). Fasilitas produksi itu berdiri di atas lahan yang disediakan Universitas Muhammadiyah Malang sebagai bagian dari pengembangan kawasan industri terpadu milik kampus. Pabrik yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 tersebut diproyeksikan memasok kebutuhan cairan infus bagi jaringan rumah sakit Muhammadiyah sekaligus masyarakat luas. Kehadirannya dinilai sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk kesehatan dari luar daerah maupun luar negeri. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., menegaskan bahwa pembangunan pabrik infus ini merupakan bagian dari visi besar Muhammadiyah dalam membangun kemandirian ekonomi dan kesehatan yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat. “Ini bukan untuk Muhammadiyah, ini untuk bangsa. Bisnis yang kami bangun bukan bisnis demi bisnis, tetapi bisnis yang manfaatnya kembali kepada kehidupan orang banyak,” tegas Haedar Nashir. Menurutnya, Muhammadiyah ingin menunjukkan bahwa organisasi keagamaan mampu berkontribusi langsung dalam menjawab kebutuhan strategis bangsa melalui pengelolaan usaha yang profesional dan berkelanjutan. Haedar menjelaskan bahwa peran agama tidak hanya terbatas pada urusan ibadah dan keagamaan, tetapi juga mencakup pembangunan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Karena itu, keterlibatan Muhammadiyah di sektor industri kesehatan dipandang sebagai bentuk pengabdian yang berorientasi pada kemaslahatan publik. Pabrik infus tersebut menjadi bagian dari pengembangan ekosistem socio-religious corporation yang selama ini didorong Muhammadiyah. Melalui konsep itu, aktivitas bisnis tidak semata mengejar keuntungan, tetapi juga mendukung layanan pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat.