January 31, 2016, oleh

REKTOR Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Dr Muhadjir Effendy MAP menilai, keberhasilannya membangun kampus ini bukanlah kesuksesan individu, melainkan kerja kolektif. UMM diyakini Muhadjir memiliki corporate culture, yakni budaya perusahaan yang kuat, di antaranya amanah, kejujuran, integritas, dan komitmen lembaga. Sekalipun tidak tertulis, budaya tersebut berlaku secara massive dan mendalam.
Bagi Muhadjir, kekuatan UMM bukanlah keunggulan orang per orang melainkan kekuatan institusi yang tampak pada kekompakan dan suasana kepemimpinan yang kokoh. Muhadjir mencontohkan, kepemimpinannya yang didukung kuat oleh para middle manager yang muda, kaya ide, serta memiliki kemampuan mengeksekusi kebijakan secara cepat, cermat dan produktif.
Pengakuan tersebut disampaikan Muhadjir dalam Silaturrahim Pimpinan dengan seluruh dosen dan karyawan UMM, pada Jumat (29/1) di Theater UMM Dome. Kegiatan silaturrahim ini sekaligus ramah tamah menjelang dilantiknya rektor baru UMM pada Senin (1/2) besok.
Muhadjir berkisah, selama lebih dari 30 tahun kiprahnya di UMM, baik sebagai ketua bidang penalaran, Pembantu Rektor (PR) III, PR I, hingga menjadi Rektor pada tahun 2000, banyak hal yang telah dilakukan, dan tidak semuanya memiliki kesan yang baik bagi semua orang. “Saya kira memang begitu. Kalau banyak berbuat, maka banyak bener-nya, tapi banyak juga salahnya. Kalau sedikit berbuat, ya salahnya cuma sedikit tapi benarnya juga sedikit. Makanya, kalau tidak mau salah ya jangan pernah berbuat. Tapi ya itu, jadinya gak pernah benar,” ujarnya.
Lebih dari itu, Muhadjir merasa sangat berterima kasih pada UMM karena baginya perkembangan pribadinya tumbuh seiring berkembangnya UMM. “Waktu PR III saya masih Doktorandus, saat PR I saya dapat gelar Master, saat Rektor saya jadi Doktor, dan ketika pensiun saya sudah Professor. UMM sudah menjadi detak jantung saya,” tuturnya.
Ke depan, Muhadjir berharap UMM kian menaikkan bendera supremasi akademiknya. Karena itu, ia mengingatkan pada seluruh dosen agar mejadikan professor sebagai cita-cita tertingginya lantaran melalui cara itulah, determinasi dan wibawa akademik UMM terus terjaga dan berkembang. “Kalau di dunia persilatan yang dilihat siapa pendekarnya, kalau di perguruan tinggi yang dilihat siapa professornya,” paparnya.
Muhadjir juga mengajak para dosen dan karwayan menjadikan UMM sebagai ladang untuk mengabdi dan berjihad. Seraya mengutip surat Ali Imron ayat 142, Muhadjir menyebut bahwa standar masuk surganya orang UMM dan Muhammadiyah tentunya berbeda dengan orang lain. “Dalam ayat itu disebutkan, apakah kamu mengira kamu akan masuk surga padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. Nah, kita ini di UMM sebagai mujahid-mujahid yang sabar. Gimana gak sabar, dari 1964 kita bangun UMM ini, bata demi bata kita tumpuk, rupiah demi rupiah kita kumpulkan.”
Muhadjir tak lupa mengingatkan pentingnya bersyukur karena menjadi bagian dari UMM. Baginya, dengan bekerja di UMM, selain mendapat imbalan di dunia, para pengabdinya juga ditopang harapan yang penuh keyakinan, sebagai bagian dari ibadah untuk akhirat. “Tidak mudah mencari lembaga yang menjamin dunia akhirat. Jangan sampai gairah ini meredup, jangan sampai niat ini memudar. Insya Allah, mengabdi di UMM, kalau niatnya diasah terus akan terasa nikmat. Saya sudah membuktikannya.” (han)