October 21, 2025, oleh Humas Universitas

POJOKSATU.id Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyebut koding dan kecerdasan buatan (AI) akan segera menjadi mata pelajaran (mapel) wajib di sekolah-sekolah.

“Kebutuhan guru coding dan AI akan meningkat tajam, sehingga peran perguruan tinggi sebagai mitra pendidikan sangat dibutuhkan,” ujarnya.

Dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Forum Rektor Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah (PTMA) di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (17/10/2025), Mu’ti menjelaskan AI dan koding elama ini bersifat mapel pilihan.

Seiring kebutuhan, Ai dan koding segera menjadi mapel wajib.

Menurutnya, perubahan ini bertujuan menyiapkan generasi yang memiliki kemampuan berpikir logis, kreatif, dan adaptif terhadap perkembangan digital global.

Oleh karena itu, Mu’ti membuka peluang bagi PTMA untuk terlibat dalam penelitian kebijakan (policy research) pendidikan dasar dan menengah, termasuk pendidikan karakter dan kebiasaan belajar siswa.

“Apapun yang dibutuhkan perguruan tinggi, selama relevan dengan arah pembangunan pendidikan nasional, kami siap bermitra,” tegasnya.

Dalam paparannya, Mendikdasmen menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah dalam mengawal reformasi pendidikan nasional.

Saat ini, Kemendikdasmen memiliki lima program prioritas yang bisa dijalankan bersama PTMA.

Berikut uraiannya:

  1. Revitalisasi Satuan Pendidikan

    Program ini bukan hanya memperbaiki sarana fisik sekolah, tapi juga memperkuat sistem manajemen, tata kelola, serta kapasitas kepala sekolah dan guru.

    Revitalisasi diarahkan agar sekolah mampu mengelola pembelajaran secara mandiri dan efisien dengan dukungan fasilitator profesional.

    Kurikulum juga disusun agar adaptif terhadap kebutuhan zaman, memperkuat karakter siswa, dan meningkatkan mutu layanan pendidikan sesuai standar nasional dan internasional.

    “Tahun ini ada lebih dari 16.100 sekolah yang direvitalisasi dengan anggaran Rp16,9 triliun. Tahun depan, kami berupaya agar capaian itu tetap terjaga meski anggaran sedikit berkurang,” jelas Abdul Mu’ti.

    • Peningkatan Kualitas Guru dan Pendidikan Profesi (PPG)Pemerintah telah menyiapkan 808 ribu kuota PPG serta memperluas program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) bagi guru yang belum menuntaskan studi sarjana.

      “Kami ingin memastikan tidak ada guru yang terhenti karirnya hanya karena belum memenuhi syarat akademik.

      Bahkan, pengalaman mengajar kini diakui hingga 70 persen dalam skema RPL,” katanya.

      Melalui skema ini, guru diharapkan terus berkembang tanpa hambatan administratif dan mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan pembelajaran abad 21.

    • Penguatan Program Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)Program ini dirancang untuk memperkuat kemampuan pedagogik dan membangun karakter siswa secara utuh.

      Perguruan tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah (PTMA) dapat berperan sebagai penyelenggara pelatihan guru dan pengembang modul pembelajaran berbasis deep learning.

      Pendekatan ini mendorong guru memahami cara berpikir siswa, memperdalam konteks belajar, dan menciptakan lingkungan yang kolaboratif serta reflektif.

    • Bahasa Inggris Wajib Mulai Kelas 3 SD

      Mulai tahun 2027, bahasa Inggris akan menjadi mata pelajaran wajib sejak kelas 3 SD.
      Karena itu, pelatihan guru bahasa Inggris menjadi prioritas pemerintah.

      Abdul Mu’ti bahkan mengusulkan agar istilah “pelatihan” diganti menjadi “pendidikan” agar lebih profesional dan bisa disertifikasi.

      Dengan begitu, peningkatan kompetensi guru berdampak langsung pada kualitas pengajaran.

      Setiap kebijakan Kemendikdasmen lahir dari kajian filosofis dan penelitian akademik yang mendalam.

      “Kami ingin kebijakan pendidikan tidak sekadar administratif, tetapi menjadi rekayasa sosial yang membentuk karakter bangsa,” ujar Abdul Mu’ti.

       

      Melalui kemitraan strategis, kementerian dan PTMA diharapkan bersama-sama mewujudkan pendidikan yang merata, inklusif, dan berorientasi masa depan.

      Kebijakan Berbasis Kajian Akademik dan Kemitraan Strategis

      • Usai Rakernas Forum Rektor PTMA 2025 pada 16–19 Oktober itu, refleksi dan konsolidasi kebijakan pendidikan nasional makin fokus dilakukan.

        Forum ini juga memperkuat sinergi antara pemerintah dan jaringan kampus Muhammadiyah-Aisyiyah untuk mewujudkan pendidikan unggul, relevan, dan berdampak bagi bangsa. ***