October 28, 2025, oleh Humas Universitas

Pelatihan intensif mengenai Computational Thinking dan dasar-dasar coding. (Foto : Rino Humas)

Dalam rangka mewujudkan visi menarik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), seluruh mahasiswa baru Gen 25 dibekali dengan keterampilan bahasa masa depan yaitu pemrograman. Para mahasiswa mengikuti pelatihan intensif selama 4 hari mengenai Computational Thinking dan dasar-dasar coding, dimulai dari 21 Oktober ini. Ini jadi salah satu dari 10 program utama Rektor UMM, yakni menekankan pentingnya penguasaan tiga bahasa bagi lulusannya. Yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan yang tak kalah penting, Bahasa Pemrograman.

Aminuddin, S.Kom., M.Cs. selaku Kepala Sistem Informasi dan Pelatihan Digital menegaskan pentingnya logika dalam dunia coding. Logic dalam komputer kita tanamkan dalam bahasa pemrograman agar memudahkan untuk para pemula, bahasa Python dipilih sebagai dasar bagi pemula. Adapun materi yang diberikan berfokus pada dua pilar utama. Pertama, teori Computational Thinking, yaitu teori bagaimana komputer dapat berpikir layaknya manusia. Kedua, sintaks-sintaks dasar pemrograman.

Pelatihan ini tidak hanya berhenti pada teori dikelas saja. Pasca pertemuan, mahasiswa diberi tugas untuk membuat mini proyek berupa kalkulator atau aplikasi kasir. Hal ini dirancang untuk mengasah pemahaman mereka tentang tiga trik inti pemrograman yaitu: input data, lalu pemrosesan, dan hasil akhir yaitu output data. Google Colab, sebagai alat yang dapat diakses secara gratis, menjadi platform andalan dalam pengerjaan proyek ini.

Lebih lanjut, Amin melihat pelatihan ini memiliki dampak yang lebih luas, bahkan berpotensi menjadi batu loncatan untuk switch career. Pemrograman yang dipakai juga dapat digunakan untuk menampilkan halaman rekomendasi dan analisa data. “Jadi penelitian yang bersifat kuantitatif dapat kita olah menggunakan Python. Saya optimis, potensi ini terbuka lebar tidak hanya bagi lulusan eksakta tetapi juga rumpun sosial,” katanya.

Ia juga menekankan bahwa literasi pemrograman sudah seharusnya tidak dibatasi ruang dan umur. Kurikulum programming tidak hanya terpaku pada jurusan informatika saja, bahkan sekarang di tingkat sekolah dasar juga mulai dikenalkan logikal programming. Harapannya, melalui pelatihan ini, literasi dan logika dasar mahasiswa dapat terbangun. “Karena pemrograman tidak hanya sintaks, tapi alur logic yang harus kita penuhi sehingga komputer mengerti dengan kita. Itu juga ada logikanya,” tambahnya.

Di sisi lain, antusiasme terpancar dari Rahma Fariza Cahya Ningtyas, mahasiswi Agribisnis UMM. Ia menilai pelatihan ini sangat seru. Apalagi para instruktur pelatihan menjelaskan materi dengan cara yang mudah dan simpel. Meski begitu, ia mengakui bahwa ada beberapa kesulitan dalam proses memahami bahasa pemrograman. Misalnya salah menginput data yang berakibat pada sistem eror.

“Pelatihan ini membuka wawasan saya, karna selama ini kita hanya pengguna dan sekarang sebagai pembuat. Hal ini menjadikan saya lebih tertarik ingin membuat hal baru dari coding-coding tersebut,” tuturnya. (nam/wil)