November 7, 2025, oleh Humas Universitas

TAK KENAL LELAH: Lukman Hakim Arifin, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang menunjukkan produk susu kambing olahannya di Embik Farm, Desa Jambangan, Dampit.

Dua Kali Dapat Pendanaan dari Pemerintah Pusat

radarmalang – AROMA jerami basah bercampur udara pagi menyelimuti Embik Farm Integrated Farming yang terletak di Desa Jambangan, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang. Dari kejauhan terdengar suara kambing mengembik bersahutan seolah memanggil sang tuan muda yang tengah menakar pakan di tangannya.

Di tempat sederhana yang berdiri di antara ladang dan perbukitan itu, Lukman Hakim Arifin menata langkah baru dalam hidupnya. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu kini menjadi satu-satunya penerus usaha peternakan yang diwariskan mendiang ayahnya.

Dulu, aroma kambing saja membuatnya berpaling. Tapi hidup tak selalu berjalan sesuai rencana. Ketika sang ayah wafat pada 2023, tanggung jawab besar itu jatuh ke pundaknya yang baru berusia 20 tahun. ”Awalnya saya nggak suka sama sekali,” tutur Lukman.

Awalnya, Embik Farm hanya memiliki beberapa kambing pedaging yang dikelola secara konvensional. Kini, lebih dari 33 ekor kambing menempati kandang berukuran sedang di lahan miliknya. Dari jumlah itu, tiga di antaranya adalah kambing perah yang setiap hari menghasilkan susu segar.

Jenis kambing yang ia pilih bukan sembarangan. Sapera, hasil persilangan antara Saanen asal Swiss dan Etawa dari Indonesia. Jenis ini terkenal dengan produktivitas susu yang stabil, meski tak sebanyak sapi perah.

Dalam sehari, seekor Sapera mampu menghasilkan 2–3 liter susu. Tak besar, tapi cukup menjanjikan. Bagi Lukman, langkah itu menjadi awal perjalanan baru.

Ia banyak belajar dari video YouTube, diskusi dengan peternak senior, dan mengikuti berbagai pelatihan agribisnis. Ia sadar menjual daging kambing saja tak cukup untuk membuat usaha bertahan.

”Saya mulai berpikir bagaimana supaya kambing ini bisa menghasilkan produk setiap hari. Dari situ saya fokus ke susu kambing,” ujarnya.

Susu kambing, lanjutnya, punya kandungan gizi yang tak kalah dibandingkan susu sapi. Struktur lemaknya lebih kecil sehingga mudah dicerna, dan kadar laktosanya rendah, cocok untuk mereka yang intoleran terhadap laktosa. Kandungannya kaya protein, kalsium, magnesium, dan vitamin yang baik bagi tubuh.

Tak heran, banyak dokter yang menyarankan susu kambing sebagai terapi tambahan bagi pasien dengan penyakit kronis. Lukman bercerita tentang salah satu pelanggannya seorang bapak yang rutin membeli susu kambing untuk anaknya yang sakit paru-paru.

”Setelah beberapa waktu, katanya anaknya membaik. Saya ikut senang dengarnya,” ucapnya dengan mata berbinar.

Tantangan besar datang dari stigma masyarakat yang menganggap susu kambing amis dan berbau tajam. Padahal, Lukman menemukan cara sederhana untuk mengatasinya dengan menambahkan daun pandan saat proses pengolahan. Aroma khas kambing pun tersamarkan. Menghasilkan rasa lembut dan harum alami.

Inovasi itu bahkan mengantarkannya meraih Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) tahun 2024 dengan ide ”Susu Kambing Tinggi Omega 3”. Ia mendapatkan pendanaan sebesar Rp 20 juta untuk mengembangkan usahanya.