November 15, 2025, oleh

Malang, Tugumalang.id-Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ir. Iis Siti Aisyah, memberikan pandangannya terkait pro dan kontra rencana penggunaan BBM berbasis etanol yang diusulkan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk tahun-tahun mendatang.
Rencana tersebut diklaim sebagai langkah lanjutan pemerintah dalam mendorong transisi energi menuju zero carbon emission melalui penggunaan bahan bakar alternatif. Salah satunya adalah etanol (C2H5OH), senyawa kimia yang dinilai berpotensi menjadi substitusi bensin di masa depan.
Menurut Iis, etanol merupakan bentuk biofuel yang menjanjikan karena memiliki sifat pembakaran lebih bersih dibandingkan bensin murni. Secara teoritis, emisi karbon dapat ditekan signifikan apabila digunakan dalam proporsi yang tepat.
“Etanol itu energi alternatif yang dikembangkan dari tanaman yang diproses. Etanol bagus untuk meningkatkan angka oktan. Jadi, jika digunakan dalam jangka yang relatif pendek akan baik. Namun jika digunakan dalam jangka lama dapat merusak komponen combustion chamber seperti karet dan menimbulkan korosi pada logam yang tidak tahan air,” jelasnya.
Di balik keunggulannya, etanol juga menyimpan tantangan teknis dan ekonomis. Secara ilmiah, etanol memiliki densitas energi lebih rendah (26,8 MJ/kg) dibandingkan bensin (46 MJ/kg). Akibatnya, penambahan etanol ke Pertalite akan menurunkan nilai energi per liter campuran dibandingkan Pertalite murni.
Adapun kelebihan etanol antara lain bersumber dari energi terbarukan, tingkat komersialisasi tinggi, dan dapat diproduksi massal di Indonesia melalui tanaman tebu yang sudah banyak dibudidayakan.
Meski demikian, etanol memiliki angka oktan tinggi (100+) dibanding Pertalite (92), sehingga lebih tahan terhadap knocking dan cocok untuk mesin modern berkompresi tinggi. Namun, campuran etanol–Pertalite tidak disarankan untuk mesin lama berkarburator karena membutuhkan penyetelan ulang dan berisiko menimbulkan overheating dalam penggunaan jangka panjang.
Tantangan lain muncul dari sifat etanol yang higroskopis atau mudah menyerap air. Proses pemurnian agar etanol benar-benar bebas air membutuhkan teknologi mahal dan berpengaruh pada harga jual. Saat ini, harga etanol tipe anhidrat masih sedikit lebih tinggi dari Pertalite atau Pertamax sehingga diperlukan insentif agar tetap kompetitif.
Dari sisi teknis, etanol tidak menimbulkan kerusakan serius pada mesin. Pada mesin modern yang dilengkapi Electronic Control Unit (ECU), sistem dapat menyesuaikan pembakaran secara otomatis. Untuk mesin lama, pengguna tetap perlu memperhatikan potensi overheating.
“Meski ada kekhawatiran, berdasarkan penelitian, campuran hingga 10 persen etanol tidak terlalu mempengaruhi mesin lama meskipun memakai karburator. Modifikasi mesin hanya diperlukan jika menggunakan 100 persen etanol,” ungkapnya.
Ke depan, Iis optimistis masa depan etanol di Indonesia cukup cerah. Sumber energi alternatif lain seperti biobutanol masih belum berkembang semasif industri etanol.
“Harapan penggunaan etanol ke depan adalah agar kita memiliki kemandirian energi, dengan syarat etanol berasal dari sumber dalam negeri. Kebutuhan bahan bakar yang besar memerlukan pasokan etanol yang besar pula sehingga industri di Indonesia yang selama ini memasok etanol untuk sektor lain dapat meningkatkan kapasitas produksinya,” ujarnya.