November 21, 2025, oleh Humas Universitas

Pengukuhan tiga guru besar baru UMM. (Foto: Istimewa)

Malang (beritajatim.com) – Tantangan masa depan tidak bisa lagi dijawab dengan cara lama. Mulai dari krisis limbah yang makin bandel, pendidikan yang terjebak keseragaman, hingga dilema etika dalam sains.

Menjawab hal ini, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengukuhkan tiga Guru Besar baru dengan kepakaran yang relevan bagi tantangan zaman, pada Sabtu (22/11/2025).

Ketiga pakar tersebut adalah Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, MM. (Bidang Pengembangan Kurikulum), Prof. Dr. Lud Waluyo, Drs., M.Kes. (Bidang Mikrobiologi Lingkungan), dan Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd. (Bidang Pendidikan Bioetika).

Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Mahfud menyoroti isu pendidikan nasional yang kerap terjebak pada jebakan seragam. Menurutnya, memaksakan standar yang sama bagi anak-anak Indonesia yang memiliki ribuan budaya berbeda adalah langkah mundur.

Ia memperkenalkan gagasan Kurikulum Indonesia Satu (KIS). Konsep ini dirancang bukan untuk menyeragamkan, melainkan sebagai pemersatu yang tetap memberi panggung bagi identitas lokal.

“Pendidikan itu bukan sekadar angka dan ujian, tetapi memanusiakan manusia. Jika kita mengajar anak-anak dengan cara kemarin, kita sama saja merampas masa depan mereka,” tegas Mahfud.

Bagi Gen Z yang peduli pada kesehatan mental dan self-development, gagasan Mahfud sangat relevan. Ia menekankan bahwa teknologi (termasuk AI) harus menjadi alat yang memerdekakan, bukan menciptakan kesenjangan. KIS hadir agar siswa tidak belajar demi ujian semata, tetapi untuk memahami dunia dan dirinya sendiri melalui pendekatan yang humanis dan inklusif.

Di sisi lain, isu kerusakan lingkungan akibat limbah cair menjadi fokus Prof. Lud Waluyo. Pertumbuhan industri dan pola konsumsi modern melahirkan limbah dengan senyawa berbahaya (seperti xenobiotik) yang sulit diurai secara alami.

Lud menegaskan, penggunaan bahan kimia untuk mengurai limbah justru berisiko menciptakan residu baru. Solusinya? Kembali ke alam dengan teknologi biofitoremediator.

Berdasarkan riset panjangnya sejak 1998 hingga 2025, Lud berhasil mengidentifikasi 108 isolat bakteri tangguh yang mampu mematikan patogen dan mengurai deterjen. Bakteri-bakteri ini kemudian digabungkan dengan tumbuhan air seperti eceng gondok (Eichhornia crassipes) dan Hydrilla untuk membersihkan polutan.

“Ini bukan sekadar solusi teknis, tapi tanggung jawab moral kita untuk menjaga keberlanjutan ekologis,” ujar Lud. Teknologi hibrid ini terbukti ampuh diterapkan pada limbah domestik, perhotelan, hingga industri tapioka, menjadikannya solusi green tech yang mendesak untuk diterapkan saat ini.

Sementara itu, Prof. Atok Miftachul Hudha menyoroti sisi gelap dari kemajuan bioteknologi yang pesat. Pendidikan sains di Indonesia dinilai masih lemah dalam literasi etis. Akibatnya, banyak eksperimen laboratorium dilakukan secara mekanis tanpa memikirkan dampak moral terhadap makhluk hidup.

Atok menawarkan model pembelajaran OIDDE (Orientation, Identify, Discussion, Decision, Engage in Behavior). Model ini melatih mahasiswa dan ilmuwan muda untuk tidak hanya pintar secara teknis, tapi juga bijak dalam mengambil keputusan.

“Lemahnya literasi etis berpotensi melahirkan praktik berisiko yang mengabaikan keselamatan organisme. Ilmuwan masa depan harus mampu mengambil keputusan yang etis, bukan hanya benar secara teori,” ujarnya menutup. (dan/ian)