November 24, 2025, oleh

MALANG, VIVA JATIM – Pengukuhan 3 guru besar baru Fakultas dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Sabtu, 22 November 2025, terasa berbeda. Sebab, saat menuju lokasi pengukuhan di Dome UMM, mereka diarak dengan iring-iringan motor gede atau moge.
3 guru besar FKIP UMM yang baru dikukuhkan itu ialah Prof. Dr. Moh. Mahfud Effendi, MM., Prof. Dr. Lud Waluyo, Drs., M.Kes., dan Prof. Dr. Atok Miftachul Hudha, M.Pd. Mereka terlihat gagah saat menunggangi moge dengan setelan busana yang gaul dan keren, tapi tak menghilangkan kesan formal.
Tiga guru besar baru itu memiliki penelitian dan kepakaran yang berbeda dan menarik. Ada yang ahli di bidang pengembangan kurikulum, ada pakar mikrobiologi lingkungan, hingga Ilmu Pendidikan Bioetika.
Tiga profesor itu juga sekaligus memperkuat posisi UMM sebagai kampus dengan perkembangan akademik yang konsisten dan kini telah memiliki total lebih dari 79 guru besar.
Rektor UMM, Prof Nazaruddin Malik, mengatakan bertambahnya guru besar bukan hanya pencapaian institusional, tetapi menjadi energi baru bagi kemajuan bangsa. Katanya sinergi lintas disiplin menjadi kunci pengembangan peradaban.
“Penguatan sains, teknologi, sosial, dan humaniora harus terus dilakukan agar UMM mampu mendorong transformasi pendidikan dan memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat,” kata Nazaruddin.
Pria yang akrab disapa Nazar itu menyoroti peningkatan jumlah guru besar yang tentu akan ikut menarik minat masyarakat untuk melanjutkan studi di UMM serta membuka pintu kolaborasi dengan dunia industri, sektor usaha, dan stakeholder lainnya. Peningkatan kualitas dosen, tenaga kependidikan, infrastruktur akademik, hingga tata kelola finansial akan mempercepat laju kemajuan kampus.
“Mengejar peringkat itu boleh, namun jangan lupa terus memperbaiki mutu proses dan tingkat dampak positif yang bisa kita berikan pada masyarakat luas,” ujar Nazar.
Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMM, Prof Muhadjir Effendy, memberikan apresiasi tinggi atas capaian UMM. Sebagai mantan rektor dia mengungkapkan guru besar adalah salah satu tolak ukur masyarakat bagus tidaknya sebuah kampus.
Banyak orang tua mengukur perguruan tinggi itu maju atau tidak dari berapa jumlah profesor serta reputasinya di masyarakat. Dia menilai tiga profesor baru tersebut memiliki titik temu dalam menciptakan masa depan indonesia yang lebih hijau, baik, dan sustainable.
“Saya harap UMM dapat menjadi pelopor untuk menjadikan indonesia semakin hijau dan berkelanjutan. Pembangunan tidak untuk merusak tapi betul-betul memastikan bahwa ke depan semuanya akan menjadi lebih baik,” kata Muhadjir.
Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Dikti Saintek) Prof Fauzan menilai bahwa perguruan tinggi memiliki peran krusial dalam mempersiapkan Indonesia menuju visi 2045. Ia menekankan bahwa kekuatan suatu bangsa tidak hanya bergantung pada kelimpahan sumber daya alam, tetapi pada kualitas sumber daya manusianya.
“Pentingnya credential micro, sebuah model pembelajaran lintas disiplin yang memungkinkan siapa pun dari berbagai latar belakang untuk meningkatkan kompetensi dan berkontribusi pada masa depan Indonesia Emas,” kata Fauzan.