November 28, 2025, oleh Humas Universitas

Ketiga guru besar UMM yang baru saja dikukuhkan (Foto: Istimewa)

Malang (beritajatim.com) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengukuhkan diri sebagai Kampus Putih penggerak peradaban melalui pengukuhan tiga guru besar baru pada Rabu (26/11/2025). Ketiga akademisi ini menghadirkan gagasan solutif atas tiga isu besar bangsa: keberlanjutan lingkungan, fondasi pendidikan karakter, dan krisis kesehatan stunting.

Tiga profesor yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Khozin, M.Si. (Ilmu Pendidikan Islam), Prof. Dr. Ir. Ahmad Mubin, S.T., M.T. (Ekologi dan Keberlanjutan Industri), serta Prof. Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, M. Kep., Sp.Kom. (Keperawatan Komunitas).

Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Ahmad Mubin menyoroti tantangan industri modern yang tidak lagi bisa berorientasi pada keuntungan semata. Ia menegaskan pentingnya prinsip triple bottom line yang menuntut keseimbangan antara ekonomi, lingkungan, dan sosial. Menurutnya, circular economy dan efisiensi sumber daya adalah kunci menghadapi tuntutan global, namun semua upaya itu membutuhkan alat ukur yang valid.

Mubin menyarankan penggunaan instrumen seperti Sustainability Balanced Scorecard, standar Global Reporting Initiative (GRI), hingga metode OMAX untuk memantau dampak keberlanjutan secara akurat.

“Dengan perencanaan strategis, implementasi teknologi bersih, kolaborasi antar industri (simbiosis industri) dan dukungan kebijakan yang tepat, industri dapat berperan sebagai motor penggerak ekonomi yang ramah lingkungan,” tegas Mubin.

Ia juga mendesak pemerintah memperkuat regulasi industri hijau dan menyediakan insentif bagi inovasi ramah lingkungan agar daya saing global dan kesejahteraan masyarakat dapat tercapai.

Sementara itu, Prof. Khozin mengangkat persoalan rapuhnya budaya di sejumlah lembaga pendidikan Islam akibat tidak adanya kerangka nilai yang kokoh. Ia menawarkan penguatan tiga nilai fundamental—ketuhanan, kemanusiaan, dan keadilan—sebagai pondasi pembentukan budaya sekolah.

Nilai-nilai ini diturunkan menjadi praktik budaya konkret, seperti budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun), kedisiplinan, dan kolaborasi. Baginya, pendidikan Islam harus kembali pada misi utama: membentuk manusia merdeka, cerdas, dan berperadaban.

“Kalau ingin ekosistem dan budaya sekolah lebih kuat dan kokoh, serta adaptif terhadap gempuran perubahan, maka ekosistem itu mestinya berdiri di atas pondasi nilai dasar dan nilai utama yang kuat,” jelas Khozin.

Isu tak kalah genting disampaikan Prof. Yoyok Bekti Prasetyo. Ia menegaskan bahwa stunting bukan hanya masalah gizi, tetapi krisis kemanusiaan yang ia sebut sebagai ‘kemiskinan biologis’. Kondisi ini, katanya, membatasi kecerdasan, kesehatan, dan produktivitas generasi masa depan.

Yoyok menyoroti kondisi di Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, yang pernah mencatat prevalensi stunting ekstrem pada angka 42–50%. Sebagai wujud komitmen Impactful University, UMM terlibat langsung dalam program penguatan parenting self-efficacy, Gerakan Ibu Tangguh, hingga pembangunan sumur bor sedalam 71 meter di Desa Nusa.

“Kita tidak akan membangun Indonesia Emas 2045 hanya dengan bangunan tinggi dan ekonomi kuat, tetapi dengan anak-anak yang sehat, keluarga yang percaya diri, dan masyarakat yang saling menguatkan,” pungkasnya. [dan/beq]