December 6, 2025, oleh

MALANG, Zonamalang.com – Sinergi antara pemerintah daerah dan institusi pendidikan tinggi terus diperkuat demi mencetak generasi pemimpin masa depan yang berkualitas. Hal ini terlihat dari kehadiran Wakil Bupati Malang dalam forum strategis kemahasiswaan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Wakil Bupati Malang, Dra. Hj. Lathifah Shohib, hadir secara langsung dalam agenda “Sarasehan Dosen Pembimbing Abdidaya Ormawa 2025” yang digelar di Aula GKB III Lantai 6, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), pada Jumat (5/12) siang. Kehadiran orang nomor dua di Kabupaten Malang ini disambut hangat oleh civitas akademika kampus putih tersebut.
Dalam forum yang mengusung tema besar “Abdidaya Ormawa Berdampak dan Berkelanjutan untuk Indonesia Emas” ini, sosok yang akrab disapa Bu Nyai Lathifah tersebut didapuk untuk memberikan arahan strategis. Ia berbicara di hadapan Wakil Rektor II UMM, Dr. Ahmad Juanda, Ak., M.M., C.A., serta ratusan dosen pembimbing dan perwakilan mahasiswa peserta program.
Membuka paparannya, Wabup Malang menyampaikan apresiasi mendalam atas inisiatif UMM dalam menyelenggarakan kegiatan Abdidaya Ormawa. Menurutnya, program ini bukan sekadar rutinitas akademik, melainkan sebuah wadah krusial untuk mengasah ketajaman sosial mahasiswa.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Malang, saya sangat berterima kasih dapat berpartisipasi di sini. Abdidaya Ormawa harus kita pandang sebagai instrumen strategis. Ini bukan hanya soal penguatan internal organisasi, tetapi bagaimana tantangan Ormawa dalam memberikan dampak riil kepada masyarakat lewat pemberdayaan,” tegas Lathifah.
Lebih jauh, Bu Nyai Lathifah menyoroti tantangan zaman yang kian kompleks di era disrupsi saat ini. Ia menekankan bahwa transformasi adalah sebuah keniscayaan. Organisasi kemahasiswaan (Ormawa) sebagai laboratorium kepemimpinan, dituntut untuk tidak statis dan harus terus bergerak adaptif.
Dalam konteks kepemimpinan, Wabup Malang mengutip pemikiran pakar manajemen terkemuka, Peter Senge. Ia merujuk pada konsep dalam buku The Fifth Discipline, yang mendefinisikan pemimpin sejati sebagai sosok pembelajar seumur hidup (lifelong learner).
“Kunci kepemimpinan mahasiswa di era modern adalah dinamisasi. Seperti kata Peter Senge, pemimpin adalah mereka yang terus menerus belajar, membangun organisasi pembelajar, dan selalu berpikir secara sistemik. Tidak bisa lagi kita menggunakan pola pikir lama yang kaku,” ujarnya memberikan pencerahan.
Lathifah juga memberikan penekanan khusus mengenai bahaya ego sektoral dalam kepemimpinan. Menurutnya, pemimpin masa depan harus memiliki paradigma luas dan inklusif. Mentalitas “ingin menang sendiri” atau mengedepankan ego sentral harus dikubur dalam-dalam jika ingin mencapai kesuksesan organisasi.
“Pemimpin yang sesungguhnya adalah mereka yang jeli melihat peluang kolaborasi. Keberhasilan organisasi tidak dicapai sendirian, melainkan lewat jalinan kerjasama dengan berbagai pihak. Prinsip kolaboratif inilah yang akan membuat organisasi mahasiswa bertahan dan berkembang secara berkelanjutan,” imbuhnya.
Menutup arahannya, Wabup Lathifah menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Malang untuk terus membuka pintu kolaborasi dengan perguruan tinggi. Ia berharap, luaran dari kegiatan Abdidaya Ormawa 2025 ini tidak hanya berhenti di ruang diskusi, tetapi mewujud dalam karya nyata bagi masyarakat luas.
“Peran kritis dan karya nyata mahasiswa sangat kami nantikan untuk pembangunan Kabupaten Malang. Semoga diskusi hari ini membuka cakrawala berpikir kita semua untuk memperkuat sinergi menuju harmonisasi pembangunan yang kita cita-citakan,” pungkasnya.
Analisis Redaksi: Pesan yang disampaikan Wabup Malang sangat relevan dengan kondisi kekinian, di mana seringkali terjadi gap atau kesenjangan antara idealisme mahasiswa di kampus dengan realitas kebutuhan masyarakat di lapangan. Penekanan pada “Organisasi Pembelajar” dan penghapusan “Ego Sentral” adalah kritik halus namun membangun bagi gerakan mahasiswa yang terkadang terjebak dalam politik internal kampus.
Sinergi “Pentahelix” yang melibatkan Pemerintah (Pemkab Malang) dan Akademisi (UMM) melalui program Abdidaya ini adalah model ideal pembangunan daerah. Jika mahasiswa mampu menerjemahkan arahan ini menjadi program pengabdian desa yang konkret, maka percepatan pembangunan di wilayah Kabupaten Malang akan sangat terbantu oleh inovasi kaum intelektual muda.