Selain itu, Dyah menegaskan pentingnya penentuan strategi pembelajaran dan penyusunan tahapan kegiatan sebelum media digunakan. Pendekatan FAVA Methods (Find, Analyze, Visualize, Apply) menjadi metode efektif yang membantu guru menelusuri potensi sampah plastik, menganalisis kesesuaiannya dengan materi matematika, memvisualisasikannya dalam bentuk media konkret, kemudian menerapkannya dalam pembelajaran nyata di kelas.

“Kami mengajak guru matematika memahami bahwa sampah plastik tidak hanya menjadi isu lingkungan, tetapi dapat menjadi sarana edukatif bernilai tinggi. Media berbahan plastik bekas dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk seperti model bangun ruang dari botol plastik, spinner peluang dari tutup botol, papan trigonometri dari plastik mika, hingga alat peraga operasi bilangan. Dengan demikian, sampah plastik bukan hanya diolah kembali, tetapi diberi makna baru sebagai alat pembelajaran Reduce,” ujar Dyah dosen Prodi PGSD UMM ini.

Dari tindaklanjut diskusi ini, Dyah mengumumkan lomba media pembelajaran berbahan plastik ramah lingkungan tingkat SMA se-Kabupaten Gresik. Lomba ini akan diikuti 20 sekolah negeri maupun swasta, dengan tiga kategori penghargaan yaitu media terkreatif, terinovatif, dan terfavorit. Program ini diharapkan mendorong siswa sekaligus guru untuk terus bereksperimen dengan media berbasis sampah plastik.

Sebagai closingnya Dyah berharap FGD ini dapat memperkaya wawasan guru mengenai konsep pembelajaran berkelanjutan, sekaligus menjadikan matematika dapat diajarkan dengan cara yang lebih konkret, aplikatif, dan memiliki nilai ekologis.

Salah satu peserta FGD, Fitri Andriyani, M.Pd, dari SMA Muhammadiyah 10 Gresik, menjelaskan bahwa meskipun terdapat banyak materi abstrak, beberapa konsep tetap membutuhkan media konkret sebagai jembatan dari tahap konkret menuju abstrak. (rilis humas/don)