December 18, 2025, oleh

Air dan energi kerap dibahas sebagai isu global di ruang konferensi, tetapi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), keduanya justru diterapkan dalam aktivitas kampus sehari-hari. Dari danau konservasi hingga transportasi listrik yang digunakan secara rutin, keberlanjutan tidak diposisikan sebagai jargon, melainkan dijalankan sebagai sistem yang terukur. Pendekatan inilah yang mengantarkan UMM kembali menguatkan posisinya dalam pemeringkatan UI GreenMetric 2025.
Pada pemeringkatan tahun ini, UMM berada di peringkat 19 nasional—naik satu tingkat dibanding 2024—dan menempati posisi 102 dunia. Capaian tersebut sekaligus menegaskan konsistensi UMM dalam membangun kampus berkelanjutan melalui proses panjang dan terukur sejak pertama kali mengikuti UI GreenMetric. Di tingkat regional, UMM menjadi kampus paling berkelanjutan dengan melampaui kampus paling berkelanjutan di Malang Raya. Secara nasional, UMM juga mengokohkan diri sebagai perguruan tinggi paling berkelanjutan di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA).
Wakil Rektor IV UMM M. Salis Yuniardi, M.Psi., Ph.D. mengucapkan syukur dan bangga atas capaian ini. Menurutnya, ini menjadi tambahan semangat untuk terus menjadikan UMM kampus yang bukan hanya hijau dan asri tapi menjadi bagian elemen bangsa yang peduli dan aktif berkontribusi menjaga kelestarian bumi.
“Harapannya ini bisa menambah kepedulian untuk menjaga keberlangsungan bumi, mulai dari hal kecil seperti ikut menjaga kebersihan, membuang sampah pada tempatnya, hingga terus menumbuhkan semangat menanam pohon dan lainnya,” tambahnya.
Di sisi lain, Ketua Tim GreenMetric UMM, Sandi Wahyudiono, ST., MT. menilai capaian ini bukan hasil kerja instan atau sekadar mengejar peringkat. UI GreenMetric menilai enam indikator utama, mulai dari Setting and Infrastructure hingga Education and Research. UMM tidak memilih-milih indikator, tetapi membangun semuanya secara terintegrasi dan berkelanjutan.
UI GreenMetric memang mengukur keberlanjutan melalui enam aspek utama, yakni Setting & Infrastructure, Energy & Climate Change, Waste, Water, Transportation, serta Education & Research. Dalam konteks ini, kekuatan UMM terletak pada pengelolaan lingkungan yang saling terhubung, terutama pada sektor energi, transportasi ramah lingkungan, pengelolaan sampah dan air, serta pendidikan dan riset yang secara sadar diarahkan pada isu keberlanjutan.
“Seluruh indikator UI GreenMetric dapat dipenuhi UMM. Nilai kami cukup menonjol pada aspek Water, salah satunya berkat keberadaan danau kampus sebagai bagian dari konservasi air, serta pada Education and Research yang terus diperkuat secara sistemik,” kata Sandi.
Keunikan UMM tidak berhenti pada infrastruktur. Integrasi nilai akademik, praktik langsung, dan budaya keberlanjutan menjadi fondasi utama. Kampanye Go Green dan Go Healthy, mata kuliah wajib Wawasan Berkelanjutan, hingga penggunaan transportasi kampus ramah lingkungan dijalankan secara nyata dan rutin. Seluruh civitas akademika—mahasiswa, dosen, hingga tenaga kependidikan—dilibatkan aktif dalam perencanaan, implementasi, dan evaluasi program keberlanjutan melalui riset, kegiatan ekstrakurikuler, serta kampanye sadar lingkungan yang konsisten.
UMM juga mengembangkan berbagai program unggulan seperti mobil listrik kampus, sistem transportasi internal ramah lingkungan, pengelolaan limbah terpadu menuju zero waste, pemanfaatan energi terbarukan melalui PLTS dan PLTMH, serta integrasi isu keberlanjutan ke dalam kurikulum. Program-program tersebut tidak bersifat simbolik, melainkan berdampak langsung pada indikator penilaian UI GreenMetric.
Capaian ini selaras dengan visi UMM sebagai kampus unggul dan berwawasan lingkungan. Lebih jauh, peringkat UI GreenMetric memperkuat posisi UMM di tingkat global, meningkatkan daya saing, peluang kolaborasi internasional, serta daya tarik bagi mahasiswa dan mitra global. Ke depan, UMM menargetkan masuk 15 besar nasional dengan memperkuat inovasi, kualitas data, dan dampak nyata program keberlanjutan.
“Harapannya, keberlanjutan dijaga sebagai budaya kampus, bukan sekadar tuntutan penilaian. Di situlah kekuatan UMM yang sesungguhnya,” pungkas Sandi. (vin/faq)
Penulis: Vivin Dwi Oktavia | Editor: Faqih Ahmad Wafir Rahman