December 23, 2025, oleh

Di tengah situasi bencana yang berdampak di Sumatera, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengambil langkah konkret. Melalui layanan Bimbingan dan Konseling (BK), UMM membuka pendampingan psikologis bagi mahasiswa yang keluarganya terdampak bencana di wilayah Sumatera, termasuk Aceh. Layanan ini menjadi bagian dari upaya kampus dalam memastikan mahasiswa tetap memiliki ketahanan mental di tengah kondisi krisis yang memengaruhi keluarga mereka.
Kepala Bimbingan dan Konseling (BK) UMM, Dr. Cahyaning Suryaningrum, M.Si., menjelaskan bahwa layanan ini merupakan bagian dari fungsi BK dalam melayani sivitas akademika, yang meliputi mahasiswa, dosen, dan karyawan. Namun, dalam konteks bencana, fokus utama sementara ini yaitu pendampingan diarahkan pada mahasiswa UMM yang berada di Malang tetapi memiliki keluarga di wilayah terdampak. Pendekatan ini dipilih karena mahasiswa merupakan kelompok yang paling cepat dijangkau dan berpotensi mengalami tekanan psikologis yang berdampak pada aktivitas akademiknya.
“Yang paling memungkinkan untuk kami dampingi secara cepat adalah mahasiswa yang keluarganya berada di wilayah terdampak bencana. Kondisi tersebut dapat memicu kecemasan, shock, hingga gangguan konsentrasi belajar sehingga membutuhkan dukungan psikologis sejak dini agar tidak berkembang menjadi masalah yang lebih berat,” ujarnya.
Dalam konteks yang lebih luas, BK UMM memposisikan diri sebagai bagian dari sistem pendukung kesehatan mental sivitas akademika. Pendampingan psikologis ini tidak hanya bersifat responsif terhadap situasi bencana, tetapi juga menjadi bagian dari komitmen jangka panjang kampus dalam menjaga kesejahteraan mental mahasiswa. Menurut Cahyaning, tekanan emosional yang tidak tertangani berpotensi memengaruhi keberlangsungan studi mahasiswa.
Pendekatan yang digunakan BK UMM tidak hanya bersifat kuratif, tetapi juga promotif dan preventif. Edukasi kesehatan mental terus dilakukan melalui berbagai konten yang disebarluaskan agar mahasiswa memiliki pemahaman dan kemampuan dalam mengelola emosi secara mandiri. Upaya ini diharapkan dapat membantu mahasiswa membangun ketahanan psikologis, terutama ketika menghadapi situasi krisis yang berkaitan dengan kondisi keluarga.
“Tujuan utama kami adalah memberdayakan mahasiswa agar mampu menghadapi situasi sulit, bukan membuat mereka bergantung pada layanan konseling. Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan tetap dapat menjalani perkuliahan secara optimal meskipun berada dalam kondisi emosional yang menantang akibat bencana yang menimpa keluarga mereka,” ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan konkret, BK UMM membuka layanan konseling yang dapat diakses melalui beberapa mekanisme. Mahasiswa dapat memanfaatkan layanan ini dengan mendaftar secara daring, datang langsung ke kantor BK, maupun melalui layanan komunikasi awal berbasis chat. Selain itu, BK UMM juga membuka kemungkinan pendampingan secara daring melalui platform digital, menyesuaikan kondisi dan kebutuhan mahasiswa.
Melalui layanan konseling ini, UMM menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada kesejahteraan mental mahasiswa. BK UMM diharapkan menjadi ruang aman dan inklusif bagi mahasiswa yang membutuhkan dukungan psikologis, sekaligus mempertegas bahwa kesehatan mental merupakan kebutuhan mendasar yang mendapat perhatian serius dalam ekosistem pendidikan di Universitas Muhammadiyah Malang. (wil)
Penulis: Hassanalwildan Ahmad Zain