December 24, 2025, oleh Humas Universitas

Dana, dokter UMM, saat terjun langsung di Sumatra Barat. (Foto: Istimewa)

Malang (beritajatim.com) – Di tengah puing kehancuran akibat banjir bandang yang melanda Sumatra Barat (Sumbar), kehadiran tenaga medis menjadi secercah harapan. Namun, bagi Muhammad Hafidz Putra Perdana, tugas kemanusiaan ini bukan sekadar mengobati luka fisik, melainkan menyelami palung trauma para penyintas yang kehilangan segalanya.

Dokter muda dari Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (FK UMM) yang akrab disapa Dana ini, membagikan kisah emosionalnya saat terjun langsung ke lokasi bencana sepanjang bulan Desember 2025.

Dana merupakan salah satu relawan yang tergabung dalam program tanggap bencana, hasil kolaborasi UMM dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (KemendiktiSaintek). Program ini memfokuskan diri pada dua aspek vital yaitu pelayanan medis dan dukungan psikososial.

Dalam misi tersebut, Dana mendapat mandat khusus sebagai anggota tim psikososial. Tugas utamanya adalah mendampingi para penyintas yang mengalami guncangan mental akibat trauma pascabencana.

“Saya langsung turun ke masyarakat dan menanyai perihal gejala serta gangguan mental mereka akibat post-trauma banjir bandang ini,” ujar dokter muda asal Banjarmasin tersebut.

Hari pertama bertugas di Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, menjadi momen yang membuka mata hati Dana. Ia mengunjungi tiga rumah singgah yang dipenuhi pengungsi dari Kecamatan Palembayan wilayah zona merah dengan tingkat kerusakan paling parah.

Di sana, Dana berhadapan langsung dengan realitas bencana yang sesungguhnya. “Mereka menceritakan bahwa rumahnya sudah rata dengan tanah. Bahkan, banyak anggota keluarga yang sudah tidak ada,” tuturnya dengan nada prihatin kepada beritajatim.com, Selasa (23/12/2025).

Berdasarkan asesmen lapangan, Dana mengungkapkan bahwa mayoritas penyintas mengalami kecemasan berat (severe anxiety), gangguan panik, dan tekanan emosional mendalam akibat kehilangan orang terkasih.

Untuk menangani hal ini, tim melakukan pendampingan intensif meliputi konseling, terapi relaksasi, hingga pemberian obat-obatan yang dipantau berkala selama dua minggu.

Di antara ratusan wajah berduka, ada satu kisah yang paling membekas di benak Dana dan mengguncang sisi profesionalismenya. Peristiwa ini terjadi saat ia bertugas di Rumah Singgah Sitingkah Tapi, Kecamatan Lubuk Basung.

Dana bertemu seorang ayah yang selamat dari galodo dengan cara yang dramatis dan memilukan. Ayah tersebut rela mengorbankan dirinya agar istri dan anaknya bisa selamat lebih dulu.

“Cerita yang paling menggoyahkan saya secara personal adalah saat mendengar seorang ayah yang rela melukai dirinya sendiri agar bisa terbebas dan selamat dari jeratan galodo (lumpur banjir bandang). Keputusan nekat itu ia ambil setelah mendengar pertanyaan lirih dari anaknya: ‘Ayah, setelah ini kita mau ke mana? Ayah ikut, kan?’,” ungkap Dana menirukan percakapan tersebut.

Momen tersebut mengajarkan Dana bahwa di balik diagnosis medis, ada kekuatan cinta dan insting bertahan hidup yang luar biasa dari para korban.

“Sebagian besar pasien adalah mereka yang kehilangan anggota keluarga, tetapi itu tidak mematahkan semangat mereka untuk bertahan hidup,” tambahnya.

Bagi Dana, terjun ke lokasi bencana memberikan perspektif yang tidak bisa didapatkan di balik dinding ruang kuliah atau rumah sakit pendidikan. Meski pernah menjalani stase kejiwaan (psikiatri) saat masa koas, pengalaman lapangan ini terasa jauh lebih dalam dan personal.

“Ini adalah pengalaman yang tidak akan tergantikan bagi saya sebagai calon dokter. Belajar menyeimbangkan empati dan profesionalisme di situasi ekstrem adalah pelajaran berharga,” tegasnya.

Dana berharap, kehadiran program UMM bersama Kemendikti Saintek ini dapat mempercepat proses pemulihan, tidak hanya secara fisik, tetapi juga mental dan sosial bagi masyarakat terdampak di Sumatra Barat. (dan/ian)