December 30, 2025, oleh

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar aksi nyata dalam penguatan kapasitas masyarakat pesisir di Desa Kedungdalem, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo pada 24 September lalu. Melalui pendekatan holistik, para mahasiswa ini membekali warga dengan dua pilar utama menghadapi krisis: Pertolongan Psikologis Awal (PFA) dan Manajemen Risiko Usaha Tangguh Bencana.
Desa Kedungdalem yang terletak di wilayah pesisir dikenal rentan terhadap ancaman banjir rob dan angin kencang. Menyadari risiko tersebut, BEM UMM menilai bahwa ketangguhan sebuah wilayah tidak hanya diukur dari infrastruktur fisik, tetapi juga dari kesiapan mental dan stabilitas ekonomi warganya.
Dalam sesi pertama, peserta yang terdiri dari ibu rumah tangga, pemuda, dan kader lingkungan diajarkan teknik Psychological First Aid (PFA). Tujuannya agar warga mampu menjadi penolong pertama bagi korban yang mengalami trauma pada menit-menit awal pasca-bencana.
Fasilitator kegiatan, M. ‘Ainurridho ‘Allaamsyah, menekankan bahwa kehadiran yang empatik jauh lebih berharga daripada penjelasan medis yang rumit. “Sering kali, yang dibutuhkan korban bukan penjelasan panjang, melainkan kehadiran yang menenangkan,” ujarnya. Warga diajarkan teknik pernapasan untuk menstabilkan emosi serta cara berkomunikasi yang tepat guna mencegah perburukan kondisi psikologis korban di lapangan.
Tak hanya mental, aspek ekonomi juga menjadi sorotan. BEM UMM memberikan edukasi mengenai keberlanjutan usaha bagi pelaku UMKM setempat. Mengingat banjir sering melumpuhkan aktivitas ekonomi, warga dibekali strategi business continuity plan dalam skala rumahan.
Narasumber kegiatan, Ainur Rifqi Almahdani Rahmat, S.M., M.M., mengungkapkan bahwa banyak usaha kecil gulung tikar bukan karena kerusakan fisik semata, melainkan absennya perencanaan darurat. Peserta diajak menyusun prioritas pemulihan usaha dan pengelolaan aset agar tetap bisa bertahan di fase awal pascabencana.
“Selama ini kalau bencana ya pasrah. Ternyata ada langkah-langkah agar usaha tetap bisa jalan,” ungkap salah seorang peserta yang merasa mendapatkan perspektif baru mengenai manajemen risiko.
Melalui integrasi kesiapan mental dan ekonomi ini, BEM UMM berharap warga Kedungdalem tidak lagi sekadar menjadi objek terdampak, melainkan subjek yang aktif dan tangguh. Program ini rencananya akan diperluas ke wilayah rawan bencana lainnya di Probolinggo hingga akhir tahun mendatang. Dengan sinergi antara mahasiswa dan masyarakat, diharapkan tercipta komunitas pesisir yang adaptif dan mampu bangkit lebih cepat dari setiap krisis yang melanda. (rik/faq)
Penulis: Roudhotul Mufarikha | Editor: Ahmad Faqih Wafir Rahman