January 20, 2026, oleh

KLIKMU.CO – Merespons tingginya permintaan pasar global yang sering terkendala minimnya SDM andal, Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memperkuat “pabrik” pencetak eksportir mudanya.
Inisiatif ini hadir sebagai respons strategis atas besarnya potensi agribisnis Indonesia. Saat ini, Indonesia tercatat sebagai salah satu eksportir utama di Asia Tenggara untuk komoditas unggulan seperti kopi, rempah, minyak nabati, hingga pangan olahan. Sayangnya, besarnya peluang ini sering terkendala teknis.
Banyak pelaku usaha kesulitan dalam dokumentasi perdagangan, pemenuhan standar mutu, logistik, hingga segmentasi pasar. Di sisi lain, ketersediaan tenaga kerja terampil yang benar-benar memahami ekosistem ekspor agrokompleks masih sangat minim.
“Kami tidak hanya mengajarkan teori pengembangan komoditas atau pemasaran, tetapi menempatkan mahasiswa langsung pada konteks rantai nilai global. Di sini, mereka belajar langsung dari grantor industri yang sehari-hari berhadapan dengan buyer luar negeri,” ujar Zul.
CoE Ekspor 2026 menawarkan kurikulum komprehensif yang memadukan tiga elemen vital: pembelajaran akademik berbasis analisis, pelatihan praktis oleh pelaku ekspor, dan analisis penetrasi pasar internasional. Mahasiswa ditargetkan menguasai seluruh alur ekspor, mulai dari pemetaan potensi komoditas, standardisasi produk, aspek legalitas, hingga teknis pengiriman.
Untuk menjamin kualitas lulusan, Agribisnis UMM menggandeng mitra dari Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) dengan jam terbang tinggi di pasar Eropa, Timur Tengah, dan Asia Tenggara. Praktisi dari sektor pangan olahan, kopi, hortikultura, dan turunan komoditas agro lainnya dijadwalkan hadir sebagai pengajar tamu sepanjang semester.
Zul menambahkan, era agribisnis modern menuntut SDM yang peka terhadap isu global.
“Generasi eksportir muda tidak boleh hanya mengandalkan intuisi bisnis. Mereka harus menguasai riset pasar, strategi negosiasi, sertifikasi, hingga manajemen risiko global. Selain itu, penting memahami tren ketertelusuran produk (traceability), keberlanjutan (sustainability), isu karbon, serta preferensi konsumen di tiap kawasan,” tambahnya.
Kini, CoE Agribisnis UMM menjadi salah satu program primadona karena menawarkan output karier yang jelas. Program ini diproyeksikan membantu perusahaan agro berekspansi ke pasar internasional melalui tenaga kerja andal atau mendorong mahasiswa menjadi eksportir mandiri lewat inkubasi bisnis kampus. Dengan persiapan matang, tahun 2026 diprediksi menjadi momentum penting bagi angkatan keempat CoE untuk berperan aktif dalam transformasi ekspor agribisnis Indonesia.
(Faqih/AS)