January 22, 2026, oleh

KLIKMU.CO – Kemudahan pembayaran nontunai melalui QRIS kini menjadi primadona di kalangan mahasiswa, khususnya Generasi Z. Namun, di balik kepraktisan tersebut, tersimpan risiko finansial berupa ilusi digital yang kerap tidak disadari penggunanya. Dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Ainur Rifqi Almahdani Rahmat MM menyoroti fenomena ini sebagai salah satu pemicu terkikisnya kesadaran finansial anak muda.
Rifqi menjelaskan, secara psikologis, transaksi menggunakan QRIS terasa sangat berbeda dibandingkan dengan pembayaran tunai. Saat menggunakan uang fisik, seseorang merasakan sensasi “kehilangan” yang nyata karena uang berpindah tangan dan terlihat berkurang. Sebaliknya, pembayaran digital membuat hambatan psikologis untuk berbelanja menjadi sangat rendah karena prosesnya instan.
Kondisi tersebut memicu munculnya latte factor, yakni pengeluaran kecil rutin seperti kopi atau jajanan yang kerap dianggap sepele, tetapi berdampak signifikan terhadap tabungan di akhir bulan.
“Secara psikologis, ketika kita mengeluarkan uang fisik, ada sensasi kehilangan yang benar-benar terasa. Namun saat menggunakan QRIS, perasaan itu cenderung memudar karena prosesnya sangat singkat, cukup klik, scan, lalu transaksi selesai,” ungkapnya kepada Tim Humas UMM, Senin (19/1/2026).
Meski demikian, Rifqi menegaskan bahwa sistem QRIS tetap memiliki banyak keuntungan, seperti kemudahan transaksi tanpa uang kembalian serta pencatatan pengeluaran yang otomatis dalam aplikasi. Namun, tantangan utamanya terletak pada kontrol diri pengguna yang sering melemah akibat godaan promo dan cashback.
Dia menjelaskan, promo merupakan strategi bisnis untuk membentuk kebiasaan belanja berulang (repeat order). Konsumen yang semula tidak membutuhkan suatu barang atau jasa akhirnya terdorong membeli karena merasa mendapatkan potongan harga. Dalam jangka panjang, justru pelaku usaha yang lebih diuntungkan.
“Dalam jangka panjang, perilaku konsumtif meningkat karena terbentuk kebiasaan baru. Yang semula bukan kebutuhan menjadi keinginan akibat promo, sehingga terjadi repeat order secara terus-menerus,” jelasnya.
Lebih jauh, Rifqi mengingatkan bahwa ilusi saldo digital dapat membentuk mentalitas keuangan yang kurang disiplin. Nilai uang menjadi terasa abstrak, sehingga tanpa evaluasi berkala, khususnya Gen Z berisiko mengalami defisit anggaran karena merasa saldo masih aman, padahal pengeluaran harian sudah melampaui batas.
Sebagai langkah antisipasi, ia menyarankan agar mahasiswa menggunakan satu aplikasi khusus untuk transaksi harian berbasis QRIS. Cara ini dinilai memudahkan rekapitulasi sekaligus evaluasi pengeluaran bulanan.
“Gunakan satu aplikasi khusus untuk transaksi QRIS dan biasakan mengecek rekap pengeluaran setiap bulan agar tujuan keuangan jangka panjang tetap terjaga dan tabungan tidak habis oleh pengeluaran kecil yang sering tidak terasa,” pungkasnya.
Dengan strategi tersebut, mahasiswa diharapkan tetap dapat menikmati kemudahan teknologi pembayaran digital tanpa kehilangan kendali atas kondisi keuangan, sekaligus menjalani gaya hidup cashless yang lebih bijak.
(Faqih/AS)