January 29, 2026, oleh

MAKLUMAT – Fenomena kerja berlebihan yang kian jamak di tengah masyarakat Indonesia tak bisa dipandang sebagai persoalan etos kerja. Di balik jam kerja panjang yang kerap diagungkan sebagai bentuk loyalitas dan dedikasi.
Pada dasarnya, persoalan ini tersembunyi ancaman serius terhadap kesejahteraan sosial individu dan keluarga. Sebagaimana disampaikan dosen Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Eko Rizqi Purwo Widodo, MSW.
Dalam pandangannya, kerja berlebihan merupakan isu keadilan sosial yang menyentuh langsung kualitas hidup manusia. Menurutnya, kesejahteraan tidak bisa diukur dari besaran pendapatan, tetapi dari kemampuan individu menjalankan fungsi sosial secara seimbang.
“Kerja berlebihan tidak bisa dianggap sepele. Ini persoalan keadilan sosial. Jika negara ingin kuat, kesejahteraan individu dan keluarga harus menjadi prioritas,” ujar Eko, Selasa (27/1/2026).
Pentingnya Perlindungan Kesehatan
Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan skala persoalan tersebut. Sebanyak 25,5 persen atau sekitar 37,3 juta pekerja di Indonesia tercatat bekerja lebih dari 49 jam per minggu. Data ini menunjukkan bahwa kerja berlebihan bukan lagi fenomena kasuistik, melainkan persoalan struktural dalam sistem ketenagakerjaan.
Eko menjelaskan, bekerja melampaui batas kerap bukan pilihan bebas pekerja. Minimnya perlindungan dan jaminan sosial membuat banyak orang terpaksa mengorbankan waktu istirahat demi bertahan hidup.
“Dalam perspektif kesejahteraan sosial, pijakannya adalah well-being. Bukan hanya ekonomi, tapi juga aspek sosial, psikologis, dan kesehatan,” jelasnya.
Peran Sosial Berpotensi Terkikis
Dampak kerja berlebihan, lanjut Eko, tidak berhenti di ruang kerja. Jam kerja panjang berpotensi memicu kelelahan fisik dan mental, sekaligus melemahkan peran sosial individu dalam keluarga. Relasi orang tua dananak, hingga keharmonisan rumah tangga, menjadi taruhannya.
Kelompok pekerja rentan seperti sektor informal, buruh outsourcing, pekerja migran, serta pekerja perempuan dengan beban ganda berada pada posisi paling terdampak. Tanpa perlindungan memadai, kerjaberlebihan berisiko menjadi bentuk eksploitasi modern yang terselubung.
“Negara yang kuat dibangun dari keluarga yang sehat secara psikososial. Jika kerja justru merusak relasi keluarga, ini menjadi ancaman serius bagi masa depan bangsa,” tegas akademisi Universitas Muhammadiyah Malang itu.
Ia mendorong pemerintah untuk merumuskan kebijakan ketenagakerjaan yang lebih humanis dan berpihak pada kesejahteraan pekerja. Menurutnya, regulasi tidak semestinya hanya berorientasi pada produktivitas dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dampaknya terhadap kualitas hidup manusia.